
Linda menghela nafas, matanya memandang beberapa gubuk yang berjajar di depan mereka. Jiwa wartawannya selalu penasaran, gatal, tak sabar ingin segera menyelidiki ada apa di dalam gubuk gubuk itu.
Dia bangkit berdiri, lalu melangkah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ada di dalam gubuk. Sementara itu Wira masih terbaring di tanah, memulihkan luka luka goresan, yang disebabkan cakaran burung gagak.
Tak berapa lama Linda sampai di samping pagar salah satu gubuk, dia menempelkan telinganya ke dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Tak ada suara aktifitas orang yang terdengar dari dalam gubuk itu, dan Linda memutuskan untuk mengintip.
"Ternyata pak Wira benar, gubuk gubuk ini tidak berpenghuni, apa mungkin semua bangunan ini hanya ilusi?"
"Tapi untuk apa iblis itu repot repot menciptakan ilusi semacam ini, padahal rumah rumah gubuk yang ia ciptakan, ternyata hanya bangunan kosong, tak ada penghuninya, atau mungkin Asih menjebak manusia yang tersesat dengan cara menipu pengelihatan mereka?"
"Aneh sekali, bukankah lebih mudah baginya untuk menampakkan wujud seram, dan langsung menyerang mangsa, begitu mereka ketakutan?"
Tiba tiba saja bulu kuduk Linda bergidik. Dia merasakan ada sentuhan halus yang menjalar di punggungnya. Gadis itu memejamkan mata, jantungnya berdegub kencang, perasaannya jadi kacau seketika.
Ada sebuah sentuhan dingin dari benda yang entah binatang melata, ataukah mahluk astral yang sedang bergerak merambat dari tulang ekor hingga bahu kanannya. Linda berteriak, lalu sekonyong konyong ia berlari menjauh dari gubuk. Matanya masih terpejam, rasa geli dari sentuhan mahluk asing, masih terasa melekat di kulit bahunya.
"Hey... hey... tenang dulu, hati hati, kamu mau lari kemana, kenapa tiba tiba wajahmu jadi panik, dan berteriak histeris begitu?"
"Rasanya saya sudah bilang agar tetap bersama, dan jangan pernah pergi sendirian, dasar gadis keras kepala!"
Wira yang terkejut dengan suara teriakan Linda, kontan saja berdiri, dan langsung menangkap tubuh Linda, yang kala itu lari terbirit birit, nyaris melewatinya. Wira kesal, tanpa sadar ia langsung memarahi Linda. Panik dan khawatir, membuat emosi perwira polisi itu tersulut.
Linda kaget, untuk pertama kalinya, Wira bicara keras, namun gadis itu tidak kesal, dia malah tersenyum, sembari menyandarkan kepalanya di dada Wira yang bidang. Dalam hati, Linda merasa senang, karena ternyata Wira perduli padanya.
"Dengar, kalau kamu mau melakukan sesuatu, kita akan melakukanya berdua, jangan gegabah bertindak sendirian, faham!"
Linda berpura pura sedih, menunduk, sembari memasang mimik wajah yang memelas, untuk meredakan amarah Wira. Usahanya berhasil, Wira tersentuh, pria itu segera mengaku salah, lalu buru buru minta maaf.
"Maaf... saya khilaf, kamu membuat saya panik. Jika terjadi sesuatu kepadamu, saya tidak akan bisa memaafkan diri sendiri. Jadi tolong jangan pernah lakukan itu lagi."
Linda mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lebar sambil mencubit dagu Wira. Gadis wartawan itu gemas, dia sangat senang melihat perwira polisi idolanya menyerah, takluk, dengan akting murahan ala ala drama tv.
"Nah begitu kan manis, jangan galak galak, nanti kalau saya kena serangan jantung, bapak malah repot lho..."
Linda berseloroh manja menirukan akting artis artis centil dalam drama tv. Wira menebalkan rahangnya, wajahnya cemberut, menahan kesal di dada. Dia jadi menyesal telah meminta maaf kepada Linda.
__ADS_1
"Dasar gadis aneh, konyol, sempat sempatnya dia bercanda di situasi genting begini. Bagaimana kalau yang tadi itu benar benar serangan astral?"
Wira menggerutu pelan, lalu segera melepaskan pelukkan tangannya dari pinggang ramping Linda. Kemudian dengan gaya acuhnya, pria tampan itu berjalan menuju gubuk bambu yang tadi di datangi Linda.
Linda berjalan mengikuti Wira dari belakang, tangannya menggenggam keris, yang diberikan pakde Jarwo. Entah apa yang sedang dia rasakan saat ini, tapi gadis cantik itu terlihat tersenyum senyum sendiri, sambil bergumam lirih memuji Wira.
"Oh Tuhan, dia cool sekali..!"
Wira membuka pintu gubuk, masuk, memeriksa ke dalam. Tapi tak menemukan apa apa, kecuali sebuah tungku api tua, dan perabot usang yang seluruhnya terbuat dari tanah liat. Mereka merasa seperti sedang berada di era abad pertengahan, di masa masa manusia hidup sangat primtif.
"Tidak ada apa apa disini, sebaiknya kita pergi saja, jangan membuang buang waktu, penasaran dengan hal hal yang tak penting."
Wira menggandeng tangan Linda agar gadis itu, tak lepas lagi dari pengawasanya. Dengan hati hati mereka menyusuri deretan rumah yang berjajar rapi saling berhadapan. Tiba tiba saja mata Wira menangkap sosok bayangan seorang wanita yang berdiri di depan sebuah rumah gubuk, tepat di ujung perkampungan.
"Siska, apa benar itu dia?"
Bayangan wanita yang mereka lihat, adalah sosok Siska, namun Wira dan Linda belum bisa memastikan, apakah soskok yang mereka lihat, benar benar Siska, atau hanya mahluk yang menyerupai.
