
Matahari sudah mulai tinggi, udara pagi hangat menerpa wajah cantik Siska. Polwan itu terlihat berjalan mondar mandir, di depan teras rumah kepala desa, tampak sekali dia sedang gelisah menanti kedatangan Tomy.
"Nanti malam bulan purnama penuh, itu artinya mereka akan segera menumbalkan para gadis, semoga saja kami masih sempat menyelamatkan Linda."
"Ya Tuhan bantu kami sekali ini saja, Linda gadis baik aku tidak rela jika dia harus menjadi tumbal iblis."
"Tom kamu berada dimana, tolong segera datang kemari."
Siska masih menggenggam phonsell milik kepala desa. Dia coba menghubungi Tomy dan Wira, tapi selalu gagal. Siska semakin cemas karena waktu mereka semakin sempit dari menit ke menit.
"Mbak Siska tenang dulu ya, kalau bantuan dari kota tidak datang, kami warga desa siap membantu, meski nyawa taruhannya."
Tiba tiba suara kepala desa mengaggetkan Siska, dia membalikkan badannya dan melihat kepala desa tersenyum sembari menggenggam sesuatu yang dibungkus dengan kain hitam.
"Maaf pak kades, saya terlalu cemas sampai tidak menyadari kehadiran bapak. Ngomong ngomong yang bapak pegang itu apa pak?"
"Oh.. ini keris pusaka leluhur milik pendiri desa ini. Sudah turun temurun di wariskan kepada kami. Kebetulan saya adalah kepala desa generasi ke dua belas."
"Nanti setelah saya berhenti menjabat sebagai kepala desa, keris ini akan diserahkan kepada kepala desa terpilih, untuk melanjutkan tugas mengayomi warga desa."
Kepala desa menuturkan riwayat tentang terbentuknya desa mereka, dan kaitannya dengan keris pusaka yang saat ini berada di tangannya. Obrolan itu berlangsung cukup lama sampai Siska bisa sedikit lebih tenang.
Untuk beberapa saat rasa was was dalam diri Siska berkurang, namun raut wajahnya tetap menggambarkan suasana hati Siska yang gelisah.
Gadis itu masih mengkhawatirkan keadaan Linda, apalagi saat itu dia meninggalkan Linda dalam keadaan yang sangat putus asa.
"Seharusnya aku tidak meninggalkan Linda waktu itu. Saat ini dia pasti sedang tertekan dan ketakutan."
Ada penyesalan terselip di lubuk hati Siska. Dia menyesal meninggalkan Linda sendirian. Tapi mau bagaimana lagi, Siska tak punya pilihan, meski dia dibekali kemampuan bela diri di kepolisian, tapi untuk berhadapan langsung dengan empat orang sekaligus bukan hal yang mudah, apalagi saat itu mereka mimiliki senjata api.
Siska tidak ingin berakhir seperti Wahyu, karena itu dia terpaksa meninggalkan Linda agar bisa meminta bantuan.
"Sudah jam sembilan tapi Tomy belum juga datang, apakah aku harus mengambil resiko, menyelamatkan Linda tanpa bantuan dari kepolisian?"
Kepala desa memperhatikan Siska yang kembali melamun, dia sangat mengerti kecemasan dalam hati Siska. Tidak ingin mengganggu lebih lama lagi, kepala desa segera bangkit dari duduknya, lalu melangkah pergi meninggalkan Siska yang tidak merespon saat dirinya berpamitan.
Beberapa saat setelah kepala desa pergi, Siska tersadar dari lamunannya, dia repleks monoleh kesamping, dan melihat kepala desa tidak lagi duduk di dekatnya. Saat itu Siska merasa sangat konyol, bagaimana bisa dia sampai mengabaikan tuan rumah.
Buru buru Siska kembali masuk ke dalam rumah untuk meminta maaf, namun dia tidak melihat kepala desa di sekeliling rumah. Siska menepuk dahinya karena malu telah bersikap tidak sopan.
