Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 63 Tanah Keputusasaan


__ADS_3

Dengan berat hati Wira harus pergi meninggalkan pakde Jarwo yang tengah berjuang seorang diri. Pria tua itu menggunakan ritual terlarang serah jiwa untuk memaksa seluruh mahluk astral, agar ikut bersamanya ke alam bawah.


Wira hanya terpaku menatap haru wajah pria tua yang berulang kali, telah menyelamatkan jiwanya. Walaupun sangat kecewa, namun dia harus bisa menghargai keputusan pakde Jarwo.


"Terima kasih pakde Jarwo, saya janji tidak akan membuat anda kecewa. Kami pasti membawa Siska kembali dengan selamat."


Usai berjanji pada diri sendiri, Wira menggandeng tangan Linda, lalu bergegas mengajaknya menuju lantai dua. Mereka berlari ke arah ruangan yang berada tepat di tengah tengah, sesuai petunjuk dari pakde Jarwo.


"Dari sini sebaiknya kita harus lebih hati hati Lin, saya tidak tahu muslihat apa lagi yang akan di buat iblis itu untuk mengelabui kita, tapi yang pasti tidak akan lebih mudah dari yang pernah kita hadapi sebelumnya."


Linda mengangguk sembari menelan ludahnya. Meski tidak tahu harus melakukan apa, tapi gadis wartawan itu menuruti saja ucapan Wira. Keris yang diberikan pakde Jarwo di genggamnya di depan dada, mulut Linda tak berhenti membaca doa semampunya.


"Saya bisa melakukan apa pak, sebagian dari diri wanita itu adalah iblis, dia bukan manusia yang bisa dengan mudah diajak bergulat."


Linda berbisik dibelakang Wira. Rasa takut masih menghantui pikirannya. Wira berhenti di depan pintu pertama, lalu menoleh ke arah Linda. Dia mengikat keris yang di genggam gadis itu, sambil menguatkan hatinya.


"Dengarkan saya baik baik Lin, pakde Jarwo telah memberikan pusaka miliknya karena beliau percaya kamu bisa, dan saya yakin kamu mampu menghadapinya."


"Jadi kamu juga harus percaya pada diri sendiri. Yakinlah, Tuhan pasti akan membela mahluknya yang benar. Jangan lupa kamu adalah wartawan yang tangguh."


"Tugasmu hanya perlu mempercayai ucapan pakde Jarwo. Apapun kata hatimu, gambaran yang ada dalam benakmu, maka biarkan semua itu mengalir begitu saja, tidak usah dilawan."


"Rasa takut itu wajar, tapi kamu tidak boleh memeliharanya, dia hanya akan membuat kita semakin lemah. Saat ini, saya membutuhkan kamu lebih dari sebelumnya."


"Walaupun saya tidak tahu apa yang telah dilakukan pakde Jarwo kepadamu, tapi beliau pasti mewariskan sesuatu yang baik. Jadi kamu cuma perlu menghilangkan ketakutan itu, dan percaya pada pesan beliau."


Mendengar sugesti yang diberikan Wira pada dirinya, membuat Linda menjadi lebih tenang. Gagang keris yang telah diikat kuat menyatu di telapak tangan, menjadikan Linda lebih berani.


Mereka berjalan pelan mendekati ruangan besar dengan dua buah pintu jati berukir. Tidak seperti keadaan di bawah yang penuh teror, suasana di lantai dua justru sangat sunyi, dingin, tanpa ada satu aktifitas metafisik yang dapat mereka berdua rasakan.


Tapi Wira tak ingin gegabah, kondisi lorong yang sunyi, membuatnya merasa ganjil. Firasat Wira mengatakan pasti ada sesuatu, walaupun tidak tahu apa. Namun hatinya menyuruh Wira untuk lebih waspada.


Pelan pelan Wira menyentuh gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Hati hati dia mendorong pintu itu, lalu mengintip, untuk mengetahui apa yang ada di dalam ruangan.


Bau busuk tiba tiba menyeruak, menusuk hidung. Wira mundur dan menendang pintu. Dia khawatir bau busuk itu berasal dari aroma mahluk astral yang hersembunyi di dalam. Sekali lagi dugaan Wira salah, ruangan itu kosong. Bau busuk yang membuat mereka mual ternyata berasal dari sisa sisa bagian tubuh manusia yang berserakan di lantai.


"Kreaatt, bruak...!"

__ADS_1


Tak ada angin, tiba tiba saja pintu besar di ruang itu tertutup dengan sendirinya. Linda yang kaget, sepontan memeluk Wira sembari memejamkan matanya.


"Hanya suara pintu Lin, jangan takut!"


Wira memeriksa seluruh sudut ruangan kosong tempat mereka berada. Tapi memang tidak ada apa apa disana, kecuali tulang belulang, noda darah, dan sisa organ tubuh manusia yang membuat mereka mual, ingin segera kabur dari ruangan itu.


"Apa penerawangan pakde Jarwo salah, tidak ada apa apa di ruangan ini, atau jangan jangan kami berdua yang tidak peka?"


Wira mencoba berpikir dengan menggunakan nalarnya. Sementara Linda berusaha membuka pintu. Tapi anehnya pintu besar itu, mendadak tidak bisa di buka. Meski telah mencoba berkali kali, tapi hasilnya tetap sama, pintu besar itu sama sekali tidak dapat di buka.


"Aduh gawat pak, pintunya tidak bisa di buka, bagaimana sekarang?"


Linda mulai panik, aroma busuk menteror otak gadis itu. Dia yang terlatih menggunakan logika, tidak dapat menalar fenomena yang sedang terjadi.


Wira mulai merasakan ada sebuah kekuatan magis, semacam sihir hitam yang menyelimuti ruangan. Seperti mantra yang membuat mereka tidak dapat melihat apa yang sebenarnya ada di ruangan itu.


