
Rencana matang yang disusun Ronggo Joyo, sekilas nampak sempurna. Mereka menjalankan siasat sesuai rencana. Setelah entitas dalam gua mengikuti Linda, Ronggo Joyo masuk ke dalam untuk membebaskan Wira.
Dari jauh samar Ronggo melihat sosok laki laki tergantung di langit langit gua. Sebelum lebih jauh melangkah ke dalam gua, Ronggo meneliti daerah sekitar. Matanya tajam mengawasi sekeliling.
"Aku rasa mereka semua sedang mengejar Linda, ini saatnya menyelamatkan Wira."
Sekali hentakan tubuh Ronggo Joyo melompat, melayang bagai kapas. Keris yang di genggam, dengan cepat menyabet ikatan yang melili tubuh Wira hingga terjatuh.
Ronggo Joyo segera menangkap tubuh Wira sebelum, pria tampan itu mendarat jatuh di tanah. Tangannya gesit memotong tali gaib yang membelit Wira sedang mulutnya terus membaca mantra.
"Pak Ronggo anda datang?"
Kepala Wira masih terasa pusing, matanya berkunang kunang, kedatangan Ronggo membuatnya tenang.
"Ayo keluar dari sini, sebelum ular tua bangkit dari tidurnya."
Ronggo Joyo bergegas memapah tubuh Wira yang masih terkulai lemah di tanah. Entah ada firasat apa, tapi Ronggo Joyo, merasa tidak aman belama lama di sarang ular tua.
"Anda masih kuat berjalan pak Wira?"
Wira mengangguk lemah, dengan tertatih tatih, mereka berusaha menggapai mulut gua. Hanya tinggal beberapa langkah menju mulut gua, saat tiba tiba terdengar suara mendesis dari sisi gelap ruang terdalam gua.
"Selamat datang abdi setiaku, akhirnya kamu sampai kemari Ronggo Joyo."
"Ada permintaan apa sampai kamu repot repot menyebrang ke alam bawah?"
"Biasanya kamu hanya perlu memanggilku dengan ritual dan memberi persembahan. Sekarang kamu malah datang sendiri kemari, katakan permintaanmu Ronggo Joyo, aku pasti akan mengabulkan permintaan abdi setia sepertimu."
Ronggo Joyo menghentikan langkahnya, dengan terpaksa dia melepaskan rangkulan dari tubuh Wira, lalu menyandarkannya di dinding batu.
"Aku akan membawa pulang anak ini bunda ratu."
Dengan gemetar Ronggo Joyo mengungkapkan tujuannya masuk ke sarang ular tua. Tiba tiba suasana remang dalam gua menjadi terang. Sosok wanita cantik bertahtakan mahkota emas muncul dengan anggun dihadapan mereka.
"Kemarilah Ronggo, bawa kembali bocah tampan itu padaku."
"Biarkan dia menjadi ayah dari telur telurku."
Ronggo Joyo terkesiap, lalu mundur beberapa langkah, mendekati Wira yang bersandar lemah, dia berbisik, sembari memberikan kitab kuno dan sebuah pusaka kepada Wira.
"Dengar Wira bagaimanapun caranya kamu harus keluar dari hutan ini, pergi ke makam tua dan kembali ke gapura, ikuti jalan menuju titik terang dan melintaslah bersama Linda."
"Saya akan menahan ular tua. Kamu bawa dan simpan pusaka ini baik baik, di tanggal yang telah saya lingkari, hari itu tanggal naas untuk kalian."
"Bunuh Asih dengan pusaka ini, sementara saya akan menutup gerbang dimensi dari sini agar ular tua tak menyatu dengan Asih."
Usai berpesan, dan memberi dua buah pusaka berbentuk batu mustika, dan pisau emas, Ronggo Joyo melangkah maju mendekati sosok ular tua yang kini telah alih rupa menjadi wanita cantik.
__ADS_1
"Ada apa Ronggo, kenapa kamu gemetar, bukankah aku ini cantik?"
Ronggo Joyo diam terpaku sembari menelan liurnya. Wanita jelmaan itu memang terlihat cantik dengan mata telanjang, namun Ronggo Joyo tahu wujud asli ular tua yang sebenarnya.
Iblis ribuan tahun itu lebih menyeramkan dari semua demit perewangan yang pernah di hadapi Ronggo Joyo.
"Sebaiknya hentikan upayamu menyesatkan manusia ular tua."
"Biarkan kami pergi dan menjalani hidup dengan damai, tanpa kehadiran kalian."
Ular tua menyeringai, mengeluarkan suara desis yang menciutkan nyali. Paras cantiknya seketika berubah menyeramkan, tanduk menyembul dari dahi, dan lidahnya menjulur dengan air liur yang berlendir.
"Lancang kau Ronggo Joyo, beraninya kamu menentangku, besar sekali nyalimu!"
"Apa kamu pikir dengan ilmu itu kamu akan sanggup membunuhku?"
"Manusia naif, perjanjian darah tak akan hapus sampai ajal menjemput Ronggo."
"Apa kamu pikir, Tuhanmu akan mengampuni manusia sesat sepertimu?"
Ucapan ular tua menggoyahkan hati Ronggo Joyo. Dia sadar kalau selama ini tangannya berlumuran darah. Ronggo Joyo dan Anton Wijaya telah memilih jalur hitam untuk mencapai kejayaan, dan sekarang dia menyesal.
