
Wira bergegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Linda, dia baru saja mendapat kabar dari dokter Ani bahwa Linda sudah sadar dan saat ini sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Dua puluh menit kemudian Wira sudah berada di depan resepsionis, seorang perawat menyambut ramah, lalu menunjukkan kamar tempat Linda di rawat.
"Maaf mbak kamar pasient atas nama Linda di mana?"
"Bapak naik ke lantai dua, bangsal mawar ada di lorong sebelah kanan."
Wira mengangguk sambil tersenyum, setelah berterima kasih kepada perswat, dia langsung menuju lantai dua. Di depan pintu dia melihat ibu Linda yang baru saja keluar dari ruang perawatan sembari menyeka air mata.
Wanita paruh baya itu mengambil jalan berbeda dari arah kedatangan Wira, sehingga mereka tak sempat untuk bertegur sapa. Wira sempat ragu untuk masuk ke dalam, dia merasa canggung, bagaimanapun yang terjadi pada Linda adalah tanggung jawabnya.
Wira menghela nafas panjang, untuk sesaat dia mematung berdiri di depan pintu. Perwira muda itu, tampak sedang mengumpulkan keberanian untuk bertemu Linda.
Perlahan tangannya meraih gagang pintu dan mendapati Linda tengah duduk di ranjang sembari menatap kosong ke arah jendela.
"Lin.."
"Linda.."
Wira memanggil, namun gadis itu diam tidak menjawab. Pandangan matanya kosong menatap jauh keluar jendela. Hari itu langit memang sangat cerah. Tak ada firasat buruk di benak Wira. Dia berjalan mendekat dan menepuk bahu Linda, tapi gadis itu sama sekali tidak merespon. Pandangannya tetap lurus ke arah jendela seolah tidak menyadari kehadiran orang lain di dekatnya.
"Lin, Linda..!"
"Hey, ini saya Wira, apa kamu tidak ingat saya?"
Linda hanya melirik dengan wajah sinis, lalu menepis tangan Wira dari bahunya. Reaksi gadis itu kontan membuat Wira bertanya tanya dalam hati.
"Lin maaf untuk semua yang terjadi, semua berjalan di luar rencana."
Wira menghentikan ucapannya, dia merasa sikap Linda kian aneh. Gadis itu tersenyum kemudian meracau mengucapkan seseuatu.
"Sebentar lagi aku akan mengambil semua orang yang kamu sayangi."
"Hahaha...!"
__ADS_1
Mendadak Linda berbicara lantang dengan suara berat seolah mengancam. Wira mengernyitkan dahinya, dia tak mengerti apa yang diucapkan Linda. Gadis itu seperti bukan dirinya.
"Kamu bicara apa Lin, ini saya Wira, katakan apa yang terjadi di rumah tua itu?"
Wira mengguncang bahu Linda tapi gadis itu tidak menjawab pertanyaan Wira dan hanya menatap tajam ke arahnya lalu menyeringai keras.
"Hanya masalah waktu!"
"Sampai waktunya tiba, aku akan merenggut semua yang jadi milikmu!"
"Hahahaha...!"
Wira langsung mundur beberapa langkah menjauh, dia mulai sadar kalau wanita di hadapannya bukan Linda, melainkan mahluk yang telah membantai semua anggota sekte di rumah kosong ujung aspal.
"Iblis betina keluar dari raganya jangan ganggu gadis itu."
Sepertinya sesuatu yang menguasai raga Linda mengetahui kamuplasenya telah terbongkar. Mahluk itu menunjukkan wujud asli yang seram dihadapan Wira.
Lalu tiba tiba tubuh Linda kelojotan, mulutnya menganga, matanya melotot, kemudian sesosok mahluk berbentuk asap hitam keluar dari mulut Linda dan melayang berputar di udara.
Wira mundur beberapa langkah, namun karena tidak siap, mahluk itu berhasil mencengkram lehernya hingga jatuh terjengkang di lantai. Wira meronta ronta di lantai sembari memegangi lehernya yang tercekik.
