
"Sudah dua puluh lima tahun aku terkurung dalam sebuah patung, akhirnya aku bisa bebas juga. Dapat kembali pada raga sendiri rasanya nyaman sekali."
"Kenapa begitu lama bagimu mengumpulkan seribu tumbal untukku Anton?"
Sosok anggun yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya langsung berdiri memegangi kepala Anton Wijaya yang saat itu sedang berlutut menunduk.
Jari jarinya yang lentik mengelus kepala Anton Wijaya, bagai sedang memanjakan seorang anak. Anton Wijaya segera mencium tangan sosok Wanita anggun dihadapannya dengan bibir yang bergetar.
Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum sinis, wajah cantiknya tak bisa menghilangkan rasa segan di hati para anggota sekte Sandikala yang saat itu masih berlutut dihadapannya.
"Maafkan saya bunda ratu. Semua ini karena kecerobohan anak anak. Andai saja polisi tidak mengawasi pergerakan kami, tentu tumbal seribu gadis tidak akan selama ini bunda ratu."
Dengan gemetar Anton Wijaya menyampaikan alasannya kepada sosok yang disebut bunda ratu. Wanita itu kembali tersenyum sinis menatap tajam ke arah Anton Wijaya, lalu mengalihkan pandangannya pada sosok bayangan hitam yang berdiri dalam kegelapan."
"Cah Ayu kesayangan ibu, kenapa bersembunyi dalam gelap nak, apa kamu tidak kangen sama ibu?"
"Bagaimana kabarmu cah ayu, apa Ronggo Joyo mengasuhmu dengan baik?"
"Ayo kemari mendekat di samping ibu."
Sosok bayangan hitam yang berdiri dalam gelap akhirnya menampakkan dirinya. Dia adalah Asih wanita titisan iblis yang tiga puluh tahun silam berhasil dilahirkan oleh gadis remaja yang menjadi inangnya.
Selama satu tahun ia berada dalam kandungan seorang inang, dan berhasil dilahirkan dengan selamat. Namun Malang bagi inangnya, gadis itu menghembuskan nafas terakhir selang satu hari setelah bayi Asih dilahirkan.
Atas perintah Raden Ayu Sitarasmi, Ronggo Joyo mengasuh bayi mungil yang diberi nama Asih. Dia dirawat oleh Ronggo Joyo hingga usianya tepat tiga tahun. Dan begitu bebas dari rumah tahanan Sitarasmi kembali mengambil alih pengasuhan Asih.
Sejak awal Ronggo Joyo telah mengetahui bahwa bayi mungil yang diasuhnya, bukanlah anak manusia biasa. Ronggo Joyo yang lekat dengan lelaku, bisa merasakan kalau Asih speaial. Ada aura magis menyelimuti dibalik wajah mungil yang lucu itu.
Aura hitam pekat di balik wajah mungil tanpa dosa, bahkan mampu membangkitkan rasa takut di hati Ronggo Joyo. Pria yang sejak kecil akrab dengan ritual mistik dan dunia astral itu sangat segan bila berhadapan dengan Asih.
Pada waktu waktu tertentu, aura gelap dalam diri Asih dapat mengundang sesuatu yang jahat datang menghampirinya. Bahkan dukun dukun penganut ilmu hitam dengan mudah merasakan keberadaan Aura Asih.
__ADS_1
Mereka akan berlomba lomba mencarinya untuk mendapatkan kekuatan lebih, seolah olah ada satu kepecayaan yang tak tertulis, mengatakan, siapa yang menguasainya, maka dia yang akan berkuasa.
Sadar akan hal itu, Sitarasmi meminta Ronggo Joyo menutup aura Asih, agar tidak mudah di lacak.
Tak ingin mengundang bahaya, Ronggo Joyo lalu memilih mengasingkan Asih dari dunia luar, dan membawanya ke sebuah rumah tua milik keluarga Belanda yang telah lama terbengkalai. Disanalah kemudian gadis cilik itu tumbuh dan mengasah diri.
Aura mistik pada diri Asih kian tajam. Dia bahkan mampu mengundang jagad lelembut menjadi lebih dekat dengannya. Sejak balita kehadiran Asih memang bisa membuka portal dimensi astral. Wangi tubuhnya menjadi daya tarik bagi para lelembut.
Asih dibesarkan dalam suasana magis yang kental. Hari harinya lekat dengan lingkaran ritual seolah ia memang telah disiapkan untuk tahta lelembut yang akan diwariskan.
Sampai usia Asih genap tujuh tahun, Sitarasmi terbunuh dalam sebuah pertarungan ilmu hitam, dimana kelompok penganut aliran sesat yang merupakan rival Sandikala mengetahui riwayat kelahiran sosok Asih dan menginginkan gadis cilik titisan Iblis itu untuk suatu tujuan.
Anton Wijaya dan Ronggo Joyo telah berhasil memyelamatkan gadis mungil itu di malam berdarah yang nyaris merenggut nyawa mereka. Sejak hari itu Asih berada dalam pola asuhan Ronggo Joyo.
