
Ronggo Joyo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, cuaca hari ini dirasakan sangat berbeda. Alam tidak sedang baik baik saja. Anton Wijaya terus mengamati gumpalan awan pekat yang menyelimuti kota.
Mau tak mau dia harus mengakui kekhawatiran yang dirasakan Ronggo Joyo. Dalam hati Anton berkecamuk perasaan bersalah. Dia mulai ragu dengan keputusanya mengadakan ritual tumbal seribu gadis, mungkinkah Sitarasmi telah tertipu bujuk rayu iblis sehingga mwmpersiapkan semua ini dari jauh jauh hari?"
"Sial kenapa aku begitu naif, seharusnya ini tidak terjadi, cita cita Sandikala bukan seperti ini."
Anton Wijaya mengenang kembali masa lalu, saat dirinya dan Ronggo Joyo mulai terjun ke dunia kerja dan merintis bisnis. Dia ingat betul hari hari dimana untuk pertama kalinya Anton berkenalan dengan Raden Ayu Sitarasmi.
Melalui wanita dari kalangan ningrat itu, Anton Wijaya mulai menapak sukses dalam kariernya sebagai pengusaha muda. Relasi bisnis satu demi satu datang menghampiri, nama Anton Wijaya kian melambung, sosok Raden Ayu Sitarasmi berhasil menjadikan dirinya sebagai pengusaha muda paling berpengaruh di kota Surabaya.
Pelan pelan ada rasa kagum dalam dirinya. Anton Wijaya mulai percaya bahwa tangan dingin Raden Ayu Sitarasmi yang telah berhasil menuntunnya pada posisi sekarang.
Diam diam Anton Wijaya mengidolakan sosok Wanita tangguh yang akrab disapanya dengan sebutan Bunda ratu, sampai pada akhirnya dia terjebak dalam sifat panatisme absolute, yang membuat Anton muda selalu yakin terhadap keputusan yang dibuat Sitarasmi tanpa sedikitpun mempertanyakan tindakan dan ucapannya.
Ini adalah titik awal keterlibatan Anton Wijaya dalam sekte sesat yang dipimpin Raden Ayu Sitarasmi.
Anton Wijaya masih ingat betul tujuan awal dari organisasi Sandikala yang dibentuk Sitarasmi. Mula mula organisasi ini adalah perkumpulan persaudaraan, yang bertujuan menjaga dan memelihara kelanggengan semua anggotanya.
Lambat laun organisasi mulai berkembang pesat, dan mulai bergeser menjadi sebuah sekte, seiring dengan kedekatan Raden Ayu Sitarasmi dengan dunia sepiritual.
Anton Wijaya dan anggota sekte lainya mulai lekat dengan semua ritual ritual yang dijalani Raden Ayu Sitarasmi. Makin lama ritual ritual yang mereka lakukan semakin ganjil.
Bahkan Ronggo Joyo yang sejak kecil telah di didik dalam suasana kebatinan, yang terbiasa dengan lelaku atau ritual, mulai merasakan ada penyimpangan dari ritual yang mereka lakukukan, namun seperti juga Anton Wijaya, dan anggota sekte lainnya Ronggo Joyo enggan bertanya.
Mereka hanya mengikuti saja semua ritual, hingga pada puncaknya mereka mulai mencari para gadis untuk dijadikan inang atau wadah bagi sesuatu yang berasal dari kegelapan. Dan akhirnya Asih dilahirkan.
Sekte jadi kian berutal, dan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan orang atau kelompok yang dianggap menghalangi mereka. Beruntung peristiwa kecelakaan, yang dialami salah satu calon inang, berhasil membongkar semuanya. Dan sekte itu dibubarkan paksa.
Atas perintah Raden Ayu Sitarasmi, Anton Wijaya mengambil alih pimpinan sekte dan menjalankan ritual dalam hening. Kegiatan mereka berjalan dalam senyap, tanpa diketahui pihak manapun.
Sampai kejadian malam itu, saat sekelompok orang yang merupakan pesaing Sandikala mengetahui keberadaan Asih. Mereka berniat balas dendam dan mengambil Asih. Naas Raden Ayu Sitarasmi terbunuh dalam perang ilmu hitam tersebut.
Sedangkan Asih oleh Ronggo Joyo di bawa ke sebuah rumah di tepi hutan, dan lalu tanpa di ketahui orang lain, Dia membesarkanya dengan satu ritual khusus yang bertujuan mengunci sosok dalam diri gadis itu.
__ADS_1
Keberadaan Asih menjadi rahasia yang hanya di ketahui Anton Wijaya dan Ringho Joyo. Di malam malam tertentu, seoperti saat purnama atau hari lahirnya. Sesuatu dalam diri Asih akan menjadi sangat kuat.
