
Wira masih tertunduk lesu tangannya mengepal menahan marah. Masih teringat dalam benaknya saat melakukan perjalanan astral untuk merebut sukma Linda yang di bawa ke dimensi astral.
"Aku tak menyangka menghadapi Sandikala akan serumit ini, andai saja tadi kami berhasil merebut Linda dari sosok ular itu."
Wira bergumam lirih nyaris tanpa suara. Suasana di dimensi astral masih nempengaruhi batinnya, suara suara tanpa wujud terngiang ditelinga. Wira yang dulu seorang rasional dan skeptis terhadap hal hal mistis, kini justru sangat dekat dengan mereka.
Pelan pelan wira mulai peka terhadap hal gaib. Namun dia selalu menampiknya. Bagi Wira ini pengalaman buruk yang ingin ia lupakan. Segera setelah menyelamatkan Linda, Wira berncana mundur dari kepolisian dan melupakan semua hal tentang Sandikala.
"Sebenarnya apa yang terjadi disana pakde, apa yang kalian temukan di alam gaib itu?"
"Apa pakde sempat bertemu dengan teman Siska?"
"Bagaimana keadaannya, apa masih ada celah untuk menyelamatkan Linda pakde?"
Siska ingin tahu cerita lengkap perjalanan Wira dan pakde Jarwo saat memasuki dimensi astral. Dia sangat penasaran karena melihat raut wajah Wira yang begitu kecewa.
"Sebenarnya pakde sudah berhasil melewati gerbang dimensi astral Sis, dan meskipun samar samar, tapi kami yakin sudah menemukan temanmu."
"Gadis itu sedang kebingungan mencari jalan keluar, andai saja ular tua itu tidak menghadang kami, kita pasti berhasil membawanya pulang kembali ke raganya."
Pakde Jarwo menceritakan semua yang mereka alami kepada Siska. Gadis itu jadi ikut kecewa mendengar apa yang terjadi di alam astral. Ada rasa sesal yang menggelayuti hatinya.
"Aku tak menyangka masalah ini akan jadi pelik. Andai waktu itu, aku tidak meninggalkan Linda sendiri."
Siska kembali menyalahkan diri sendiri, kalau saja dia lebih berani saat itu, mungkin saja mereka akan lolos dari maut bersama sama, atau kalau tidak, mereka akan mati bersama, jadi tidak ada penyesalan di hati Siska sekarang.
"Sebenarnya kita masih punya peluang, tapi kita harus menemui orang yang membuka portal dimensi astral itu."
"Siapapun orangnya, dia pasti sosok yang linuih, ilmunya tentu sudah tinggi, sehingga dia mampu membuka portal antar dimensi."
Pakde Jarwo memberi tahu kalau mereka masih punya kesempatan untuk menyelamatkan Linda, asal Wira mau menemui orang yang membuka portal dimensi astral, dan membujuknya untuk membatalkan perjanjian yang telah di buat.
Tentu ini tidak akan mudah dilakukan sebab, resiko bagi orang yang melakukan perjanjian dengan iblis akan kehilangan nyawa bila membatalkannya.
Mendengar perkataan pakde Jarwo, Wira jadi bertanya tanya sendiri. Apakah Anton Wijaya akan bersedia membatalkan perjanjian dengan iblis. Jika tidak, maka Wira harus memaksanya.
__ADS_1
Bila ucapan pakde Jarwo benar soal kèmampuan orang yang membuka portal dimensi astral, maka Anton Wijaya bukanlah sosok sembarangan. Dia pasti orang sakti dan berilmu tinggi, seperti yang telah digambarkan oleh pakde Jarwo.
"Tapi apakah Anton Wijaya benar sekuat, dan sehebat yang digambarkan pakde Jarwo?"
Wira masih merasa ragu dengan pikiranya sendiri, namun tentunya dia harus siap dengan segala kemungkinan terburuk.
"Jika memang aku harus menghadapi Anton Wijaya, maka aku harus punya setrategi untuk menghadapinya."
"Tapi strategi macam apa yang bisa aku gunakan untuk menghadapi penganut ilmu hitam?"
"Salah salah aku lebih dulu tewas sebelum bertarung."
Wira Sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, sedang pakde Jarwo masih belum yakin ada orang di jaman sekarang, yang mampu melakukan ritual kuno itu.
"Sebenarnya saya tahu siapa orang yang telah melakukan ritual membuka gerbang dimensi itu pakde."
"Namanya Anton Wijaya."
