Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 50 Desa Mati


__ADS_3

Matahari sudah tinggi saat Wira, Siska, dan pakde Jarwo tiba di persimpangan. Kondisi jalan sangat lengang, tak satupun kendaraan bermotor yang melintas di jalur tersebut.


Sehari hari jalan raya alternatif penghubung desa dengan kota memang agak sepi, tapi suasana tidak pernah sunyi senyap seperti sekarang. Biasanya selalu ada motor, mobil, atau truk yang melintas, walaupun intensitasnya tidak tinggi.


"Ada yang tidak beres dengan tempat ini, lebih baik waspada, kita tidak tahu ada apa di depan sana."


Wira mulai waspada, dia memelankan laju mobil. Kedaan ini sangat aneh baginya. Pakde Jarwo turun dari mobil dan berjalan beberapa meter ke depan untuk mencari tahu, apakah mereka sudah berada dalam zona merah, atau masih di zona aman.


"Belum ada tanda tanda yang mencurigakan, sepertinya disini masih aman."


Ujar pakde Jarwo dalam hati, dia menempelkan kupingnya di aspal untuk merasakan getaran dan mendengar suara suara yang mendekat dari kejauhan. Tidak ada apa apa kecuali suara angin yang berhembus kencang menyibak ranting dan daun.


Mendung mendekat, Wira segera menghampiri pakde Jarwo, memintanya untuk masuk ke mobil. Suasana hening itu membuatnya merinding, tak ingin berlama lama disana, mereka melanjutkan perjalanan.


"Ayo pakde kita lanjutkan perjalanan, sepertinya disini masih steril, semoga saja kondisi di depan sana tidak seburuk kabar yang kita terima."


Pakde Jarwo mengikuti ucapan Wira, Mobil sedannya melaju perlahan, hingga jarak sepuluh kilometer menuju desa terdekat dari rumah kosong ujung aspal.


Semakin dekat dengan rumah kosong ujung aspal, mereka mulai menemukan kejanggalan kejanggalan. Ada pagar seng dan kawat berduri yang terpasang berlapis lapis menutupi jalan raya.


Tepat di antara dinding tebing dan ujung batas jurang, dua buah mobil truk terparkir melintang. Wira segera berhenti, dan turun dari mobil untuk melihat keadaan jalan raya di depannya.


Siska mengokang pistol di tangan kanannya, kemudian setelah itu merekam kondisi sekitar dengan kamera phonsell. Mereka berjalan beriringan sambil mengatur jarak, berjaga jaga kalau di depan, ada serangan mendadak.


"Kenapa perasaanku tidak enak ya Lin, apa kita sudah dekat dengan mereka?"


"Andai saya tahu Sis, tapi sebaiknya memang menjaga jarak aman agar lebih mudah kabur, bila tiba tiba mereka menyerang."


Ke dua gadis itu saling berbisik meskipun yang tampak hanya Siska seorang yang sedang bergumam. Pakde Jarwo naik ke atas atap truk agar bisa melemparkan pandangan lebih jauh ke arah sekitar."


"Berhenti disana Wira!"


Tiba tiba suara keras pakde Jarwo mengejutkan Wira. Dia menarik langkah kaki, lalu buru buru mengambil teropong untuk melihat situasi di sekitar. Benar peringatan pakde Jarwo, dari jarak dua ratus meter di depan, Wira melihat tubuh tubuh yang tercabik cabik namun terlihat masih bergerak merangkak.


Wira langsung berlari mundur, membuat Siska bingung, dan segera lari naik ke atas truk untuk melihat apa yang terjadi di depan. Tangan Siska gemetar, wajahnya pucat seketika saat melihat beberapa tubuh yang telah terpisah, tapi masih bisa bergerak ke arah mereka.


"Apa ini artinya kita sedang ada di tengah tengah mereka pakde?"


"Entahlah Sis pakde tidak bisa memastikan, tapi mulai dari sini kita harus lebih hati hati."


Pakde Jarwo turun dari truk menghampiri Wira yang terlihat ingin muntah. Dia baru pertama kali melihat jasad manusia yang bisa begerak dengan kondisi tidak utuh, merangkak menyeret usus yang terburai di aspal.

