Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 61 Jebakan


__ADS_3

" Huh...huh... hah... hah...!"


Dengan susah payah, Siska akhirnya berhasil menggendong Linda sampai naik ke atas. Gadis tangguh itu segera menarik nafas dalam dalam untuk mengatur ritme jantungnya yang tidak beraturan. Nafasnya tersengal sengal nyaris putus.


Siska mendudukkan tubuh Linda yang lemah, bersandar di dinding. Keringat deras membasahi sekujur tubuh mereka. Siska duduk bersandar di sebelah Linda. Untuk sesaat dia ingin melepas penat dengan menghirup udara dingin yang terasa segar menerpa tubuh.


Tempat itu sangat sunyi, lengang, dan terasa aneh. Siska baru teringat, kalau beberapa saat yang lalu dia datang bersama pakde Jarwo. Sepanjang ingatannya, pakde Jarwo sedang berusaha mengecoh dua mahluk berbentuk kelelawar, namun sekarang dia tidak melihat satupun dari mereka disana.


"Tempat ini sepi sekali, tidak ada siapa siapa, kecuali hanya kami berdua. Pakde Jarwo pergi membawa mahluk mahluk itu kemana ya?"


"Seharusnya saat ini dia berada disini, sedang bertarung dengan dua mahluk aneh itu. Astaga apa jangan jangan telah terjadi sesuatu?"


"Aku harus cepat cepat menemukan keberadaan pakde, jangan sampai kedua mahluk kelelawar itu mencelakainya."


Siska bergumam dalam hati, polwan cantik itu berkutat dengan pikirannya sendiri. Rasa khawatir mulai menghantui pikirannya, Siska takut telah terjadi sesuatu pada pakdenya.


Melihat kejanggalan yang sedang terjadi, Siska sadar sesuatu bisa saja menimpa mereka. Dia bangkit lalu memeriksa ruangan luas yang kini kosong, seperti tak permah terjamah. Pistol dan belati siaga tersilang di dada.


Dengan hati hati matanya mengamati sekitar. Ruangan itu benar benar kosong. Siska mencoba untuk mengingat kembali seluk beluk ruangan, dan dia berani memastikan, kalau saat ini mereka sedang berada di ruang altar.


Dia tahu betul di balik meja altar adalah pintu menuju ruang bawah tanah tempat jasad Linda di sekap, jadi seharusnya saat ini mereka sedang berada tepat di belakangnya.


Meskipun penampakan ruangan itu sangat berbeda dengan yang diingatnya, tapi Siska sangat yakin mereka berada di tempat yang sama.


"Aku harus memcari dinding yang berukiran lambang Sandikala. Jika ini adalah ruang altar, maka pahatan lambang Sandikala, seharusnya berada tepat di depanku."


Siska melangkah maju, sembari menodongkan pistol lurus ke depan. Seperti dugaan semula, lambang Sandikala memang berada tegak lurus di hadapannya.


Setelah menyentuh hurup hurup sansekerta yang terukir di dinding, tiba tiba saja penampakan ruang altar berubah menjadi normal, sama persis dengan apa yang ada dalam ingatan Siska.


Saat itu Siska langsung menyadari ada sihir jahat yang sedang bekerja, dia berpikir iblis sedang membuat jebakan untuk menjerat mereka. Siska menjadi makin waspada terhadap kemungkinan serangan astral.


Sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru, Siska terus berjalan memeriksa setiap sudut ruangan. Tanpa sadar Siska telah pergi terlalu jauh meninggalkan Linda yang kala itu sedang memejamkan mata untuk memulihkan tenaganya.


Siska fokus mencari keberadaan pakde Jarwo, hingga sampai di lorong panjang yang menurut ingatanya, salah satu ruang, merupakan tempat yang sangat traumatik baginya.


Di salah satu ruangan itu Siska terpaksa harus menghabisi nyawa Wahyu, juniornya. Kenangan pahit yang ingin dia lupakan, kini terputar kembali dalam pikiran seperti penggalan sebuah film horor.


