
Sambil mengendap endap Siska jalan menyusuri lorong bangunan gotic khas Eropa. Pintu pintu besar yang di lalui membuatnya penasaran. Siska menempelkan telinga di sebuah pintu, sayup sayup dia mendengar suara rintihan dari dalam.
"Ada orang di dalam."
Siska ingin mengabaikan suara itu, tapi dirinya terlanjur penasaran dengan suara rintihan lemah yang terdengar. Suara itu makin lama semakin kecil hingga nyaris tidak terdengar lagi. Seketika Siska ingat dengan kunci yang diambilnya dari dua pria bertopeng.
Buru buru Siska mengambilnya dari saku celana Lalu mencoba membuka pintu, dengan kunci kunci yang berada ditangannya. Dengan sabar dia mencoba memasukkan satu persatu anak kunci, dan setelah percobaan ke lima Siska berhasil membuka pintu ruangan dimana suara itu berada.
"Aaaaa....!"
Siska menjerit tertahan, dia segera membekap mulutnya, pemandangan dihadapannya sangat memilukan. Siska melihat Wahyu tergantung terbalik dengan kepala dibawah penuh luka, berlumuran darah.
Tubuh Wahyu terlihat lemas dengan luka sayatan benda tajam memenuhi dada, sementara kedua matanya berlubang, karena dua biji mata bintara muda itu telah dikeluarkan paksa.
"Manusia manusia kejam, biadab, tak punya prikemanusiaan, tega sekali mereka melakukan hal sekeji ini pada Wahyu!"
Siska tidak dapat menahan diri, emosinya meluap, dadanya terasa sesak oleh amarah, seketika air mata Siska tumpah tak terbendung, dia menangis berlutut dihadapan Wahyu.
"Mbak... ini mbak Siska, tolong saya mbak."
Saya sudah tidak kuat lagi mbak Siska, tolong selesaikan semua ini agar saya tidak merasakan sakit lagi."
Wahyu meminta dengan suara terbata bata, dia memohon agar Siska mengakhiri penderitaannya. Siska tidak menjawab, dia tidak dapat berkata kata, mulutnya terasa terkunci rapat. Dengan belati dipotongnya tali yang mengikat kaki Wahyu.
"Mbak..tolong kabulkan permintaan pertama adikmu ini."
Air mata Siska semakin deras mengalir, dia memeluk tubuh bintara muda itu dengat erat, lalu dalam satu kali gerak cepat ayunan belati ditancapkan tepat memembus jantung Wahyu.
"Jleb.."
Seketika Wahyu menghembuskan nafas terakhir dipelukkan Seniornya. Siska menangis pilu, dengan tangan sendiri, dia terpaksa harus mengakhiri derita Wahyu.
"Maafkan saya Wahyu.."
Siska menunduk lemas sembari memandangi tangannya yang berlumur darah. Untuk beberapa saat Siska terdiam mematung, linglung, tak bisa berpikir jernih. Jauh dalam lubuk hati terdalam Siska tidak dapat membenarkan perbuatannya, tapi dia harus melakukan permintaan Wahyu yang sudah letih menahan perih.
Sementara di luar sana, empat orang bertopeng yang mulai curiga karena kedua rekan mereka tak kunjung kembali, segera naik untuk memeriksa keadaan. Mereka berpencar memcari kesetiap sudut ruangan.
"Kemana dia membawa gadis itu Jon?"
"Mungkin mereka membawa gadis itu ke salah satu ruangan, barangkali mereka mau asik asik dengannya bang."
"Hus... jaga mulutmu Jon, gadis cantik itu calon persembahan untuk ratu. Kalau mereka nekat ingin macam macam dengannya, saya pastikan keduanya tidak akan selamat."
"Tapi tidak ada salahnya kita periksa semua ruang di kuil ini, entah kenapa perasaan saya jadi tidak enak Jon."
