Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 28 Linda


__ADS_3

Pagi itu tak seperti hari biasa, rumah angker yang disebut warga sebagai rumah kosong ujung aspal, hari ini terlihat gaduh, ramai dengan kedatangan petugas. Suara sirine ambulans hilir mudik memadati jalan yang biasanya sunyi lengang.


Suara bising sirene mobil patroli polisi dan ambulan bersautan, mengundang rasa penasaran warga desa.


Mereka kelur rumah untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di desa. Warga terlihat heran, tak satupun dari mereka yang tahu bahwa semalam terjadi pembantaian di rumah tua dekat hutan.


Sementara itu mobil ambulan terus datang beriringan menuju rumah tua peninggalan Belanda. Warga yang penasaran mulai berdatangan ke lokasi, untuk melihat dari dekat proses evakuasi korban anggota sekte yang tewas mengenaskan semalam.


Polisi dibantu tentara dan aparat desa, sibuk mengamankan TKP dari warga yang penasaran. Garis polisi telah dipasang, petugas porensik yang baru saja datang langsung bekerja memeriksa korban dan memcari bukti petunjuk.


Linda terbaring di dalam mobil ambulan untuk mendapatkan perawatan medis. Kondisi gadis itu samgat memprihatinkan. Tubuhnya tampak lemas, kelopak matanya menghitam, dan kondisi mentalnya tidak stabil.


Tampaknya wartawan pintar itu shock berat. sesekali dia meracau tak jelas. Petugas medis memasang inpus ditangannya dan menyuntikan obat penenang agar Linda bisa beristirahat.


"Bagaimana keadaan Linda Suster?"


Wira menghampiri ambulan untuk melihat dan menayakan keadaan Linda kepada suster. Pria kekar itu sangat cemas, dia terus menatap wajah Linda sembari mengigit bibirnya.


"Kondisinya cukup parah pak, kami harus segera membawanya ke rumah sakit untuk perawatan intensif."


"Kalau begitu saya ikut dok."


Wira segera berpamitan kepada Boris lalu bergegas masuk ke dalam mobil ambulan dan sebentar kemudian mobil melaju meninggalkan halaman rumah tua yang dijadikan kuil tempat upacara tumbal.


Setelah tiga jam menempuh perjalanan mobil ambulan memasuki parkir UGD. Dua orang perawat segera menyambut, dan membawa Linda ke ruang perawatan.


"Untuk sementara bapak tunggu disini dulu, kami akan segera melakukan tindakan. Nanti kalau kondisi pasien sudah stabil, baru bapak boleh melihat leadaannya."


Seorang perawat mencegah Wira untuk masuk ke ruang perawatan, dia terpaksa harus menunggu di luar hanya berjalan mondar mandir sambil sekali waktu menengok ke arah pintu kaca ruang ICU.


Dua jam kemudian seorang dokter keluar dari ruang perawatan ICU, tak sabar menunggu Wira segera menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan Linda dok?"


Dokter tersenyum tidak menjawab lalu mengajak Wira ke ruanganya, sembari menyerahkan hasil pemeriksaan keshatan Linda. Sampai di ruangan dokter mempersilahkan Wira untuk duduk lalu menjelaskan kondisi gadis itu.


"Kondisi fisiknya baik, hanya ada luka memar, kekurangan cairan, dan kelelahan. Tapi yang mengkhawatirkan justru kesehatan mentalnya."


"Sepertinya ada peristiwa yang menyebabkan trauma. Memory Linda menolak mengingat apa yang telah terjadi padanya."

__ADS_1


"Jadi ada kemungkinan dia hanya ingat sebagian kenangan sebelum kejadian yang menimpanya kemarin."


Dokter menjelaskan detil tentang apa yang terjadi pada Linda, dan Wira coba memahami kondisi gadis itu.


"Tapi dok, sebelum dia sampai di rumah sakit, kami mendengar Linda mengatakan sesuatu, seperti mengigau."


"Apakah kita bisa menggali informasi tentang apa yang menimpanya selama disekap dok?"


"Saya rasa itu agak sulit, tapi mungkin kita bisa coba menggali melalui alam bawah sadarnya pak Wira."


Dokter tidak yakin, tapi dia berjanji akan mencari metode yang tepat untuk menangani Linda. Sementara Wira cuma bisa pasrah, hanya berdoa semoga saja Linda segera sadar dan mengingat peristiwa yang sudah ia alami.


"Baiklah dok, kalau begitu saya permisi dulu, jika ada perkembangan tentang Linda tolong kabari saya."


"Oh tentu pak Wira, kami pasti akan segera memberikan up date kesehatan Linda begitu dia sadar, kita doakan saja Linda cepat sadar dan bisa diajak bicara."


Wira merasa sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi, selain menunggu Linda sadar. Dia menjabat tangan dokter, lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


Dua hari sudah Wira meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan, dia ingin segera pulang lalu berbenah dan istirahat. Seluruh badannya kini terasa lelah, ingin tidur tapi kondisi Linda yang belum juga sadar mengganggu pikirannya.


Pagi hari Wira terbangun sembari megusap wajahnya, sinar matahari menyirami ruang tamu dari jendela kaca. Dengan malas Wira berjalan ke ruang tengah untuk mengambil minum di kulkas.


"Hallo selamat pagi."


"Baik om saya segera ke kantor sekarang."


Wira menutup phonsell, wajahnya mendadak tegang, cepat cepat dia mengenakan seragam dan langsung menuju polres tempatnya bertugas.


