Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 31 Dendam


__ADS_3

Langit makin gelap hujan deras mengguyur bumi seakan akan turut berduka atas kepergian Rina. Wira masih terdiam membisu di hadapan pusara Rina, tanpa menghiraukan air hujan yang deras membasahi tubuhnya.


"Sudah Wir ikhlaskan kepergian Rina nak. Ayo pulang."


Sukmana menyentuh bahu Wira dengan payung di tangan kanannya. Ayah Rina mengajak Wira meninggalkan pemakaman. Tapi Wira masih enggan untuk bangkit meninggalkan pusara Rina.


"Om Sukma mengerti perasaanmu, tapi tidak baik terlalu lama menangisi kepergiannya. Ini sudah takdir Tuhan, kita doakan saja semoga Rina mendapatkan ganjaran Surga."


Wira menyeka air mata, perlahan dia bangkit sembari memeluk foto Rina dan meletakkkan setangkai mawar putih di batu nisan.


Dengan berat hati Wira meninggalkan area pemakaman diiringi Ayah, ibu, dan adik adik Rina. Di dalam mobil Wira menatap nanar ke arah makam seakan enggan untuk beranjak.


"Doakan saja agar Rina tenang disana Wir, semua yang terjadi adalah ketetapan dari sang pencipta. Jadi jangan salahkqn dirimu. Om juga tante sama sedihnya denganmu tapi kami akan mencoba ikhlas dan menerima semua ini."


Sukmana menepuk bahu Wira sambil melepas kacamata yang buram terkena air mata. Sedang Wira berusaha menguatkan hati, menguasai diri, lalu perlahan ia melajukan mobil meninggalkan pemakaman.


Malam hari usai pengajian di gelar, Wira pamit kepada Ayah Rina. Sukmana menawari agar Wira menginap saja malam ini, namun dengan halus Wira menolak. Rumah itu penuh kenangan antara dirinya dengan almarhumah Rina.


Wira tak ingin terbawa suasana, kenangannya bersama Rina lekat dengan rumah itu. Gontai perlhan Wira masuk ke dalam mobil dan sekejap saja mobil sedan merah itu melaju meninggalkan rumah Rina.


Jam sepuluh malam Wira memarkirkan mobil di sebuah hotel di tengah kota Bandung seorang resepsionis menyapa ramah padanya. Wira meminta kunci kamar lalu bergegas menuju kamar dan menghempaskan tubuhnya di ranjang.


Tatapan Wira kosong memandang langit langit kamar yang remang. Khayalanya berkelana pada sosok Rina. Gadis yang dikenalnya lima tahun silam kini telah tiada. Senyumnya tidak akan lagi menghiasi hari hari Wira.


"Brengsek...!"


Wira mengutuk dirinya sendiri yang tidak mampu menjaga kekasihnya. Wira bangkit dari tempat tidur mengambil segelas air dan membuka tiga lembar kertas file Sandikala yang di situ ada sederet nama.


"Aku harus membuat perhitungan dengan Anton Wijaya dan gerombolan sektenya!"


Wira bergumam lirih, rahangnya menebal swmentara tangan kananya meremas kertas file yang di genggam.


"Aku harus bertemu ayah, mungkin saja beliau punya nasehat."


Wira benar bwnar tidak tenang malam itu, matanya terpejam, namun tidak tidur. Pikiran Wira dipenuhi rasa dendam terhadap Sandikala.


"Mereka harus membayar lunas semuanya, darah di bayar darah."


Pagi hari Wira membasuh wajahnya lalu beranjak ke loby hotel. Setelah sarapan dia menyerahkan kunci kepada resepsionis lalu pergi ke mobil. Perwira muda itu, ingin cepat cepat menuju puncak dimana vila keluarga mereka berada.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya mobil sedan merah milik Wira memasuki kawasan puncak. Di pinggiran hutan yang terletak di atas bukit Wira memarkirkan mobilnya.


Seseorang mengintip dari jendela dengan sebuah pistol di tangan. Wira keluar dari mobil lalu mengedarkan pandangan ke sekitar bangunan Villa mewah berlantai dua.


