Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 23 Sidang Etik


__ADS_3

Pagi ini udara terasa sangat sejuk. Hujan deras mengguyur kota Surabaya sejak tadi malam. Wira baru saja dinyatakan sembuh dan telah siap untuk menjalani sidang pelanggaran kode etik.


Dua jam lamanya dia berada di dalam ruang sidang. Wira harus bertanggung jawab atas keputusannya membentuk team yang telah melibatkan warga sipil.


Pertanyaan yang menyudutkan di lontarkan hakim dalam sidang itu, dan Wira menjawab semuanya dengan tenang. Dia benar benar sudah siap dengan segala resiko yang harus di tanggung, termasuk bila harus melepas seragam sebagai konsekuensi terberat.


"Saudara Wira Raditya apakah saudara sadar telah melakukan kecerobohan saat bertugas?"


"Siap saya sadar dan bertanggung jawab yang mulia."


"Apakah saudara tahu, kalau keputusan yang saudara ambil adalah ilegal, dan merupakan pelanggaran berat?"


"Siap saya sudah tahu yang mulia."


"Saudara sudah membahayakan nyawa anggota team, apakah saudara sadar itu?"


"Siap saya sadar yang mulia."


"Apakah saat mengambil keputuan membentuk team khusus saudara sudah memikirkan semua resiko dari keputusan saudara?"


"Siap, saya sadar sepunuhnya yang mulia hakim, ini semua saya lakukan demi membongkar kasus kejahatan yang terselubung di club Black Rose dan karena itu saya siap menanggung akibatnya."


Hakim berdiskusi sejenak, semenetara Wira bersikap pasrah, dia sadar semua yang terjadi adalah tanggung jawabnya. Dalam lubuk hatinya Wira, hanya memiliki satu keinginan, agar la diberikan kesempatan untuk menyelesaikan kasusnya.


Majelis hakim telah cukup berdiskusi, semua alasan pembelaan telah dipertimbangkan baik baik oleh majelis hakim.


Pada akhirnya Wira tetap di putuskan bersalah, karena telah melanggar kode etik saat menjalankan tugasnya.


"Saudara Wira Raditya, karena kelalian anda saat bertugas telah menyebabkan, tiga orang rekan termasuk diantaranya seorang wartawan hilang, maka majelis hakim memutuskan saudara bersalah."


"Menimbang bahwa saudara, adalah perwira berprestasi, jujur, dan bertanggung jawab maka majelis kode etik memutuskan, menjatuhkan hukuman kurungan selama tiga bulan, dan penundaan kenaikan pangkat satu periode.


"Bagaimana saudara Wira, apakah saudara menerima keputusan majelis atau ingin mengajukan keberatan?"


"Siap, saya menerima keputusan ini yang mulia."


Sidang kode etik telah berakhir, dan Wira langsung dibawa ke sell tahanan untuk menjalani hukuman. Saat perjalan menuju ruang tahanan, Wira justru terkejut karena mendapati Leo Hadi Wijaya telah dibebaskan dari sell tahanan.


Pria itu tersenyum licik penuh kemenangan sementara Wira menebalkan rahangnya menahan amarah. Mata mereka saling bertemu pandang, dan Leo Hadi Wijaya menghentikan langkahnya sembari berbisik ditelinga Wira.


"Jangan coba coba mengusik saya komandan, atau anda akan bernasib sama dengan anak buah anda."


Wira mengepalkan jarinya bersiap akan menjotos wajah Leo Hadi Wijaya, namun dua anggota polisi yang mengawalnya segera mencegah Wira.


"Saya belum lagi selesai denganmu Leo, kamu tunggu saja saatnya, jika kamu berani melukai anggota saya, maka kamu akan merasakan akibatnya!"


"Hahaha....!"


"Singa dalam kandang bisa melakukan apa boss?"


"Oh iya saya dengar kekasihmu ada di Bandung ya?"


"Kabarnya dia sangat cantik seperti model papan atas, kalau ada waktu mungkin saya akan datang berkunjung untuk berkenalan dengannya."