Siska berusaha keras membesarkan hati, untuk menghilangkan rasa bersalah yang menggelayuti pikirannya. Dia terus melangkah melewati beberapa pintu besar, sampai pada akhirnya dia tersadar telah teledor, meninggalkan Linda tanpa penjagaan.

__ADS_1


"Ya Tuhan bodohnya aku, bagaimana mungkin aku bisa lalai, meninggalkan Linda sendirian tanpa teman?"


Siska segera menyesali kecerobohannya, dan berlari kembali ke arah tempatnya meninggalkan Linda. Tapi keanehan kemudian terjadi, Siska tidak dapat menemukan jalan masuk yang tadi dia lewati. Ujung lorong itu mendadak buntu terhalang dinding. Siska meraba raba berharap menemukan jalan keluar.


Lalu tiba tiba saja, Siska mengerang memegangi bahu kirinya yang terasa panas. Ada sesuatu yang menempel di punggungnya, Siska berusaha keras menarik benda itu agar terlepas, namun benda dibahunya mencengkram lebih kuat.


Siska menjerit menahan perih yang semakin lama semakin menyiksa. Rasa sakitnya sampai sampai mebuat polwan itu berteriak keras meminta pertolongan.


"Akghk .... Tolong...!"


Suara teriakan Siska melengking menggema, memadati lorong. Sebuah kepala tanpa tubuh, menggit bahu Siska, hingga membuatnya jatuh tertelungkup di lantai.


Siska meronta berusaha melepaskan gigitan di bahunya. Beberapa kali dia menghantam sosok kepala itu menggunakan gagang pistol, tapi saat dia nyaris berhasil, sialnya kaki polwan itu malah di tarik oleh sesuatu yang tak sempat dilihatnya. Linda yang mengenali suara jeritan itu, langsung terkejut lalu membuka matanya.


"Siska... Sis... kamu dimana Siska...!"


Linda bangkit dari duduknya, meski masih dalam keadaan lemas, dia berusaha berjalan mengikuti suara jeritan Siska. Dengan bertumpu di dinding Linda berjalan pelan sampai meja Altar.


"Aaaaa..."


Linda berteriak histeris ketika tangannya terasa telah menyentuh sesuatu yang dingin dan kaku. Meskipun ingin lari saja dari tempat itu, tapi pada kenyataannya Linda bahkan tak sanggup untuk sekedar berjalan cepat.


Wartawan itu memberanikan diri untuk membuka matanya. Lalu pemandangan yang mengerikan tersaji di depan mata. Sosok mayat pria terbujur kaku dengan kondisi tubuh hitam, melepuh.


"Orang ini yang menolong kami menemukan tubuhku. Dia rela berkorban nyawa untuk memberi kesempatan aku kembali ke dalam raga."


"Terima kasih mbah, saya Linda tidak akan pernah melupakan jasamu."


Linda menahan tangis sembari menutup mulut, menggunakan tangannya. Untuk sesaat dia diam mematung di depan jasad mbah Wongso, sambil berdoa dalam hati.


Baginya sosok mbah Wongso adalah pahlawan, pria tua itu telah berkorban demi dirinya dan masyarakat. Setelah mendoakan mbah Wongso Linda kembali melangkah, kondisi ruangan yang remang membuatnya agak sulit mencari jalan menuju ke arah Siska.


"Aaaaaa..."


Linda kembali menjerit karena kakinya menginjak sesuatu, dan itu adalah tubuh Sitarasmi yang telah kembali menjadi tulang belulang kering, terbungkus kulit.


"Siapa wanita ini, pakaiannya seperti bangsawan, apa dia sosok ratu yang sering dibicarakan oleh mereka?"


Linda duduk berjongkok, teliti mengamati tubuh Sitarasmi yang telah mengering, rasa penasaran membuatnya, ingin mengetahui tentang sosok jasad wanita yang berada di depannya.

__ADS_1


"Jangan di sentuh Lin...!"


Linda baru saja akan menarik paku emas yang tertancap di ubun ubun Sitarasmi, namun suara pria yang sangat dikenalnya, menahan tangan Linda.


