
Wira tiba di Royal Restorant tepat jam sebelas siang, sesuai dengan undangan, dia langsung masuk dan mengedarkan pandangan ke arah meja meja yang tengah ramai sesak di penuhi pengunjung.
"Dimana Ronggo Joyo itu?"
"Bagaimana aku bisa mengenali wajahnya?"
Wira masih mengawasi sekitar restorant untuk mencari sosok pria yang mengundangnya. Cukup lama Wira berdiri, sampai tiba tiba, seorang gadis pelayan restorant datang menghampiri.
"Anda pak Wira?"
Tanya ramah pelayan restorant yang dijawab langsung oleh Wira dengan anggukkan. Pelayan restorant itu, tersenyum sembari mengantar Wira masuk ke ruangan VIP.
"Silahkan pak, anda sudah di tunggu di dalam."
Wira membuka pintu sebuah ruangan mewah, luas, dengan beberapa meja kosong, dan melihat seorang pria paruh baya dengan stelan jas hitam mengkilap tengah duduk sembari menikmati secangkir kopi hitam pahit.
Wira menghampiri pria elegan yang tampak acuh dengan kehadirannya. Pria itu hanya menatap Wira dengan tatapannya yang dingin, sembari memberi isyara mempersilahkan Wira untuk duduk.
"Langsung saja pak Ronggo, apa tujuan anda mengundang saya datang kemari?"
Ronggo Joyo tersenyum sinis, lalu merogoh saku dibalik jas hitam miliknya. Secarik kertas berisi tulisan tangan di sodorkan kepada Wira yang masih menerka nerka maksud undangan Ronggo Joyo.
"Apa ini pak Ronggo?"
Wira mengambil kertas yang disodorkan Ronggo Joyo dan membaca isinya. Keningnya berkerut melihat tulisan tangan yang ternyata berisi nama dan tanggal lahir Wira, lengkap dengan bulan penangggalan Jawa.
Wira yang sama sekali buta tentang hal semacam itu, menjadi bertanya tanya dalam hati. Dia terus memikirkan makna yang terkandung dalam catatan yang dibuat oleh Ronggo Joyo. Berkali kali Wira berusaha memahami isinya, tapi dia selalu gagal menterjemahkan maksud dari tulisan tangan itu.
"Tutup point saja pak Ronggo, apa maksud dari semua ini?"
"Terus terang saja saya tidak punya banyak waktu untuk menebak isi pikiran anda."
Ronggo Joyo tersenyum tipis, lalu meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi di genggamnya. Sementara Wira memperhagikan gesture tubuh pria paruh baya yang terkesan misterius di matanya.
"Sekarang anda terlalu cepat emosi pak Wira. Segala sesuatu yang berlandaskan emosi, dampaknya selalu tidak baik."
"Gadis wartawan itu salah satu contoh, buah pahit dari sifat emosional anda pada saat menangani perkara."
__ADS_1
"Saya tahu persis, kalau selama lebih dari satu bulan ini, anda sedang getol menyelidiki kami. Tapi yang terjadi sebaliknya, anda kehilangan."
Wira geram mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Ronggo Joyo mengetahui semua peristiwa yang menimpa mereka. Hasratnya ingin sekali menghajar pria itu, namun dia tahu, Ronggo Joyo bukan orang biasa.
Sejak mereka bertatap muka dan bicara, Wira selalu merasa ada yang berbeda dengan Ronggo Joyo. Ada semacam satu energi yang menekan sehingga Wira selalu merasa tidak nyaman saat menatap matanya.
"Jadi anda mau mengakui kalau semua yang terjadi, adalah tanggung jawab anda?"
Wira langsung memotong pembicaraan, dia mulai tak sabar dengan sikap yang ditunjukkan Ronggo Joyo, pria itu terkesan angkuh, dan sama sekali tidak menghargai Wira sebagai seorang perwira polisi.
"Semua yang terjadi adalah tanggung jawab anda pak Wira, kalau saja waktu itu anda tidak ngotot terlalu jauh masuk dalam urusan kami, tentu ini tidak akan terjadi."
"Tapi pointnya bukan soal itu, maksud saya mengundang anda kemari adalah untuk mengajak anda kerja sama."
Wira semakin bingung dengan arah pembicaraan Ronggo Joyo. Dalam hati Wira mengatakan tidak mungkin menerima tawaran kerja sama dari Ronggo Joyo yang notabene adalah bagian sekte Sandikala.
"Kertas itu berisi tanggal lahir dan weton anda. Menurut saya anda adalah sosok yang tepat untuk melakukan ritual ini."
Ronggo Joyo menjelaskan maksudnya, tapi Wira belum bisa merespon ucapan Ronggo Joyo. Menurut Wira Ronggo Joyo tak waras. Dia tak mungkin mau melakukan ritual, apalagi orang yang memintanya adalah Ronggo Joyo.