"Dia adalah pengusaha terkemuka, dan juga ketua sebuah sekte sesat bernama Sandikala."
Pakde Jarwo terkejut, dahinya berkerut, dia agak ragu dengan ucapan Wira. Setelah puluhan tahun dia baru mendengar lagi, ada orang yang berani melakukan perjanjian darah dengan iblis.
"Kalau ucapanmu benar, orang itu pasti memiliki kitab terlarang."
"Kitab kuno yang sudah lama menghilang. Ini benar benar gawat, apapun caranya kamu harus bisa memaksa orang itu untuk menutup portal, atau tatanan bumi akan rusak."
Wajah pakde Jarwo mendadak tegang, dia segara menuju keluar dan menengadahkan wajahnya ke langit. Ada sesuatu di langit yang membuatnya benar benar khawatir.
"Sebaiknya kalian pulang sekarang, paksa orang yang bernama Anton itu, untuk menghentikan kegilaan ini, atau akan ada bencana besar yang akan melanda."
"Hujan ini tidak normal, cepatlah kalian cegah orang itu."
Pakde Jarwo cepat cepat menghardik Siska dan Wira. Pria tua itu menyuruh mereka berdua untuk segera pulang ke Surabaya. Entah pertanda apa yang dilihat pakde Jarwo di langit, namun tampak jelas dia mengkhawatirkan sesuatu.
Tanpa bertanya lagi Wira segera mengajak Siska kembali ke mobil. Mereka berpamitan dan lalu langsung pergi meninggalkan halaman rumah pakde Jarwo.
__ADS_1
Sudah larut malam, saat Wira mengantar Siska ke rumahnya, hujan belum lagi reda, namun Wira tetap menerobos hujan agar ia bisa cepat sampai di rumah.
Tepat pukul dua puluh tiga malam, Wira tiba di depan pintu, matanya tiba tiba terganggu oleh sepucuk surat yang terselip di bawah pintu.
"Surat?"
"Jaman sudah modern tapi, masih ada saja orang yang menyempatkan diri menulis surat."
Wira menggelengkan kepalanya lalu memungut surat itu. Tak lama kemudian, dia masuk dan menyalakan semua lampu. Rasa lelah yang mendera membuat Wira ingin cepat cepat tidur.
Tanpa sadar Wira meletakkan surat itu di meja makan, setelah minum segelas air, dia langsung menuju kamar dan langsung terlelap.
Pagi hari saat matahari mulai tinggi, Wira bangun dari tidurnya, dengan mata yang masih setengah terpejam, dia melangkah menuju kamar mandi. Setelah melakukan beberapa kegiatan rutin, Wira duduk di meja makan bersiap siap untuk sarapan.
Cukup lama untuk Wira menyadari ada sepucuk surat yang tergeletak di dekat sikunya. Wira tidak ingat kalau salam dia meletakkan surat itu di meja makan, tanpa sempat membacanya.
Wira meraih amplop di dekat siku, sembari ******* omlet di dalam mulutnya. Perlahan ia membuka amplop surat, lalu mulai membaca isinya.
"Yang terhormat AKP Wira Raditya."
"Perkenalkan saya Ronggo Joyo, pengacara keuarga Wijaya. Maksud surat ini adalah untuk mengundang anda bertemu di reatorant Royal."
"Anda harus datang jam sebelas besok siang, karena kita perlu bicara."
Wira tertekun setelah membaca pesan di secarik kertas yang di genggamnya. Untuk beberapa detik Wira berpikir, tentang undangan yang terkesan aneh baginya.
"Ronggo Joyo?"
"Kenapa tiba tiba orang ini ingin menemuiku?"
"Apa dia tahu kalau aku sedang menyelidiki majikannya?"
Wira menebak nebak maksud dari undangan Ronggo Joyo. Dengan perlahan ia melipat surat yang di genggamnya, lalu segera beranjak ke kamar. Tak lama berselang, Wira sudah berganti pakaian dan berada di depan kemudi.
Sejurus kemudian sedan merah itu sudah melaju menyusuri jalan di kota Surabaya. Wira sengaja memutar musik rock kesukaannya sekedar ingin mengalihkan rasa penasaran dalam pikirannya.
__ADS_1
"Kira kira apa yang hendak dibahas Ronggo Joyo?"
Pertanyaan itu menggelayut dimpikirannya. Wira memacu mobilnya sedikit lebih kencang, tak sabar ingin mencari jawaban atas pertanyaan yang mengganggu pikirannya.