__ADS_1


Di langit awan hitam semakin lebar membuat pusaran, Wira bingung dengan situasi ini, sedang pakde Jarwo sendiri, berusaha mencari petunjuk untuk mengatasi masalah baru yang sama sekali tidak pernah ia jumpai di masa lalu.


"Saya tidak tahu iblis iblis itu sanggup melakukan kekacauan ini. Sebaiknya kita mencari tempat aman untuk berlindung. Semoga Tuhan segera memberikan petunjuk."


Pakde Jarwo jalan mendekati tubuh tubuh yang semakin lama semakin mendekat. Mulutnya komat kamit membaca mantra, lalu tangannya memerah seperti terbakar, dan dengan sekali sentuhan jari, tubuh tubuh itu terbakar menjadi abu.


Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Rumah pertama telah tampak dari kejauhan. Wira semakin meningkatkan kewaspadaannya, sebab jika berita yang diterima dari AKBP Boris benar, maka ada kemungkinan penduduk desa disini sudah terinfeksi, seperti beberapa jasad yang telah dimusnahkan oleh pakde Jarwo.


"Kalian tunggu disini, saya akan memeriksa rumah itu. Tunggu kode aman dari saya baru kalian menyusul."


Wira berjalan sendiri menuju sebuah rumah yang berada dekat gapura desa. Rumah itu hanya satu satunya bangunan disana, tidak ada bangunan lain lagi di sekitar.


Dengan pelan Wira mengetuk rumah, tapi tak ada jawaban dari dalam. Dia memegang gagang pintu dan ternyata pintu tidak terkunci. Rumah itu telah kosong ditinggalkan penghuninya.


Wira bekeliling rumah, dan menemukan sebuah tangga kayu. Ternyata ada sebuah ruangan kecil di loteng yang di fungsikan sebagai kamar tidur. Dengan teliti Wira memeriksa seluruh ruangan. Total ada tiga buah kamar di rumah itu.


"Sepertinya disini cukup aman untuk kami berteduh malam ini. Semoga saja sebelum fajar pakde Jarwo sudah menemukan petunjuk, jalan keluar untuk menerobos ke rumah kosong ujung Aspal."


Wira memberi kode agar Siska dan pakde Jarwo menyusulnya ke rumah di batas gapura desa. Mereka bertiga menggunakan kursi, meja, dan lemari untuk menghalangi pintu serta jendela.


Hari sudah semakin sore, mereka memutuskan akan bermalam di rumah itu, sembari mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah mayat hidup yang menginfeksi warga desa.


Tapi yang ada dalam hati dan benak Wira saat itu, justru satu kekhawatiran akan jumlah korban jiwa yang semakin banyak, karena penduduk sipil dari dua desa yang terinfeksi, mungkin saja akan langsung dimusnahkan seluruhnya, seperti apa yang telah diucapkan AKBP Boris.


Artinya ratusan orang dari dua desa akan tewas, dan Wira tidak mau itu terjadi. Wira ingin pakde Jarwo menemukan cara untuk membebaskan warga dari pengaruh sihir atau mantra jahat yang merasuki mereka.


"Dengan cara apapun kami harus berhasil menghentikan kutukan ini. Semoga saja pakde Jarwo mendapat wangsit malam ini, kalau tidak warga desa akan benar benar dimusnahkan."


Langit mulai gelap, penerangan di rumah itu sangat minim, hanya ada bola lampu pijar berukuran lima watt berwarna kuning yang menjadi sumber penerangan mereka.


Wira meminta Siska naik ke kamar di loteng, sedangkan pakde Jarwo memilih bersemedi di dalam salah satu kamar yang berada di ruang tengah dan Wira membaringkan tubuhnya di kursi panjang dekat jendela kaca.


Pistol dan senapan diletakkan dekat kepala, Wira memilih untuk memejamkan mata dengan harapan akan lebih bugar saat terbangun nanti. Di atas Siska membuka file vedio rekaman saat mereka berjalan memasuki desa.


"Kamu lihat kacaunya jalan yang kita lewati Lin, saya masih merinding melihat mayat hidup yang merangkak mengejar kita."


"Iya Sis untung saya ada di dalam tubuhmu, kalau tidak, mungkin saat ini mereka akan menyantap saya."


