
Malam sudah semakin larut saat Boris tiba di lokasi yang dibagikan Wira lewat pesan singkat. Suasana malam itu sangat mencekam. Semua polisi yang berada disana, bisa menyaksikan kengerian yang terjadi.
Darah berceceran dimana mana, ketika Boris menghampiri Wira. Dia mencegah Perwira muda itu untuk nekat masuk lagi ke dalam rumah yang di jadikan tempat pemujaan sekte Sandikala.
"Sudah Wir jangan masuk lagi, setidaknya tunggu sampai pagi, baru kita menggeledah rumah itu."
"Tapi di dalam ada Linda, bagaimana kalau terjadi sesutu kepadanya. Saya harus bilang apa pada ibunya?"
Wira tetap bersikeras untuk masuk, tapi Boris segera menarik lengannya, lalu berjalan sedikit menjauh dari para polisi yang siaga menunggu perintah.
"Heh untuk sekali ini dengarkan om baik baik, yang ada di dalam itu bukan manusia. Dan ruangan disana gelap, lentera lentera itu pasti sudah padam."
"Kalau kamu nekat masuk ke dalam, itu sama saja cari mati Wira!"
Wira menangkap ada yang ganjil dengan ucapan Boris. Perwira menengah itu seperti mengetahui sesuatu. Wira yakin pria yang disapanya dengan sebutan om itu menyembunyikan satu rahasia.
"Om Boris pasti tahu tentang kasus ini, dan om sengaja merahasiakannya dari saya, benarkan om?"
"Sekarang om jujur sama saya, ada apa dengan semua ini?"
"Om Boris merahasiakan apa dari saya?"
Nada suara Wira meninggi, dia terlihat emosi, sampai sampai hilang rasa hormat kepada Boris yang notabene adalah atasan, sekaligus sahabat ayahnya.
"Ok dengar baik baik, yang kamu coba bongkar kasusnya bukan sekedar Leo Hadi Wijaya, atau keluarga besar Wijaya."
"Ini jauh lebih besar dari sekedar rahasia bisnis Black Rose atau Naga Jaya grup Wir. Mereka adalah Sandikala sekte sesat yang memelihara bisnis dan kekuasaan dengan berbagai cara termasuk dengan ilmu hitam dan perjanjian dengan iblis."
"Kelanggengan, bukan sekedar kata yang punya arti kekal atau keabadian semata, melainkan lebih luas dari itu."
"Keabadian yang mereka maksud benar benar langgeng yang hakiki, terjaga, dan diwariskan. Mereka yang tua akan melakukan pengorbanan untuk yang muda sebagai penerus mereka."
"Baru setelahnya mereka akan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Dalam arti kata abadi yang sesungguhnya yaitu hidup setelah mati."
"Dan asal kamu tahu saja, sekte Sandikala punya jaringan luas sampai tingkat penguasa. Mereka mengikat semua anggotanya dengan perjanjian, sekali masuk tak mungkin keluar lagi kecuali mati."
"Apa yang kamu lihat di dalam itu, belum ada apa apanya Wir, mereka semua pion, yang memang sengaja di tumbalkan."
"Mereka itu hanya simpatisan, atau anggota baru yang ingin mencicipi kekayaan dengan cara instant. Itu sebabnya om meminta kamu untuk mundur dari kasus ini, tapi kamu anak keras kepala."
"Sekarang semuanya sudah terlambat, kamu sudah masuk terlalu jauh, mulai detik ini kamu harus hati hati, ini sudah bukan lagi masalah antara polisi dan kriminal, melainkan urusan pribadi Wira dan Sandikala, faham kamu!"
Boris terlihat emosional saat memberikan penjelasan kepada Wira. Sebaliknya perwira pertama itu malah tercengang dengan fakta yang baru di dibeberkan oleh atasannya.
"Jadi benar om Boris tahu tentang mereka?"
"Kenapa om, kenapa om Boris tega merahasiakan semua ini dari saya om?"
