Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 43 Kerudung Putih itu Linda


__ADS_3

Perjalanan Ronggo Joyo telah sampai jauh ke tengah hutan, di sisi yang tergelap. Situasinya kian menekan, aura aura jahat lebih kental terasa di tempat itu. Dia tidak lagi menemukan ceceran darah di tanah, sehingga harus menebak nebak arah tujuan.


"Ceceran darah Wira berhenti disini, berarti sarang mereka sudah tidak jauh lagi."


Ronggo Joyo memusatkan pikiran, konsentrasi kepada sukma Wira, berharap tidak ada pagar gaib yang menghalangi indranya saat melacak tempat sukma perwira muda itu ditahan.


"Sarang mereka ada di sekitar sini, tapi mataku terhalang kabut tebal. Seperinya gua itu sudah dindungi pagar gaib, aku sulit menembusnya."


Ronggo Joyo liar mengedarkan pandangan ke sekitar, hatinya mengatakan ada roh manusia yang sedang mengawasinya dari satu tempat.


"Keluarlah atau aku akan menghancurkan rohmu sehingga tidak dapat lagi kembali ke dalam raga."


Ronggo Joyo menggertak, dia menduga ada orang lain seperti dirinya di tempat ini, entah dia seorang dukun yang mencari kesaktian, pelaku pesugihan, atau roh yang tersesat. Robggo Joyo tidak dapat memastikannya. Tapi yang pasti dia tahu kalau sekarang dirinya tidak sedang seorang diri di rimba jagad lelembut.


"Aku tahu kau sedang bersembunyi di rimbun pepohonan, atau di batu batu besar itu."


"Keluar sekarang, atau aku akan benar benar menghancurkan rohmu."


Ronggo Joyo berteriak lantang mengancam, hatinya mulai kesal. Dengan mengucap mantra Ronggo Joyo mengalirkan energi ke dalam keris yang di genggamnya.


Keris itu memancarkan cahaya terang, yang tanpa Ronggo sadari cahanyanya, telah mengusik para lelembut penghuni hutan. Baru saja akan melepaskan serangan pertama, tiba tiba saja sosok wanita berkerudung putih keluar dari balik pohon besar.


"Tunggu jangan membuat gaduh, atau para prajurit ular tua akan membunuhmu."


Wanita berkerudung itu meminta Ronggo Joyo menyarungkan kerisnya, cahaya putih berkilau meredup dan menghilang, tapi Ronggo Joyo tetap menghunus kerisnya.


"Kamu ini dukun, atau apa?"


"Kenapa wanita muda sepertimu berada di alam lelembut."


Ringgo Joyo mengira sosok wanita di depannya adalah seorang dukun yang memiliki kemampuan tinggi. Dalam benaknya wanita ini adalah dukun sakti yang tengah menarik energi astral untuk dijadikan perewangan.


"Katakan siapa kamu dan apa tujuanmu masuk ke tempat ini, kamu bisa leluasa berkeliaran disini tentu karena mereka tidak menyadari sosokmu."


"Katakan siapa kamu, atau aku membubuhmu sekarang juaga!"


Wanita itu tak gentar dengan ancaman Ronggo Joyo, dià malah mengajak Ronggo untuk lari dari tempat itu.


"Ayo lari dari sini sekarang juga, cahaya kerismu telah membangunkan mereka."


"Cepatlah, jangan sampai ratu ular itu menelan kita disini


Tanpa segan wanita itu menarik lengan Ronggo joyo, memaksanya untuk berlari menuju suatu tempat yang menurut wanita itu aman, dan tidak terendus mahluk astral.

__ADS_1


"Disini kita aman, saya sudah lama ada disini, dan mereka tak pernah sekalipun bisa menemukan saya di dalam rongga pohon ini."


"Oh iya, perkenalkan saya Linda, tidak tahu sudah berapa lama saya ada disini, di tempat ini sangat aneh, tidak pernah ada siang atau malam, langit itu tetap terlihat mendung tapi tak pernah gelap gulita seperti saat langit malam."


"Tidak juga pernah terang seperti kala matahari bersinar, langitnya selalu tampak sama dari waktu ke waktu."


"Tidak ada bulan, bintang, atau matahari di langit. Entahlah saya juga tidak tahu tempat ini berada dibelahan bumi yang mana, atau mungkin kita tersesat di planet asing, siapa yang tahu.


"Tapi yang saya tahu pasti waktu seakan berhenti disini. Entah sekarang hari apa, saya tidak tahu."


Linda menuturkan tentang dirinya, dan situasi alam lembut yang sama sekali tidak ia mengerti. Linda hanya ingat namanya, tapi dia tidak tahu kenapa dia berada disana.


Baginya saat ini, Linda sedang berkelana dalam dunia mimpi, tanpa mengetahui kalau dalam jasadnya saat ini, ada sosok Asih, bagian dari ular tua yang tengah mengambil alih raganya.


Ronggo membiarkan Linda menyerocos, terus bicara tanpa henti, dia tak ingin menghentikan raut wajah Linda yang bahagia bertemu manusia seperti dirinya.


"Hem.. kasihan gadis ini, ini semua gara gara tindakan kami yang sesat."


Setelah sekian lama hatinya membatu, untuk pertama kalinya Ronggo joyo merasakan iba dalam hati. Dia yang selama ini terkenal sebagai sosok dingin tanpa belas kasih, tiba tiba memiliki rasa empati.


Perlahan Ronggo Joyo mulai merasakan satu penyesalan dalam dirinya. Cukup lama dia dan Anton Wijaya masuk dalam kesesatan, entah sudah berapa banyak nyawa terbuang sia sia.


