
Dengan negosiasi alot mbah Wongso berhasil mengeluarkan mahluk yang merasuki tubuh Siska. Pria tua itu juga berhasil membawa para tamunya melewati hutan dengan aman.
Tepat saat hari menjelang petang, ketika matahari redup dan sandekala berwarna jingga kemerahan muncul di langit, mereka berlima tiba di batas hutan.
Mbah Wongso menunjukkan rute perjalanan yang akan mereka tempuh untuk mencapai tempat, yang oleh warga sekitar di sebut Rumah kosong ujung aspal.
"Maaf pak Wira, kami hanya bisa mengantar kalian sampai batas hutan ini, selanjutnya ikuti saja jalan setapak di depan, nanti anda akan bertemu jalan aspal, lalu ambil jalur ke kanan sampai batas aspal terakhir, kemudian terus saja ikuti jalan tanah berbatu."
"Tempat yang kalian tuju ada di ujung jalan, hati hati entah rumah itu ada penghuninya atau tidak, saya juga tidak tahu persis, tapi yang jelas menurut penuturan warga sekitar, bangunan belanda yang dijuluki rumah kosong ujung aspal di huni dua mahluk tinggi besar berbulu. Dan kedua mahluk itu bukan sosok yang baik."
Mbah Wongso memperingatkan hal hal yang harus diwaspadai Wira dan kawan kawan. Dalam benak Wira, misi kali ini pasti akan sangat sulit, selain tantangan dari anggota sekte, mereka juga harus menghadapi penghuni astral yang menjaga rumah kosong ujung aspal.
Wira sempat berpikir sejenak, dia khawatir waktu mereka tidak cukup untuk menyelamatkan Linda. Dalam hati Wira hanya bisa berdoa semoga gadis itu bisa bertahan sampai mereka datang.
"Baiklah mbah, kami berterima kasih atas bantuan anda berdua. Terus terang saja saya tidak bisa membayangkan jika pak kades dan mbah Wongso tidak ikut campur tangan dalam masalah ini, kami tentu tidak akan bisa keluar dari hutan dengan selamat."
"Terima kasih sudah menampung Siska di desa pak, dan saya juga minta maaf atas kekhilafan Tomy, maklum saja anak muda emosinya meledak ledak pak kades."
Kepala desa hanya tersenyum maklum tanpa menimpali ucapan Wira. Mereka saling berjabat tangan tanda perpisahan, dan mbah Wongso memberikan sesuatu yang di bungkus dengan kain hitam.
"Apa ini mbah?"
"Ini bambu kuning pak Wira, tancapkan bambu ini ke tanah saat kalian masuk halaman rumah kosong ujung aspal."
"Tujuannya untuk menghalau mahluk mahluk yang mendiami pohon beringin kembar di depan rumah."
Tanpa bertanya lagi Wira menerima bungkusan kain hitam dan langsung menyimpannya dalam tas ransel. Mbah Wongo dan kepala desa lalu pamit, membalikkan badannya dan beberapa langkah kemudian tubuh mereka hilang dari pandangan mata.
Langit mulai gelap sinar purnama menyirami bumi, Wira memasang head lamp di kepalanya, sementara Tomy dan Siska masing masing menggenggam lampu senter ditangannya.
Kabut tipis mulai turun menyelimuti daerah sekitar, udara dingin menusuk mulit dan suara burung hantu terdengar samar menggetarkan hati. Wira memeriksa sekeliling, entah mengapa perasaanya jadi tidak enak. Untuk berjaga jaga Wira mengirim pesan melalui phonsellnya.
Nomor yang di tuju adalah milik AKBP Boris atasan Wira, yang akrab disapanya dengan panggilan om. Sinyal selular di tempat itu memang sulit, bahkan hampir tidak ada sama sekali.
Wira sampai harus berjalan beberapa meter agar pesan yang ditujukan kepada Boris bisa terkirim. Selanjutnya Wira mengajak Tomy dan Siska untuk mengatur strategi, lalu berdoa agar misi mereka kali ini bisa perhasil, tanpa adanya korban jiwa diantara mereka.
Seterusnya mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak sesuai petunjuk rute yang diberikan oleh mbah Wongso. Siska mengingat ingat jalan yang pernah ia lewati.
__ADS_1
Dan benar saja, setelah satu jam berjalan, mereka melihat bangunan tua bergaya eropa tempo dulu berdiri kokoh menyambut kehadiran mereka. Wira meminta rekan rekannya untuk lebih waspada. Masing masing mengeluarkan senjata, kemudian mematikan sumber penerangan.
Semakin dekat rumah itu makin terlihat suram, terbengkalai. Kesan angker mulai terasa ketika mendekati rumah. Wira segera merogoh tas ranselnya saat tiba tiba Siska nyaris berteriak.
"Ssst...!"
"Jangan teriak Sis, nanti kita ketahuan."
Tomy panik, repleks tangannya membekap mulut Siska, keringat dingin mengucur membasahi kening, tubuh Siska gemetar, dan matanya terbelalak saat melihat sosok tinggi besar bertaring, dengan mata merah menyala melotot ke arah mereka.
Wira segera mengambil bambu kuning yang di berikan oleh mbah Wongso, sembari berdoa dia langsung menancapkan bambu kuning ke tanah dan yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan.
Mahluk mahluk itu bagai dibutakan matanya. Mereka seperti tidak melihat kehadiran Wira, Siska dan Tomy yang terus berjalan masuk ke pekarangan rumah.
"Cepat bergerak, waktu kita semakin sempit."
