Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar


__ADS_3

Pagi yang tidak biasa, udara sangat dingin hingga menusuk kulit. Wira terbangun dari tidur, dan menatap jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Hari ini Wira berencana akan datang mengunjungi pabrik yang dulu merupakan properti milik Raden Ayu Sitarasmi.


"Semoga saja ada petunjuk disana."


Wira berbicara pada diri sendiri. Dalam benak perwira polisi itu, dia ingin mencari petunjuk tentang remaja yang di rekrut Sitarasmi untuk dijadikan inang atau wadah bagi anak titisan iblis.


"Semoga saja anak itu tidak benar benar dilahirkan."


Wira berdoa dalam hati, lalu segera melajukan mobilnya ke kawasan industri, sesuai catatan yang diberikan oleh sang Ayah. Hari ini terasa aneh baginya, langit mendung berwarna hitam kelabu.


Wira memarkirkan mobilnya di bahu jalan depan sebuah rumah mewah. Untuk beberapa saat dia hanya terdiam di dalam mobil sembari terus melayangkan pandanganya ke arah rumah yang bernomor enam enam X.


"Ini benar tempatnya, tapi pabrik itu sudah berubah menjadi rumah rupanya."


Wira bergumam lirih, diurungkan niatnya untuk masuk ke rumah itu, dan memilih pergi ke menara kembar, tempat kantor pusat Naga grup berada. Dalam pikiranya saat itu Wira berencana untuk mencari jejak Sitarasmi, dengan menyelidiki Anton Wijaya dan putranya.


Setengah jam kemudian Wira memarkirkan mobilnya di halaman sebuah restorant tepat di sebrang kantor Naga Jaya Group. Matanya fokus mengawasi pergerakan orang orang yang keluar masuk gedung.


Ada sesuatu yang berbeda dari menara kembar milik Naga Jaya Group ketika Wira tanpa sengaja mengarahkan pandanganya ke puncak menara. Entah hanya perasaanya saja atau haludinasi optik, tapi yang jelas Wira melihat gumpalan awan di ujung menara Naga Jaya Group tetlihat lebih pekat.


Mendadak perasaan Wira berubah jadi tak enak, seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hati, tapi Wira tidak tahu apa yang membuat suasana hatinya tiba tiba saja berubah.


Ada satu aura yang menekan, saat Wira menatap ujung menara. Dia buru buru memalingkan wajah, lalu segera beranjak pergi meninggalkan halaman parkir, dan berjalan menuju gedung Naga Jaya Group.


"Bruuk...!"


Seorang pria paruh baya berlari tergesa gesa menabrak Wira yang kala itu, sedang mencari celah untuk masuk, tanpa harus diketahui pihak keamanan gedung. Pria itu hanya menoleh lalu berlalu begitu saja tanpa mengucap maaf.


"Sepertinya aku pernah bertemu pria itu di suatu tempat, tapi dimana?"


Wira berusaha mengingat ingat sosok pria yang menubruknya. Setelah beberapa detik berpikir, dia baru ingat kalau sosok yang menubruknya adalah Ronggo Joyo, pengacara keluarga Wijaya.


Sementara itu Ronggo Joyo langsung menuju ruang kerja Anton Wijaya. Raut wajahnya terlihat begitu tegang saat memasuki ruangan. Ada satu kekhawatiran yang tersirat di wajah pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Mas Anton kita perlu bicara serius."


Anton wijaya tersentak melihat kehadiran Ronggo Joyo di dekatnya. Konglomerat pemilik Naga jaya Group itu, sama sekali tidak sadar kalau Ronggo Joyo telah menerobos masuk, tanpa mengetuk pintu tetlebih dulu.


"Ada apa Nggo?"


"Kenapa wajahmu tegang sekali?"


"Duduklah, apa yang ingin kamu bicarakan sampai wajahmu tegang begitu?"


Anton Wijaya menangkap kecemasan di wajah sahabatnya, dia tahu apa yang dirasakan Ronggo Joyo, sama dengan yang tengah ia rasa dan pikirkan sejak tadi.


"Wanita itu bukan Bunda Ratu mas, kita harus bahas ini pribadi, tidak disini.


Ronggo Joyo mengajak Anton Wijaya pergi meninggalkan gedung menuju sebuah tempat yang hanya diketahui oleh Ronggo Joyo saja.


Lebih dari dua jam lamanya Ronggo berkendara tanpa mengatakan sesuatu. Anton Wijaya duduk di belakang hanya diam sembari terus melihat pergerakan awan hitam yang tak lazim.


Tak lama setelahnya mereka masuk ke dalam bangunan kosong, lalu berbincang serius tentang bunda ratu yang telah mereka bangkitkan.


"Untuk bicara saja kamu sampai mengajakku kemari Nggo. Sebenarnya apa yang begitu mengganggumu sampai sampai harus bersembunyi dalam pagar gaib begini?"