Lalu tiba tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Siska hampir menjerit karena terkejut, dia menoleh dengan mimik wajah kesal.
"Mbak sedang apa disini, cari siapa?"
__ADS_1
Ternyata dia adalah Darmanto, salah seorang kepercayaan kepala desa yang bertugas merawat ternak.
"Oh mas Darmanto, maaf saya agak kaget. Tadi saya mencari pak kades, tapi beliau tidak ada dimanapun."
"Pak kades sedang pergi ke rumah para sepuh. Depertinya beliau akan membahas soal mbak Siska kepada para sesepuh desa."
Ucapan Darmanto membuat Siska merasa tidak enak hati. Karena kehadiranya di desa itu, seluruh warga desa jadi terlibat dalam masalah yang sedang dia hadapi.
"Aduh saya jadi tidak enak merepotkan pak kades dan seluruh warga desa."
"Mas Darmanto tahu jalan pintas ke sebrang hutan, kalau boleh saya mau minta tolong diantarkan mas."
"Wah jangan cari cari perkara mbak Siska, meskipun tahu jalannya, saya tidak berani mengantar mbak Siska ke hutan itu lagi."
Soalnya disana terkenal wingit, banyak arwah arwah korban pembunuhan yang tersesat. Kalau kita nekat masuk ke tengah hutan, dijamin kita tidak akan bisa keluar lagi mbak."
"Konon kabarnya mereka yang menjadi korban pristiwa tahun enam puluh lima, masih berkeliaran mencari jalan pulang."
"Bahkan sampai sekarang masih ada penduduk desa yang hilang di hutan itu mbak."
Bulu kuduk Siska bergidik, dia ingat saat pertama kali datang ke desa bersama salah seorang warga. Orang tua itu telah mengingatkan Siska agar tidak menoleh kebelakang, namun karena rasa penasaran, Siska mengabaikan peringatan itu dan yang terjadi kemudian, dia benar benar di buat ketakutan oleh sesuatu yang ada di dalam hutan itu.
Beberapa sosok bayangan hitam berdiri diantara pepohonan dengan mata merah yang menyala. Pantas saja waktu berada di hutan Siska merasa aneh. Gadis itu seolah olah sedang berada di dimensi lain, dimana tidak ada satupun binatang yang bisa ia temukan, kecuali seekor burung jalak hitam yang menuntunnya sampai ke batas hutan.
"Lalu bagaimana mas Darmanto, apa tidak ada orang, atau jalan alternatif untuk sampai ke sebrang hutan?"
"Akan lebih aman, kalau mbak Siska pergi mengambil jalur memutari bukit. Mungkin dalam waktu antara delapan, atau sembilan jam berkendara, mbak Siska akan sampai di sebrang hutan."
Darmanto coba memberikan alternatif sebagai pilihan. Menurutnya mengbil jalan memutar akan jauh lebih aman dari pada harus menempuh jalur hutan yang oleh warga desa di kenal wingit atau angker.
Siska tertekun mendengar ucapan Darmanto, waktu yang tersisa tidak akan cukup untuk mengambil jalur memutar. Siska khawatir Linda tidak akan bertahan jika harus menunggu selama itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, desa ini sangat terpencil, jika aku memilih jalur memutar, apakah Linda akan baik baik saja disana?"
Di tengah kegundahan hatinya, kepala desa datang menghampiri Siska. Pria itu tidak sendirian, bersamanya ada seorang kakek berjanggut putih dengan pakaian serba hitam.
"Mbak Siska perkenalkan, ini mbah Wongso Darsono. Beliau dulu adalah kepala desa sebelum saya. Jika terpaksa harus pergi menyebrangi hutan, beliau bersedia mengantar. Tapi ada resiko yang mungkin akan kita temui saat masuk ke tengah hutan."
Kepala desa agak ragu meneruskan ucapannya, tapi karena melihat wajah Siska yang mendadak semeringah, diapun akhirnya mengatakan segala resiko yang harus mereka tanggung saat menjelajah hutan.