Pria tua keluar dari dalam vila dengan senyum semeringah. Tangannya masih menenteng sebuah pistol.


"Wira..."

__ADS_1


Apa kabar nak. Sudah dua tahun kamu tidak pulang, Ibumu sampai kangen, bertanya tanya terus kapan kita akan mengunjungimu di Surabaya."


Wira tersenyum getir, mencium tangan Ayahnya lalu memeluk erat pria tua itu, sembari berbisik lirih ditelinga. Tak tahan Wira memiteskan air mata.


"Rina sudah meninggal yah, dan ini salaj Wira."


Ayah Wira kaget melepaskan pelukan, wajahnya seketika berubah murung. Dia merangkul Wira masuk ke dalam Villa lalu mendudukannya di ruang tamu.


"Apa maksudmu Wir, jangan bercanda. Ayah ini sudah tua. Jangan buat kami mati berdiri dengan candaan yang tak lucu seperti itu."


Ayah Wira masih tidak percaya ucapan putranya. Pensiunan perwira tinggi polisi itu, menatap lekat wajah Wira yang tertunduk menyeka air matanya.


"Iya yah, Rina meninggal terkena penyakit non medis. Semua berlangung singkat, tiba tiba dia muntah darah, tak sadarkan diri."


"Orang tua Rina sudah membawanya ke rumah sakit, namun hasil pemeriksaan mengayatakan kalau Rina sehat, tidak diagnosa yang bisa menjelaskan kondisinya."


"Hanya dalam satu hari Rina meninggal di pelukan Wira yah."


Ayah Wira terdiam mematung, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sudah lama Wira tak pulang. Dan sekarang dia datang dengan kabar yang tidak mengenakkan. Calon menantu kesayangannya sudah berpulang, kembali kepada sang pencipta.


"Ada apa Yah?"


"Wira, kapan kamu datang nak?"


Ibu Wira berjalan dari ruang tengah, dan mendapati suaminya tengah berbincang serius dengan seseorang yang ternyata adalah Wira. Putra sulung yang ia rindu rindukan.


"Ada apa Wir, Ayah ada apa ini?"


Wanita itu kebingungan, Wira tidak langsung memberi jawaban, sementara suaminya juga terdiam hanya menyandarkan tubuh di bantalan kursi sembari menutup wajah dengan kedua tanganya.


"Rina meninggal bu."


Kalimat yang dilontarkan Wira sontak membuat sang ibu terkejut memegangi dadanya yang terasa sesak. Wira hanya bisa berdiri tertunduk. Sedang Wanita tua itu, mulai meneteskan air matanya.


Baru dua hari lalu dia membicarakan rencana mereka untuk melamar Rina. Tapi hari ini dia mendengar calob mantu kesayangannya telah tiada.


"Apa yang terjadi Wir?"


"Baru seminggu lalu ibu berbincang dengan Rina lewat video call dan dia sudah siap jika kami datang melamar."


Mendengar ucapan ibunya, hati Wira semakin pilu. Dia tidak dapat lagi menahan keaedihan. Wira menangis dihadapan sang ibu lalu mulai menceritakan swmua yang terjadi.


"Ini bermula dari pengungkapan penemuan sosok mayat di di daerah dermaga pelabuhan. Wira yang menangani kasusnya."


"Setelah mendalami kasunya Wira berkesimpulan kalau kematian gadis tanpa identitas di pinggir dermaga area pelabuhan ada kaitannya dengan kasus tewasnya wanita yang bunuh diri di mall."


"Hampir satu bulan Wira meneliti kasus ini sampai kesimpulan mengerucut pada seorang pengusaha muda bernama Leo Hadi Wijaya."

__ADS_1


"Belakangan Wira baru mengetahui kalau dia dan juga ayahnya adalah anggota sekte sandikala."


"Sebenarnya om Boris sudah melatang Wira untuk mendalami kasus ini yah. Tapi aku juga sama seperti ayah yang selalu mengerjakan sesuatu sampai tuntas."