Mereka mulai menjelajahi setiap sudut ruang, dan membuka pintu pintu yang terkunci. Siska segera bangkit, lalu mengintip dari balik dinding.
"Sial mereka sudah naik rupanya, aku harus buru buru pergi dari sini."
Siska mengendap endap keluar dari ruangan dimana jasad Wahyu tergeletak. Dia segera pergi kembali menuju ruang altar berharap bisa keluar melalui pintu depan altar.
__ADS_1
Di dekat altar Siska merunduk sejenak, dia bingung akan pergi sendiri atau kembali ke bawah untuk menyelamatkan Linda.
"Bagaimana ini, kalau aku menolong Linda sekarang, mingkin kami akan tertangkap lagi. Tapi jika aku keluar, bagaimana dengan Linda?"
"Aku tidak ingin mereka menyakiti Linda, tapi aku juga tidak mau mati konyol, menjadi tumbal ratu."
"Ratu... Ratu... Siapa sebenarnya perempuan ini, dia manusia atau iblis?"
Belum usai rasa penasaran Siska pada sosok ratu, dia dikejutkan dengan suara langkah kaki yang mendekat.
"Lin maafkan aku, untuk sementara waktu kita berpisah, aku janji pasti akan segera kembali dengan bantuan."
Siska berlari menuju pintu depan altar, dengan gugup dia mencoba semua kunci, sementara suara langkah kaki semakin jelas terdengar mendekat.
"Woey... Berhenti...!"
Teriakan dua pria bertopeng mengejutkan Siska, tangannya gemetar, jantungnya berdegup kencang tak teratur. Dia terus mencoba semua kunci, sembari berdoa bisa meloloskan diri dari tempat itu.
"Ayolah... Tolong terbukalah..!"
"Tuhan bantu aku...!"
"Klik...!"
"Doorr..."
Pintu terbuka bersamaan dengan bunyi letusan senapa. Dua butir peluru melesat menyambar nyaris mengenai kepala Siska. Dengan refleks polwan cantik itu menghindar dan berlari menyusuri jalan tanah berbatu.
"Oh Tuhan terima kasih...!"
"Aku harus lari kemana sekarang?"
"Kalau aku mengikuti jalan ini, mereka pasti akan sangat mudah menangkapku. Oh Tuhan aku mesti lari kemana sekarang?"
"Apa sebaiknya aku masuk ke hutan saja, setidaknya aku bisa bersembunyi dari kejaran mereka."
"Ya.. Aku lari ke hutan saja.."
Siska mutuskan masuk ke dalam hutan, tubuh sintalnya, menyelinap diantara pohon pohon besar, sementara para pria bertopeng terus mengikutinya di belakang.
"Bagaimana ini bang dia masuk ke dalam hutan angker itu."
"Kejar terus, tidak perduli dia lari kemana, pokoknya jangan sampai lolos Jon, atau nyawa kita taruhannya."
"Tapi bang, hutan ini angker, banyak arwah penasaran yang bergentayangan di tengah hutan ini."
Mereka berhenti sejenak, ada rasa segan dihati empat orang pria itu. Mitos tentang arwah penjaga membuat nyali mereka ciut, ragu akan mundur atau terus.
Sedangkan Siska terus berlari tanpa tujuan hingga dia benar benar telah masuk sangat jauh ke dalam hutan.
"Aku harus kemana sekarang?"
__ADS_1
Siska berhenti sejenak, untuk mengatur nafas, dia bingung harus lari kemana. Cukup lama Siska melemparkan pandangan ke sekeling hutan yang tampak gelap, meski hari masih pagi.
"Hutan ini seram sekali, suasananya membuatku tak nyaman, rasa rasanya sejak aku masuk hutan, belum ada suara binatang satupun di hutan ini."
"Bahkan suara tonggerek atau kodok saja belum terdengar sama sekali sejak tadi. Apa aku kembali saja?"
"Sebaiknya aku bergegas pergi dari tempat ini, jangan sampai aku bermalam di hutan ini."
