Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.


__ADS_3

Ronggo Joyo masuk ke dalam kolam kembang tujuh rupa, sesaat setelah Wira membenamkan diri ke kolam. Orang kepercayaan Anton Wijaya itu berdiam diri sejenak, kemudian mengangkat tubuh kosong Wira lalu membaringkanya dilantai bergambar lingkaran dengan bintang di tengah.


Jasad kosong itu terasa begitu dingin setelah ditinggalkan oleh jiwanya. Tak putus putusnya Ronggo Joyo melafalkan mantra sambil duduk bersila di hadapan tubuh Wira. Matanya terpejam, konsentrasi dengan mantra yang terus di ucapkan berulang kali.


Tiba tiba tubuh Wira terguncang hebat, dari mulutnya menyembur darah segar yang membuat Ronggo Joyo tersentak, dan panik melihat keadaan jasad Wira.


"Sial... dia tidak boleh kalah terlalu cepat, aku harus segera kesana untuk menolongnya."


Ronggo Joyo mengambil sebilah keris yang di letakkan di depan tempatnya duduk bersila. Mulutnya komat kamit melafatkan mantra untuk melakakukan ritual rogo sukmo.


Dalam hitugan detik Rongggo telah memasuki gerbang roh, jagad para lelembut. Dia melewati makam kuno yang sebelumnya dilalui Wira.


Suara Suara dari kegelapan berbisik di telinga berusaha menggoyahkan hati Ronggo Joyo, namun pria yang kenyang dengan pengalaman astral itu, tak goyah.


Gangguan gangguan astral datang silih berganti, suara gagak hitam yang bertengger di atas ranting pohon mati, menggetarkan hati, sungguh menciutkan nyali.


Ronggo Joyo terus berjalan dengan sebilah keris yang terus terhunus di tangannya. Bau busuk mayat mayat yang dipanggang di atas kayu bakar, menyengat menusuk hidung, tapi Ronggo Joyo tak hirau.


Dia terus melangkah lebih dalam menuju rimba yang mulai rapat dengan pepohonan dan semak belukar. Suara lolongan srigala tak berhenti terdengar menyambut kedatangan Ronggo.


Suasana dingin, lembab dan aroma tak sedap terus menteror nyali di sepanjang jalan yang di lalui Ronggo Joyo, sampai dia berhenti di tanah yang cukup lapang.


Ada ceceran darah yang hampir mengering di tanah, Ronggo Joyo bisa memastikan darah itu pasti milik Wira. Dia sudah bisa menebak kalau belum lama, telah terjadi pertarungan di tempat ini.


Ada jejak semak yang rusak di sepanjang jalan setapak, seperti bekas seretan. Ronggo Joyo menduga kalau tubuh Wira di seret ke suatu tempat di tengah hutan.


"Mahluk mahluk itu, pasti membawa Wira kesarang mereka."


Ronggo Joyo terus mengikuti jejak darah yang ditinggalkan, matanya maspada melihat mahluk mahluk astral yang sedari tadi mengawasi langkahnya.


"Aku harus bergegas, kalau tidak Wira pasti akan dijadikan makanan mereka."


Sementara di suatu tempat, Wira telah terikat di langit gua dengan posisi kepala menghadap ke tanah, kondisinya masuh belum sadarkan diri. Banyak mengelilinginya, satu diantara mereka menjilati Wira, seolah tak sabar ingin melahapnya.

__ADS_1


Tak jauh dari tempat Wira di gantung terdapat beberapa buah penjara jiwa, bagi mereka yang telah merelakan diri menjadi budak angkara. Orang sesat yang melakukan sekutu demi tujuan fana.


Masing masing mereka memiliki tujuan dimasa hidupnya, dan bentuk orang orang itu kini sesuai dengan apa yang dipertaruhkan. Ada yang berkaki kambing, berkepala kerbau, manusia utuh dengan tubuh pucat berbau busuk, dan masih banyak lagi.


Di ujung lorong gua terdapat jurang ngarai yang sangat dalam dengan bara api yang menyala. Disanalah istana ular tua berada. Sosok iblis ribuan tahun yang menitis pada diri wanita muda bernama Asih.


Wira mulai menggeliat, sedikit demi sedikit dia mulai bisa merasakan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.


"Aku ada dimana sekarang?"


