Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 64 Petunjuk Mimpi


__ADS_3

Rasa letih, haus, dan kantuk yang mendera, mebuat Linda tak perduli lagi keadaan mereka. Dia pasrah jika memang hidupnya harus berakhir di tempat asing, tanah antah berantah yang bahkan ia tak tahu mereka berada di alam nyata atau halusinasi abstrak.


Wira pun demikian, meski berusaha tegar di depan Linda, nyatanya rasa lelah, gelisah, dan cemas, tak dapat ia sembunyikan. Wira hanya bertahan untuk tetap sadar sembari berdoa agar mendapat petunjuk keberadaan Siska.


Burung gagak berputar putar di atas kepala, tidak sabar menanti santapan mereka. Entah sedang berhalusinasi atau nyata, Wira seperti merasakan kehadiran orang lain di sekitarnya. Lamat lamat matanya melihat siluet yang belum bisa dia pastikan.


"Ada orang lain, selain kami disini. Aku harus memastikannya. Jika sosok bayangan itu benar manusia, mungkin saja ini sebuah petunjuk."


Wira ingin bangkit untuk memastikan bayangan yang dilihatnya, tapi niat itu segera ia urungkan, Wira tak ingin membangunkan Linda, apalagi kalau harus meninggalkan gadis itu seorang diri. Wira tak ingin rasa penasaran, membuatnya jadi gegabah dan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


Keputusan pakde Jarwo untuk melakukan ritual serah jiwa, adalah karena kesalahannya. Andai dia tak mengejar bayangan itu, pakde Jarwo pasti masih ada diantara mereka, menyertai keduanya untuk mencari Siska dan membunuh Asih.


"Lempar jatuh burung gagak hitam itu, jika kamu ingin pulang. Hanya ada satu dari mereka yang nyata, lainnya hanya bayangan dan kamu harus membunuhnya."


Linda terbangun mendengar suara bisikan di kepalanya. Dia memperhatikan sekeliling, dan segera sadar kalau saat ini dirinya tidak sedang berada dikamar, tidur nyaman di ranjang empuk miliknya.


" Pak Wira, maaf pak, saya ketiduran."


Linda segera memperbaiki posisi duduknya, dan memperhatikan alam sekitar. Sekarang dia sadar, kalau sudah melakukan hal konyol. Logika Linda mengatakan, nyawanya mungkin saja melayang saat ia dalam kondisi tak sadar.


"Bagaimana keadaanmu Lin, sudah lebih baik sekarang?"


"Saya sengaja tidak membangunkan kamu, supaya tenagamu pulih kembali."


Wira tersenyum tipis melihat Linda yang tampak nyaman berbaring di pangkuannya. Gadis cantik itu tertunduk malu. Sambil merapikan rambutnya, pelan pelan Linda bergeser menjauh.


"Gagak itu pak, kita harus melempar jatuh burung gagak itu. Hanya ada satu dari mereka yang asli, dan kita harus membunuhnya."


Wira menatap aneh wajah Linda. Keningnya berkerut, dia berpikir kalau gadis itu sedang demam, oleh karenanya Wira menyentuh kening Linda.


"Saya baik baik saja pak, mimpi yang memberi bisikan, kalau kita mau menemukan Asih, maka kita harus membunuh satu dari gagak gagak itu."


Wira kembai tersenyum tipis, dia masih bingung dengan ucapan Linda, yang ada dalam benaknya, bagaimana mungkin menemukan satu gagak asli diantara puluhan gagak yang semua terlihat sama. Wira lalu memalingkan wajahnya ke arah kawanan gagak, dan meneliti satu demi satu.


"Bisikan dari sebuah mimpi, mungkin aku sudah mulai kehilangan akal sehat, tapi sudahlah tak ada salahnya dicoba, lagi pula sejak awal semua ini hanya ilusi."


"Mungkin juga bayangan orang yang aku lihat, hanya sebuah bayang semu yang sama sekali tidak nyata."

