Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 57 Labirin


__ADS_3

Wira membuka matanya, pemandangan berbeda tersaji di depan mata, dia mendapati pekarangan rumah kosong ujung aspal yang tadinya menjadi arena pertempuran, kini sudah tak sama lagi.


Rumah itu sudah tidak ada, berubah menjadi hutan lebat yang mengerikan, Wira berpikir kalau dirinya hanya sedang bermimpi, tapi kemudian pakde Jarwo meyentuh pundaknya, membuat Wira sadar kalau saat ini mereka telah berpindah alam.


"Tempat apa ini pakde, dimana rumah tua itu, dan mbah Wongso, kemana beliau, kenapa hanya ada kita berdua disini?"


Wira bingung melihat keadaan tempat mereka saat ini. Hutan itu begitu gelap, dingin, dan asing. Satu satunya sumber penerangan bagi mereka adalah cahaya bulan merah, yang menurut Wira tidak lazim.


Bulan itu seperti tampak lebih dekat dengan bumi, karena ukurannya lebih besar dari bentuk normal bulan yang pernah dia lihat. Wira mencoba mengingat ingat lagi kejadian sebelum mereka berada di hutan itu.


Terakhir kali mereka sedang bertarung melawan mahluk astral penjaga rumah kosong ujung aspal. Saat itu Wira murka karena Siska tewas di tikam dari belakang oleh mahluk perempuan berwajah rusak.


Wira ingat saat Siska ambruk dipelukannya, emosinya tersulut, kemudian Wira mengamuk sejadi jadinya. Beruntung pakde Jarwo segera menegurnya, Wira jadi sadar kalau emosi bisa membuat iblis menjadi lebih kuat.


Seterusnya Wira tidak tahu lagi apa yang terjadi. Saat itu dia sedang berusaha menenangkan diri. Lalu tiba tiba saat membuka mata, mereka telah berada di tempat yang berbeda.


"Sekarang ini kita sedang berada di alam mereka Wira, iblis licik itu berhasil merebut Siska, dan membuat kita tercerai berai."


"Waktu itu yang saya lihat, ki Wongso sedang bertarung dengan mahluk penjaga beringin kembar, mahluk itu berhasil membuat ki Wongso menjauh dan tiba tiba kabut tebal muncul, kita terpisah."


"Mbah Wongso entah dimana sekarang, tapi yang pasti kamu dan saya harus tetap bersama. Kita tidak boleh berpisah apapun yang akan terjadi."


Pakde Jarwo menjelaskan semua kejadian yang terlewatkan oleh Wira. Rasanya baru satu menit saja dia memejamkan mata, tapi begitu banyak peristiwa yang luput dari pandangannya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan pakde, tempat ini asing untuk kita, tidak ada petunjuk atau apapun untuk keluar dari sini."


Wira masih berpikir normal, dalam benaknya yang terlintas hanya tersesat di hutan, dia melupakan kalau saat ini mereka sedang berada dalam ilusi optik yang di ciptakan Asih. Pakde Jarwo coba memberikan pemahaman kepada Wira, agar dia bisa keluar dari logika.


"Kita sebenarnya tidak kemana mana Wira, hanya saja perempuan iblis itu sedang membuat ilusi untuk menipu kita."

__ADS_1


"Sejatinya kita masih di depan rumah tua itu Wira, yang kamu lihat sekarang adalah tempat yang sama dengan waktu yang berbeda, mungkin saja jauh sebelum orang Belanda datang membuka perkebunan dan membangun rumah itu, tempat ini adalah hutan belantara."


"Hutan, gunung, dan laut, adalah istana bagi para lelembut. Kita yang datang lalu merusaknya, tapi mereka tetap ada disini, karena memang tempat ini adalah milik mereka sejak awal.


"Asih sedang membawa kita masuk ke alamnya. Tapi yang perlu kamu ingat, sebenarnya tempat ini tetap halaman rumah tua itu, kita hanya perlu mencari pintu masuknya."


"Ingat untuk urusan yang gaib, kamu tidak bisa mengandalkan logika dan nalar. Perkara astral hanya bisa dilawan dengan hati."


"Kamu harus menggunakan hati, percaya mereka ada, baru kita akan tahu cara untuk mengatasi mereka. Seperti juga manusia, iblis pasti punya kelemahan."


Sedikit demi sedikit Wira mulai faham tentang dimensi astral, dia mulai mengerti cara kerja iblis dalam menyesatkan manusia. Dari ucapan pakde Jarwo Wira mendapat banyak pencerahan.


Wira jadi faham, kenapa banyak orang yang tersesat di gunung, ternyata tidak hanya karena kesalahan manusia saja, tapi jin juga berperan dalam prosesnya.


Wira memejamkan matanya mulai membuat sketsa rumah kosong ujung aspal di dalam benaknya. Dia mulai menyusun setiap detil rumah, berdasarkan ingatan. Wira mulai meraba raba, sedangkan pakde Jarwo coba menguatkan perwira muda itu, menggunakan mata ketiga.


Mereka menerawang jauh, memeriksa sekeliling hutan rimba yang diselimuti kabut tebal. Meski informasinya acak, tapi Wira mencoba untuk merangkai kotak kotak ingatan hingga dia mulai bisa membayangkan bentang alam di sekitar rumah kosong ujung aspal.