"Walaupun sudah terlambat, dan tempatku kelak bersamamu di neraka, tapi untuk sekarang biarkan Tuhan sendiri yang menentukan."
"Cuih..!"
"Aku tak lagi sudi menjadi budakmu, matilah kau penghuni kerak neraka...!"
"Kurabg ajar kau Ronggo, mahluk rendah yang tak tahu balas budi sepertimu. Pantas mati Ronggo!"
Ronggo Joyo tak mau lagi mendengarkan ucapan ular tua. Dia terus menyerang membabi buta, walau tahu serangannya tak berarti dihadapan mahluk ribuan tahun itu.
"Hahahaha...!"
"Ayo Ronggo, keluarkan semua ilmu kanuragan yang kau miliki, mahluk rendah..!"
"Apa kamu sudah lupa, kalau kesaktianmu itu berkat kami, para iblis?"
Ronggo Joyo mengumpat, baru sekarang dia merasa konyol bagai pecundang, bagaimana dia bisa lupa, kalau ilmu yang diperolehnya lewat tirakat, lelaku, atau ritual, adalah hasil perjanjian sesat dengan iblis.
"Sial, bagaimana aku bisa lupa semua ini?"
Ronggo Joyo merasa ajalnya sudah dekat, dia tidak akan mungkin mampu melawan iblis wanita itu, apalagi sampai menutup portal.
"Sudah terlanjur, kata yang terlontar tak mungkin di tarik, semoga saja pertarungan ini memberi waktu untuk Wira meninggalkan jagad lelembut."
Ronggo terus berjuang memberikan perlawanan, meski dia sudah mulai kepayahan. Dalam hati Ronggo Joyo, mulai berdoa, semoga taubatnya bisa diterima.
__ADS_1
"Apa selama ini kau pikir aku tidak bisa melihat dan mendengarmu Ronggo Joyo?"
"Biar ku beritahu, agar kau tak mati penasaran Ronggo."
"Apa yang dimulai oleh Sitarasmi, itu semua adalah rencanaku, dia hanya boneka yang aku peralat untuk tujuan besar."
"Sama seperti kalian, yang dengan bodoh telah membantu kelahiran Asih, dan membangkitkan Sitarasmi."
"Sitarasmi sudah mati Ronggo, yang mati tak mungkin kembali. Dia yang kalian bangkitkan sama seperti Asih."
"Dia juga mahluk kegelapan sama seperti aku, sama juga seperti Asihh. Dan sekarang mereka telah mendapatkan cangkangnya."
"Meski portal berhasil di tutup, aku tetap akan jadi mimpi buruk kalian."
"Hahahaha.."
Ucapan ular tua membuat Ronggo Joyo jadi prustasi, dia benar benar terpedaya selama puluhan tahun.
"Demit sialan, selama tiga puluh tahun lebih kami mengikuti tipu dayamu, walau sekarang sudah terlambat, setidaknya aku sudah berusaha untuk memperbaiki kerusakan akibat muslihatmu."
Ronggo Joyo melepaskan keris pusaka yang di genggamnya, lalu mulai berdoa pasrahkan diri kepada sang pemilik hidup.
"Jika memang ini akhirnya, maka biarlah terjadi atas kehendakmu Tuhan."
Ronggo Joyo berusaha mengingat ingat lagi semua doa doa yang di ajarkan sang ibu padanya. Mata Ronggo terpejam, mulutnya tak berhenti membaca doa, hingga ular tua merasa mulai terganggu dengan doa doa yang diucapkan Ronggo Joyo.
"Kurang Ajar kau Ronggi Joyo, berhenti memuji keagungan Tuhan di depanku!"
Ular tua merasa kepalanya sangat sakit, doa tulus yang dilantunkan Ronggo Joyo membuatnya lemah, dan kepanasan. Mahluk itu mengibaskan ekornya dengan keras menghantam tubuh Ronggo Joyo.
"Uhukkk..!"
Ronggo Joyo tumbang ke tanah, darah segar mengalir dari mulut, kuping, dan matanya. Dia sekarat, tapi mulut, juga hatinya tetap mengingat Tuhan.
Ronggo Joyo tewas dalam pasrah, mulutnya tak henti mengucap doa, sampai nafas terakhir. Ular tua masuk ke bagian tergelap gua tempat sarangnya berada.
Kemudian tiba tiba terjadi gempa dasyat yang meruntuhkan langit gua. Mahluk mahluk di jagad lelembut panik mereka lari tunggang langgang bersembunyi dalam batu, pohon, dan danau.
Sementara Wira telah berhasil sampai di gapura makam kuno. Suasana area pemakaman itu sudah tidak lagi seram seperti saat Wira datang untuk pertama kalinya.
Di ujung Gapura Wira melihat sosok gadis yang du temuinya saat tergantung di langit langit gua, dwngan ragu Wira berjalan menghampiri wanita berkerudung merah itu.
"Pak Wira anda selamat?"
Wira terkejut, dia tak menjawab pertanyaan wanita itu, dan langsung menghambur memeluknya.
"Ronggo Joyo menepati janjinya, kamu selamat Lin, kita akab pulang."
__ADS_1
Wira tak kuasa menahan haru, tangisnya pecah seketika, dan Linda terlihat bingung dia belum mengetahui apa yangnswbenarnya terjadi pada mereka berdua.
Wira menggandeng Linda menuju cahaya dan seketika tubuh mereka melayang, genggaman Wira terlepas dari tangan Linda dan mereka terpisah.