Spontan Gadis itu menoleh ke arah tangga, dan melihat sosok pria tampan yang sedang berjalan menuruni anak tangga. Meskipun terlihat samar, namun Linda mengenali wajah pria yang semakin lama, makin mendekat ke arahnya.


" Pak Wira ... Siska pak...!"


Wira mempercepat langkah kaki, sembari melihat ke sekeliling. Suara jeritan Siska dan Linda, jelas terdengar di telinganya, tapi Wira menjadi heran, karena disana hanya ada Linda, sedangkan Siska entah berada dimana.


"Kenapa kamu sendirian disini Lin, pakde Jarwo, dan Siska kemana?"


Linda berdiri sambil berpegangan di lengan Wira yang kekar, kemudian dia menceritakan semua yang ia ketahui, sejak kembali ke dalam raganya.


"Siska menggendong saya naik ke atas dari ruang bawah tanah, lalu menyandarkan tubuh saya di dinding, dan kemudian tiba tiba saja dia bangun lalu berjalan entah kemana."


"Beberapa saat kemudian, saya mendengar suara jeritan Siska, tapi entah dari mana asalnya. Sejak tadi saya mencari jalan, tapi ruangan ini seperti sebuah labirin."


"Kalau pakde Jarwo saya tidak melihat beliau ada bersama kami. Entahlah, saya sendiri juga tidak begitu yakin."


"Semua ingatan itu samar di kepala. Saya hanya bisa mengingat sepenggal saja dari semua kejadian."


Wira memperhatikan lagi ruangan luas tempat mereka sekarang. Dia tersadar kalau Asih telah membuat ilusi untuk memisahkan mereka. Ruang itu sudah tidak sama lagi, seperti saat dia dan mbah Wongso bertarung menghadapi Sitarasmi.


Bahkan jasad mbah Wongso dan Sitarasmi tiba tiba, sudah tidak ada lagi ditempatnya, ruangan itu benar benar telah berubah. Wira langsung memeluk Linda, firasatnya mengatakan, akan ada sesuatu yang bakal terjadi.


"Apapun yang terjadi nanti, kamu tidak boleh jauh jauh dari saya. Entah mengapa saya merasa iblis perempuan itu sedang menjebak kita."


"Kamu tahu cara menggunakan pistol?" Lepas kunci pengaman, kokang, lalu bidik sasaran, dan tarik pelatuknya, mengerti?"


Linda mengangguk pelan, meski sebenarnya dia tidak terlalu faham ucapan Wira, tapi gadis itu berlagak, seolah olah dia sudah memahi bagaimana cara menggunakan pistol. Dalam benaknya yang terlintas hanya menarik pelatuk seperti adegan menembak yang ada di film film.


Suasana ruangan yang remang remang, tentu saja menyulitkan Linda melihat gerakan tangan Wira, namun gadis itu tak ingin ambil pising, toh ada Wira pikirnya.


Jika ada sesuatu yang bakal terjadi kepada mereka, perwira polisi itu pasti akan melindungi dirinya. Wira menyerahkan pistol kepada Linda. Gadis itu menerimanya dengan tangan yang gemetar.


Wira melepas baju, kemudian menyobeknya jadi beberapa bagian kecil. Setelah itu ia mengambil korek dari saku celana, dan lalu membakar satu persatu potongan kain untuk memperoleh sumber cahaya. Meski hanya sebentar, tapi Wira bisa melihat beberapa sisi gelap dari ruangan yang menurutnya, adalah jalan keluar.


Sambil menggandeng tangan Linda, Wira mulai berjalan lurus menuju sisi tergelap dari ruangan yang dia yakini sebagai jalan keluar menuju arah suara Siska.

__ADS_1


"Semoga saja mereka berhasil mengalahkan semua mahluk di rumah ini."


Wira bergumam lirih, potongan kain ditangannya, hanya tinggal selembar saja, dia berharap bisa menemukan jalan yang benar agar mereka dapat bersatu kembali.


__ADS_2