Hari itu ritual yang dilakukan Ronggo tidak akan sanggup menahan kekuatan yang ada dalam diri Asih. Gadis itu akan memuaskan rasa laparnya dengan menghirup saripati dari manusia. Asih akan berkeliaran mencari mangsa hingga tengah malam, dan akan kembali sebelum fajar tiba.
Sejujurnya Ronggo Joyo sendiri segan pada gadis itu, tapi dia tak bisa menolak keinginan Anton Wijaya yang menghendaki agar dirinya bersedia memelihara Asih, walaupun setiap saat baik Anton Wijaya maupun Ronggo Joyo selalu merasa ada energi hitam yang menekan waktu mereka sedang berinteraksi dengan gadis yang secara fisik, berkulit kuning langsat dan berparas ayu itu.
"Kita sudah terlau jauh melangkah Nggo, waktu tak bisa diputar kembali, walau sejatinya aku sudah letih, tapi kita tidak bisa menarik langkah sekarang."
Anton Wijaya mendesah, seakan ingin melepas sedikit beban di pundaknya. Ronggo Joyo diam tak menimpali, pria paruh baya itu hanya melirik kaca spion sembari terus fokus menyetir.
Sementara di sebuah kamar rahasia di bangunan belakang rumah Anton Wijoyo Asih berdiri dalam gelap seperti tengah berbicara dengan bunda ratu walaupun tidak ada sepatah kata yang leluar dari bibirnya.
"Manusia manusia serakah ini, tidak tahu apa yang mereka lakukan."
"Dengan sangat mudah aku membuat mereka mengikuti kemauan kita."
"Hahahaha..."
Seketika hujan turun disertai angin kencang, Wira berlari masuk ke dalam restorant sambil terus memperhatikan awan aneh yang berputar putar di ujung puncak menara Naga Jaya Group.
"Kenapa perasaanku selalu tidak enak saat melihat ujung menara itu?"
"Apakah ini sebuah tanda akan terjadi sesuatu yang buruk di kota ini?"
Sontak saja Wira teringat kepada Linda, yang saat ini sedang mendapatkan perawatan mental di rumah sakit jiwa.
"Linda.."
"Aku harus menemui Linda sekarang juga."
Wira bergegas melangkah menuju meja kasir untuk membayar makanan. Setelahnya Wira langsung menerobos hujan dan cepat cepat melajukan mobilnya ke arah rumah sakit jiwa tempat Linda di rawat.
Hujan deras dan angin kencang menyulitkan pandangan Wira, dia mengemudi dengan hati hati di tengah cuaca buruk itu. Dua puluh menit kemudian Wira sudah berada di depan loby rumah sakit, seorang petugas keamanan datang menghampiri Wira yang tengah mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
Pria itu mengarahkan Wira menuju resepsionis, lalu dari sana Wira ditunjukkan kamar rawat Linda yang terletak di lantai tiga.
Tak lama berselang Wira sudah berada di depan pintu ruang rawat dimana Linda berada. Dari kaca kecil di pintu Wira bisa melihat wartawan cantik itu sedang tertidur.
Sempat ada rasa ragu yang menggelayuti hatinya, namun akhirnya Wira memutuskan untuk masuk meskipun mereka tidak dapat nerbincang bincang.
"Kasihan gadis Linda, dia harus menerima cobaan sebesar ini sekarang. Semua ini gara gara aku. Kalau saja waktu itu, aku tidak melibatkan Linda."
"Andai aku tidak terkecoh dan mengejar mobil yang salah tentu Linda tidak akan jadi seperti ini sekarang."
Wira terdiam menatap lembut wajah Linda yang tengah terpejam, ada penyesalan yang dalam di hati Wira. Dia lalu mengingat moment moment saat lali pertama bertemu dengan wartawan pintar dari kantor surat kabar Surya itu.
"Dia pasti akan cerewet bertanya ini, itu bila membuka matanya."
Wira tersenyum sendiri mengingat keniasaan Linda yang selalu datang menyempatkan diri untuk mencari berita di kantornya.
"Pak Wira...?"
Tiba tiba saja Linda membuka matanya, dan tersenyum seraya menjulurkan kedua tangan, mengharapkan pelukan dari pria tampan yang berdiri sangat dekat di sampingnya.
Sepontan Wira memeluk erat tubuh Linda. Dalam benaknya saat itu, Wira bersyukur karena Linda sudah mengenali dirinya. Linda menepuk bahu Wira lalu membisikan awauatu ditelinganya.
"Bagaimana rasanya kehilangan orang terkasih pak, rasanya pasti sakitkan?"
"Hahahah.."
Wira terkejut, sontak dia melepaskan pelukannya dari tubuh Linda, yang saat itu tertawa terbahak bahak sembari menatap Wira tajam, seolah olah dia ingin menelannya bulat bulat.
"Siapa kamu...?"
"Asih..."
"Namaku Asih..."
__ADS_1