
Suara geraman di luar semakin keras saja, Siska bersiap siap dengan senapan laras panjang, jaga jaga kalau para zombie berhasil menerobos masuk. Wira masih tertekun, keinginan pakde Jarwo untuk membuka gerbang neraka, tidak mungkin bisa dia kabulkan.
"Waktu semakin sempit Wira, putuskan sekarang atau para zombie akan menjadikan kita sebagai salah satu dari mereka."
Belum sempat Wira berucap tiba tiba saja suara halikopter bergemuruh di langit, disertai suara bising tembakan senapan mesin. Para zombie yang mengepung rumah langsung terpancing dan mencari sumber suara.
"Siska... cepat turun, kita tinggalkan rumah ini sekarang!"
Kesempatan itu digunakan Wira, pakde Jarwo, dan Siska untuk keluar dari rumah. Mereka berlari melalui pintu belakang menerobos kegelapan malam menuju hutan.
Beberapa zombie yang mencium kehadiran mereka, segera mengejar, namun Wira dengan gesit menghantam kaki kaki mereka, kemudian menusuk kepalanya. Setelah itu mereka berlari melewati kebun masuk ke dalam hutan.
Ketiganya terus berlari hanya berbekal cahaya lampu dari phonsell masing masing. Kabut dan cuaca dingin membuat mereka cukup kesulitan, beberapa kali Siska terjatuh, namun Wira tidak mau berhenti, dia segera membantu gadis itu untuk berdiri lagi, dan bergegas melanjutkan berlari.
"Sebaiknya kita masuk lebih jauh ke dalam hutan, disana akan lebih mudah untuk bersembunyi dan membuat jebakan untuk mereka."
Wira memberi komando yang diikuti oleh Siska dan pakde Jarwo. Meskipun tidak tahu arah tujuan mereka, tapi Wira terus berlari sembari berharap menemukan sebuah gua atau apa saja yang mungkin dapat digunakan sebagai tempat untuk berlindung dari serangan para zombie.
Dari jarak yang cukup jauh rentetan peluru masih terus terdengar bercampur dengan deru mesin helikopter. Cukup lama mereka berlari sampai akhirnya Wira berhenti di sebuah batang pohon besar yang telah tumbang.
"Kita istirahat disini sambil menunggu fajar. Saya rasa tempat ini cukup aman."
Wira duduk bersandar di batang pohon suara nafas mereka tersengal saling berlomba. Sekali lagi mereka berhasil lolos dari maut.
"Apakah sarang Asih masih jauh dari sini Wir?"
Pakde Jarwo bertanya untuk memastikan posisi mereka. Dia ingin mencocokkan, apakah waktu tempuh mereka akan tepat dengan hari lahir Wira pada penanggalan jawa, sesuai catatan Ronggo Joyo.
"Kalau saya tidak salah berhitung, dari desa ini kita butuh waktu satu hari berjalan kaki, untuk sampai ke rumah kosong ujung aspal."
"Jika ingin lebih cepat, kita bisa memotong jalan lewat bukit, tapi hutan disana wingit, saya tidak mau menambah masalah."
"Memangnya ada apa pakde?"
Wira balik bertanya, dia penasaran, kenapa pakde Jarwo terkesan buru buru ingin sampai di sarang wanita iblis itu.
"Jika memang benar jarak tempuh kita hanya sehari perjalanan, artinya kamu masih punya waktu satu hari lagi untuk membunuh iblis itu."
"Weton kalian akan jatuh dua hari lagi, sebaiknya kamu yang simpan mustika ini. Begitu ada kesempatan tikam jantungnya dan tusuk ubun ubun kepala iblis itu."
"Saya akan menjaga portal, agar mereka kembali ke alamnya."
Pakde Jarwo menyerahkan mustika warisan Ronggo Joyo, dan paku emas miliknya. Wira menerima ke dua benda sakral itu dengan ragu. Dia tetap tidak setuju kalau pakde Jarwo melakukan pengorbanan. Tapi dia tak ingin berdebat.