Anton Wijaya membuka percakapan dengan langsung masuk pada inti persoalan. Sedang Ronggo masih diam mengarahkan pandangan ke segala penjuru, seakan akan ia ingin memastikan bangunan itu aman.


"Ini tentang Raden Ayu Sitarasmi mas. Kita sudah salah melakukan ritual itu. Sosok yang sudah kita bangkitkan, dia bukan bunda Ratu."


"Mas Anton pasti juga mendengar suara di balik tawa bunda ratu. Dia sosok parasit yang masuk menunggangi bunda ratu."


Ronggo Joyo mengungkapkan kegelisahan hatinya, yang sebenarnya sama sirasakan Anton Wijaya, namun semua sudah terjadi. Dia butuh bunda Ratu untuk menjaga kelanggengan.


"Aku tahu yang kamu rasakan Nggo, tapi menurut pendapatku, ketakutanmu itu terlalu berlenihan, kita yang memanggilnya kembali. Maka kita yang akan pegang kendali."


Anton Wijaya berusaha untuk menenangkan hati sahabatnya, namun Ronggo Joyo merasa kalau Anton tidak mengerti akan bahaya yang sedang mengintai di hadapan mereka.

__ADS_1


"Mas Anton, kita sama sama tahu kalau tujuan didirikannya sekte Sandikala adalah untuk menjaga kelanggengan, dan selama ini kita yang mengendalikan semuanya.Tapi sejak kelahiran Asih dan sekarang bangkitnya bunda Sitarasmi, membuat saya takut mas."


"Sekarang bukan kita yang akan memegang kendali, tapi mereka."


Nada suara Ronggo Joyo meninggi, dia tidak bisa menyembunyikan kegusaran dalam hatinya. Sedang Anton Wijaya terkejut mendengar perkataan orang kepercayaannya itu.


"Aku tidak menduga pemikiranmu akan sejauh itu Nggo. Kita sama sama tahu kalau kelahiran Asih adalah kehendak Bunda Sitarasmi. Tujuannya untuk melanjutkan terah."


Ronggo Joyo mengernyitkan dahinya, pikirannya melayang kembali ke era sbilan puluhan dimana saat itu Raden Ayu memerintahkan pengikutnya untuk mencari gadis yang bisa menjadi inang untukelanjutkan terahnya.


Waktu itu semua anggota sekte Sandikala tidak tahu maksud dibalik semua riitual persembahan yang mereka lakukan, dan para gadis yang satu demi satu tewas karena tidak mampu bertahan.


Hanya seorang gadis, yang ternyata mampu bertahan dan melahirkan Asih, walaupun pada akhirnya dia juga harus mwregang nyawa selang satu hari sejak Asih dilahirkan.


"Ini semua sudah direncanakan mahluk itu sejak lama, kita sudah dibodohi mas. Entah ritual apa yang telah dilakukan bunda Sitarasmi, tapi yang jelas hadirnya Asih membuka portal, dan kita telah dengan sengaja memanggilnya."


Ronggo joyo menghela nafas panjang keringat membasahi wajahnya. Sementara Antoon Wijaya tertekun mendengarkan ucapan Ronggo Joyo. Ada sedikit penyesalan yang terselip di hatinya, tapi Anton Wijaya tetap berusaha menhuatkan hati. Dia yakin ada cara untuk mengendalikan mereka yang terlanjur telah menyebrang dari sisi kegelapan.


"Ini sudah terjadi Nggo, tidak usah kamu risaukan lagi, sekarang bagiamanapun caranya kita yang harus memegang kendali, tidak Asih atau mahluk yang mengambil alih tubuh bunda Ratu Sitarasmi."


Anton Wijaya memeluk tubuh Ronggo Joyo dengan erat, dia bisa merasakan akan ada hal buruk yang akan terjadi. Sejak meninggalkan gedung Naga Jaya Group, Anton Wijaya memang sudah membaca tanda tanda yang dibwrikan alam semesta.


"Sebaiknya kita kembali sekarang Nggo, aku khawatir dengan Leo. Anak itu semberono, takutnya dia melakukan sesuatu yang membuat masalah swmakin runyam."


Ronggo Joyo menunduk, dia tak menyangka kalau Anton Wijaya sebenarnya sudah melihat tanda tanda yang diberikan semesta.


"Aku harus berbuat sesuatu sebelum tatanan rusak."


Sambil berjalan menuju mobil, Ronggo Joyo terus berpikir. Dia berharap akan ada jalan keluar dari lingkaran setan ini.


"Kitab ituungkin bisa mengembalikan mereka, tapi siapa orang yang wetonnya cocok untuk menjalankan ritual ini?"


Ronggo Joyo mengemudikan mobilnya sembari memikirkan cara menemukan orang yang akan sanggup menjalankan ritual.

__ADS_1


__ADS_2