Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 66 Mencari Jasad Asih


__ADS_3

Wira dihadapkan pada dilema yang rumit, Asih membuatnya harus menentukan pilihan akan membunuh Asih dengan resiko Siska terbunuh, atau mencari jalan lain, yang dia sendiri tidak yakin akan berhasil.


"Aku harus mencari tubuh inang Asih untuk membuatnya melemah. Tapi dimana?"


"Tempat ini penuh misteri, kekuatan sihir Asih, membuatku sulit membaca keadaan, mana yang nyata, dan mana halusinasi."


Wira harus segera mengambil keputusan. Sosok Siska yang telah dikuasai oleh Asih mulai berlari menghambur ke arah mereka. Wira tak punya kesempatan untuk berpikir lagi, mereka segera terlibat dalam pertarungan.


Linda mengayunkan kerisnya dengan mata yang masih terpejam, gerak tubuhnya sangat lincah menghindari gigitan mahluk astral yang berlomba menerkam ingin menelan mereka bulat bulat.


Satu persatu mahluk astral itu tumbang menjadi asap hitam yang mengepul di udara, tapi mereka seperti tak pernah habis, selalu muncul dan muncul lagi.


Wira lalu memperhatikan beberapa mahluk astral di sekitar Siska, dia lantas berpikir untuk maju merangsek memburu mereka. Tangan Wira gesit menebas ke kanan dan kiri berirama dengan gerak tubuh Linda yang menyabet dengan lemah gemulai


"Wess...!"


Tiba tiba saja Siska lari melompat, menerkam, mencekik Wira, berusaha untuk menggigit leher pria itu. Kekuatan Siska terasa berkali kali lipat, membuat Wira kuwalahan. Dia harus mati matian bergulat dengan polwan, yang saat ini dalam pengaruh kekuatan hitam.


"Siska sadar Sis, ini saya Wira!"


Wira coba menyadarkan Siska, namun percuma, gadis itu sama sekali tidak mengenali Wira, dan bernapsu membunuhnya. Wira yang terdesak harus terus bertahan agar tak sampai melukai Siska.


"Aku bisa mati kalau terus mengalah, bagaimana sekarang, aku harus melakukan apa?"


Tiba tiba Linda datang dari arah belakang dan langsung menjambak rambut Siska. Gadis itu memberi peluang untuk Wira segera bangkit. Linda yang dalam kendali korin pakde Jarwo, tidak memberi ampun, dia segera menempelkan keris di leher Siska, bersiap akan menggorok lehernya.


Wira yang melihat Linda sangat bernafsu ingin membunuh Siska, segera mencegahnya. Dia cepat cepat berlari mendekati Linda yang nyaris saja menebas leher Siska.


"Stop..!"


"Berhenti pakde, jangan lakukan itu, kita masih punya jalan lain untuk membawa Siska kembali."


Wira segera menahan tangan Linda, sementara Siska pasrah, pura pura memasang wajah memelas agar Wira menjadi iba padanya.


"Dia bukan Siska Wir, sebaiknya kamu mundur biar, saya menyelesaikan ini semua."


Wira bingung dia harus mengikuti perasaan atau membiarkan Siska mati di tangan Linda. Tapi kemudian Wira berpikir lagi, jika membiarkan Siska tewas di tangan Linda, maka Asih akan menang, iblis itu akan kembali ke dalam tubuh inang, dan Wira akan menyesal karena dia harus kehilangan satu orang lagi yang ia sayangi.


"Tidak.. ini tidak boleh terjadi, aku tidak bisa membiarkan Linda membunuh Siska."

__ADS_1


Dengan berat hati Wira memutuskan menyerang Linda, mendorongnya agar melepaskan Siska. Tapi tangan Linda lebih kuat dia menyikut dada Wira hingga jatuh terpental.


"Bodoh..!"


"Kamu sudah melepaskan iblis itu, sekarang dia yang akan membunuh kita!"


Suara Linda yang bercampur dengan suara pakde Jarwo membuat Wira gugup, lalu mundur beberapa langkah ke belakang.


Wira mengerang memegang dadanya yang terasa sakit, lalu tiba tiba Wira melihat kain hitam yang terjatuh di tanah. Tangannya meraih benda itu, dan langsung membukanya.


"Batu mirah delima, aku sampai melupakan, pusaka pemberian Ronggo Joyo yang satu ini."


Wira masih memandangi batu mirah delima di tangannya, sementara reaksi Linda dan Siska, seperti ketakutan saat melihat benda itu. Wira menangkap reaksi keduanya. Dia mulai sadar kalau batu bertuah itu, ditakuti oleh mahluk astral, bahkan iblis sekelas Asih, yang merupakan titisan ular tua.