"Anda jangan becanda pak Ronggo. Saya tidak mungkin melakukan ritual, apalagi untuk tujuan dan kepentingan sekte sesat."
Wira berdiri dengan emosi yang meletup, dia baru saja akan beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya, ketika Ronggo Joyo melempar sebuah buku usang kehadapan Wira.
"Praakkk...!"
"Bawa buku itu, baca, dan putusukan, apakah anda akan menolak tawaran saya, atau akan datang untuk bergabung."
"Ingatlah nasib gadis itu, ditentukan keputusan anda. Sebaiknya terima kerja sama ini, atau akan ada lebih banyak korban lagi."
"Polwan cantik itu sudah ditandai oleh Asih, hanya dalam hitungan jam, maka nasibnya akan sama dengan para gadis yang sudah jadi tumbal."
Wira terkejut, mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ronggo Joyo. Untuk beberapa detik Wira hanya diam terpaku menatap buku tua usang yang ditinggalkan Ronggo Joyo bersama dengan kartu namanya.
Wira duduk kembali lalu mengambil, buku tebal yang berisi tulisan jawa kuno dan gambar gambar seram yang tidak ia mwngerti.
"Apa dia serius dengan ancamannya?"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan membiarkan Sandikala mengambil tumbal lagi. Tidak Siska atau siapapun juga."
Wira memasukkan kartu nama Ronggo Joyo dalam sakunya, sementara tangan kirinya menenteng buku kuno tebal bersampul kulit binatang yang diberikan Ronggo Joyo.
"Akan aku apakan buku ini?"
"Enteng mulutnya memaksaku untuk melakukan ritual. Dasar pria aneh!"
Wira beranjak dari ruang VIP, lalu bergegas pulang ke rumah. Langit masih diselimuti awan tebal yang menggumpal. Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan ucapan Ronggo Joyo.
"Aku harus bagaimana sekarang?"
Wira dilanda kebimbangan, satu sisi ia enggan menerima tawawaran Ronggo Joyo, namun di sisi lain, dia juga tidak ingin melakukan hal buruk kepada Siska.
"Asih telah menandai Siska juga, Apa ada cara untuk membuat Siska aman dari wanita titisan iblis itu?"
Wira mengendarai mobilnya dengan perasaan galau, ucapan Ronggo Joyo benar benar telah mengganggu pikirannya.
Sementara di tempat berbeda, di waktu yang sama seorang pelajar SMA baru saja turun dari mobil angkutan kota. Hujan deras yang di sertai angin kencang membuat tubuh gadis mungil itu basah kuyub meski, ia sedang berlindung di bawah payung yang di genggamnya.
Sesekali tubuh mungilnya goyah di terpa angin, dia terus berjalan menyusuri trotoar menuju gang rumahnya. Beberapa kali gadis itu menoleh kebelakang seolah olah merasa ada orang yang sedang membuntutinya.
"Kenapa perasaanku tiba tiba saja jadi tak tenang, sebenarnya yang tadi itu, benar benar orang atau bukan?"
Gadis itu mempercepat langkah kakinya, dia gelisah, entah apa yang mengikuti di belakang, tapi yang pasti gadis pelajar SMA itu merasa terancam oleh sesuatu.
"Aagghkk....!"
Tiba tiba gadis itu menjerit, dan lalu jatuh seketika di jalanan gang menuju rumahnya. Tak ada yang tahu, apa yang terjadi padanya, namun yang jelas dia terbaring di jalan dengan mata yang terbelalak.
Kejadian serupa juga terjadi di beberapa tempat, saat malam menjelang.Tiga orang gadis tewas dengan cara yang sama, di tiga lokasi berbeda. Mereka semua baru di temukan keesokan hari, saat hujan mulai reda.
Penemuan korban yang tewas dengan cara tak wajar, kontan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Berita menyebar begitu cepat, dan spekulasi penyebab kematian empat gadis muda itu menimbulkan keresahan.
Entah siapa yang mulai menyebarkan berita bohong, namun masyarakat terlanjur percaya, kalau di kota mereka, saat ini ada vampir yang sedang berkeliaran mencari mangsa gadis gadis belia.
Sementara itu, Wira merasa yakin bahwa sosok predator, yang hangat menjadi pergunjingan di tengah tengah warga kota, tak lain adalah Asih.
__ADS_1
"Kota ini semakin tidak aman saja, apa sebaiknya aku terima saja tawaran Ronggo Joyo?"
Wira masih berkutat dengan batinnya sendiri, sedangkan kota mulai dilanda kecemasan. Hadirnya mahluk misterius, membuat warga enggan beraktifitas di luar, apalagi saat malam tiba.