Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam


__ADS_3

Waktu terus berjalan sementara Siska masih saja berputar putar di tempat yang sama. Sudah hampir sore, tapi belum juga ada tanda tanda jalan keluar dari hutan.


Siska hampir putus asa, dia memutuskan untuk berhenti sejenak, sembari melepas dahaga dengan minum dari aliran air yang menyembul di bebatuan.


Saat membasuh wajah, tiba tiba saja fokus Siska teralihkan pada seekor burung jalak yang hinggap di atas ranting pohon, tepat di atas kepalanya.


Entah kenapa Siska jadi penasaran, dia tertarik untuk menangkap burung jalak hitam yang sejak tadi hanya diam seolah sedang memperhatikan gerak geriknya.


"Dari tadi aku belum bertemu satu ekor binatang di hutan ini, tapi sekarang tiba tiba saja ada seekor burung jalak hitam hinggap tepat di atas kepalaku, apa ini satu pertanda?"


"Sepertinya burung ini jinak, apa sebaiknya aku tangkap saja, lumayan untuk makan malam atau setidaknya dia bisa menemaniku mencari jalan keluar."


Siska berbicara sendiri dalam hati, sembari menimbang nimbang akan menangkap burung jalak itu, atau membiarkan tanpa mengusiknya.


Setelah berpikir sejenak, Siska memutuskan akan menangkap burung jalak hitam itu, Sementara burung jalak tetap bertengger di tempat tak bergeser sedikitpun.


Sambil mengendap endap Siska memanjat pohon yang tidak terlalu besar, tangannya coba menggapai burung jalak, namun burung itu tiba tiba terbang ke dahan yang lebih tinggi.


Siska tidak ingin menyerah, dia terus memburu sampai tak terasa, dia sudah berada di pucuk pohon tertinggi. Dari atas sana Siska bisa melihat jauh perkampungan penduduk di lereng yang berbatas dengan hutan tempatnya berada saat ini.


"Oh astaga ada kampung di bawah sana, burung ini benar benar ajaib, sepertinya Tuhan sedang menunjukkan jalan keluar melalui burung ini"


Siska bergumam lirih, dia segera turun dari atas pohon, dan seperti dugaanya burung jalak hitam itu terbang berpindah pindah dari satu pohon ke pohon yang lain.


Siska berlari mengejar, sambil terus mengawasi arah terbang burung jalak hitam. Matanya fokus sampai tidak memperhatikan kalau jarak antar pohon dudah semakin renggang.


Matahari mulai tampak jelas memancarkan sinarnya yang terasa hangat di tubuh Siska. Jalur yang dilalui semakin menurun, dan landai. Siska seperti menemukan harapan baru, Gadis itu jadi lebih bersemangat mengejar.


Burung jalak hitam, tiba tiba hinggap di dahan pohon terakhir dekat jalur jalan setapak. Dia hanya bertengger sembari melompat kecil lalu mamatuk matuk daun.


Siska menghentikan langkahnya, untuk sesaat dia mendongak ke atas memperhatikan tingkah laku burung jalak hitam, yang kini hanya diam bertengger.


"Aneh kenapa dia tidak melanjutkan terbang, kalau seperti ini aku harus melangkah kemana lagi sekarang?"


Siska berpikir sejenak, dalam hatinya polwan cantik itu ragu mlanjutkan langkah kakinya, namun burung jalak ternyata terbang kembali masuk ke dalam hutan dan tiba tiba hilang dari pandangan mata.

__ADS_1


"Aku tidak salah lihatkan?"


"Burung itu benar benar nyata kan, bukan peri hutan, atau mahhluk mistis lainnya, tapi kenapa terbangnya begitu cepat?"


Siska tertegun, dia masih bingung dengan apa yang baru saja dilihatnya, cukup lama ia terpaku sampai kemudian, Siska merasakan tepukkan di pundaknya.


"Jangan coba coba, atau aku akan memecahkan kepalamu!"


Refleks Siska menodongkan senapan ke arah pria yang menepuk pundaknya. Sontak pria tua itu mundur sembari mengangkat kedua tangannya. seluruh tubuh pria itu gemetar, raut wajahnya pucat tak bisa menyembunyikan rasa takut.


"Maaf .. maaf pak, saya kira bapak orang jahat, jangan takut, kenalkan nama saya Siska, saya sedang tersesat, dan sedang mencari jalan pulang."


Siska buru buru menurunkan senapan, lalu menjulurkan tangannya memperkenalkan diri. Pria yang ternyata adalah warga desa, menatap Siska dari ujung kaki hingga ujung rambut, kemudian menjabat tangan Siska.


"Anak ini siapa, berasal dari mana, kok sampai bisa berada di tepi hutan ini?"


"Nama saya Siska pak dari Surabaya, tiga hari yang lalu saya dibawa ke sebuah bangunan tua di sebrang hutan ini, dan tadi pagi saya masuk hutan lalu tersesat hingga kemari."


Siska menceritakan apa yang telah ia alami, kepada bapak tua penduduk desa. Pria paruh baya itu mengernyitkan dahi, seolah tidak percaya dengan ucapan Siska.


