
Menjelang siang hari, Wira sampai di desa tempat tinggal pakde Jarwo. Rumah sederhana itu masih terlihat sepi, tanpa aktifitas penghuni rumah.
"Tunggu disini sebentar, saya akan melihat apa ada orang di rumah."
Wira turun dari mobil dan meminta agar Linda tetap diam menunggu di dalam. Sementara itu dirinya akan melihat keadaan rumah yang tampak sunyi lengang.
Dengan hati hati Wira berjalan mendekati pintu, entah mengapa perasaanya tidak nyaman saat mendekati beranda rumah.
"Kreak... "
Tiba tiba saja pintu kayu terbuka, seperti telah mengetahui kehadiran Wira disana. Pakde Jarwo muncul dari balik pintu dengan raut wajah gelisah.
"Cepat masuk, ajak teman gadismu itu ke dalam, di luar sana sedang tidak aman."
Wira kaget, dia tidak menyangka kalau pakde Jarwo dapat melihat sosok Linda dengan mata telanjang, padahal Wira saja butuh media cermin untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan Linda.
Wira segera kembali ke mobil untuk menjemput Linda. Tapi baru beberapa langkah saja gadis itu sudah lebih dulu berada di depan Wira sambil menyungging senyum manisnya.
"Ayo cepat masuk, sebelum mereka menyadari kehadiran kalian."
Wira mengernyitkan dahinya berusaha mencerna ucapan pakde Jarwo. Entah apa yang dimaksud dengan mereka, tapi sejak kedatangannya ke rumah itu, Wira merasa kalau aura di sekitar rumah memang berbeda. Rasanya sangat aneh seperti ada aura aura mistik yang menekan.Tidak sama dengan waktu pertama kali dia dan Siska datang berkunjung.
"Sebenarnya ada apa pakde, kenapa mimik wajah pakde Jarwo begitu tegang?"
Wira berusaha menggali informasi agar mengerti situasi yang tengah mereka hadapi. Tapi pakde Jarwo sepertinya enggan untuk menanggapi pertanyaan Wira. Pria itu malah masuk ke kamar untuk beberapa lama, lalu keluar dengan bunga dan kemenyan.
Pakde Jarwo menaburkan bunga memagari rumahnya, lalu dengan kemenyan ditangan dia berjalan memutari rumah sembari komat kamit takberhenti melagal mantra.
Tingkah laku aneh pakde jarwo, sontak membuat Wira bertanya tanya dalam hati. Apakah mereka yang dimaksud oleh pakde Jarwo adalah mahluk astral yang dikirim seseorang?
Cukup lama pakde Jarwo sibuk dengan ritualnya. Selama itu pula Wira memendam rasa penasaran dalam hatinya. Sementara Linda mulai merasa takut dengan aura di rumah pakde Jarwo. Dia bisa merasakan sensasi kengerian yang sulit di lukiskan dengan kata kata.
"Pak kita pulang saja, tempat ini tidak aman. Saya rasa kita sedang diawasi oleh mata mata tak kasad dari luar sana."
"Saya rasa kita sudah terjebak disini pak."
__ADS_1
Linda mengungkapkan kekhawatirannya, sedang Wira tetap berusaha tenang agar situasinya tidak terlalu tegang.
Tak lama kemudian pakde Jarwo masuk ke rumah dan meletakkan sesajen di meja kayu diruang tengah dekat kamar yang di tempati Siska.
"Dari kemarin mereka datang untuk mengambil Siska. Tapi syukurnya mereka belum bisa masuk menerobos pagar gaib."
"Entah akan bertahan berapa lama, tapi yang jelas jumlah mereka jadi semakin banyak, dan saya akan bertahan selama yang kami bisa."
"Kedatanganmu dengan gadis astral itu mebuat masalahnya makin berat. Saya sampai harus membuat pagar gaib berlapis lapis agar aroma tubuh temanmu tidak memancing yang lebih kuat untuk datang."
Pakde Jarwo mulai menjelaskan situasi yang tengah mereka hadapi. Dia mendekati Wira sembari membaca mantra kemudian dengan cepat mengusap wajah Wira dan meniupkan asap kemenyan ke wajahnya.
Wira terbatuk batuk beberapa kali, dan kemudian dia merasa ada yang berbeda pada dirinya. Saat membuka mata Wira bisa melihat keadaan rumah pakde Jarwo berbeda dari sebelumnya.
Tenyata rumah pakde Jarwo telah terkepung oleh gerombolan mahluk astral dengan bentuk bentuk yang aneh.
Di depan halaman dekat mobil Wira ada satu sosok Anjing hitam berkepala dua yang meraung berusaha mencari celah agar mereka bisa masuk.
Disamping kiri ada sosok kerbau besar yang terus menyerang dengan tanduknya, sedang di kanan dan belakang ada bintang binatang melata yang berebut masuk, mencoba menembus pertahanan pagar gaib yang disusun berlapis.