__ADS_1


Wira berbicara pada dirinya sendiri, suka tidak suka dia harus terbiasa dengan halusinasi optik yang diciptakan Asih. Mungkin saja dengan mengikuti firasat, lambat laun indranya terlatih menghadapi hal hal diluar nalar. Begitulah yang terpikir oleh Wira saat ini.


"Bapak sedang memikirkan apa pak, jangan jangan, anda berpikir saya terkena gangguan mental?"


Mata Linda melotot, dia sewot, tak ingin perwira polisi di sampingnya berpikiran buruk, lantaran ia baru saja mengatakan, kalau dirinya mendapat bisikan gaib. Wira tertawa, dia sama sekali tak menduga kalau pikiran mereka sama soal mistik.


"Hehehehe.. Saya justru berpikir kamu itu sangat hebat, wartawan surat kabar, sekarang sudah alih profesi menjadi ahli supranatural, dan yang aneh, saya percaya dengan ucapan dukun baru, karena terjepit situasi."


"Hahahaha..."


Tawa Wira memecah kebuntuan diantara mereka. Linda tersenyum getir, sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat Wira tertawa renyah tanpa beban. Akan sangat berbeda bila mereka dalam situasi yang normal.


"Apakah mungkin kami akan sedekat ini, apabila keadaannya sudah kembali normal seperti dulu?"


"Huh... sadar Linda, kamu ini sedang memikirkan apa sih, dunia kalian berbeda, fokuslah, sekarang tugasmu menemukan Siska, dan berjuang untuk pulang."


Linda bergumam lirih, hatinya seolah olah ingin mengatakan, agar hari ini tak akan pernah usai. Andai saja keadaan mereka tak seperti sekarang. Tentu Linda akan menjadi gadis yang paling bahagia di muka bumi ini.


"Hey... kenapa jadi kamu yang melamun Lin, ada apa?"


"Owh.. tidak, tidak apa apa, saya tidak sedang melamun pak, hanya coba mengamati gagak gagak itu. Saya pikir mereka pasti punca satu ciri khusus untuk membedakan satu yang asli."


"Matanya, perhatikan mata burung gagak hitam itu Linda, ada satu dari mereka yang memiliki mata berwarna hitam pekat."


Tiba tiba saja Linda mendengar lagi suara bisikan pria dikepalanya. Suara itu sangat akrab ditelinga, dan Linda tahu persis siapa pria pemilik suara itu. Dia adalah pakde Jarwo.


"Pakde.. pakde Jarwo...!"


Linda mengedarkan pandangannya ke segala arah, berharap menemukan sosok pakde Jarwo disekitar mereka. Tapi semuanya sia sia, karena suara pria tua itu hanya terdengar dalam otaknya saja. Sosok pakde Jarwo tidak menyertai mereka.


"Kamu kenapa lagi Lin, tidak ada pakde Jarwo disini, beliau sudah tidak bersama kita lagi."


Wira merasa ada sesuatu yang aneh dalam diri Linda, entah mengapa, dia berpikir pakde Jarwo sedang menolong mereka untuk keluar dari tanah keputusasaan.


"Apakah mungkin sukma pakde Jarwo, sedang berusaha membantu kami, dengan komunikasi melalui Linda?"


"Apa jangan jangan beliau tidak hanya sekedar menyalurkan tenaga dalamnya, tapi menurunkan sebagian ilmu yang bisa menghubungkan antara mereka berdua?"

__ADS_1


Wira sibuk menduga duga, apa yang telah terjadi terhadap Linda, dan sebaliknya gadis itu kini duduk bersila mencoba fokus untuk mengikuti petunjuk yang terekam dalam otaknya.


Sementara bayangan yang di lihat Wira terus saja mengamati mereka dari kejauhan. Wajah kaku, dengan tatapan tajam, terlihat menyeringai, lalu tiba tiba menghilang dalam kabut.