Ujar Linda, kedua gadis itu mengobrol, untuk mengisi waktu. Di luar sana Wira telah tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya Asih datang dengan wujud seram, wajahnya yang pucat berada sangat dekat, nyaris menpel di telinga Wira.


"Aku akan mengambil ke dua gadis itu tepat saat bulan purnama merah."

__ADS_1


Wira tersentak ia terbangun dari tidur, dan sadar kalau saat ini dia masih berada dirumah kosong. Mimpinya seakan nyata, Wira bangun dengan peluh dan keringat membasahi tubuhnya. Dia lalu pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan badan, setelahnya Wira berencana mengajak rekannya untuk makan malam.


Pukul dua puluh satu, suasana malam di desa sangat hening, dan dingin. Wira baru akan masuk kamar, namun ternyata pakde Jarwo dan Siska sudah lebih dulu keluar, berkumpul di ruang tengah.


Pakde Jarwo segera mematikan lampu, memberi kode agar mereka semua tenang. Wira tidak tahu kenapa pakde Jarwo melakukukannya. Tapi rasa penasaran Wira kontan terjawab saat mereka mendengar suara geraman di luar.


Wira mengintip dari balik gorden, samar samar dia bisa melihat beberapa zombie yang sedang berjalan mendekati rumah tempat mereka bersembunyi.


Suasana seketika mencekam, beberapa zombie membenturkan kepala di kaca jendela dan pintu. Beberapa lagi menggaruk pintu yang terletak di dapur.


"Kita terkepung pakde, mereka sudah mengelilingi rumah ini."


Para zombie seperti sudah mengetahui keberadaan mereka, dan seolah olah sengaja menjebak mereka.


Pakde Jarwo menyuruh Siska kembali naik ke atas loteng lalu membuat segel dengan darahnya tepat di bawah tangga. Wira baru saja akan memecahkan kaca untuk menembaki para zombie, tapi pakde Jarwo segera melarang.


"Kamu masih ingat jurus pencak silat yang saya ajarkan Wir, gunakan jurus itu untuk memukul, dengan menggunakan kekuatan mereka. Saya akan memancing yang di belakang untuk masuk."


"Lumpuhkan mereka, dan saya akan menutup pintu kembali."


Dengan aba aba pakde Jarwo membuka pintu dan lima zombie yang berdiri di pintu langsung merangsek masuk. Dengan Cepat pakde Jarwo menutup pintu kembali. Lalu gesit Wira segera menggunakan jurus pencak silat yang diajarkan pakde Jarwo, Dia naik ke atas meja lalu dengan satu gerakan memutar dia berhasil menjatuhkan dua zombie.


Setelahnya Wira melompat, memancing tiga sisanya untuk masuk ke kamar kosong dekat kamar mandi kemudian mengunci mereka. Suara geraman makin ramai terdengar di luar. Siska melongok ke luar melalui jendela untuk melihat keadaan yang semakin kacau.


Pakde Jarwo mengikat dua zombie yang telah di lumpuhkan Wira, dia memperhatikan mereka, dan mengetahui, bahwa para zombie sebenarnya hanya sedang dalam pengaruh ilmu hitam.


"Sejatinya mereka masih hidup, tapi saat ini kondisinya mirip orang yang sedang kerasukan."


"Sepertinya saya harus melakukan ritual buka gerbang neraka Wir, ini satu satunya cara menyadarkan mereka."


Wira tercengang mendengarnya, dari namanya Wira tahu ini bukan ritual mudah. Dia langsung bertanya akibat dari ritual ini kepada pakde Jarwo.


"Apa efek dari ritual ini pakde?"


Pakde Jarwo diam, tapi Wira terus mendesaknya agar jujur tentang efek samping dari ritual yang akan di lakukan pria tua itu.


"Ini upacara serah jiwa, saya akan menumbalkan diri untuk menyeret mereka kembali ke dunia bawah."


"Kamu hafalkan mantra ini, jika nanti saya tidak berhasil kembali dalam waktu lima belas menit kamu harus segera menutup lubang kawah yang telah terbuka."


Mendengar penjelasan pakde Jarwo, perwira polisi itu langsung menolak. Dia tidak mungkin menumbalkan pakde Jarwo, apa lagi saat ini ada Siska diantara mereka.

__ADS_1


__ADS_2