Seperti sebuah hologram, Wira mulai bisa melihat jalan tanah yang mereka lewati, hutan hutan di sekeliling rumah, sampai makam makam tua yang ada di belakang. Semuanya terekam jelas di kepala Wira.


Pakde Jarwo mulai mengarahkan langkah kaki Wira. Menuntunnya mencari jalan masuk untuk menemukan Asih. Hutan itu layaknya sebuah labirin luas yang sukar untuk diterobos, mereka harus meraba raba agar sampai pada pintu yang benar.


Sementara di sisi lain hutan itu, mbah Wongso yang berhasil menyelamatkan Siska, telah lebih dulu menemukan sebuah pintu masuk. Pintu itu berbentuk pohon pohon raksasa yang berjajar rapi. Batang cabang, ranting, dan daun daunnya saling bersentuhan, menyerupai sebuah gapura.


Mbah Wongso coba memanggil Linda dengan telepatinya. Dia sudah tahu sejak awal kalau gadis itu bersembunyi dalam tubuh Siska.


Mbah Wongso memang sengaja tidak bertanya tentang Linda. Dia cukup tahu saja kalau pakde Jarwo menitipkan sukma gadis itu untuk sebuah alasan yang tak ingin dikuliknya.


Sekarang mbah Wongso sedang membutuhkan pemandu, dia yang telah melepaskan korin dalam tubuhnya, tidak lagi punya kekuatan yang sama seperti dulu.

__ADS_1


Sekarang Mbah Wongso membutuhkan bantuan untuk memandunya memasuki ruangan tempat persembunyian Asih. Dan dia merasa Linda adalah sosok yang paling tepat untuk tugas itu.


Ada dua alasan mengapa Mbah Wongso memilih Linda untuk menjadi pemandunya. Pertama karena Siska yang mengetahui seluk beluk rumah itu, saat ini sedang dalam keadaan pingsan.


Sedangkan alasan ke dua karena Linda saat ini sudah hampir menjadi ruh. Dia berada dalam keadaan koma cukup lama. Jiwanya tertahan oleh Asih, Jiwa Linda mengembara, tapi dia belum mati. Orang awam biasa menyebutnya arwah gentayangan.


Sebuah keuntungan bagi mbah Jarwo karena Linda sedang berada dalam bentuk entitas astral, jadi mahluk mahluk penjaga Asih tidak akan curiga kepadanya.


"Siapa namamu ndok, ayo keluar dari sana, bantu mbah mencari perempuan iblis itu. Nanti mbah akan mencarikan ragamu, biar kamu bisa kembali menjalani hidup normal seperti sedia kala."


Tiba tiba bola cahaya putih keluar dari kening Siska. Mbah Wongso segera menariknya, lalu menggengam, dan melafalkan sebuah mantra. Bola cahaya itu mulai membesar, kemudian perlahan berubah menjadi siluet putih berbentuk manusia.


"Nama saya Linda, Mbah ini siapa, kenapa mbah tahu tentang saya, padahal mereka tidak pernah mengungkit ungkit tentang saya."


Meskipun Linda sudah tahu sejak pertama kali kehadiran mbah Wongso, tapi dia tidak mudah percaya begitu saja pada kakek tua yang baru di kenalnya.


"Nama saya Wongso, temanmu yang pingsan itu, pernah datang ke desa dan minta bantuan kami untuk menyelamatkan kamu."


"Saya tidak menduga kalau masalahnya serumit ini, orang yang melakukan ritual sekutu dengan iblis itu, benar benar sudah keblinger, otaknya pasti dipenuhi nafsu angkara."


"Tidak tanggung tanggung dia bersekutu dengan iblis tua, bukan kelas demit, jin, atau siluman. Tapi iblis dari dunia bawah yang umurnya ribuan tahun. Pantas saja mereka mampu melakukan kerusakan sebesar ini."


"Saya tidak bisa diam, karena ini bisa berbahaya untuk anak keturunan kita. Jadi sekarang mbah butuh bantuanmu untuk mencari dimana iblis wanita itu bertahta ndok."


Mbah Wongso memperkenalkan diri, sekaligus memberi penjelasan kenapa dia ada disana, dan membantu mereka. Linda yang mulai percaya dengan sosok mbah Wongso, mempercayakan dirinya kepada kakek tua itu.


Linda kembali ke bentuk bola energi berwarna putih, dan dia mulai menyelinap memutari rumah kosong ujung aspal yang kini telah berubah jadi hutan belantara.


Linda berkeliling mencari jalan, namun tempat itu terlihat sama, sudah beberapa kali dia berputar putar dan selalu kembali di titik yang sama. Asih memang telah menjadikan rumah tua itu sebagai labirin yang menyesatkan.

__ADS_1


Tujuannya tak lain untuk menjebak setiap orang yang masuk, agar mereka tersesat di dalam, dan tak akan pernah bisa keluar lagi.


Jiwa jiwa yang tersesat itu akan menjadi budak Asih selamanya. Mereka akan terikat menghuni rumah kosong ujung aspal, dan selalu meminta tumbal.


__ADS_2