"Sepertinya mereka berdua menghindari batu ini, apakah mereka benar benar takut dengan batu mustika ini?"


Dengan percaya diri Wira kemudian bangkit berdiri, sembari menyeka darah yang mengalir di sudut bubirnya. Pria kekar itu melangkah pelan mendekati Siska yang terlihat gelisah.


"Keluar dari tubuhnya atau aku akan membakarmu!"


Wira coba mengancam, dia merasa Siska memang takut dengan batu mustika yang di genggamnya. Tapi yang terjadi kemudian membuat Wira jadi bingung, karena Siska menunjukkan ekspresi menantang. Matanya melotot, menyeringai bagai bintang buas.


" Hahahaha..."


Reaksi Siska membuat Wira terkejut, dia merasa dipermainkan, terselip rasa ragu dalam hatinya, namun Wira segera menepisnya, menurutnya Asih hanya sedang menggertak untuk membuat mentalnya jatuh.


"Aku tidak tahu hasilnya, jika belum mencoba."


Wira berlari memburu Wajah Asih. Dia benar benar terlihat marah, dalam benaknya, Wira hanya berpikir ingin menyudahi sandiwara iblis itu.


"Mati kau Asih..!"


Wira menerjang, lalu mencengkram lehet Siska, lalu menempelkan batu mustika mirah delima di dahinya. Dan dahi Siska seperti hangus terbakar, gadis itu menggelepar, lalu perlahan lahan lemas, tidak sadarkan diri.


Wira masih menindih tubuh Siska yang tidak berdaya, dia segera melepaskan cengkraman tangannya dari leher Siska, kemudian memeriksa denyut nadinya.


"Dia masih hidup, syukurlah, Siska masih hidup Lin..!"


Wira berseru kegirangan, namun Linda tidak merespon, gadis itu tergeletak di tanah, tak sadarkan diri.

__ADS_1


Wira memeriksa bekas gigitan di bahu Siska, dan merasa gadis itu akan aman, karena lukanya tidak terlalu dalam. Wira langsung berlari menghampiri Linda yang terbaring tidak jauh darinya.


"Lin... Linda... sadar Lin!"


Wira menepuk nepuk wajah Linda, untuk membuatnya sadar. Tak lama kemudian, Siska membuka mata dan menoleh ke samping.


"Pak Wira..."


Wira menoleh dan melihat Siska yang telah sadar. Tangan gadis itu melambai lemas, memberi isyarat agar Wira datang mendekatinya.


"Maaf pak saya tidak berhasil menjaga Linda."


Wira tersenyum, sembari membelai rambut Siska, dia senang karena polwan itu telah kembali. Wira mengangkat tubuh Siska, dan tiba tiba deretan gubuk disekitarnya telah kembali berubah menjadi deretan kamar. Di dalam rumah kosong ujung aspal.


Bersama dengan itu, Linda mulai tersadar, wartawan cantik itu pelan pelan membuka matanya. Ia melihat Wira yang tengah menggendong tubuh Siska.


"Syukurlah kalian berdua telah kembali, tadinya saya sempat berpikir akan kehilangan kalian berdua."


Wira menyandarkan Siska tepat disamping Linda, wajahnya tersenyum lebar, dia bersyukur kedua gadis itu telah kembali padanya.


"Kalian tunggu disini, saya akan mencari jasad Asih. Dia pasti ada di salah satu kamar di rumah ini, kalian berudua hati hati, tetap waspada dan jangan pernah berpisah, apapun yang terjadi."


Wira berdiri, dan bergegas memeriksa ke setiap kamar, dia yakin Asih pasti bersembunyi di salah satu kamar. Dengan hati hati Wira membuka pintu kamar yang ada di depannya, wajahnya terlihat, tegang, menelisik ruang kosong berdebu di hadapannya.


"Aku yakin wanita iblis itu pasti masih berada di salah satu ruangan ini. Ayo Asih tampakkan wujudmu."


Baru saja Wira berucap, tiba tiba bayangan sosok wanita berkelebat menembus dinding, dia segera berlari keluar untuk mengejar bayangan itu.


"Kalian melihat bayangan itu?"


"Tidak pak, kami tak melihat apa apa."


Siska dan Linda menjawab hampir bersamaan. Wira segera menuju kamar ke dua dan dia lagi lagi harus kecewa karena Asih juga tidak berada di kamar yang ia masuki.


"Dimana kamu Asih, ayo tampakkan wujudmu, jangan jadi iblis pengecut, hadapi aku!"


Wira membatin kesal, dia berharap dapat segera bertemu Asih agar bisa membereskan segalanya.


"Lindungi aku Tuhan."

__ADS_1


__ADS_2