Beruntung di saat yang bersamaan dokter dan perawat datang, mahluk itu menghilang, sedang Wira terbaring dilantai masih memegangi lehernya yang merah tercekik.
" Anda baik baik saja pak?"
Ujar dokter yang heran mendapati Wira terbaring di lantai. Dia lalu menanyakan keadaan Wira, sedangkan perawat buru buru mebantunya berdiri.
"Tidak apa apa dok, hanya saja..?"
Wira kembali menghentikan ucapannya, dia tidak jadi menceritakan apa yang baru saja di alami. Tak ingin terlihat konyol dihadapan dokter, Wira malah mengatakan kalau lantai di ruangan itu licin, sehingga dia terjatuh.
Dokter mengamati leher Wira yang memerah, tapi kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Linda yang saat itu kembali tidak sadarkan diri.
"Ini aneh beberapa jam lalu, waktu pemeriksaan terakhir tadi malam, Linda sudah sadar dan kondisinya sudah berangsur normal."
__ADS_1
"Tapi pagi ini dia pingsnan lagi, denyut nadinya tidak normal, apa bapak melakukan sesuatu padanya?"
Dokter menatap Wira dengan rasa curiga, Wira sedikit gugup memegangi lehernya yang masih terasa sakit. Dalam benaknya, Wira memikirkan jawaban yang tepat untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Saya tidak melakukan apa apa dok, tadi waktu masuk Linda memang sudah sadar. Saya sempat berkomunikasi namun tiba tiba dia mengalami kenjang dan pingsan seketika."
Wira menutupi apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu. Dahi dokter berkerut seakan menolak alibi Wira, dia terus menatap perwira muda itu penuh selidik.
Tiba tiba saja tubuh Linda mengeras, lulu terguncang, dari mulutnya mengeluarkan buih putih. Seketika Wira panik, perawat memegangi tubuh Linda dan dokter memberikan suntikan di lengan kanannya.
Tubuh Linda kembali lemas, denyut nadinya tiba tiba melemah dan dokter menyatakan gadis itu dalam keadaan koma.
Wira semakin kalut, dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Andai saja waktu itu dia mau mendengarkan nasehat Boris, tentu semua ini tidak akan terjadi. Wahyu dan Linda tidak perlu menjadi korban.
"Pak Wira yang sabar, kami akan mengusahakan yang terbaik untuk Linda."
Dokter menepuk bahu Wira, lalu meninggalkanya sendiri. Wira memandangi tubuh Linda yang terkulai lemah dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya.
Wira mengepalkan tangannya, dia tidak terima atas apa yang menimpa Linda, dalam hati Wira membulatkan tekat untuk mengusut tuntas sekte Sandikala.
Dengan amarah dalam hati Wira meninggalkan rumah sakit, dia segera kembali ke kantor polisi untuk mencari arsip kasus sekte sandikala yang dulu pernah ditangani Boris di tahun sembilan puluh.
Beberapa menit kemudian Wira sudah berada di gudang arsip tangannya segera menurunkan beberapa box file tahun sembilan puluh dan menemukan dua buah map tebal yang tertulis Sandikala.
Wira segera membawa dua map file Sandikala keruangannya, kemudian membaca berkas kasus Sandikala dengan teliti.
"Anton Wijaya..!"
Nama itu ditemukan dalam deretan anggota muda sekte sandikala. Wira segera mengambil phonsellnya lalu menghubungi Boris, dan sebentar kemudian mereka terlibat dalam percakapan serius.
Hampir setengah jam percakapan antara Wira dan Boris berlangsung lewat sambungan telepon. Wira menutup telepon dengan wajah geram.
"Selama ini aku pikir Leo Hadi Wijaya adalah otak dari semua kekacauan ini, ternyata dia hanya satu bagian kecil dari Sandikala yang menggurita."
"Apakah Anton Wijaya orangnya atau masih ada hirarki diatasnya?"
__ADS_1
Wira mengambil daftar nama para pembesar Sandikala yang dulu tertangkap pada peristiwa di tahun sembilan puluh, dia berencana untuk menyelidiki kasus sandikala sampai akar akarnya.