"Apakah pakde yakin saya mampu melakukan semua ini?"
"Semua kembali kepada keyakinanmu ngger, pakde cuma bisa mengawal, kamu yang akan menuntaskan perkara ini."
"Soal peluangnya, pakde cuma bisa bilang lima puluh, luma puluh karena hari naas kalian berdua sama."
Wira terdiam tak ingin bertanya lagi. Suasana malam jadi hening, yang terdengar hanya angin, dan suara serangga malam. Mereka bertiga duduk rapat untuk menghalau dingin. Malam terasa sangat panjang, Wira berjaga jaga dengan pistol di genggaman, sedang pakde Jarwo dan Siska memilih tidur untuk memulihkan tenaga.
Pagi pagi sekali mereka sudah terbangun, hutan masih di selimuti kabut tipis. Wira mematikan api sisa ranting pohon dan daun kering yang ia bakar untuk menghangatkan tubuh semalam.
__ADS_1
Tangannya masih terasa beku karena udara dingin. Usai sarapan seadanya mereka keluar hutan untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Keadaan di desa sangat kacau mayat mayat bergelimpangan, militer benar benar melakukan operasi pembersihan. Bau busuk menyebar, menyengat hidung, beberapa sosok mayat hidup dengan kondisi yang tidak lagi utuh masih bisa bergerak, berlari kencang mengejar.
Siska mengambil senapan yang diselempangkan di punggung. Dengan sigap polwan itu membidik mereka satu persatu hingga roboh dengan kepala yang hancur. Mereka terus berjalan hati hati di antara mayat mayat yang berserakan, jalan desa yang sunyi, sepi, membuat auranya kian tidak nyaman.
"Pada akhirnya korban jiwa tidak bisa dihindari lagi, mereka semua jadi tumbal Sandikala."
Wira bergumam lirih pemandangan di sepanjang perjalanan membuatnya miris. Sedih, marah bercampur aduk jadi satu. Gara gara keserakahan sekte Sandikala, mereka yang tidak bersalah harus menanggung akibatnya.
"Mereka yang menghambakan diri kepada iblis, kenapa orang orang ini yang jadi korbannya."
Siska perotes dalam hati, sambil menitikan air matanya, dia tak sabar ingin segera sampai di rumah kosong ujung aspal dan berhadapan langsung dengan Asih.
Sudah dua jam lebih mereka berjalan, akhirnya Wira, pakde Jarwo, dan Siska sampai di ujung jalan desa. Sayup di kejauhan mereka mendengar kembali suara pertempuran.
Mereka bergegas lari ke arah suara. Dari jarak jauh Wira melihat truk truk milik tentara terparkir memblokade jalan. Sebuah tank beberapa meter terlihat di depan.
"Mundur... mundur...!"
"Cepat mundur, jumlah mereka terlalu banyak, dan tidak bisa di bunuh!"
Terdengar suara perwira TNI berpangkat kapten berlari menjauh mendekati tank.Tangannya memegang sebuah geranat tangan yang siap dilontarkan. Di belakangnya puluhan prajurit gabungan TNI, Polri, terus melancarkan serangan ke sesuatu di kejauhan yang tidak jelas terlihat oleh mata Wira.
"Hey kalian bertiga keluar dari sini, tempat ini berbahaya!"
"Apa kalian tidak mendengar peringatan zona merah!"
Kapten itu berteriak membentak, tapi Wira tak hirau, dia terus berlari menuju ke depan meski dua orang perajurit telah menghadang dan menarik lengannya.
Pakde Jarwo menepis moncong senapan yang diarahkan kepadanya. Dia berjalan tenang di belakang Wira sembari komat kamit melafal mantra yang terus di ulangi sejak mereka keluar dari hutan.
"Sudah biarkan saja, mereka mungkin sengaja ingin menjemput maut sendiri!"
