Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 30


__ADS_3

Bian bersama Annisa dan keluarganya sarapan dengan suasana hangat. Selain karena sejak kemarin Bian tidak makan, ia sudah teramat merindukan masakan buatan Annisa. Sehingga dalam sekejap Bian sudah menghabiskan satu piring nasi goreng buatan Annisa. "Mas Imam mau nambah lagi? Nissa ambilkan ya!"


Bian mengangguk malu-malu. "Terima kasih," ia menyerahkan piringnya kepada Annisa, sembari menatap wajahnya, senyuman manis Annisa membuat perasaannya jauh lebih tenang, Annisa mampu mengusir kesedihan yang Bian rasakan saat ini.


"Hmm.." Sekar berdeham setalah Annisa selesai mengambil nasi untuk Bian. "Ibu rasa, sepertinya kalian sudah siap untuk menjadi sepasang suami istri dan tidak perlu lagi mengadakan acara pertunangan ulang," ucap Sekar yang sedari tadi melihat Bian dan Annisa saling curi-curi pandang. "Bagaimana? Hari ini atau besok acara akadnya?"


"Hah?" Annisa dan Fahri terkejut mendengar ucapan ibundanya.


"Insyaallah besok," jawab Bian dengan mantap. "Hari ini aku akan mengurus surat-surat dan persiapan lainnya."


"Tidak perlu mewah-mewah seperti kemarin, cukup di rumah ini saja dan menggunakan seserahan yang kemarin, tinggal di ganti saja seserahan yang berisi makanan. Bagaimana?" tanya Sekar kembali.


"Aku setuju bu," jawab Bian, kemudian ia beralih ke Annisa, ia meminta Annisa menyiapkan surat-surat yang di perlukan untuk daftar ke KUA setempat.


Saat Annisa tengah mengambil surat-surat yang di perlukan, Bian menghubungi WO dan desainer yang kemarin karena sederhana versi Sekar berbeda dengan Versi Bian, ia ingin tetap memberikan yang terbaik di hari specialnya.


"Ini mas,surat-suratnya." Annisa memberikannya kepada Bian.


"Sebentar lagi tim WO akan datang, sore ini juga akan di adakan siraman dan pengajian, kamu siap-siap ya," ucap Annisa.


Annisa sempat tercengang beberapa saat, karena ia hanya mengira akan ada akad nikah saja, namun Bian menyiapkan acara pengajian dan siraman juga untuk dirinya. "Iya mas," jawab Annisa.


"Sayang, kamu mau mahar apa? Minta-lah, karena itu adalah hakmu," ucap Bian.


"Apa saja mas, yang menurut mas Imam pantas dan tidak memberatkan mas."

__ADS_1


Bian mengangguk mengerti, kemudian pamit pada Annisa dan orangtuanyauntuk mengurus surat nikah dan keperluan lainnya. Sebelum Bian pergi, Fahri menarik Bian. Ia mendesak Bian hi gga ke dinding pagar kediamannya. "Ini adalah kesempatan terakhir loe, kalau loe berani macam-macam lagi, gue habisin!" ancam Fahri.


"Gue ngerti," ucap Bian, ia merapihkan bajunya kemudian pergi meninggalkan kediaman Fahri.


...****************...


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq," ucap Bian dengan lantang dan satu tarikan napasnya. Rasa lega menyelimuti benaknya ketika para saksi mengucapkan kata sah, dan sang MC pun langsung memanggil Annisa untuk melakukan penandatanganan buku nikah dan penyerahan maskawin.


Bian tak hentinya memandangi wanita yang kini telah sah menjadi istrinya, rasa haru bahagia tak bisa ia bendung lagi, hingga tanpa sadar butiran-butiran bening jatuh dari pelupuk mata Bian.


Ketika Annisa sudah mendekat, Bian menarik kursi di sebelahnya dan mempersilahkan Annisa duduk. Bian sulit memalingkan pandangannya dari Annisa, bahkan ketika ia tengah melakukan tanda tangan dokumen nikah, ia masih saja memandangi Annisa.


Selesai menadatangani buku nikah, Bian memasangkan cincin nikah di jari manis Annisa, lalu bergantian Annisa memasangkan cincin di jari manis Bian dan mencium tangan Bian, di susul Bian mengecup kening Annisa.


Bian menyerahkan mahar berupa mata uang euro, sesuai dengan tanggal, bulan dan tahun pernikahan mereka yang jika di rupiahkan mencapai 2.5 miliar, mahar yang membuat para tamu yang hadir takjub.


"Pelet kali, mah" jawab putrinya.


"Iya juga ya," bu Giman membenarkan. "Kalau kita bisa melunturkan peletnya bukan tidak mungkin pria itu akan jatuh hati padamu. Kalau dapat mahar 2.5M mama rela kamundi madu."