Wira berlutut ditanah, wajahnya tertunduk lemas. Dalam pikirannya saat itu, Wira hanya merasa dipermainkan hingga berdarah darah. Rasa sesal menggelayuti hatinya, dan semua kerja kerasnya untuk mengungkap kasus kematian Hana ternyata sia sia belaka.
__ADS_1
"Pantas saja Leo Hadi Wijaya bisa bebas dengan mudah. Manusia licik itu bahkan terang terangan berani mengancamku di ruang tahanan, ternyata dia tahu persis kalau dirinya pasti akan bebas dari jeratan hukum."
"Hahahaha...!"
"Ba**sat..!"
"Ternyata aku hanya bahan permainan untuk mereka."
"Baiklah ayo kita selesaikan permainannya!"
Lama Wira terdiam berlutut di tanah, lalu tiba tiba saja dia tertertawa terkekeh, sembari meracau mengatakan sesuatu, lalu bangkit dan berjalan ke arah pintu dengan senapan ditangan.
Para polisi termasuk Siska dan Tomy tampak bingung dengan sikap Wira yang aneh. Mereka penasaran tapi tak berani mendekat apalagi mencari tahu apa yang terjadi.
"Door...!"
Wira melepaskan tembakan ke arah pintu dan terus maju tanpa rasa takut sedikitpun sekarang. Boris agak khawatir dengan keadaan Wira.
"Dia benar benar mirip ayahnya kalau sedang mengamuk."
Boris berujar lirih nyaris tak terdengar. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, Boris segera memerintahkan agar anak buahnya menyalakan lampu mobil, dan dia akan masuk menyusul Wira ke dalam.
Beberapa polisi dengan lampu senter menjaga di pintu, Tomy dan Siska mengejar dengan head lamp terpasang di kepala.
Wira mengambil obor yang melekat di dinding lalu menyalakannya, meski tidak semua ruang dapa tersorot cahaya, namun cukup terang untuk menggambarkan situasi yang ada di ruangan itu.
Boris melangkah hati hati diantara tumpukkan mayat anggota sekte yang gergeletak di lantai. Sementara Siska dan Tomy mengawasi sekitar, mewaspadai serangan mahluk yang mungkin saja datang dari sudut gelap yang tak terduga.
"Sis kamu ingat letak pintu bawah tanah, tempat kalian di sekap?"
Boris bertanya kepada Siska, sembari mengawasi gerak gerik Wira yang terus memburu keberadaan mahluk wanita bergaun putih yang telah sadis membantai semua anggota sekte sampai tidak tersisa satupun.
"Disana komandan, tepat dibelakang altar ada pintu rahasia yang terletak di lantai. Tapi saya tidak tahu cara membukanya."
Boris segera memberi aba aba kepada empat polisi yang berada di depan pintu. Dua orang polisi mengikuti Wira, sementata dua yang lain mengikuti Boris mencari pintu masuk ke ruang bawah tanah.
Sepuluh anggota polisi yang berada di halaman, bergerak memeriksa keadaan sekeliling rumah, mereka memeriksa detil hingga menuju halaman belakang rumah dan menemukan banyak makam terbengkalai tanpa batu Nisan. Hanya delapan makam tua yang memiliki batu nisan.
Mereka adalah keluarga Belanda pemilik asli dari bangunan tua, yang kini di sebut warga sebagai rumah kosong ujung aspal.
Pagi tiba mentari memancarkan sinar keemasan, para petugas kepolisian masih tetap berjaga jaga di halaman rumah, menunggu berita dari dalam.
Siska masih memeriksa setiap sudut dinding altar berharap menemukan cara membuka pintu ke ruang bawah tanah. Sementara Wira yang tidak menemukan mahluk wanita semalam, kini masuk memeriksa setiap ruang yang terkunci.
"Sial mereka kejam sekali!"
Wira memalingkan wajahnya dan Tomy masuk untuk mencari tahu apa yang dilihat Wira di dalam ruangan itu.
"Uwek... Uwek..."
__ADS_1
Seketika Tomy mengeluarkan isi perutnya, aroma busuk dari jasad yang telah rusak membuatnya muntah. Dengan perasaan jijik Wira memeriksa jasad itu, dan dia baru sadar kalau yang berada di hadapanya adalah Wahyu anggota temnya.