Wira menarik tangan Linda, sedikit memaksanya untuk berlari. Dia tidak mau kehilangan jejak, sementara sosok wanita yang mereka lihat, memalingkan wajah, dan berjalan menjauh, pergi meninggalkan perkampungan.
"Kemana perginya wanita itu, saya yakin dia adalah Siska, dari ciri fisik, dan pakaian yang ia kenakan, benar benar mirip dengan Siska."
Linda mengingatkan Wira tentang ilusi optik yang diciptakan Asih. Sejak awal mereka masuk ke dalam rumah kosong ujung aspal, memang tak ada hal yang benar benar nyata, kecuali serangan mahluk astral yang terus menerus menteror mereka.
"Dia hilang disini, saya yakin melihatnya berjalan menuju rumpun bambu ini Lin."
Linda tidak menjawab, karena dia tidak melihat sosok itu pergi ke arah rumpun bambu. Dalam pengelihatan Linda sosok mahluk yang di duga adalah Siska justru masuk ke dalam sebuah gubuk.
"Saya tidak melihat Siska berjalan kemari pak, yang saya lihat, Siska justru masuk ke dalam salah satu gubuk yang berada di sebelah kanan."
Wira buru buru merapatkan tubuhnya di depan Linda, dia mulai merasakan gelagat aneh yang tersembunyi di tempat mereka berdiri sekarang. Firasat Wira mengatakan, akan terjadi sesuatu.
"Kamu jangan jauh jauh dari saya Lin, tempat ini mulai tak beres, aura hitam sangat terasa, saya yakin ada mahluk astral yang sedang mengintai kita dari suatu tempat."
Linda memeluk erat lengan Wira, matanya liar mengawasi sekitar. Seperti Wira, Gadis itu juga merasakan hal aneh di sekitar mereka. Sunyi, sepi, tapi terasa ramai. Linda merasa mereka sedang menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Bagaimana ini pak, sepertinya kita sudah di kepung."
Nyali Linda down seketika, jika boleh memilih, dia lebih baik berhadapan dengan para perampok, ketimbang harus berada dalam situasi yang menekan seperti saat ini.
"Tenang Lin, jangan panik, saya butuh kerja sama kita sekarang. Ingat pesan pakde Jarwo, kamu hanya perlu percaya, dan biarkan semuanya mengalir, jangan dilawan."
Linda ingat pesan terakhir pakde Jarwo, pria itu memintanya pasrah, menyerahkan segala sesuatunya kepada sang pencipta, urusan gaib, tak bisa dilawan dengan logika, dia harus menggunakan hati, dan percaya pada kekuatan Tuhan.
"Baiklah aku hanya perlu percaya, dan tidak usah melawan apapun yang terjadi padaku, tugasku hanya membantu pak Wira, selebihnya biarlah Tuhan yang menentukan akhirnya."
Linda memejamkan matanya, sebentar kemudian gadis itu larut dalam keheningan, dia berada di puncak pasrah. Lalu bagaikan mimpi, pakde Jarwo membimbingnya menggunakan keris yang diwariskan pria tua itu.
Tanpa sadar Linda mulai bergerak, tubuhnya lues, seperti sedang menari. Matanya tetap terpejam, Linda membiarkan pakde Jarwo membimbing gerakan tubuhnya.
Suasana kampung yang tadinya sunyi, tiba tiba menjadi riuh, ramai oleh sosok manusia, dengan badan setengah binatang, mereka mengepung, dan mulai maju menyerang. Wira melihat sosok Siska ada ditengah tengah memimpin mereka.
"Ternyata aku benar, yang aku lihat tadi memang Siska, sekarang dia berada diantara mereka, apa dia nyata?"
"Apa yang sudah dilakukan Asih kepada Siska, wajahnya terlihat buas, bagaimana bila dia menyerang kami, apa yang harus aku lakukan?"
Wira di landa kebimbangan, di depannya terlihat sosok Siska dengan wajah pucat, menatap buas, seperti tak mengenali mereka berdua. Polwan itu terlihat memimpin di tengah tengah kerumunan manusia yang keluar dari gubuk.
"Jika tidak dapat disadarkan, maka bunuh saja."
Tiba tiba saja suara Linda berubah menjadi suara pakde Jarwo. Wira terkejut, kemudian melirik ke samping. Dia melihat mata Linda terpejam, tapi gadis itu bicara menggunakan suara pakde Jarwo.
"Iya ini saya Jarwo Wir, kamu tidak usah ragu, jika Siska tidak bisa di pisahkan lagi dari Asih, maka bunuh saja dia."
"Sekarang iblis itu sedang menggunakan tubuh Siska sebagai cangkangnya, kamu harus mencari tubuh gadis yang selama ini ditempati Asih, tusuk Jantungnya lalu tikam ubun ubunnya."
"Tubuh inangnya akan mati. Iblis itu akan lemah, Asih akan kembali pada wujud asli, dan saat itu kalian harus menarik Siska kembali, kalau tidak bisa bunuh saja bersama Asih di dalamnya."
Ucapan pakde Jarwo tak masuk akal, Wira tidak mungkin bisa membunuh Siska, bagaimanapun Siska adalah staff kesayangannya, terlalu banyak kenangan saat mereka berada dalam team.
"Tidak, aku tidak mungkin membunuh Siska. Apapun caranya aku harus berhasil memisahkan Asih dari tubuh Siska."
__ADS_1
"Dasar Iblis sialan, dia benar benar licik, mahluk itu membuat kami terperangkap dalam dilema."
Wira menggerutu, dia harus memutar otak, agar mereka berhasil menyelamatkan Siska, dan mengubur Asih selamanya.