Mendengar celotehan Leo Hadi Wijaya, Seketika darah Wira mendidih, emosinya tidak bisa lagi di kendalikan. Wira berontak dan langsung mencengkram erat kerah baju Leo Hadi Wijaya.

__ADS_1


"Berani kamu sentuh dia, maka aku tidak akan segan memotong lehermu!"


Wira sangat murka, matanya melotot, bibirnya bergetar, saat Leo Hadi wijaya mengancam akan mengusik orang orang terdekatnya. Apa yang selama ini menjadi kekhawatiran Wira, akhirnya terjadi juga.


Leo Hadi Wijaya telah mengetahui informasi tentang kekasihnya. Wira jadi sangat terganggu. Wira resah dan ingin kabur dari sellnya.


"Aku harus keluar dari sini, kalau tidak Leo bisa melakukan hal buruk kepada Rina dan keluargaku."


Wira mondar mandir di dalam sell. Tampak sekali dia sedang gelisah. Wira berpikir keras, mencari jalan agar bisa keluar dari dalam sell.


Di tengah gelisah, tiba tiba seorang penjaga datang membuka pintu sell. Wira menatap pria itu, dan berniat akan meringkusnya, lalu kabur.


Tapi ia langsung mengurungkan niatnya. Hati nurani dan akal sehat, mencegah Wira berbuat konyol.


"Pak Wira ada tamu untuk anda."


Penjaga mengawal Wira ke ruang besuk tahanan. disana telah menunggu seorang pria muda berpakaian seragam. Ternyata dia adalah Tomy.


"Ada apa Tom, kenapa kamu kesini?"


"Saya dapat telepon dari Siska pak. Saat ini dia sedang berada di sebuah desa kira kira jaraknya empat jam dari sini."


"Syukurlah dia selamat, tapi bagaimana dengan Linda dan Wahyu?"


"Itu masalahnya pak, kita harus segera ke desa menyusul Siska, hanya dia yang tahu dimana Wahyu dan Linda sekarang."


"Saya juga ingin cepat keluar dari tempat ini Tom, tapi kamu tahu ini tidak mungkin."


Mereka terdiam sejenak, Tomy sama bingungnya dengan Wira saat ini, pangkatnya tidak cukup punya pengaruh untuk membantu Wira keluar dari tahanan.


"Komandan Boris?"


Tiba tiba AKBP Boris datang dengan tergesa gesa, wajah pria paruh baya itu terlihat gusar, seakan akan dia mengetahui sesuatu.


"Om Boris kenapa ada disini?"


"Soal jaminan itu tidak main main lho om, jabatan dan karir om Boris bisa tamat, kalau ketahuan."


"Apa om Boris sudah yakin dengan keputusan itu?"


"Tidak ada waktu untuk membahas masalah ini sekarang. Sebaiknya kalian cepat cepat pergi dari sini, sebelum saya berubah pikiran."


"Iya, tapi kenapa om?"


Wira terus mendesak, dia penasaran dengan kedatangan Boris yang tiba tiba. Dalam benaknya, Wira menduga Boris pasti punya informasi terkait kasus ini.


"Sekarang sudah terlambat untuk mundur, beberapa hari yang lalu saya sudah ingatkan kamu agar melepas kasus ini. Tapi kamu tetap ngotot menyelidikinya."


"Sekarang bukan hanya kamu, tapi semua keluargamu akan terlibat dalam masalah ini. Kalau kamu tidak bertindak cepat sekarang, om Boris khawatir terhadap keselamatan kalian sekeluarga."


"Beginilah akibatnya kalau nekat bersinggungan dengan mereka."


Boris semakin cemas, dia seolah olah sedang diawasi banyak mata. Boris tidak bisa memberi penjelasan lebih, sebab takut mereka tidak punya cukup waktu untuk menyelesaikan masalah yang kini melebar.


Semua telah menjadi masalah pribadi sekarang. Mereka akan mengambil semua yang Wira miliki. Karir, keluarga, dan cinta. Semuanya akan di renggut dari Wira.

__ADS_1


Ada penyesalan dari dalam diri Boris. Seandainya saja Wira mendengar nasehatnya waktu itu, tentu masalah ini tidak akan menimpa mereka.