Linda membuka matanya, kemudian menunjuk ke arah gagak yang terbang semakin rendah. Tiba tiba saja kawanan gagak itu membentuk formasi dan meluncur deras menyerang mereka. Wira yang kaget, kontan menarik pistol dari pinggang.


"Door... door... Door..!"


Lihai tangan Wira membidik satu per satu gagak yang menghambur kearahnya. Burung burung itu menyerangnya dengan berutal. Meski telah di tembak berkali kali, tapi burung burung itu tidak mati. Mereka yang terkena bidikan pistol Wira hanya berubah menjadi kepulan asap hitam, lalu kembali dalam wujudnya semula.


Wira menembakkan pistolnya berkali kali hingga persediaan magazinnya, tanpa sadar telah habis terpakai. Wira menarik Linda untuk betlindung di belakangnya, sembari merapat ke batang pohon, ia berusaha bertahan dengan belati emas.


"Sial, semakin di tebas burung burung gagak ini, semakin banyak saja. Jadi mana dari mereka yang asli. Aku tidak melihat ada satu ciri khusus yang membedakan mereka."


Wira tetap bertahan sembari melindungi Linda di balik punggungnya. Pohon kering di belakang mereka cukup menguntungkan posisi Linda. Tubuh Wira mulai mendapatkan luka sobek di lengan, namun ia belum merasakannya.


Linda yang tak ingin menjadi beban untuk Wira, segera bergerak maju ke depan. Tangannya yang mungil terayun acak menyabet kawanan gagak yang ramai menyerang Wira. Saat itu Wira melihat ada seekor gagak menyerang lebih agresif dari burung gagak yang lain.


Insting Wira langsung mengatakan, burung itu adalah sosok gagak yang asli, dia mulai fokus pada satu titik, dan benar dugaannya, gagak itu mempunyai ciri khusus seperti ucapan Linda.


Mata gagak itu memiliki warna hitam yang lebih pekat dari gagak lain. Wira segera mengambil ancang ancang, ia mengeluarkan satu buah paku emas dari kantung yang terikat di pinggang, lalu melemparnya dengan tepat ke arah burung gagak yang menurutnya adalah gagak yang asli.


"Aaaaaa...!"


Bidikkan paku emas tepat bersarang di kepala gagak hitam, suara pekik kesakitan terdengar keras dari kejauhan. Suara wanita mengerang, Wira langsung menikam mata gagak hitam yang terjatuh ke tanah, dan gagak lain langsung lenyap seketika.


Bentang alam yang tadinya tanah gersang berkabut, mendadak berubah menjadi sebuah perkampungan dengan rumah rumah kecil yang terbuat dari anyaman bambu.


"Asih Sialan, permainan sihir apa lagi yang akan dia mainkan?"


Wira menghempaskan tubuhnya di tanah, darah di lengan kanan, menyadarkan Wira, kalau saat ini dia sedang terluka. Rasa perih baru ia rasakan. Linda menyobek bagian bajunya yang koyak dan mengikat luka di lengan yang paling parah.


"Pak, ada banyak luka di tubuh anda, bagaimana kalau kita istirahat di salah satu pondok, barang kali saja saya bisa menemukan obat obatan di dalam sana."


"Kamu jangan konyol Lin, kita masih berada di tempat yang sama saat ini. Tidak ada apa apa disana, rumah rumah itu mungkin saja dihuni para penduduk astral, atau mungkin saja Asih sendiri telah menyiapkan sebuah perangkap baru untuk menjebak kita."


Wira memejamkan matanya, angin dingin terasa sejuk menerpa wajah tampan yang penuh dengan keringat. Linda duduk bersimpuh di dekat Wira, bibir manisnya tak berhenti berdoa, agar kali ini mereka bisa menemukan Siska dan berhasil merebutnya dari tangan Asih.

__ADS_1


"Tuhan tolong bantu kami memenangkan pertarungan ini."


__ADS_2