"Kamu benar benar keluar dari dalam hutan itu?"


Pria paruh baya bertanya sekali lagi untuk menegaskan kebenaran ucapan Siska. Dia masih tidak yakin dengan apa yang diceritakan polwan itu. Namun Siska bahkan bersumpah, kalau dirinya memang tersesat masuk ke dalam hutan, dan sampai di desa dengan mengikuti petunjuk seekor burung.


"Memang kenapa pak, ada apa dengan hutan itu, kok sepertinya bapak tidak percaya dengan ucapan saya?"


"Tidak apa apa nak, lupakan saja pertanyaan bapak, sebaiknya kita segera keluar dari tempat ini, atau nanti kita tidak bisa kembali lagi."


Siska heran mendengar ucapan pria tua warga desa, dia merasa tidak ada sesuatu yang ganjil saat berada di dalam hutan. Namun ekspresi pria itu menyiratkan sesuatu dan Siska tidak ingin mencari tahu.


"Ayo nak, kita harus sudah turun sebelum gelap."


Pria itu menggandeng tangan Siska setengah menyeret, dia tampak gusar dan ingin segera pergi meninggalkan hutan.


Siska membiarkan tangannya di seret, sementara pikirannya masih melayang layang memikirkan maksut ucapan pria itu.

__ADS_1


"Jalan terus saja nak, jangan pernah menoleh ke belakang!"


"Tapi kenapa pak?"


Pria tua itu enggan menjawab pertanyaan Siska, dia mempercepat langkah kakinya seakan ingin menghindari sesuatu. Karena tidak juga mendapatkan jawaban, Siska jadi lebih penasaran, dia tidak mengindahkan ucapan bapak tua, dan malah menoleh kebelakang.


Apa yang di khawatirkan pria itu benar benar terjadi. Siska melihat beberapa pasang mata tengah mengawasi mereka dari balik rimbun pepohonan.


Seketika Siska memalingkan wajahnya, dia tidak lagi berani menoleh, dalam hati dia bersyukur karena telah berhasil keluar dari dalam hutan sebelum malam datang.


Langit berangsur angsur mulai gelap, matahari mulai redup, memancarkan cahaya jinga keemasan. Siska dan pria tua, sudah sampai di pemukiman warga, mereka berdua langsung menghadap kepala desa untukelaporkan kehadiran Siska sebagai tamu di desa.


"Selamat sore pak kades, maaf mengganggu di waktu seperti ini, saya cuma mau lapor kalau kita kedatangan tamu, beliau namanya Siska, dari kota Surabaya pak."


Kepala desa mengamati dandanan Siska yang sexy, dibalut tangtop dan celana pendek. Di tangan Siska masih menggenggam erat senapan dan wajahnya tampak kucal karena habis berjalan jauh.


"Mbak ini siapa, mau apa datang ke desa kami dengan dandanan yang kurang pantas menurut saya."


Kepala desa langsung mencecar Siska dengan pertanyaan, sementara matanya terus menatap Siska penuh selidik. Siska merasa terpojok, dia tahu kepala desa tidak percaya padanya, apalagi dengan gaya berpakaian yang memang tidak sesuai dengan adat masyarakat timur.


Dengan sangat terpaksa Siska membongkar penyamarannya, dan membeberkan semua alasan mengapa dia bisa berada di desa itu.


"Seperti telah disampaikan oleh bapak ini, saya berasal dari kota Surabaya, dan sedang dalam tugas penyamaran untuk membongkar sebuah kasus, tapi mohon maaf saya tidak bisa cerita detail tentang misi."


Tadi pagi saya berhasil lolos dari penyekapan sekelompok orang bertopeng. Dua diantatanya berhasil saya lumpuhkan, tapi empat orang bertopeng yang lain mengejar saya hingga terpaksa lari ke hutan untuk bersembunyi.


Singkatnya saya tersesat di hutan, dan beliau menemukan saya saat berusaha mencari jalan keluar."


Siska mengakhiri penuturannya tentang semua yang terjadi. Kepala desa manggut mangut, keningnya berkerut, dia merasa heran karena bisa keluar dari hutan yang mereka sakralkan.


"Mbak Siska beruntung bisa keluar dari sana. Hutan itu wingit, banyak arwah tersesat yang bersemayam di hutan itu."


"Sejujurnya saya belum bisa mempercayai apa yang baru mbak Siska utarakan, tapi untuk sementara kami akan menampung anda disini, agar tidak berada di luar waktu surup."


Siska merasa desa yang ia datangi sangat kental dengan hal hal berbau mistis. Dia tidak ingin tinggal terlalu lama di desa, lagi pula dia harus menyelamatkan Linda, karena dua hari lagi akan datang bulan purnama, dan itu tandanya nyawa Linda benar benar terancam.

__ADS_1


Saat bulan purnama tiba, kelompok orang orang bertopeng akan menumbalkan Linda sebagai persembahan untuk mahluk yang mereka sebut kanjeng ratu.


__ADS_2