
Pakde Jarwo tertunduk, sepertinya pria tua itu memiliki sebuah solusi, tapi ragu untuk bicara langsung kepada Wira. Dia menatap Wira dalam dalam, berharap Wira mengerti tanda darinya.
Seperti gayung bersambut Wira membaca bahasa tubuh pade Jarwo yang terlihat gelisah. Dia langsung bertanya apakah pakde Jarwo sudah punya jalan tengah untuk masalah mereka.
"Jadi pakde, apakah ada jalan keluar lain dari masalah ini, apapun yang mungkin bisa kita lakukan, asalkan tidak melibatkan orang lain atau keluarga?"
Kali ini Wira menantang, dia tak ingin kehabisan waktu. Dalam hatinya, pakde Jarwo merasa lega, tepat seperti harapannya Wira mengerti bahasa tubuh pakde Jarwo dan dia mengajukan sebuah tantantangan kepada Wira.
"Wetonmu sama dengan Asih, artinya hari baik dan nasib buruk kalian sama sejajar pilihannya hanya dua satu dari kalian yang akan menerima naas di hari itu. Jika memang kamu berani ambil resiko, saya akan mengawal sampai titik darah penghabisan."
"Apa kamu berani Wir?"
Meskipun Wira tidak mengerti pasti ucapan pakde Jarwo, perwira polisi itu, tak ingin ambil pusing lagi, dia akan ambil segala resikonya, yang terpenting tidak menumbalkan orang lain, apalagi keturunannya.
"Apapun resikonya pakde, yang terpenting tidak mengorbankan pihak lain, saya pasti akan menyanggupinya!"
"Cah lanang, aku seneng karo tekadmu kui."
"Anak laki laki memang harus berani, saya suka dengan tekadmu itu. Baiklah kata yang sudah terucap tak mungkin di cabut lagi."
"Pria sejati yang dipegangucapanya."
Pakde Jarwo tersenyum, dia senang dengan tekad dan nyali Wira yang menyala nyala. Dia lantas segera memanggil Siska untuk menitipkan sukma Linda dalam raga ponakannya itu.
"Siska... siska...!"
"Ayo kemari ndok kita akan masukkan sukma temanmu. Pakde akan titipkan dia dalam tubuhmu."
Siska yang sedari tadi bersembunyi dalam bilik yang telah dibentengi akhirnya keluar, pakde Jarwo segera membuat persiapan, sedangkan Linda yang telah mengetahui bahwa pakde Jarwo dapat melihatnya dalam wujud entitas astral, lalu mendekati pakde Jarwo dan mengikuti perintahnya.
"Siapa namamu ndok?"
"Saya Linda pakde."
Setelah menyebut namanya, Linda langsung di giring masuk dalam raga Siska. Wira dan Siska terkesima melihat kejadian langka di depan mata mereka. Keduanya sama sama bisa melihat bola cahaya berwarna putih terang masuk menembus dahi Siska.
Siska perlahan merasakan hawa hangat mengalir di sekujur tubuhnya. Kemudian dia merasakan kehadiran Linda, berbagi ruang dalam dirinya.
"Sekarang dua jadi satu, kalian yang akur, harus bisa selaras, dan satu pikiran ya ndok."
Pakde Jarwo berpesan kepada Siska dan Linda. Agar kedua gadis satu raga itu bisa sejiwa, satu pikiran, saling melengkapi satu sama lain. Siska merasa senang, rasanya seperti puya saudara kembar, mereka bisa saling mengobrol, walaupun tampak aneh karena Siska terkesan hanya meracau, ngomong sendiri.
__ADS_1
Siska bisa mendengar Linda dalam kepalanya, gadis periang itu berbisik di telinga Siska, dan merasa nyaman dalam tubuh teman beda alam.
"Mungkin ini sudah saatnya untukku kembali, semoga saja gusti pangeran, Tuhan penguasa semesta memberi restu dan pengampunan atas dosa dosaku dimasa lalu."
Pakde Jarwo berkata pada dirinya sendiri di dalam hati. Hari ini akan menjadi sejarah baru untuknya. Setelah lama menutup diri dari dunia, sekarang ia akan kembali. Pakde Jarwo merasa sekarang saatnya untuk melakukan sesuatu sebagai bentuk penebusan dosa.