Setiap ditik waktu memburu, Wira langsung membagi tugas. Masing masing bergerak sesuai komando. Siska coba mengingat ingat letak pintu, dimana waktu itu dia berhasil menyelinap keluar.
"Itu pintunya pak, kita akan masuk dari sana."
Siska menunjuk pintu yang dikawal enam orang dengan senapan di tangan. Tapi Wira berpikir lain, dia coba mencari jalan berbeda yang lebih longgar penjagaannya.
Wira ingin mengkalkulasi musuh dan menilai keadaan agar misi mereka berhasil tanpa korban jiwa di pihak mereka.
"Kalau saya tidak salah ingat di balik pintu, adalah aula luas dengan beberapa pilar besar, di tengah tengah ruangan ada altar yang di penuhi lilin, dan tepat diatas dinding ada gambar bintang besar dengan aksara jawa, persis sama dengan tato yang ada di bahu almarhum Hana."
"Di kanan, kiri altar terdapat lorong panjang dengan beberapa ruangan yang terkunci, salah satu dari ruangan itu berisi jasad Wahyu pak."
Siska mendeskripsikan detil ruangan kepada Wira, dan akhirnya dia terpaksa menceritakan semua yang di alami saat melarikan diri dari pria bertopeng yang menyekap mereka.
Sambil menangis terisak, Siska menceritakan detik detik saat Wahyu meregang nyawa. Dia ingat bagaimana mereka memperlakukan Wahyu dengan sangat kejam sampai Siska terpaksa mengakhiri derita Wahyu.
Darah Wira mendidih mendengar cerita Siska, rahangnya menebal, tubuhnya bergetar, dan tangannya mengepal. Diluar rencana Wira bergegas menyelinap mendekati pria yang sedang berjaga.
Tanpa ampun Wira menghajar mereka semua, lalu menggorok lehernya. Siska dan Tomy melindungi Wira yang sedang mengamuk bagai banteng yang terluka.
Darah menggenangi lantai, tubuh tubuh pria berjubah hitam bergelimpangan, Wira mendobrak pintu lalu menerobos masuk.
__ADS_1
"Jangan bergerak kalian semua ditahan!"
Tomy berteriak agar seluruh anggota sekte yang berada di ruangan itu menyerah, tapi anehnya mereka tidak merespon dan hanya menatap ke arah pintu tempat suara berasal.
"Door.. Door..!"
Siska memberi tembakan peringatan ke udara, yang lalu di balas oleh para penjaga. Kontak senjata tak terelakan, para anggota sekte yang tadinya tengah berkumpul di tengah ruangan kemudian menyingkir ke lorong yang ada di samping altar.
Darah memenuhi lantai aula, mayat anggota sekte bergelimpangan, dan Tomy tertembak di bahu kanan. Mereka bertiga mulai terdesak hingga mundur bersembunyi di balik pilar.
"Sial, ternyata jumlah mereka terlalu banyak, semoga om Boris segera datang dengan bantuan, kalau tidak kami bertiga bisa mati di tempat ini."
Wira menggerutu sembari menyeka kringat di wajah, dia tidak menyangka kalau anggota sekte Sandikala akan sebanyak itu. Kini Wira hanya bisa menggantunggkan nasib mereka pada Tuhan. Semoga bantuan yang di tunggu akan segera datang.
Tembak menembak terus terjadi, sedapatnya Wira bertahan sampai bantuan datang.Tapi tiba tiba keadaan berubah, suara tembakan dari para penjaga berhenti, ruangan seketika jadi hening.
Bau anyir darah rupanya telah mengundang sesuatu yang jahat keluar dari sisi gelap di lantai dua bangunan tua itu. Sosok bayangan putih terbang melayang menyambar semua orang tanpa pandang bulu.
Mendadak suara hening berubah menjadi teriakan histeris. Wira, Tomy, dan Siska berdiri rapat saling menjaga. Mereka bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Siska menutup kupingnya kala mendengar tawa melengking yang membuat bulu kuduknya merinding, sedang Tomy mendekap senapan sambil menutup matanya.
Untuk beberapa detik suana menjadi hening kembali. Wira memberanikan diri untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Alangkah terkejutnya Wira saat mengintip dari balik pilar, ternyata para anggota sekte sudah tewas secara mengenaskan.
"Binatang apa yang menyerang orang orang ini, tubuh mereka tercabik cabik, seperti baru saja dimangsa binatang buas."
Belum habis rasa penasaran di hati Wira, tiba tiba saja sosok wanita berambut panjang dengan wajah mengerikan, menyeringai tepat di depan wajah Wira.
Sekonyong konyong Wira berlari keluar, diikuti Siska dan Tomy di belakang. Sosok wanita bergaun putih melayang di depan pintu dengan menggenggam sesuatu ditangannya.
"Itu mahluk apa pak?"
Tomy bertanya dengan terbata bata. Bibirnya bergetar, dan tenggorokannya seakan tercekat. Wira tidak bisa menjawab dan berlari mundur menjauh, sosok wanita itu hanya diam melayang sembari mengunyah benda yang dipegangnya.
Wira, Tomy, dan Siska berdoa semampunya, lalu riuh suara sirine mobil polisi terdengar mendekat. Kontan saja puluhan sorot lampu mobil terarah ke bangunan tua. Mahluk itu melayang masuk ke dalam ruangan, dan pintu tertutup dengan sendirinya. Wira bersyukur karena ternyata Boris datang dengan bala bantuan.
__ADS_1
Dia tidak tahu bagaimana nasib mereka, apabila bantuan tidak segera datang saat itu.