Siska melanjutkan langkahnya, sementara orang orang yang mengejarnya sudah tidak terdengar lagi. Meski ada perasaan takut berada seorang diri di dalam hutan, tapi Siska tetap melanjutkan perjalanan sembari berdoa akan bertemu orang yang akan menuntunnya keluar hutan.
Hampir dua jam berjalan Siska tak juga bertemu satu orangpun, perutnya mulai berbunyi karena lapar. Gadis itu memang belum makan sejak kemarin. Terakhir kali ia menyentuh makanan yang di berikan para penyekapnya adalah satu hari sebelum dia berhasil kabur dari para pria bertopeng.
"Aku harus makan sesuatu, kalau tidak aku akan mati kelaparan disini, semoga saja ada buah buahan yang bisa dimakan."
Setelah lama mencari, Siska tak kunjung menemukan sesuatu yang bisa dimakan, dengan terpaksa ia memetik beberapa lembar daun muda, lalu menelannya bulat bulat. Ada rasa pahit di lidahnya, tapi Siska tetap berusaha menelannya demi mengisi perut.
"Sebenarnya aku ada dimana sekarang, hutan ini ada di wilayah mana?"
Siska mulai merasa lelah, dan dia memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Dengan nyaman Siska menyandarkan punggung sampai tanpa terasa dia memejamkan mata, lalu perlahan mulai tertidur pulas.
"Aku dimana, tempat ini terasa sangat asing, apa ini jalan menuju pemukiman penduduk?"
"Ya pasti ini jalan menuju kampung, di depan itu sepertinya ladang jagung, tidak salah lagi, ini pasti jalan menuju rumah warga."
Siska berjalan menyusuri ladang jagung yang sangat luas, dalam hati dia merasa sangat senang karena tak lama lagi akan kembali keperadaban.
Tak lama Siska berjalan, dan tepat seperti dugaannya, di depan terlihat rumah rumah penduduk yang terbuat dari anyaman bambu.
Siska mulai menyusuri perkampungan yang menurutnya agak aneh, sebab ternyata kampung itu sangat sepi, seperti tak berpenghuni.
"Kampung ini seperti desa mati, apa ini benar benar kampung?"
Siska mulai merasakan keanehan dengan kampung yang ia lewati. Sudah puluhan meter dia masuk ke dalam kampung tapi belum bertemu satu orangpun yang beraktifitas di luar rumah.
Karena penasaran Siska coba mengetuk salah satu pintu rumah, namun tidak ada orang yang keluar rumah untuk menemuinya.
"Ini bukan tempatmu, pergi dari sini sekarang, atau kamu tak akan bisa keluar lagi."
Tiba tiba seseorang menepuk pundak Siska, dan memintanya untuk pergi dari perkampungan itu. Siska membalikkan badannya tapi dia tak melihat orang lain di tempat itu selain dirinya.
Bulu kuduk Siska bergidik, ada sesuatu yang salah dengan desa ini dan Siska merasa dirinya sedang diawasi oleh beberapa orang yang dia tidak tahu mereka berada dimana.
Merasa jiwanya terancam Siska berlari sekencang kencangnya, suara tawa mengikuti di belakang dan Siska tak ingin menoleh.
Siska terus berlari, suara tawa wanita dan raungan binatang meneror mentalnya. Siska mulai panik, suara suara itu seperti ada tepat disamping kupingnya.
Siska berusaha lari sejauh yang dia bisa sampai akhirnya kakinya tersandung sesuatu dan dia terperosok jatuh ke dalam jurang.
"Aaaaa...!"
Siska terbangun dari tidur, dan memeriksa seluruh tubuhnya. Dia bersyukur karena semua yang ia alami hanya mimpi buruk.
__ADS_1
"Syukurlah hanya mimpi."
Siska mengusap wajahnya lalu bangkit dari duduk, segera melanjutkan perjalanan mencari jalan keluar dari hutan.