
Sudah tiga belas jam Wira berkendara dari kota Bandung, kembali ke Surabaya rasa lelah dan mengantuk mulai menerpa. Sudah satu minggu lamanya Wira meninggalkan rumah.
Rasa rindu akan aroma khas kamar menghampiri, seolah olah menarik Wira untuk segera masuk dan merasakan empuknya ranjang. Wira segera membuka pintu lalu melihat kondisi ruang tamu yang berantakan, pengap, dan berdebu.
Wira menyalakan lampu di semua ruangan, rasa lelah seketika menghilang, berganti dengan semangat baru. Wira membersihkan seluruh ruangan rumah hingga malam. Setelahnya ia langsung bergegas mandi dan berencana akan cari makan malam di luar.
Tiga puluh menit kemudian dia sudah siap untuk keluar membeli makanan direstoran langganan. Namun tiba tiba phonsellnya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Siska yang berisi ajakan untuk bertemu, membuat Wira merubah rencana.
Wira segera melajukan mobilnya menuju tempat yang dipilih oleh Siska. Dan lima belas menit kemudian dia sampai di halaman parkir sebuah testoran jepang. Dari pintu masuk restoran, Wira bisa melihat sosok Siska yang terlihat menunggu seorang diri dengan raut wajah yang gelisah.
Wira segera menghampiri Siska yang sejak tadi hanya terdiam menatap buku menu, sambil menopang dagunya.
"Hallo Sis, apa kabar?"
Wira langsung mengambil tempat duduk di depan Siska. Dia menyapa untuk mengawali obrolan mereka.
"Hallo pak..."
"Maaf sebelumnya, saya meminta bapak untuk bertemu, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada bapak."
Wira memperbaiki duduknya lalu menatap Siska dengan mimik wajah serius. Siska salah tingkah, tatapan Wira yang teduh berhasil membuatnya jadi kikuk.
"Ada apa Sis, tidak biasanya sikapmu kaku begini?"
Tanpa basa basi Wira langsung menembak Siska dengan pertanyaan inti tentang persoalan yang ingin dibahas oleh Siska. Gadis itu tertunduk sembari memainkan jarinya.
"Ini masalah Linda pak, dia sudah sadar dari koma kemarin."
"Tapi...?"
Tapi apa Sis?"
Ekspresi wajah Wira, mendadak jadi semeringah, berita sadarnya Linda, sedikit meringankan batin. Wira tak sabar ingin mendengar perkembangan kesehatan Linda. Dengan antusias perwira muda itu menanti kalimat Siska yang terpenggal.
"Ayo katakan Sis, kenapa diam?"
Mendengar desakan Wira, gadis itu tersentak, seolah desakan Wira sedang mengintimidasi mentalnya. Dengan suara lirih dan bibir yang bertar, Siska menyampaikan bahwa Linda sudah sadar dari koma, tapi perawatannya terpaksa harus di pindah ke rumah sakit jiwa.
"Ini salah saya pak, andai saja waktu itu kami lari bersama, mungkin keadaan Linda tidak akan seperti sekarang."
"Kalau saja saya tidak meninggalkan Linda, tentu dia tidak akan mengalami gangguan jiwa."
"Semua ini salah saya pak."
Siska mengakhiri kalimatnya, sembari mengusap air mata. Suaranya parau penuh penyesalan. Dia tidak menyangka keputusannya untuk mencari bantuan, berdampak buruk tethadap Linda.
__ADS_1
Mereka memang berhasil menyelamatkan Linda. Tapi hanya raga saja. Sedang jiwanya masih tertawan entah dimana. Wira tak berkomentar, dia hanya menyodorkan tisue kepada Siska.
"Sudahlah jangan menyalahkan diri sendiri, yang terjadi memang harus terjadi. Kalau ada yang patut disalahkan, maka orang itu adalah saya Sis, bukan kamu."
Wira berusaha menenangkan Siska yang masih menangis tetisak. Sementara dalam hatinya Wira sendiri tak tenang. Semua kejadian ini adalah tanggung kawabnya.
Tewasnya Wahyu, Rina, dan gangguan kejiwaan yang di alami Linda, semuanya adalah resiko dari ambisi Wira yang ingin menyibak misteri di balik kematian Hana.
Bahkan sekarang masalah ini meruncing. Kini kasus Sandikala tidak hanya masalah kepolisian, tapi lebih dari itu, Sekte Sandikala telah menjadi masalah pribadi untuk Wira.
Suasana restoran yang ramai terasa hening untuk mereka berdua. Baik Wira maupun Siska tak saling bicara. Mereka diam membisu seakan tengah sibuk dengan lamunan masing masing.
Wira mengingat lagi ucapan ayahnya tentang gadis remaja yang kala itu ditemukan dalam kamar dengan kondisi yang sedang mengadung. Jika dugaan Ayahnya benar soal gadis yang menjadi inang, maka bila ia melahirkan dengan selamat, tentunya saat ini anak yang dilahirkan sudah dewasa.
"Kalau dia lahir selamat ke dunia, anak iblis itu mungkin berusia tiga puluh tahun."
Wira memandang wajah Siska dengan tatapan aneh. Imajinasinya melayang, menggambarkan sosok anak iblis yang mungkin saja berhasil di lahirkan.
Asumsi liar Wira berkembang pada sebuah teori konspirasi tentang sosok yang ada dibalik teror mengerikan yang meninpa Hana dan para gadis yang menjadi tumbal Sandikala.
"Bukan tidak mungkin anak itu berhasil dilahirkan."
"Kalau menilisik kembali kondisi jasad Hana yang mengering dengan bagian organ jantung yang hilang, tidak mustahil kalau hal ini dilakukan oleh oleh sosok iblis."
