Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 45 Mencari Linda


__ADS_3

Wira menarik nafas panjang sesaat kembali dalam raganya. Di hadapan Wira Jasad Ronggo Joyo masih tampak duduk bersila dengan mata yang terpejam. Sudut bibir, mata, dan telinganya mengeluarkan darah.


Wira menyentuh tubuh kaku Ronggo Joyo yang ambruk seketika. Wira tertekun sejenak sembari memeluk jasad Ronggo Joyo. Belum sempat ia mengingat peristiwa yang baru mereka alami, kini Wira harus membopong jasad Ronggo Joyo.


"Anda pergi terlalu cepat, saya bahkan belum sempat mengenal sosok anda lebih dekat."


"Siapa yang akan membimbing saya sekarang?"


"Portal dimensi itu bagaimana, siapa yang akan menutupnya?"


Wira mengingat lagi perjalanan astralnya ke jagad lelembut. Dadanya masih terasa sakit akibat di banting sosok raksasa menyerupai kera dengan mata merah, taring panjang dan lidahnya yang mejuntai.


"Aku harus segera memakamkan pak Ronggo, di akhir hidupnya, beliau menepati janji menyelamatkan kami."


Wira berjalan menuju gudang di belakang rumah, dia berniat mencari alat untuk menggali tanah. Kebetulan sekali gudang itu tidak terkunci. Wira masuk ke dalam dan menemukan banyak sekali perkakas, alat berkebun dan pertukangan berjajar rapi di rak.


Tak disangka, pria tegas dengan wajah dingin dan angkuh memiliki sisi lain, dalam pribadinya. Ternyata selain ahli dalam hal klenik, Ronggo Joyo juga seperti manusia biasa yang suka berkebun dan mahir membuat sesuatu.


Wira, mengambil cangkul dan skop, lalu menggali tanah tepat dibawah sebuah pohon besar, di halaman belakang rumah Ronggo Joyo. Setelah satu jam menggali, Wira bergegas masuk rumah untuk merapikan jenazahnya.


Ronggo Joyo dimakamkan di salah satu rumah miliknya, tepat di sebuah pohon besar di belakang rumah.Tak ada orang, atau sanak famili yang mengiringi kepergian Ronggo Joyo, kecuali Wira yang berusaha memberi pemakaman layak bagi seorang anggota sekte sesat yang telah tulus niat bertaubat.


"Beristirahatlah yang tenang pak Ronggo, anda orang baik, semoga Tuhan mengampuni dosamu di masa lalu."


Usai memakamkan jenazah Ronggo Joyo, Wira bergegas menuju mobil, entah mengapa tubuh Wira memberi isyarat yang aneh, tengkuknya terasa dingin, dan bulu kuduknya meremang.


Wira segera keluar dari halaman rumah megah milik Ronggo Joyo. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Dari Sepion tengah mobilnya, Wira bisa melihat rumah dengan arsitektur eropa itu menjadi suram diselimuti awan hitam.


Gerbang rumah Ronggo Joyo tertutup dengan sendirinya, padahal Wira tahu di rumah itu tidak ada penghuninya. Sejak masuk ke rumah Ronggo Joyo Wira tidak pernah bertemu dengan asisten rumah tangga, atau orang yang ditugaskan untuk menjaga rumah.


Bahkan semasa hidupnya, Ronggo Joyo sendiri hanya sesekali saja datang berkunjung ke rumah itu. Dia datang hanya untuk menepi dari rutinitas atau sekedar melakukan perenungan, saat dia menghadapi masalah batin.


Wira terus mengawasi rumah Ronggo Joyo sampai tak tampak lagi dari kaca spion tengah mobilnya.

__ADS_1


"Semoga saja dia tenang disana."


Wira menghela nafas panjang. Pria yang baru dikenal seumur jagung, telah memberi banyak pengalaman berharga dalam hidup Wira. Dia merasa akan cocok berteman dengan Ronggo Joyo kalau saja pria itu tidak pergi terlalu cepat.


"Pak Ronggo sudah membantu kami keluar dari tempat terkutuk itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila dia tidak segera turun tangan."


"Linda..!"


"Astaga, bagaimana keadaanya sekarang?"


Tiba tiba Wira teringat pada sosok Linda. Sejak berpisah di makam kuno, Wira sama sekali belum mengetahui keadaan gadis itu.


Buru buru Wira melajukan mobil menuju rumah sakit jiwa tempat Linda sedang di rawat. Dia ingin segera bertemu Linda, berharap gadis itu sudah kembali sadar dan menguasai kembali raganya.