Seorang perwira berpangkat mayor, memberi perintah. Wajahnya terlihat kesal, para prajurit yang menghadang jalan akhirnya mundur dan membiarkan mereka lewat.
"Pak Wira anda disini?"
Seorang pria muda tampan berpankat brigadir yang sedang bergerak mundur menyapa Wira. Rupanya dia adalah salah satu dari anggota Wira yang ikut serta dalam operasi pembersihan mayat hidup yang menyerang desa.
"Bagaimana keadaan di depan sana Wan?"
"Sangat kacau pak, mereka sebenarnya orang orang yang sudah mati, tapi entah bagaimana mereka bangkit lagi dari kubur, dan menyerang desa. Kami telah menembak mereka berkali kali, tapi sia sia saja mereka semua tidak mempan peluru."
Wira mengeryitkan dahinya. Dari brigadir bernama Wandi, Wira mendapat gambaran situasi yang tengah dihadapi tentara di depan mereka.
"Pantas saja tentara kuwalahan, mahluk mahluk itu bukan manusia, mereka pasukan yang di bangkitkan Asih dengan ilmu hitamnya. Kami memang bukan lawan sebanding."
Wira berada ditengah kebimbangan, sementara mayat hidup yang sebagian sudah berbentuk tengkorak semakin tampak jelas. Mereka terus bergerak mendatangi tentara yang menghujani mereka dengan peluru.
Berkali kali peluru mortir dari tank sudah di tembakan, tapi mayat hidup seperti tak pernah habis. Mereka terus ada dan menyerang tentara di baris terdepan.
Setiap kali terkena peluru, geranat, atau mortir, tubuh yang hancur tercerai berai selalu kembali utuh. Dan sekarang mereka semakin mendekat ke arah pertahanan militer. Tentu saja hal ini membuat semua tentara jadi panik, dan berlari mundur.
__ADS_1
"Sepertinya ini sudah saatnya membuka gerbang neraka."
Pakde Jarwo bersiap melakukan ritual serah jiwa, namun tiba tiba matanya terganggu oleh sosok pria tua berambut putih mengenakan ikat kepala hitam. Pria tua itu berdiri di tengah jalan sambil mengacungkan kerisnya.
Tiba tiba saja mahluk mahluk itu tertahan dan tidak bisa melangkah maju. Mereka seperti menabrak sebuah dinding kaca tebal yang sangat tinggi sehingga meski mereka coba merayap naik, tapi hasilnya selalu gagal.
Mayat mayat hidup itu berdiri menumpuk, sebagian dari mereka terlihat terus mencoba untuk merayap meskipun gagal.
"Mbah Wingso?"
Wira seperti mengenali sosok yang berdiri jauh, di depannya. Dia yakin sekali kalau sosok yang sedang berdiri membendung mahluk mahluk kiriman Asih adalah mbah Wongso sesepuh desa yang pernah mereka kunjungi saat mencari Siska dan Linda.
"Kamu kenal juga dengan ki Wongso, Wir?"
"iya pakde beliau yang waktu itu membantu kami menemukan Linda."
Ternyata pakde Jarwo juga telah mengenal mbah Wongso. Pria yang masyhur mengalahkan demit alas wingit pada zamannya.
"Sebaiknya suruh para tentara itu mundur pak Wira. Tidak ada gunanya mereka berada disini. Mahluk mahluk ini dalam kuasa kegelapan, bahkan bila nuklir dijatuhkan disini, mereka tidak akan musnah."
"Wanita titisan iblis itu tidak bisa dibunuh, kita hanya bisa mengunci dan kembalilkan mereka ke tempat asalnya."
Wira tercengang keheranan pendapat mbah Wongso sungguh berbeda dengan Ronggo Joyo, dan Pakde Jarwo. Tentu saja Wira langsung mengkonfirmasi pernyataan mbah Wongso.
