
Pakde Jarwo terkapar di tanah dengan wajah yang dipenuhi noda darah. Dadanya kembang kempis, nafasnya tersengal, meskipun akhirnya dia mampu mengalahkan dua mahluk kelelawar peliharaan Asih, namun pria tua itu nampak sangat kepayahan.
Untuk sesaat pakde Jarwo hanya bisa berbaring menatap bulan merah. Tenaganya benar benar sudah habis terkuras. Entah berapa lama mereka telah bertarung, tapi malam terasa sangat panjang bagi pakde Jarwo.
Pakde Jarwo mencoba untuk bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemas. Luka luka yang diberikan oleh mahluk kelelawar itu membuat pakde Jarwo kehilangan banyak darah. Dia berusaha merogoh kantung kulit yang berisi ramuan obat.
Tangan pria tua itu gemetar, menggenggam beberapa buah pil, lalu berusaha merobek baju yang ia kenakan. Tiga buah pil dikunyahnya bersamaan, raut wajahnya berkerut menahan pahit.
"Aku belum boleh mati sekarang. Iblis wanita itu harus mati agar umat manusia bisa menjalani kehidupan ini dengan tenang."
Pakde Jarwo memborehkan serbuk putih di dada, tangan, dan juga wajahnya. Rahang pria tua itu mengeras menahan perih di sekujur tubuh. Sobekan baju ia gunakan untuk membalut luka, dengan tenaga yang tersisa pakde Jarwo berusaha untuk duduk.
"Aku tidak boleh lama lama disini, Siska pasti sudah menungguku di dalam sana."
Baru memikirkan tentang Siska, tiba tiba saja pakde Jarwo mendengar teriakan minta tolong dari dalam bangunan tua. Suara itu sangat keras hingga membuatnya gusar.
"Siska...!"
Pakde Jarwo berteriak, berusaha bangkit, meski tubuhnya masih lemah. Sempoyongan pria itu berjalan menuju pintu samping. Dengan mata ketiganya, pakde Jarwo berusaha menembus dimensi ilusi yang diciptakan Asih.
"Celaka, dia mengambil Siska."
Pakde Jarwo berjalan menembus kabut, ruang altar berada tepat di depan, sambil bertumpu pada tiang penyangga teras, dia berjalan gontai mencari keberadaan Siska.
"Siska... kamu dimana ndok?"
Suara teriakan pakde Jarwo yang keras menggema, terdengar jelas di telinga Wira, dia langsung berlari menuju arah suara, sambil menggengam erat tangan Linda.
"Pakde... pakde Jarwo dimana?"
Wira berteriak memanggil, kondisi ruangan yang remang remang, membuatnya kesulitan melihat. Tiba tiba Wira merasakan bahu kirinya di sentuh oleh sesuatu yang kasar. Refleks ia menepis, dan menangkap benda yang mencengkram bahunya.
"Astaga pakde Jarwo, apa yang terjadi pakde?"
Kompak Wira dan Linda menangkap tubuh pakde Jarwo yang nyaris terjatuh. Mereka menopang tubuh ringkihnya, lalu segera menyandarkan pakde Jarwo ke dinding.
"Pakde istirahat disini dulu, biar Linda bisa merawat luka luka di tubuh pakde."
"Saya akan mencari keberadaan Siska, entah apa yang terjadi padanya, tapi saya berharap Siska baik baik saja."
Wira baru saja akan beranjak pergi meninggalkan mereka, namun tangan pakde Jarwo dengan cepat menarik lengan Wira, mencegahnya untuk pergi sendirian.
"Jangan Wir, terlalu berbahaya bila kamu pergi sendirian. Kekuatan Asih telah mencapai puncaknya. Dia sedang berada dalam kondisi terbaik malam ini. Lagi pula mata ketigamu belum terasah, iblis itu pasti bisa dengan mudah memanipulasi indramu."
__ADS_1
Pakde Jarwo meminta Wira menahan diri, meski sebenarnya dia sangat khawatir dengan keadaan Siska. Menurutnya Asih tidak bisa dihadapi seorang diri. Mereka butuh rencana matang agar tidak mengorbankan nyawa lagi.