Kehidupan kelam yang pernah dia lalui semasa menjadi dukun ilmu hitam, sudah terlalu banyak mengalirkan darah dan air mata orang orang yang bahkan tidak punya hubungan dendam apapun dengannya. Pakde Jarwo hanya mengikuti permintaan orang yang membayarnya.
Selama itu hidupnya tidak tenang, selalu dikejar musuh yang ingin balas dendam. Dan selama itu juga Pakde Jarwo dihantui rasa bersalah. Sudah dua puluh tahun lebih dia menepi, mengambil jalan hening di desa asing yang sangat jarang penduduknya.
Pakde Jarwo berharap dia tidak akan pernah di kenal lagi. Baginya semua pengalaman hidup sudah cukup.
Sekarang dia sudah bertekad ingin menjalani hidup sebagai manusia normal. Menjalani masa tua dengan hikmat mendekatkan diri kepada sang pencipta. Pakde Jarwo sekarang hanya orang tua renta yang dikenal sebagai petani sederhana tanpa embel embel nama besarnya sebagai dukun sakti.
Semua jenis ilmu hitam yang pernah ia dapat dari tapa atau lelaku, telah diwariskan kepada orang lain yang berambisi menjadi dirinya di masa lalu. Segala mantra hitam telah dilepaskan lengkap dengan semua jimat jimat bertuah, yang di huni perewangan.
Walaupun tak serta merta hilang semua, tapi setidaknya pakde Jarwo dapat mengunci sisa sisa kekuatan dalam dirinya, dan lebih berserah pada pemberi kehidupan.
Tak di sangka Siska, keponakan kesayangan yang puluhan tahun tak lagi pernah datang menemui. Tiba tiba berkunjung dengan masalah gaib yang lekat sekali dalam diri pakde Jarwo. Sekarang pria tua itu terpaksa membuka lagi jati diri yang lama telah terkubur.
"Kalian tunggu disini, jangan ada yang keluar, saya akan kirim mahluk mahluk itu kepada majikan mereka."
" Sekarang saatnya menabuh gendrang perang kepada iblis wanita itu."
Usai berucap pakde Jarwo mengambil mustika, dan kitab kuno yang diwariskan Ronggo Joyo kepada Wira. Dia telah membuat keputusan akan mengambil alih resiko untuk menggantikan Wira.
Dengan melafal mantra, dan mustika ditangan Pakde Jarwo keluar rumah. Lalu sekali hentak ia telah berada di tengah halaman memancing mahluk mahluk yang mengepung rumah beralih menyerangnya.
"Duar.. Daarrr.. Daarrr..!"
Benturan energi menimbulkan suara keras, bagai halilintar kilatan cahaya berbenturan membuat langit malam diwarnai cahaya putih terang menyilaukan. Pakde Jarwo terus mengamuk menghantam mahluk astral yang serentak menyerangnya tanpa henti.
Satu persatu mereka tumbang menjadi asap hitam yang mengepul ke udara. Baik Wira maupun Siska hanya bisa mendengar pekik raung mahluk tanpa bisa memastikan apa yang terjadi di luar.
"Semoga pakde bisa menghancurkan mahluk mahluk itu."
"Hah..hah..hah..!"
Siska berdoa penuh harap, suara pekik pakde Jarwo membuatnya cemas. Terdengar suara nafas pria tua itu begitu berat. Wira dan Siska terus berdoa tak henti.
Pakde Jarwo terus mengamuk membabi buta. Dia benar benar telah kembali menjadi sosoknya yang dulu. Dengan lantang pria tua itu menabuh gendrang perang terhadap Asih dan Sitarasmi.
__ADS_1
"Aku Jarwo, menantangmu, ayo maju kabeh aku lawan tandingmu!"
"Koe kabeh sing mati utowo aku sing mbok pateni.. !"
Pakde Jarwo memberi perlawanan begitu sengit, sampai titik akhirnya pria tua itu memenangkan pertarungan melawan mahluk mahluk kiriman Asih yang diutus untuk mengambil Siska.