"Ini salahku, salah kami, dosa sandikala. Gadis ini masuk ke dalam alam lelembut, karena Leo membawa dia untuk menjadi tumbal."


"Upacara tumbal seribu nyawa. Kami yang telah sengaja menumbalkan mereka demi Asih. Untuk memuaskan rasa laparnya, dan membangkitkan Sitarasmi."


Demi Linda dia berani mengambil resiko, entah mereka akan berhasil keluar dengan selamat, atau mati, dan menjadi salah satu budak dari ular tua.


"Eh maaf pak, lkarena terlalu senang saya jadi banyak bicara, maklum saja setelah sekian lama seorang diri dihutan ini, akhirnya saya bisa bertemu manusia lagi.


"Bapak sendiri siapa, kenapa bisa sampai masuk ke hutan ini?"


Linda tersipu malu, karena girang bertemu orang normal lagi seperti dirinya. Dia jadi terlalu banyak bicara sebab selama ini dia hanya tinggal sendiri di hutan. Kalaupun bertemu sosok manusia, wujud mereka biasanya aneh, dan mengerikan.


Saking senangnya dia bahkan tidak berpikir, siapa orang yang duduk dihadapannya, dia baru sadar saat Ronggo Joyo tampak melamun menatap kosong ke arah wajahnya. Dengan sungkan Linda bertanya siapa Ronggo Joyo, dan kenapa pria itu sampai datang ke hutan seram seperti ini.


"Saya Ronggo Joyo, panggil saja Ronggo. Tujuan masuk hutan ini untuk menyelamatkan seorang teman dan membawa pulang temannya."


Ronggo Joyo menjawab singkat pertanyaan Linda. Dia tidak ingi Linda tahu kalau saat ini tujuan kedatangannya alam para lelembut adalah untuk menyelamatkan Wira dan membawa pulang Linda sesuai perjanjian mereka.


Baru saja Ronggo Joyo selesai dengan ucapannya, tiba tiba mereka berdua mendengar sesuatu mendekati pohon, tempat mereka bersembunyi. Dengan tergesa gesa Ronggo Joyo melafalkan mantra lalu menancapkan keris ke tanah.


Dia beharap mantra pagar gaibnya berfungsi di alam roh, dan ternyata mantranya memang bekerja. Mahluk kerdil bungkuk bertaring yang sempat melihat rongga dalam pohon, itu tidak mengetahui keberadaan mereka

__ADS_1


"Huh... hampir saja kita ketahuan oleh mahluk kerdil tadi pak Ronggo."


Linda menarik nafas lega, Dia nyaris berteriak saat mahluk kerdil itu memasukkan kepalanya ke dalam rongga pohon.beruntung Ronggo Joyo gesit membungkam mulutnya.


Setelah mahluk itu pergi, Ronggo Joyo mengajak Linda keluar dari Rongga pohon, untuk mencari tempat yang lebih aman untuk bersembunyi.


"Apa rencana bapak sekanjutnya?"


Linda bertanya sembari mengikuti langkah Ronggo Joyo yang tak henti waspada dari serangan mahluk astral yang mencari mereka.


"Saya harus menyelamatkan Wira, dan menutup portal antar dimensi, bahaya kalau terlalu lama terbuka, mahluk astral yang memiliki ilmu tinggi, mereka akan dengan mudah menyebrang."


Linda terkejut saat mendengar Ronggo Joyo akan menyelamatkan Wira. Dia bersyukur karena bertemu orang yang akan menyelamatkan Wira. Sejak tadi dia terus berpikir, bagaimana cara melepaskan rantai gaib yang membelenggu Wira.


Tak disangka Linda malah bertemu dengan Ronggo Joyo yang memang sedang mencari keberadaan Wira.


"Bapak mau menyelamatkan pak Wira?"


"Kalau begitu ikut saya pak, saya tahu dimana pak Wira sekarang berada."


Meskipun ragu, Ronggo Joyo mengikuti Linda yang berlari di depannya. Mereka mengendap endap seolah para mahluk astral tidak tahu keberadaan mereka.


"Itu disana di balik kabut tebal itu, pak Wira terikat di langit gua."


Linda menunjuk kabut tebal dihadapan mereka, sedang Ronggo Joyo. Kembali duduk bersila, membaca mantra, kemudian melempar garam kasar ke arah kabut.


Perlahan kabut menipis dan mulut gua pelan pelan tersikap. Ronggo Joyo kembali melakukan sebuah ritual, lalu menyentuh dahi Linda dengan telunjuk.


"Dengar saya akan menjadikan kamu umpan, pancing mahluk mahluk itu menjauh dari sarangnya, dan saya akan melepaskan Wira."


"Bawa bambu kuning ini sebagai senjata. Pukul mereka yang mendekatimu."


Setelah menyerahkan sebatang bambu kuning kepada Linda, Ronggo Joyo menebar bunga melati untuk mensamarkan bau mereka dari penciuman ular tua.


"Mulai sekarang kesekamatan kita hanya bergantung pada nasib."


"Mendekatlah dan buat mereka mengikutimu, tebar air bunga ini untuk mengecoh mereka."


"Saya akan masuk membebaskan Wira."


Rencana telah di susun rapi, Ronggo Joyo sangat berharap dia bisa mengalahkan iblis ular tua, dan menutup portal antar dimensi.


"Jika kami berhasil melalui semua ini, aku akan meniggalkan Sandikala dan bertaubat."

__ADS_1


Pertemuan Ronggo Joyo dengan Linda telah menyadarkannya tentang arti sejatinya hidup. Mati adalah langkah pertama manusia untuk mencapai kelanggengan.


Ronggo telah membulatkan tekadnya untuk meninggalkan dunia hitam dan bertaubat.


__ADS_2