"Jadi apa yang harus kita lakukan pakde. Saya khawatir jika terlalu lama menunggu, akan terjadi sesuatu terhadap Siska."
"Iblis itu punya perewangan yang kejam, saya takut kita terlambat menolong Siska pakde."
Wira tak sabar ingin segera mencari keberadaan Siska, walaupun dia tidak tahu harus mencarinya kemana. Dalam benak Wira yang terpikir saat ini, hanyalah keselamatan Siska, dan dia sangat berharap pakde Jarwo membiarkannya pergi.
"Kamu yang tenang Wir, Siska tidak pergi kemana mana, dia masih ada di dalam rumah ini. Asih itu iblis yang sangat licik, dia sengaja menciptakan kabut ilusi untuk menjebak kita."
"Kalau kamu grasak grusuk, dampaknya justru akan buruk untuk kita semua Wir. Saat ini satu satunya orang yang dapat kami andalkan cuma kamu."
"Asih hanya sedang menantikan saat kita lengah dan masuk dalam perangkapnya. Setelah itu semuanya akan berakhir, kita tamat menjadi tumbalnya."
"Saya harap kamu bersabar sebentar, berikan saya sedikit waktu untuk pulih, sehingga bisa menghimpun tenaga dalam untuk merasakan energi Asih. Setelah itu baru kita pikirkan cara yang tepat untuk membalas iblis itu."
Pakde Jarwo kemudian bermeditasi, sementara Wira dan Linda terus mengawasi kondisi sekitar. Dari sisi gelap di lantai dua, sosok wajah bengis sedang berdiri memperhatikan gerak gerik mereka. Tatapannya begitu tajam, seolah olah ingin segera menyergap dan menangkap mangsa buruannya.
"Sungguh sebuah kekonyolan yang menggelikan. Kalian datang kemari hanya untuk mengantar nyawa."
"Hahahaha..."
Suara tawa menggema terdengar dari segala penjuru. Wira maju beberapa langkah untuk melindungi Linda dan pakde Jarwo. Bayangan hitam berkelebat mancing Wira terus menjauh.
Wira berlari mengejar bayangan hitam yang berkelebat di sudut ruangan. Rasa penasaran membuatnya terkecoh, semakin menjauh dari Linda dan pakde Jarwo.
"Berhenti Wira...!"
Suara pakde Jarwo segera menyadarkan Wira, tapi dia sudah terlambat. Kabut hitam pekat terlanjur mengurung menghalangi pandangan. Wira coba menerobos, namun sia sia.
Kabut tebal malah menggiringnya semakin jauh dari posisi pakde Jarwo dan Linda berada. Kontan saja Wira menjadi panik, dia terpaksa bertahan, diam tak melakukan apa apa.
Di sudut berbeda pakde Jarwo mengusahakan bangkit untuk melindungi Linda. Dengan sisa sisa tenaganya, pakde Jarwo berusaha mencari tempat aman untuk berlindung, sembari mencari Wira.
"Aghk...!"
Tiba tiba dua buah tangan muncul dari balik dinding, dan mencekik leher Linda. Gadis itu meronta berusaha melepaskan cengkraman tangan di lehernya.
"Pakde tolong Linda pakde...!"
Pakde Jarwo yang belum pulih, berusaha keras melepas cengkraman tangan di leher Linda. Keris pusaka miliknya menyabet dua tangan yang mencengkram leher Linda.
"Uhuk..uhuk.. uweak...!"
__ADS_1
Pakde Jarwo sigap memeluk pinggang Linda, lalu membawa gadis itu melompat ke tengah tengah ruangan, Dia berusaha keras menghindarkan Linda dari tangan tangan mahluk yang memburu mereka.
Sambil terus menghindari serangan, pakde Jarwo konsentrasi mencari keberadaan Wira. Dan dia berhasil menemukan lingkaran kabut yang lebih pekat dari kabut disekitarnya.