"Mungkin mbak Siska sudah dengar sejarah hutan itu dari Darmanto, dan memang demikian adanya mbak."
"Kalau kemarin mbak Siska bisa keluar dari hutan dengan selamat, itu hanya sebuah keberuntungan, tapi kali ini belum tentu. Jadi dari sekarang persiapkan mental mbak Siska."
__ADS_1
"Di hutan itu akan sangat banyak gangguan astral, kita mungkin akan disesatkan, atau bahkan bisa saja masuk portal gaib. Mahluk mahluk itu pandai memanipulasi pikiran, jadi jangan pernah melamun, atau terbawa emosi, mereka akan dengan mudah menjebak kita."
"Oh iya mohon maaf sebelumnya, ini agak pribadi tapi harus saya sampaikan sebelum kita benar benar masuk hutan."
"Hal pribadi apa yang pak kades maksudkan?"
Siska langsung memotong ucapan kepala desa, dia tidak sabar mencari tahu, sebab tidak ingin ada yang menghambat misi mereka.
"Sekali lagi maafkan saya, apa saat ini mbak Siska sedang datang bulan?"
Mendengar pertanyaan kepala desa, Siska jadi tersenyum simpul, di zaman sekarang masih ada orang yang menganggap pertanyaan semacam itu sebagai hal tabu.
"Oh itu, sekarang masih belum tanggalnya pak, semoga tidak datang lebih awal. Tapi yang jelas untuk saat ini saya belum dapat."
"Jadi kalau masalah itu, saya aman pak."
"Hahaha..!"
"Maaf mbak Siska, terus terang saja saya agak risih bertanya soal ini, tapi ini penting karena bangsa lelembut sangat senang dengan aroma darah, jadi saya mewanti wanti mbak Siska dari sekarang."
Kepala desa tertawa sembari menggaruk garuk kepalanya. Dia lega karena pantangan terbesar dipastikan sudah tidak ada lagi. Sekarang mereka hanya perlu siapkan fisik, mental, dan perbekalan.
Kemudian segera berangkat menuju hutan ditemani mbah Wongso, sesepuh desa yang sangat faham tentang seluk beluk hutan wingit.
Hampir jam dua belas siang, ketika Siska berjalan menuju teras rumah. Dia sudah siap dengan tas ransel kecil, yang dipinjam dari anak kepala desa.
Sebelum berangkat Siska memeriksa lagi isi tas agar tidak ada barang yang tertinggal. Makanan, air mineral, obat obatan, pakaian, lampu senter, dan tentu saja belati di susun rapi. Setelahnya mereka berdoa bersama, kemudian berangkat menuju hutan.
Sementara itu Tomy dan Wira telah memasuki gerbang desa, mereka sempat bertanya kepada penduduk yang tengah bekerja di sawah.
"Maaf bu numpang tanya, rumah kepala desa dimana ya?"
Seorang ibu muda mengenakan topi caping dengan pakaian lusuh mendekati mereka. Wanita itu memperhatikan dandanan Wira dan Tomy, kemudian dengan wajah polos ia bertanya.
"Bapak bapak ini siapa, ada keperluan apa mencari kepala desa?"
"Kami ini dari kepolisian kota Surabaya, maksud kedatangan kami kemari, untuk menjemput teman."
"Oh gadis kota yang tersesat, dia memang ada di rumah pak kades, tapi sekarang mereka pasti sudah pergi masuk hutan."
Wanita itu menjawab sekenanya kemudian memberi petunjuk arah menuju ke rumah kepala desa. Wira dan Tomy mengucapkan terima kasih lalu segera tancap gas menuju rumah kepala desa.
"Wanita itu bilang Siska dan kepala desa sudah pergi ke hutan, kita harus menyusul mereka Tom, semoga saja belum terlambat."
__ADS_1
Tomy memacu mobilnya dengan sangat kencang, mereka berkejaran dengan waktu yang seakan memburu.
"Linda bertahanlah tunggu kami..."