"Aku sampai lupa dengan Linda. Terkhir kali kami bertemu di alam roh, dan berpisah saat aku akan kembali dalam ragaku."


"Rasanya seperti mimpi saja, Linda tersenyum riang, ketika melepas genggaman tanganku."


"Semoga saja dia sudah kembali pulih, agar beban di pikiran ini sedikit berkurang."


Suasana Rumah sakit agak ricuh, saat Wira masuk ke loby. Dia segera bertanya kepada security yang sedang mondar mandir dengan sebuah radio panggil ditangannya.


"Permisi pak, kalau boleh tahu, kenapa rumah sakit ini ricuh sekali, apa yang terjadi?"


Security itu mengamati Wira dari ujung kaki hingga kepala, dan ingat kalau sosok tampan yang berada di hadapannya adalah polisi muda yang beberapa waktu lalu sempat akan mereka amankan, karena telah mengancam seorang pasient dengan pistol.


"Anda polisi yang waktu itu akan menembak gadis di lantai atas?"


Wira tersenyum sinis sembari menggaruk garuk kepalanya. Dia baru saja akan menjelaskan situasinya saat itu, namun ucapan security selanjutnya membuat Wira terkejut.


"Gadis yang anda todong, pagi ini menghilang pak polisi."


"Menghilang..?"

__ADS_1


Wira menarik kerah baju security di hadapannya, lalu meminta penjelasan dengan nada marah. Dia tidak bisa menerima kelalaian rumah sakit dalam menjaga pasient.


"Jangan main main pak, gadis itu saksi kejahatan. Bagaimana mungkin rumah sakait bisa kehilangan Linda, bukankah rumah sakit ini di jaga dua puluh empat jam?"


Security itu menunduk segan, Wira segera sadar dan melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju security, lalu cepat cepat meminta maaf atas tindakannya.


"Maaf pak, saya khilaf."


"Apa saya boleh melihat rekaman cctv?"


Securty rumah sakit mengangguk pelan, lalu mengantar Wira ke ruang manajer untuk meminta izin agar bisa mendapat akses untuk memeriksa rekaman cctv.


Setelah mendapatkan izin, Wira di antar menuju ruang control, lalu mereka memeriksa file video satu minggu sebelum Linda dinyatakan hilang, dari kamarnya.


Hampir tidak ada kejanggalan direkaman cctv, sampai detik detik terakhir dokter dan perawat memeriksa kondisi Linda di pagi hari, tepat sebelum dia dinyatakan menghilang.


Pada detik detik itu, tiba tiba saja camera di seluruh ruangan mengalami gangguan. Gambar di layar monitor mendadak jadi hitam selama beberapa detik. Lalu berfungsi normal kembali setelahnya. Pada saat itu Linda di pastikan sudah tidak lagi terlihat di kamarnya.


Kejadian ganjil itu, sontak menimbulkan tanda tanya di pikiran Wira dan para staff rumah sakit. Mereka sulit membayangkan, bagaimana Linda bisa kabur dari rumah sakit hanya dalam waktu kurang dari satu menit.


"Ini mustahil, bagaimana mungkin Linda bisa memanfaatkan kerusakan cctv yang hanya kurang dari satu menit?"


"Lagi pula di rumah sakit ini banyak orang, tidak mungkin rasanya, bila dia bisa melewati lorong tanpa tertangkap cctv, atau bertemu orang lain. Bahkan bila dia lari melalui tangga darurat."


"Dia pasti akan tertangkap salah satu dari sekian banyak camera yang terpasang."


"Asih... ini pasti pekerjaanya."


Wira berkata pada diri sendiri, dia masih berusaha menalar kejadian ini, berharap mendapat sedikit pencerahan. Tapi yang terlintas di otak Wira saat ini hanya Asih.


Menurutnya kejadian ini tidak akan mungkin bisa terjadi tanpa campur tangan wanita titisan iblis bernama Asih.


"Jika ini pekerjaan Asih lalu bagaimana dengan Linda?"

__ADS_1


"Apakah dia masih menjadi sandra iblis itu?"


Wira bingung memikirkannya, dengan wajah semeraut Wira meninggalkan ruang control, dia terus berpikir kemana Linda pergi, dan apa yang sebenarnya terjadi pada wartawan cantik itu. Jika ini pekerjaan Asih lalu kemana wanita titisan iblis itu membawanya?


__ADS_2