"Meski telah mendapatkan beberapa rangkaian teror Wira tetap melanjutkan kasusnya dan bahkan sempat berhasil menangkap Leo Hadi Wijaya. Tapi pria itu bebas karena kurang bukti. Dan sekarang ini yang terjadi."


"Secara tidak langsung Wira yang bertanggung jawab atas kematian Rina. Andai saja aku mau mengikuti perkataan om Boris yah."


Wira merangkum semua rentetan peristiwa yang diaminya hingga berimbas kepada teror terhadap orang tuanya dan kematian Rina.


Ayah Wira menghela nafas panjang, sebenarnya dia sudah tahu tentang kasus Sandikala dari Boris. Tapi dia tidak mengira dampaknya akan sebesar ini.


"Soal Sandikala Ayah sudah dengar dari om Boris, organisasi sangat besar dan menggurita. Bahkan ayah sampai harus menepi ke villa ini karena rumah kita di Jakarta mulai mendapatkan teror dan adikmu terpaksa harus dikawal saat akan kuliah."


"Cuma yang luput dari perhatian kami adalah Rina, Ayah tidak sangka kalau kekasihmu juga diincar oleh mereka."


"Lalu apa rencanamu sekarang nak?"


Wira ragu untuk berbicara untuk beberapa saat dia hanya diam bertopanh dagu, Ayahnya masih menunggu jawaban tegas dari Wira. Polisi muda itu kemudian memupuk keberanian dalam hati dan mengucapkan satu kalimat yang membuat ibunya jadi was was.


"Wira akan balas dendam yah."


"Semua masalah ini aku yang memulai, maka aku juga yang akn menyelesaikan."


Ujar Wira sambil mengepalkan tangannya. Lalu berdiri dan melangkah ke beranda. Ibu Wira terkesiap mendengar ucapan putranya. Dia melirik lirik ayah Wira lalu bangun dari duduknya dan bergegas menyusul Wira yang kini sedang berdiri menatap hutan pinus.


"Ibu tidak setuju kamu balas dendam Wir. Akan lwbih baik kamu mengikuti saran om Boris. Jangan lagi berurusan dengan sandikala. Sekte itu berbahaya nak."


Wira menatap lekat ibunya yang terlihat khawatir. Dia lalu mencium tangan sang ibu, kemudian mengatakan sesuatu untuk mengatkan hatinya.


"Meninggalnya Rina adalah tanggung jawab Wira, maka Wira yang harus menuntaskan. Aku tidak mau lagi ada korban korban lain yang tewas sia sia swbagai tumbal iblis Sandikala.


"Tapi Wir..."


Ibu Wira tidak jadi meneruskan ucapannya. Ayah Wira mengwlus pundak istrinya lalu mengatakan sesuatu sebagai bentuk dukungannya kepada putra mereka.


"Sudahlah bu biarkan Wira menyelesaikan urusan ini, dia sudah dewasa. Sudah bisa menwntukan pilihannya sendiri."


"Sebaiknya dukung langkahnya dan doakan agar Wira bisa menyelesaikan perkara ini hingga tuntas. Anakmu benar, sekte sesat itu memang harus diberantas agar tidak lagi meresahkan masyarakat."


Ibu Wira tidak dapat mengatakan apa apa lagi, selain mengusap rambut putranya yang masih kekeh untuk membalas dendam.


"Semoga kamu berhasil dan pulang dengan selamat ya nak."


Wira tersenyum lalu merangkul ayah dan ibunya. Lalu mereka masuk ke dalam untuk selanjutnya makan siang bersama.


Untuk satu minghu lamanya Wira berada di villa orang tuanya. Hari hari di lalui dengan latihan fisik, mempertajam ilmu bela diri dan bwrlatih menembak.

__ADS_1


Ayah Wira hanya memperhatikan putranya dari kaca jendela. Meskipun ada rasa was was dalam hatinya. Tapi pensiunan polisi itu sadar, bahwa mereka adalah abdi negara yang kapan saja harus siap berkorban jiwa dan raga.


__ADS_2