"Om sudah mengabari orang tuamu, agar sementara waktu mereka pergi jauh meninggalkan Jakarta dan besembunyi."


"Masalahnya sekarang tinggal kamu dan Rina, om sudah meminta bantuan teman disana untuk mengawasi kekasihmu, tapi tentu saja, saya tidak bisa menjamin keselamatan Rina sepenuhnya.


"Saran om, kamu selesaikan masalah ini sampai tuntas, tanpa melibatkan polisi. Kalau tidak, kamu dan mereka yang kamu sayangi akan dilenyapkan sama dengan empat pria yang tewas di sell waktu itu."


Wira semakin gundah, dia tidak menyangka kasus ini akan serunyam itu. Nasi sudah menjadi bubur, sekarang Wira harus menuntaskan semua yang telah dia mulai.


"Kalau begitu saya pamit om, terima kasih untuk bantuan ini, kalau saya selamat om Boris harus menjelaskan semuanya."


"Ingat om Boris berhutang penjelasan kepada saya!"


Wira dan Tomy bergegas pergi dari ruang tahanan. Penjaga sempat menghalangi langkah mereka, namun Boris memberi isyarat agar mereka memberi jalan.


Tanpa buang waktu Wira segera pulang untuk menyiapkan segalanya. Mobil Tomy melesat meninggalkan mapolres kota Surabaya, menuju Rumah Wira.


Sampai di depan pintu, Wira sangat terkejut mendapati rumahnya berantakan seperti telah disatroni gerombolan perampok.


Dengan hati hati Wira membuka pintu rumah. Ia khawatir masih ada orang yang bersembunyi di suatu tempat dalam rumah.


Wira memeriksa setiap ruangan dengan teliti, tapi ternyata tidak ada orang, semua ruangan rumah sudah diperiksa dan hasilnya kosong, mereka sudah pergi dari sana tanpa mengambil barang apapun dari rumah itu.


Tomy menemukan sebuah batu yang terbungkus secarik kertas. Dia buru buru membuka dan membaca isinya.


"Jangan usik kami, atau kami akan berbuat lebih dari yang kamu lihat sekarang!"


Kertas itu berisisi ancaman, dan Wira berpikir ini bukan lagi sekedar soal Leo Hadi Wijaya, dan bisnis haram yang terselubung.


Apa yang akan dia hadapi sekarang jauh lebih rumit dari itu.Wira menyimpulkan kalau Leo Hadi Wijaya tidak melakukan semua ini sendiri.


"Kasus Ini bukan lagi sekedar soal Leo Hadi Wijaya, melainkan tentang mereka, orang orang besar yang ada di belakangnya "


Untuk sesaat Wira melamun sendiri, dia masih memikirkan siapa tokoh tokoh besar yang berada di belakang Leo Hadi Wijaya.


Pelan pelan Wira mulai faham kenapa Leo Hadi Wijaya bisa bebas dengan mudah,


padahal bukti bukti yang Wira diserahkan sudah lebih dari cukup untuk menjeratnya.


"Pak kita harus bergegas menyusul Siska. Saya khawatir musuh bergerak lebih cepat dan kita terlambat."


Ucapan Tomy membuat Wira tersadar dari lamunannya. Dia bangkit lalu segera pergi menuju kamar kosong. Dengan bantuan Tomy, Wira menggeser sebuah ranjang tua.


Dia membuka ubin di bawah ranjang dan Tomy melihat banyak sekali senjata yang tersimpan di dalam kotak besi.


"Tolong Bantu saya memindahkan semua senjata ini ke mobil Tom."


"Siap pak.."


Meskipun ada banyak pertanyaan dalam otaknya, tapi Tomy enggan bertanya. Dia segera memasukkan semua senjata ke dalam mobil, tanpa perduli lagi, bagaimana cara Wira memperoleh senjata berat sebanyak itu.


Setelah segala persiapan rampung dilakukan, Mereka berdua segera tancap gas menuju desa, dimana Siska sedang menunggu sekarang.


"Semoga saja tidak terjadi sesuatu kepada mereka."

__ADS_1


__ADS_2