Orang kepercayaan Anton Wijaya, membesarkan Asih dengan pola asuh khusus. Dia dijauhkan dari dunia luar, di satu tempat yang di tunjuk Ronggo Joyo.
Hanya Ronggo Joyo yang tahu bagaimana Asih tumbuh menjadi wanita berparas cantik. Dia tampak seperti gadis lugu layaknya anak anak perempuan biasa, namun akan menjadi sosok berbeda pada saat bulan purnama.
Sekte Sandikala memelihara dan menjaga Asih dengan ketat. Mereka menjadikannya sosok sembahan untuk menjaga kelanggengan bisnis lelompok mereka.
Hari ini Setelah dua puluh lima tahun berlalu, akhirnya Raden Ayu Sitarasmi telah kembali dari kematian. Wanita yang menjadi momok bagi warga kota di era sembilan puluhan itu, akan kembali menjadi teror yang mengerikan.
"Ini Waktunya membalas dendam kepada mereka semua."
"Dari sekarang mereka akan merasakan kesakitan yang aku alami."
"Hahahahaha..."
Suara tawa Sitarasmi melengking menakutkan semua anggota sekte yang hadir. Setiap orang bisa merasakan atmosper yang berbeda diruangan itu. Bahkan mereka tidak sanggup untuk menutupi rasa takut yang meyelinap dalam hati masing masing.
Ronggo Joyo segera menyadari bahwa sosok Sitarasmi yang mereka bangkitkan bukanlah Sitarasmi yang dulu mereka kenal. Ada sesuatu yang menunggangi sosok wanita yang mereka sebut sang ratu.
__ADS_1
Malam itu Ronggo Joyo gelisah, pria yang lekat dengan budaya kejawen itu merasakan hal lain, dia khawatir akan terjadi bencana di kota mereka.
"Ini sudah tak beres.."
Bisiknya lirih, Ronggo Joyo minta ijin untuk meninggalkan ruangan, dengan tergopoh gopoh pria kepercayaan Anton Wijaya itu segera pergi meninggalkan rumah mewah milik keluarga Wijaya.
Rasa segan kepada Sitarasmi, melebihi rasa segannya pada Asih. Terbersit dalam benak Ronggo Joyo untuk meninggalkan Sandikala tapi dia takut terjadi sesuatu pada anton Wijaya.
Ronggo Joyo sadar akan resiko yang harus ditanggung bila ia nekat meningggalkan sekte Sandikala. Tapi dia lebih takut lagi jika Sitarasmi dan Asih akan merusak tatanan alam semesta.
"Aku harus mengingatkan mas Anton akan hal ini. Apapun caranya, semua kegilaan sekte Sandikala harus di akhiri sebelum dunia benar benar hancur."
Ronggo Joyo berperang dengan batin sendiri, ketakutan akan kerusakan di masa depan menghantui pikirannya. Ronggo tidak bisa menghilangkan bayangan tawa Sitarasmi yang menteror hatinya.
Dalam tawa itu ada suara lain yang menyertainya dan itu sudah pasti bukan Sitarasmi melainkan parasit dari neraka yang menyertai kebangkitan Raden Ayu Sitarasmi.
Mobil mercy hitam Ronggo memasuki halaman rumah tanpa pagar. Pria paruh baya itu turun dari mobil lalu memperhatikan jam tangan, sudah hampir pagi, tapi entah mengapa langit masih gelap, hitam pekat tanpa cahaya bulan atau bintang yang menyertai.
"Ini tidak baik, bahkan semesta sudah memberi tanda."
Ronggo Joyo masuk ke dalam rumah hatinya berkecamuk, dia terus merenung apakah akan tetap bertahan, atau pergi meninggalkan Anton Wijaya yang sudah dianggapnya aeperti saudara sendiri.
Meskipun mereka ditakdirkan berbeda, Ronggo Joyo dan Anton Wijaya tumbuh besar bersama dalam lingkungan keluarga Wijaya. Anton Wijaya tak pernah sedikitpun menganggapnya sebagai anak abdi.
Persahabatan diantara mereka murni, Ronggo Joyo selalu hadir sebagai sosok pembela bagi Anton Wijaya semenjak mereka masih kanak kanak.
Hal ini yang membuat Ronggo Joyo sangat berat meninggalkan majikannya, Jika boleh memilih dia lebih baik berkorban, menjadi tameng tumbal bagi Anton Wijaya, asal sahabatnya itu terlepas dari Sitarasmi, Asih, dan Sandikala.
"Semoga ada petunjuk, terbaik untuk mengakhiri semua ini."
Rongggo Joyo menatap langit dari nalkon kamarnya. Matanya terus menatap jauh ke lanhit luas. Suasana hening, hanya ada angin malam yang menyertai.
__ADS_1
Mulut Ronggo Joyo, bergertar merafalkan kidung jawa, tembang yang diciptakan Sunan Kalijaga. Dikejauhan samar tersengar lolongan anjing yang menemaninya menanti mentari.