Wira terkejut saat pakde Jarwo membuka mata ketiganya. Mahluk mahluk astral ternyata telah mengepung rumah, tepat sesaat setelah Siska datang ke rumah pakde Jarwo.
"Namamu siapa ndok, sebaiknya kamu menyatu dalam raga Siska, sebab setelah empat puluh hari kamu akan benar benar kehilangan jati diri bila terus berbentuk entitas astral."
"Jika itu sampai terjadi, maka kamu akan benar benar mati ndok"
Pakde Jarwo mengingatkan Linda akan kondisi keberadaannya sekarang, pria tua itu khawatir bila parasit dalam raga Linda akan mengambil alih sepenuhnya.
"Kita harus cepat mengambil kembali raganya, tapi sejak tadi saya belum bisa menembus pagar gaib yang melindungi iblis itu."
Mendengar ucapan pakde Jarwo, Wira jadi makin tegang, selain pengelihatanya yang telah terbuka, kondisi Linda ternyata lebih mengkhawatirkan, dalam empat puluh hari kedepan, jika mereka tidak berhasil merebut raga Linda, maka gadis itu akan benar benar tiada.
Tubuhnya akan diambil alih penuh oleh sosok mahluk yang akan menggantikan keberadaanya. Dan Wira tidak ingin itu terjadi. Dia buru buru mengeluarkan kitab kuno dan mustika yang di wariskan Ronggo Joyo.
"Maksud saya datang kemari, sebenarnya untuk mencari tahu isi buku ini, mungkin pakde Jarwo faham isinya."
__ADS_1
Wira langsung menyerahkan kitab kuno dan mustika, kepada pakde Jarwo. Wajah pria itu terlihat panik, dia buru buru memasukkan mustika dalam sebuah kantong hitam, lalu mencium kitab kuno itu sebelum kemdian membaca dan memahami isinya.
"Kamu dapat kitab terlarang ini dari mana Wir. Asal kamu tahu, tidak sembarang orang boleh memegang kitab ini, apa lagi tidak punya kemampuan dasar yang cukup."
"Di dalamnya ada tatacara membuka gerbang gaib, melakukan perjanjian darah dengan iblis, menutup portal, dan menarik perewangan."
"Siapa yang menguasai mantra mantra dalam buku ini, mereka akan menguasai jagad. Dia bisa membunuh satu garis keturunan orang yang hendak ia celakai, dengang persyaratan ritual perjanjian darah yang melekat sampai keturunan keturunanya."
"Pejanjian ini mengikat, tidak akan bisa putus, sampai ada orang yang benar benar dengan sadar mengnginkannya."
"Sebelum dia menemukan orang itu, maka selama itu pula, dia harus mewariskan pada garis keturunannya."
"Pemilik mantra ini tidak akan mati, sampai waktu mantra telah benar benar diturunkan kepada para penerus."
Pakde Jarwo menjelaskan secara utuh isi kitab kuno mulai makna simbol, mantra mantra sampai syarat dan pantangan dalam ritual perjanjian dengan iblis.
"Semua ada resikonya Wir, saya tidak ingin kamu menempuh jalan ini, akan sangat berbahaya bagi diri dan keturunanmu."
"Sejak kamu melakukan ritual, dan terikat mantra, mereka akan senantiasa mengikutimu, sampai anak cucumu."
"Mereka akan menjadi kodam atau kami lebih sering menyebutnya perewangan."
Wira berada dalam dilema, persyaratan ritual dalam kitab kuno itu sangat berat, dan menakutkan, dia baru memahami, fenomena astral yang terjadi di rumah Ronggo Joyo.
Peristiwa pintu gerbang yang tertutup sendiri, dan awan gelap yang menyelimuti rumah Ronggo Joyo adalah bagian dari kutukan mantra setelah Ronggo Joyo melakukan ritual dalam kitab kuno.
Seperti penjelasan pakde Jarwo, perjanjian tidak pernah usai sampai perjanjian diterunkan dan kutukan mendapatkan wadah baru untuk diteruskan.
"Jika kamu akan melakukan ritual ini, kamu harus kembali pada titik nol, kembali kepada fitrah, seperti gelas kosong yang akan siap di isi apa saja, putih atau hitam tergantung pada apa yang akan masuk mengisi gelas kosong itu."
Lama Wira diam terpaku, terbayang oleh Wira apa yang telah dilewati Ronggo Joyo sampai pada akhirnya kembali pada fitrahnya. Ronggo Joyo berhasil menemukan titik nol, dan meninggal dalam pertaubatan.
"Aku tidak ingin menjadi Ronggo Joyo, dan tidak ada orang yang boleh mengikuti jejaknya."
Wira termenung, dia jelas tidak akan sanggup menempuh jalur ritual dalam kitab kuno itu. Wira takut tidak akan bisa kembali lagi.
__ADS_1
"Semoga ada jalan lain untuk menyingkirkan Asih dan Sitarasmi."