Wira meronta ronta, menyadari tubuhnya yang sedang terikat ratai gaib. Sosok wanita bertaduk berdiri dekat di depan wajah Wira sembari terus menjilati wajahnya yang berlumur darah.


"Siapa kamu, dimana saya?"


"Lepaskan ikatan ini pengecut!"


Wira terus meronta berusaha melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu tubuhnya. Mahluk di depanya tak sedikitpun menghiraukan ucapan Wira, dia seperti sangat menikmati setiap tetes darah wira yang mengucur di wajahnya.


Air liur wanita bertanduk itu, membasahi wajah Wira, sangat busuk dan berlendir. Wira menutup matanya, seraya berdoa dalam hati.


Doa Wira penuhnharap kepada Tuhan, jauh di lubuk hati terdalam, Wira telah ikhlaskan diri bila harus bertukar nyawa dengan Linda, asal gadis itu bisa kembali pada raganya.


"Kamu jauh jauh fatang ke lembah ini hanya demi seorang gadis?"


"Manusia memang naif, hanya demi sebuah rasa mereka rela korbankan semua."


"Cinta.. Apa sebenarnya yang kalian sebut cinta?"


"Hanya satu rasa yang bagi kami hanya sebuah nafsu untuk memiliki."


"Hahaha.."


"Kamu lihat merejaka yang meratap di penjara itu, mereka semua berada disana karena satu kata yang kalian manusia, menyebutnya cinta."

__ADS_1


"Ada yang cinta harta, cinta wanita jadi dendam, hasrat cinta memiliki pria, cinta sanjung puji, kehormatan, jabatan, kesaktian, dan semua cinta cinta itu berakhir disini."


"Berakhir pilu, dalam duka penyesalan mereka."


"Hahahaha...!"


Suara tawa wanita bertanduk itu melengking, menggema, membuat Wira semakin pasrah. Wanita bertaduk itu berjalan menjauh dari tubuh Wira yang tergantung.


Samar Wira bisa melihat wanita itu tidak berjalan dengan kaki melainkan dengan ekornya yang panjang.


Setelah kepergian wanitabertanduk, suasana gua jadi sangat hening, tak lagi suara jeritan tangis pilu penghuni penjara jiwa, yang terdengar hanya hembusan angin kencang dari mulut gua.


Di tengah pasrahnya, tiba tiba saja sosok wanita berkerudung putih datang menghampiri Wira. Sosok wanita yang tak asing baginya. Antara sadar dan tidak Wira merasa mengenalnya, tapi dia tak begitu yakin, karena pandangan mata Wira kabur.


"Bersabarlah sebentar pak Wira, saya akan cari cara untuk melepaskan ikatan ini."


Wira heran karena wanita itu tahu namanya, tapi dia sudah tidak bisa nerucap lagi, Wira hanya dapat mengangguk, seluruh darahnya terasa berkumpul di kepala.


Wanita berkerudung putih itu pergi mencari sesuatu, sementara Wira hanya bisa pasrah menunggu, semoga ada keajaiban dari Tuhan, dan dia bisa terbebas dari mahluk itu, lalu membawa Linda kembali ke pelukan ibunya.


"Anganku terlalu tinggi, jangankan membawa Linda pulang, aku saja belum tentu bisa kembali."


"Ronggo Joyo, kemana pak tua itu, dia bilang akan kerja sama untuk menyingkirkan ular tua, tapi di saat seperti ini, bahkan aroma tubuhnya tak tercium."


Wira menggerutu sembil meringis menahan perih di punggung, akibat di seret mahluk raksasa serupa kera.


""Gadis yang menghampiriku itu siapa?"


"Rasanya aku mengenalinya, tapi tak tahu dimana, wajahnya samar tertutup kerudung, apa aku punya teman dari dunia gaib?"


"Hehehe.. Teman gaib, apa aku sekarang sudah jadi hantu?"


Wira terkekeh membayangkan dirinya menjadi bagian dari para lelembut. Sejujurnya Wira penasaran dengan sosok wanita yang datang menghampirinya.

__ADS_1


"Semoga saja wanita itu berhasil melepas ikatan ini, kepalaku sakit sekali rasanya seluruh aliran darahku berhenti di otak.


Wira membuka mata melihat sekeliling gua yang redup, minim cahaya. Dia terus menatap mulut gua berharap gadis berkerudung putih datang menyelamatkannya.


__ADS_2