"Aku juga mau mah, setelah berhasil mendapatkan hatinya akan aku suruh dia menceraikan Annisa," keduanya tertawa pelan.


Acara di lanjutkan dengan upacara panggih, mulai dari penyerahan sanggan, balang gantal, ranupada dan wiji dadi, bergandungan tangan kanten asto, tampa kaya atau kacar kucur, dahar klimah, ngunjuk rujak degan, dan sungkeman.


Pada moment sungkeman, Fahri menggunakan kesempatan itu untuk meminta maaf pada Bian. "Gue mau minta maaf kalau kemaren-kemaren gue terlihat seperti menentang dan tidak meretui loe. Gue cuma pengen lihat kesungguhan loe ke adek gue, karena dia adalah amanat bokap gue. Gue mau mastiin adek gue bersama orang yang tepat, jaga dia baik-baik, jangan pernah kau menyakitinya," ucap Fahri pada Bian.

__ADS_1


Bian tersenyum. "Gue ngerti, gue sama sekali enggak marah. Gue janji, akan jaga dan bahagiin Nissa."


Fahri menganggukan kepala. Ia tak bisa menahan rasa haru bahagia bercambur sedih ketika adiknya meminta restu padanya. Di satu sisi Fahri lega bahagia, melihat kebahagiaan Annisa yang telah menemukan tambatan hatinya, namun di satu sisi ia sedih melepas adik kecil yang amat ia sayangi. "Maafin mas ya, dek. Kalau kata-kata mas kemarin, banyak menyakiti hatimu," ia mameluk Annisa dengan erat.


"Adek ngerti mas, mas Fahri sebenernya pengen ngasih yang terbaik untuk adek," Annisa membalas pelukan kakaknya.


Usai acara panggih, acara di tutup dengan pembacaan doa dan mendengarkan ceramah atau nasihat pernikahan, baru setelahnya seluruh tamu undungan di persilahkan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, makan-makan, dan foto bersama.


Acara berlangsung Intimate, Bian dan Annisa berbaur dengan keluarga dan teman-teman terdekat Annisa. "Mas, mau makan? Aku ambilin ya."


Bian mengangguk. "Sepiring berdua sama kamu ya," pinta Bian.


"Iya mas," Annisa berlalu meninggalkan Bian dan kakaknya yang tengah berbincang.


Saat Annisa tengah mengambil makanan untuk Bian. Lidya, putri sulung pak Giman menghampirinya. "Ku dengar kau sudah tidak kuliah lagi? Sayang sekali, padalah sudah semester empat. Tapi kalau sudah punya suami kaya untuk apa susah-susah belajar dan mencari kerja, ya kan?" Tanyanya dengan sinis.


Sudah cukup sering Annisa mendapatkan desas-desus yang tidak enak mengenai hal yang serupa, tapi Annisa tak pernah mengambil hati, ia sudah jatuh hati pada suaminya sejak pandangan pertamanya, saat Bian menolongnya di depan bengkel pasar. Pada saat itu penampilan Bian jauh dari kata mewah, ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong, ia tak pernah menyangka jika Bian ternyata seorang pengusaha.


"Semoga kau tak di jadikan babu oleh mertuamu, seperti kisah-kisah yang ada di sinetron di mana wanita kampung yang di nikahi oleh pemuda kaya, lalu di jadikan babu karena sang mertua tak merestui hubungan anaknya," lanjut Lidya.


Annisa tersenyum mendengar ucapan sepupunya. "Alhamdulillah, suamiku memiliki orangtua yang sangat baik. Insyaallah, beliau sudah memberikan restunya kepada kami, hanya saja beliau sedang berhalangan hadir." Ia tak perlu menjelaskan mengapa kedua orangtua suaminya tak hadir, cukup dirinya dan jeluarga intinya saja yang tahu. "Terima kasih atas perhatianmu, kalau boleh aku kasih saran lebih baik kau mengurangi tontonan yang seperti itu karena sebentar lagi akan ujian semester," Annisa berlalu meninggalkan Lidya yang terlihat kesal mendengar ucapannya.


Dengan senyuman manisnya, Annisa menghampiri suaminya, dengan telaten ia menyuapinya. "Sayang, habis ini keluar yuk. Aku mau cari baju ganti sekalian kita menginap di resort," ucap Bian.


"Iya mas, nanti setelah makan aku ganti baju dan hapus make up."

__ADS_1


"Boleh aku ikut?" goda Bian, kemudian ia tertawa. "Aku hanya bercanda sayang, kalau aku ikut bisa-bisa kita enggak jadi keluar."


Wajah Annisa bersemu merah.


__ADS_2