"Lin kamu bawa pusaka ini ya ndok, bantu Wira untuk membunuh Asih. Saya akan menyalurkan tenaga dalam padamu, setelah ini ujian kalian akan semakin berat."
"Wanita titisan iblis itu berada di lantai dua, kamar yang paling besar dengan dua pintu. Siska ada bersamanya sekarang."
"Tapi pakde mau kemana, kenapa kita tidak sama sama saja ke lantai dua?"
Pakde Jarwo tidak menjawab, dia memegang kepala Linda dan saat itu juga tenaga dalamnya telah berpindah kepada Linda. Hawa hangat mengalir menjalari seluruh tubuh wartawan itu.
Linda dapat merasakan tubuhnya menjadi ringan dan pandangan matanya menjadih lebih jernih. Pelan pelan Linda bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat mata awam. Indranya menjadi peka terhadap mereka yang astral.
Meskipun dilanda ketakutan atas perubahan dalam dirinya, namun keadaan memaksa Linda untuk tabah, pasrah, menerima keadaannya yang sekarang.
"Entah ini anugrah, atau kutukan, yang terpenting saat ini, kami harus bisa selamat dari para iblis."
Belum selesai dengan lamunannya, tiba tiba Linda merasakan tubuhnya melayang, dan dihempaskan ke udara. Pakde Jarwo telah melempar tubuh gadis itu ke arah kabut yang mengurung Wira.
"Tangkap dia Wira...!"
Suara pakde Jarwo mengejutkan Wira. Belum sempat mencerna, apa arti ucapan pria tua itu, Wira sudah di kagetkan kembali dengan tubuh Linda yang meluncur deras ke arahnya.
Bersyukurnya Wira memiliki repleks yang bagus, dia segera menangkap Linda dalam pelukan, sehingga gadis itu tidak sampai jatuh menubruknya.
"Ingat Linda, apapun yang terjadi dalam tubuhmu nanti, jangan dilawan, ikuti saja, dan jangan takut dengan apa yang tergambar di dalam kepalamu."
"Saya akan membereskan kekacauan disini, kalian cepat naik ke lantai dua. Jangan lupa ruangan Asih berada tepat di tengah tengah. Kamar paling besar dengan dua pintu. Dia mengendalikan rumah ini dari sana."
"Seperti biasa tusuk jantungnya, dan segel dengan paku emas tepat ubun ubun kepalanya. Jika gagal, baca mantra di kitab kuno lembaran paling belakang, lalu dengan batu mustika mirah delima, kurung dia dalam cermin dan hancurkan cerminnya."
Usai menyampaikan pesannya, pakde Jarwo langsung duduk bersila di lantai untuk melakukan ritual terlarang serah Jiwa. Dia berencana akan menyeret semua mahluk yang menghuni rumah kosong ujung aspal, untuk ikut bersamanya ke alam bawah. Lalu setelahnya, pakde Jarwo akan mengunci gerbang antar dimensi dengan syarat pengorbanan atas jiwanya sendiri.
"Tunggu dulu pakde, apa yang akan coba pakde lakukan, jangan melakukan ritual terlarang itu pakde!"
Pakde Jarwo tidak menggubris teriakan Wira, dia berkonsentrasi melafal mantra ritual serah Jiwa, dan sinar merah menembus atap rumah kosong ujung aspal. Ruangan altar seketika menjadi terang benderang dengan cahaya merah.
Pakde Jarwo menyanyikan kidung senja, lalu dengan gerakannya yang lues pakde Jarwo mengamuk bagai orang yang kesurupan. Suara riuh rintihan mahluk astral menggema di udara.
Linda yang ketakutan segera duduk berjongkok, menutup kupingnya. Wira hanya bisa terpaku menyaksikan sukma pakde Jarwo yang terus mengamuk tanpa ampun.
"Ayo Linda, kita harus segera naik ke lantai dua, jangan sia siakan pengorbanan pakde Jarwo. Siska pasti sangat membutuhkan pertolongan kita sekarang."
__ADS_1