Siska memperhatikan sikap Wira yang terus saja memandangi dirinya. Ada rasa risih dalam diri Siska. Buru buru ia menepuk lengan Wira, hingga atasanya itu terkejut, sadar dari lamunan.
"Pak Wira kenapa memandang saya seperti itu?
Wira tertunduk menggaruk keningnya, wajah pria itu merah menahan malu. Dia lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas yang merupakan resume ayahnya tentang penyelidikan kasus Sandikala di tahun sembilan puluh.
Siska mengambil kertas yang di sodorkan Wira, polwan pintar itu membaca teliti isi catatan yang merupakan rangkuman pribadi Ayah Wira.
"Pak ini rincian penyelidikan kasus sekte Sandikala?"
"Pak Wira mendapatkannya dari mana?"
Wira lalu menceritakan alasaan cuti dadakan seminggu yang lalu, saat dirinya mendapat telepon dari nomor tak dikenal. Dia bercerita detil tentang kematian Rina, sampai akhirnya Wira memutuskan menemui ayahnya.
"Kertas yang ada ditanganmu sekarang adalah ringkasan hasil penyelidikan ayah saya. Dari penyelidikan itu ada satu point yang tidak di ekspose, yaitu tentang gadis remaja yang di sekap dalam kamar."
"Gadis remaja itu sedang mengandung, dan bila pernyataan dari anggota sekte prihal gadis gadis yang diajadikan inang, maka ada kemungkinan kalau anaknya berhasil dilahirkan dengan selamat."
Mendengarkan tuturan Wira Siska jadi merinding, pendapatnya tentang sosok gadis yang menjadi inang mahluk gaib, sama persis dengan pikiran Wira saat ini.
"Kalau anak itu lahir ke dunia pak, artinya saat ini ada anak titisan iblis diantara kita."
__ADS_1
Siska membelalakan matanya, kedua tangan gadis itu menangkup menutup mulutnya yang menganga.
"Sssttt...!"
"Pelan pelan jangan berisik, nanti ada yang dengar."
"Ini baru sebatas dugaan ayah. Tapi menurut saya dugaannya tersebut sangat dekat dengan kenyataan."
"Kamu ingat kondisi jasad Hana, bukankah tubuhnya ditemukan tewas mengering dengan organ jantung yang hilang?"
"Menurut saya itu tidak bisa dilakukan oleh manusia."
Siska bisa menarik kesimpulan sendiri dari ucapan Wira. Ujung dari pernyataannya mengarah pada dugaan bahwa gadis gadis yang tewas tak wajar, boleh jadi disebabkan oleh sosok tak kasat mata. Atau munggkin lebih tepatnya dilakukan oleh titisan iblis.
"Semoga teori bapak tentang anak titisan iblis itu salah, sebab jika teori itu benar, maka kota ini bisa tamat. Orang orang akan masuk dalam kesesatan."
Siska merinding, otaknya ingin sekali memolak teori konspirasi yang diungkapkan Wira. Tapi hatinya tidak bisa memungkiri kenyataan yang terpampang di depan mata. Dia bahkan mulai percaya, kalau keadaan Linda sekarang adalah ulah mereka.
"Jadi apa langkah bapak selanjutnya?"
Wira mengambil kertas rangkuman kasus Sandikala dari tangan Siska. Kemudian mengucapkan sesuatu dengan suara kecil setengah berbisik."
"Saya akan menyelidiki jejak Raden Ayu Sitarasmi, melalui Anton Wijaya. Entah mengapa saya punya keyakinan kalau mereka saling terkait."
"Dalam catatan strutur organisasi sekte sandikala, ada nama Anton Wijaya dalam jajaran pengerus anggota muda, bisa saja sekarang dia menduduki puncak hirarki."
"Mungkin saja Anton Wijaya hanya boneka yang diperankan sebagai lakon utama. Tapi dalang sesungguhnya adalah Sitarasmi, atau jangan jangan malah anak titisan iblis itu yang mengambil alih kendali."
Siska sama sekali tidak menduga penyelidikan kasus Sandikala akan jadi serumit ini. Kejadian sewaktu di rumah kosong ujung aspal masih menyisakan trauma pada dirinya. Sekarang Wira malah akan masuk lebih dalam.
"Saya minta kamu merahasiakan percakapan kita Sis. Tidak perlu ada yang tahu masalah ini. Soal perkembangan Sandikala, saya sendiri yang akan menyelidiki kasusnya."
"Mereka harus membayar kontan dosa dosanya."
Wira menghabiskan sisa minuman, lalu segera beranjak pergi meninggalkan Siska yang masih duduk terpaku memikirkan semua ucapan Wira.
"Aku harus menemukan jejak Raden Ayu Sitarasmi, dan memastikan kalau titisan iblis itu tidak pernah terlahir ke dunia."
Wira menyalakan mesin mobilnya, lalu tak berapa lama sedan merahnya telah melesat dijalanan kota Surabaya.
Sementara itu di rumah megah milik Anton Wijaya, beberapa orang berjubah merah sedang bersujud menyembah sosok bayangan hitam yang berdiri dalam kegelapan.
Aroma wangi dupa dan lantunan mantra dalam bahasa jawa kuno menambah kesan mistis yang berpendar diruangan itu. Sosok wanita dengan gaun merah, mewah, terbaring anggun di tengah tengah antara anggota sekte dengan sosok hitam yang di sembah.
"Bangkitlah bu, bangkit, ini sudah waktunya..!"
__ADS_1
Sosok hitam yang berdiri dalam kegelapan menyeringai, kemudian tak lama wanita yang berbaring bergerak patah patah dan bangkit dari kematian.