"Terima kasih gusti, akhinya aku dapat mengirim mereka pulang, walau berdarah darah."
Pakde Jarwo masuk kembali ke dalam rumah dengan nafas tersengal dan darah segar mengalir di sudut bibir. Wira segera memapah pria tua itu lalu membaringkanya di lantai. Sedangkan Siska segera ke dapur mengambil air.
"Ambilkan ramuan obat yang telah pakde racik di kamar ya ndok."
Siska masuk ke kamar dan mengambil sebuah kotak kayu yang di dalamnya berisi botol ramuan obat. Sigap Siska mengambil beberapa botol, lalu memberikannya kepada pakde Jarwo.
"Tolong buka botol yang berwarna ungu dan botol kayu itu tolong borehkan di dada pakde."
Siska segera membuka isi botol lalu memberikan botol ungu untuk di minum sedangkan Wira membubuhkan serbuk putih di dada ringkih pria tua yang tengah terbaring beralaskan tikar pandan.
"Besok saya akan mengajarkan beberapa jurus pencak silat untuk pegangan kalian, Jaga jaga saja, mana tahu mahluk dari neraka itu punya pengikut setia dari kalangan manusia."
Sambil terbatuk pakde Jarwo menerangkan apa apa saja yang harus dilakukan Wira dan Siska. Mereka disiapkan untuk perang terbuka dengan Asih.
Sementara itu jauh di rumah ujung aspal, Asih dan Sitarasmi telah merubah penampakan rumah tua peninggalan belanda itu menjadi lebih seram. Siapapun akan sepakat mengatakan rumah tua di ujung Aspal sebagai sarang demit.
Asih dan Sitarasmi membangkitkan manusia dari kubur mereka. Rumah peninggalan Belanda itu, kini tak ubahnya sarang zombie. Mereka berjajar rapi di halaman dengan wajah tertunduk seperti sedang tertidur. Semuanya siap menunggu perintah kapanpun mereka akan dibangunkan.
Di dalam salah satu ruangan, tubuh Anton Wijaya juga telah mengalami perubahan bentuk yang aneh. Entah mahluk seperti apa yang menempel padanya, tapi yang pasti penampakan Anton Wijaya sekarang seperti sosok monster yang akan membuat bulu kuduk siapapun bergidik ngeri bila melihatnya.
Di depan Anton Wijaya para anggota sekte Sandikala yang telah dirasuki, berdiri mematung dengan bola mata putih seluruhnya. Mereka semua telah disiapkan Asih untuk menteror kota.
"Manusia itu sudah berani membunuh peliharaan kesayanganku. Lancangnya dukun itu membakar kiriman kita, dia sudah berani menantang ku bu."
Sosok Asih meyeringai menahan amarah, matanya merah menyala, berdiri mematung dalam gelap. Wajahnya yang pucat tersembunyi dalam kegelapan.
"Bersabarlah sedikit lagi cah ayu, purnama merah akan segera tiba, alam bawah akan memberikan kekuatanya padamu. Sampai saatnya kita hanya perlu menunggu. Setelah itu baru hukum akan di tegakkan, manusia itu akan menerima ganjaran atas perbuatannya."
Asih keluar dari sisi tergelap ruangan. Matanya yang merah, tajam menerawang jauh ke arah jendela, sudut bibirnya dipenuhi darah segar. Rupanya gadis titisan iblis itu baru saja selesai menghabiskan hidangan makan malam favoritnya.
Di lantai marmer penuh darah kental, sosok jasad wanita dengan kondisi yang sudah tidak lengkap tampak tergeletak tercabik cabik, aroma yang tak sedap menyeruak memenuhi ruangan lantai dua. Asih terbang melesat ke luar bagai burung hantu.
Suara tawanya melengking memecah hening malam. Suasana desa sekitar rumah tua, sangat hening. Warga desa sekitar lereng gunung tempat rumah kosong ujung aspal, memilih untuk berdiam diri dirumah, mengunci rapat pintu dan jendela, tepat saat sandekala tiba mengganti siang menuju malam.
__ADS_1