" maaf sebelumnya mbah. Kenapa pendapat mbah Wongso berbeda dengan penjelasan pakde Jarwo. Kalau iblis iblis itu tidak bisa mati, lalu apa gunanya mustika mustika ini?"
"Pendapat Jarwo tidak salah, hanya saja kurang lengkap, mahluk wanita bernama Asih dan Sitarasmi itu, mereka cuma wadah. Keduanya adalah bagian dari iblis dari alam bawah."
Wira makin heran mendengar penjelasan mbah Wongso, dia semakin tidak mengerti, sekaligus di buat takjub karena sejak memulai percakapan, Wira tidak pernah menyebut nama Asih dan Sitarasmi. Tapi nyatamya mbah Wongso tahu nama keduanya.
"Sudah nanti saja saya jelaskan secara gamblang agar pak Wira mengerti. Sekarang suruh mayor keras kepala itu menarik pasukannya."
Mbah Wongso menyuruh Wira, agar dia segera bicara dengan mayor yang memimpin operasi. Wira pun langsung menghampiri kapten, dan mayor yang bertanggung jawab dalam operasi pembersihan kali ini, dia meminta mereka untuk menarik pasukan.
Pembicaraan berlangsung sangat alot. Wira sampai harus bersitegang dengan dengan dua perwira TNI itu. Namun setelah menelpon ke markas, mereka akhirnya mengerti dan bersedia menarik seluruh pasukan, kembali ke pos di desa terdekat.
Wira kembali menemui mbah Wongso dan pakde Jarwo yang kala itu sedang asyik mengobrol. Sepertinya mereka berdua tengah bernostalgia, mengingat ingat masa muda saat mereka masih jaya, terkenal sebagai orang sakti yang berilmu tinggi.
"Maaf Mbah kalau boleh tolong jelaskan lagi tentang ucapan mbah tadi."
Mbah Wongso tertawa kecil, lalu meminta agar Wira dan Siska duduk bergabung di dekatnya. Mereka berempat lalu duduk bersila di bawah pohon besar, hanya beberapa meter dari barisan mayat hidup yang terlihat berusaha menembus dinding gaib yang di ciptakan mbah Wongso.
"Sebenarnya Asih itu anak manusia, saat ibunya mengandung, orang orang sesat itu melakukan ritual sehingga iblis jahat menitis padanya."
"Secara kebetulan weton kalian sama, jadi untuk mencegah iblis itu menitis kembali, pak Wira harus mengunci dia di tubuhnya agar tidak bisa pindah raga."
"Tusuk jantungnya dengan belati emas, lalu tancapkan juga paku emas di kepalanya secara bersamaan, maka dia tidak akan bisa berpindah lagi ke raga kosong milik gadis yang ada dalam tubuh Siska."
Wira dan Siska salaing berpandangan, mereka kagum dengan kemampuan supranatural yang di miliki mbah Wongso. Tanpa harus melakukan ritual kakek tua renta itu, tahu kalau dalam tubuh Siska, bersemayam sukma Linda.
"Tidak usah kaget, ini memang cara iblis untuk bertahan. Jarwo berniat membuka gerbang neraka dengan tujuan untuk menarik parasit dalam tubuh Asih dan mengembalikannya ke alam bawah."
"Tapi jika tidak berhasil, maka dia juga akan mati. Dan sejatinya, harus ada orang yang menutup gerbang neraka, maka kami sepakat memilih pak Wira untuk menutup gerbang itu."
__ADS_1
"Sedang upacara buka gerbang neraka biar jadi urusan kami, jangan khawatirkan Jarwo, saya akan mengirim para perewangan untuk menarik mereka."
Wira terkesima mendengar penjelasan mbah Wongso, akhirnya dia bisa bernafas lega. Apa yang ia takutkan ternyata ada solusinya. Wira mengucapkan terima kasih kepada mbah Wongso. Langkahnya untuk membunuh Asih menjadi lebih ringan sekarang.