"Biadab, mereka memperlakukan wahyu sampai sekeji ini."
Wira menghantamkan kepalan tangnnya ke dinding, sementara Tomy keluar untuk meminta beberapa rekannya agar melakuan evakuasi jasad Wahyu.
Beberapa anggota polisi masuk ke dalam untuk evakuasi, sementara dua orang yang lain segera menghubungi markas, meminta bantuan personil dan ambulans.
Di dalam ruangan Boris yang kesal karena tak juga menemukan pintu masuk, bersandar di dinding tepat di bawah lambang bintang yang bertuliskan aksara jawa kuno.
Tangan pria paruh baya itu iseng menyentuh salah satu hurup pada gambar bintang. Dan yang terjadi kemudian lantai di hadapannya terbuka lebar.
Siska melihat tangga menuju lantai bawah tanah yang gelap gulita. Lalu dengan tidak sabar dia menuruni anak tangga. Sampai di bawah Siska berhenti, dia terperangah saat melihat tiga jasad wanita tanpa busana, terbaring di atas batu dengan kondisi yang mengenaskan.
"Ada apa Sis, apa yang kamu lihat disana?"
Siska tidak menjawab, tubuhnya terasa kaku, tak mampu berucap. Boris mempercepat langkah, dan melihat jasad wanita terikat di lemeng batu persegi tanpa busana.
Ketiga jasad wanita itu telah mengering seperti mumy yang diawetkan. Kondisinya sama persis dengan almarhumah Hana ketika di temukan di daerah pelabuhan.
"Dasar binatang, mahluk apa yang bisa melakukan semua hal sekeji ini, mereka benar benar kejam."
"Dulu di tahun sembilan puluh, saat aku memeriksa kasus yang melibatkan Sandikala, tidak ada pembunuhan yang seperti ini, tapi kenapa sekarang mereka lebih berutal?"
"Sadis.. !"
"Ini tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa."
Boris berkata pada dirinya sendiri, dan ternyata ini bukan kali pertama, dia terlibat dengan kasus Sandikala. Dulu saat pangkatnya masih rendah, Boris sempat ikut dalam penyelidikan kasus tumbal sekte Sandikala.
Waktu itu Boris masih sangat muda, pola pikirnya sederhana. Dia mengira kalau kasus berhasil diungkap, maka semua masalah sudah selesai. Organisasi Sandikala sudah pasti bubar, karena ditutup pemerintah.
Tapi ternyata dugaan Boris salah besar, sejak penelusuran kasus gadis X yang dilakukan Wira bebera minggu tetakhir, dia baru sadar kalau sekte Sandikala masih ada dan mereka tetap eksis hingga sekarang.
"Mulai hari ini aku harus waspada bukan tidak mungkin mereka akan mengincar kami lagi sekarang."
Boris coba menenangkan dirinya, dan kembali fokus pada tujuan mencari keberadaan Linda. Boris mengarahkan senternya ke segala penjuru dan akhirinya cahaya lampu senter menangkap sosok yang duduk meringkuk di sudut ruangan terdalam.
Sambil melangkah hati hati, boris mendekati sosok wanita yang tampak lusuh, bau, tertunduk lesu dan terikat.
"Linda ..!"
"Kamu Linda kan nak?"
Suara Boris menyadarkan Siska yang semula shock, melihat tiga jasad wanita yang telah mengering. Dia mengira salah satu dari tiga tubuh wanita yang mengering itu adalah Linda.
Nyatanya dia keliru, Linda ditemukan lemas, linglung, dan tidak mengenali siapa siapa. Boris segera menembak rantai yang membelenggu Linda, lalu segera membawanya ke atas.
Jam sembilan pagi bantuan personil dan beberapa ambulans tiba di TKP, rumah itu segera dipasangi garis polisi. Para team medis bergerak cepat mengevakuasi jasad korban, sedangkan polisi bersama tentara sibuk mencari barang bukti dan menggali makam tanpa batu nisan, yang disinyalir berisi jasad para korban tumbal Sandikala.
__ADS_1