"Benar kata pakde Jarwo, aku harus mengunakan hati, dan menyingkirkan logika, saat berhadapan dengan mereka yang astral."


Wira menutup matanya, berusaha berkonsentrasi mencapai titik hening dalam dirinya. Seluruh panca indranya seolah tertidur, menyatu dalam keheningan yang membuatnya merasa berada dipuncak ketenangan.


Linda menghentikan aktifitas tangan kirinya yang berusaha membuka pintu. Wartawan cantik itu, menoleh ke arah Wira yang terlihat duduk bersila di lantai. Seketika bulu kuduknya bergidik, Linda mulai merasakan ada sesuatu.


"Pak.. pak Wira..."


Linda mulai gelisah, keringat dingin membasahi keningnya. Untuk ketiga kalinya ia menyentuh pundak Wira, dan sontak terkejut saat tiba tiba Wira kembali membuka mata, lalu dengan cepat meraih lengannya.


" Pejamkan matamu, dan ikuti saya."


Suara Wira membuat Linda menjadi lebih tenang, jantung yang berdegup kencang seakan ingin melompat keluar, perlahan lahan normal kembali. Linda mulai dapat menguasai diri, ia mengumpat kesal karena harus berada di situasi tegang yang menguras emosi dan mentalnya.


"Sial... sial... sial... dasar iblis jahat...!"


Seru gadis itu menggerutu, Wira menarik lengan Linda dan memintanya untuk diam, kemudian berkonsentrasi pada sebuah titik yang ada di ruangan.


"Diam, tutup mata, konsentrasi, dan ikuti saya!"


Wira menggandeng tangan Linda maju beberapa langkah menuju sebuah dinding. Dan seketika tubuh mereka menghilang berpindah alam. Linda membuka matanya, lalu mendapati dirinya sudah berada di tempat asing yang dipenuhi kabut tipis.

__ADS_1


"Tempat apa ini pak Wira, seram sekali, burung burung gagak itu membuat saya merinding, apa jangan jangan pakde Jarwo, salah menunjuk ruangan tempat Siska di sekap ya pak?"


Linda memperhatikan tempat asing, dimana mereka sedang berada saat ini. Tanah kering berbatu, diselimuti kabut tipis tersaji dihadapan. Kesan angker langsung terasa, begitu matanya melihat segerombol burung gagak hitam yang bertengger di dahan pohon kering.


"Kwak.. kwak.. kwak... !"


Ramai suara burung gagak seolah olah sedang antri, menunggu jatah daging segar untuk di santap. Wira mengedarkan pandangan menelisik daerah tandus berkabut disekitarnya. Perwira polisi itu kehilangan arah, bingung menentukan kemana kaki akan melangkah.


Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan luas padang tandus, tanah pecah pecah, berbatu, dan pohon pohon mati tanpa sehelai daun. Suara angin dingin, terdengar bagai rintihan jiwa yang penuh penyesalan.


"Kalau saja mbah Wongso dan pakde Jarwo, ada bersama kami sekarang, tentu tidak akan sulit untuk mencari arah yang benar."


Wira memalingkan wajah, menatap Linda yang selama ini telah setia jatuh bangun bersamanya. Gadis itu tak pernah sekalipun menyesal telah menyertai Wira dalam misi mengungkap kasus Sandikala.


"Sekarang kita mau pergi kemana pak, tempat ini seperti ujung dunia. Tanpa arah, tanpa petunjuk, semuanya terlihat sama."


Wira tak menjawab pertanyaan Linda, dia hanya tersenyum sembari mengusap kepala gadis pintar, yang selama ini telah menjadi semangat baginya. Wira menggandeng tangan Linda, dan mereka berjalan tanpa tujuan.


Suara suara tangisan terdengar membisik di telinga. Wira dan Linda mencoba mengabaikan suara itu, meskipun mereka dalam keadaan yang nyaris putus asa.


"Berhenti dulu pak, saya lelah, haus, dari tadi kita cuma berputar putar saja. Pada akhirnya kembali di tempat yang sama."


Linda berlutut di tanah, wajahnya tertunduk menahan letih. Wira yang iba melihatnya, ikut duduk disamping Linda sembari mengawasi burung gagak yang riuh berputar putar di atas kepala mereka.


"Mungkin ini akhir kita pak, saya sudah tidak kuat lagi berjalan, tempat ini bagai lingkaran setan. Kita hanya berputar di tempat yang sama tanpa arah yang benar, bahkan saya tidak tahu jalan mana yang mengantar kita kemari."


"Kamu tenang Lin, pasti ada jalan keluar dari tempat ini. Saya sudah berjanji akan membawa kalian pulang, dan itu pasti akan terlaksana apapun caranya."


Wira mencoba menenangkan Linda, meski dalam hatinya ragu mereka bisa kembali. Wira hanya bisa pasrah menemani Linda yang lambat laun mulai memejamkan mata, dan jatuh tertidur lelap dalam pangkuan Wira.


"Maafkan aku Lin, seharusnya sejak awal aku tak pernah melibatkan kalian semua dalam masalah ini. Harusnya hanya aku yang menjalani siksaan, bukan kalian berdua."


"Tuhan jika ini akhirnya, ambil nyawaku saja, tapi kembalikan mereka. Aku tak akan sanggup menerima beban dosa, jika karena aku, mereka harus menderita."


Wira tertunduk pasrah, hatinya diselimuti rasa sesal yang dalam. Udara yang dingin melarutkan keduanya dalam keheningan, tanpa sadar sosok wanita tersenyum sinis memperhatikan mereka.


"Itulah akibatnya, jika kalian berani menantang kami."

__ADS_1


"Hahahahaha...!"


__ADS_2