Dua puluh menit kemudian Wira sudah berada di ruang kerja Boris. Perwira menengah itu tampak tegang, Dia menyuruh Wira menutup pintu, dan mereka langsung terlibat dalam pembincangan serius.


Boris membuka pembicaraan langsung pada inti masalah tentang sekte Sandikala. Satu sisi institusi kepopolisian memuji kinerja Wira yang dianggap telah berhasil mengungkap beberapa kasus orang hilang yang ternyata, mereka adalah korban tumbal sekte Sandikala.


Namun di sisi lain pengungkapan kasus rumah kosong ujung aspal tersebut, berbuntut panjang. Saat ini keluarga Wira tengah menghadapi teror dari orang orang yang di duga anggota sekte Sandikala.


"Dengar Wir ini masalah serius, sepertinya Sandikala benar benar menjadikanmu target mereka."


"Kemerin ayahmu menelepon om, katanya rumah kalian di datangi orang tidak dikenal, untungnya sebelum semua terlambat, ayahmu mau mendengarkan saran om, dan sudah pindah ke vila."


"Mereka melemparkan surat bernada ancaman ke depan teras rumah kalian. Waktu itu ayahmu sempat pulang untuk mengbil dokumen penting tentang penyelidikan kasus tahun sembilan puluh. Dan tidak sengaja melihat mereka datang dengan mobil van hitam lalu melempar batu yang di bungkus kertas."

__ADS_1


"Berhenti usik kami, atau kalian semua akan mati!"


"Begitu inti dari surat ancaman itu Wir."


"Maaf saya potong om, bagaimana ayah tahu kalau orang orang itu ada kaitannya dengan kasus sekte sandikala, bisa saja mereka orang orang yang dikirim musuh musuh ayah?"


Boris terdiam, alasan Wira masuk akal. Peluang ancaman dari orang orang yang dendam dengan peristiwa di masa lalu, mungkin saja terjadi mengingat profesi mereka sebagai penegak hukum selalu bersentuhan dengan tindak kriminal.


Sebaliknya Wira tidak yakin dengan apa yang diucapkan Boris. Menurutnya ini hanya dua peristiwa kebetulan yang dihubung hubungkan. Wira justru berpendapat kalau ancaman terhadap keluarganya, boleh jadi berasal dari musuh musuh ayahnya atau bahkan sekedar pekerjaan orang iseng.


Sejak terbongkarnya kasus sekte sesat yang menumbalkan para gadis. Beritanya memang menjadi trending topik dimana mana, surat kabar, radio, televisi, dan bahkan masyarakat tak henti hentinya membahas kasus itu.


Apalagi ada banyak kejanggalan yang terjadi pada kasusnya. Sampai sekarang warga dan bahkan team porensik kepolisian, belum bisa menetapkan tersangka, sebab seluruh anggota sekte yang ada di TKP semuanya tewas mengenaskan dengan cara yang tidak wajar.


Tubuh mereka tercabik cabik bagai di mangsa binatang buas. Sementara polisi yang ada di lokasi kejadian pada malam itu, sepakat untuk bungkam, tidak memberikan pernyataan apapun kepada media.


Mereka sengaja menutupi kejadian yang sebenarnya, dan memilih menjadikan kasusnya sebagai misteri.


Semua itu atas perintah Boris. Alasanya cukup sederhana, mereka tidak mungkin mengatakan bahwa tewasnya semua orang disebabkan oleh pembantaian yang dilakukan sosok astral perewangan yang dikirim para petinggi Sandikala.


Dan sekarang Wira harus menanggung semua. Walau tidak percaya ancaman itu berasal dari sekte Sandikala, tapi dia tidak bisa menutup mata bahwa saat ini jiwa keluarganya terancam.


"Katakan saja pemikiranmu benar, lalu apa yang akan kamu lakukan Wir, nyatanya kalian sekeluarga memang dalam bahaya."


Wira tidak menjawab, perwira pertama itu hanya termenung lalu mengusap wajahnya, dia enggan berpikir macam macam. Saat ini prioritas utama baginya adalah Linda, Wira merasa bertanggung jawab atas apa yang menimpa gadis itu.


"Entahlah om saya belum punya rencana, yang terpenting sekarang Linda bisa sembuh, baru setelahnya, saya pikirkan masalah keluarga di Jakarta."


"Lagi pula ayah mantan perwira polisi yang besar di lapangan, beliau pasti tahu apa yang harus di lakukan."


Wira duduk sembari mengetuk ngetuk meja, dia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir dari wajahnya. Dalam hati Wira hanya bisa berdoa semoga keluarganya baik baik saja.


Sementara Boris tidak bisa membantu lebih banyak lagi, pria paruh baya itu hanya bisa mengingatkan Wira dan meminta tolong rekan seangkatan agar mengawasi keluarga seniornya.


"Baiklah Wir, hanya ini yang bisa saya lakukan. Om ingatkan kamu, jangan menganggap enteng masalah ini, sebaiknya kamu susun langkah langkah mulai sekarang, agar kamu tidak menyesal."


Boris mengakhiri obrolan mereka, dia menepuk pundak Wira dua kali, lalu pergi meninggalkan Wira yang sedang merenung, galau memikirkan apa yang harus di pilih.


"Semuanya penting, karena aku yang memulai maka aku pula yang harus mengakhiri."

__ADS_1


Wira bergumam lirih, dia bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruangan dengan dilema dalam benaknya.


__ADS_2