Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 58 Mahluk Bungkuk


__ADS_3

Wira mulai bisa meraba raba letak pintu rumah kosong ujung aspal. Perlahan dia mulai ingat arah jalan menuju kesana. Dengan hati hati Pakde Jarwo menuntun Wira menggunakan mata ketiga. Pria tua itu merasakan ada enegi yang tersembunyi dalam kegelapan.


"Apakah pakde melihat pohon pohon besar yang berbentuk gapura disana, saya yakin pohon besar yang sejajar itu adalah pintu masuknya."


Wira menunjuk ke arah dua buah pohon yang berdiri tegak sejajar, dahan, ranting, dan daunnya saling bersentuhan membentuk sebuah gerbang. Kedua pria beda usia itu bergegas menuju pohon besar yang ditunjuk Wira.


Mereka berjalan pelan dalam remang cahaya bulan merah, suara angin, dan burung malam menggetarkan hati. Pakde Jarwo berusaha keras menekan energi hitam yang sejak tadi selalu membuntuti mereka.


"Hati hati Wira, jangan lengah, kita sedang dibuntuti oleh dua sosok astral."


Wira belum menyadari keberadaan mahluk lain di sekitar mereka, dia melirik ke kanan kirinya, tapi tidak ada siapa siapa di dekat mereka. Matanya memang belum terasah, sehingga Wira belum bisa merasakan kehadiran mahluk astral yang memiliki kekuatan besar.


Mahluk mahluk astral itu sangat cerdik. Mereka mampu menyamarkan energi besar, sehingga sulit terditeksi keberadaannya. Mereka terus mengintai, sembari menunggu peluang untuk menyerang.


Sementara itu, pakde Jarwo mulai merasakan serangan fisik pada dirinya. Kepala Pria tua itu tiba tiba saja terasa sakit. Kekuatan hitam dari mahluk astral semakin besar mengintimidasi mereka.


Karena kekuatan energi hitam yang semakin besar, Wira mulai bisa merasakan kehadiran mereka. Bulu kuduknya bergidik, mahluk mahluk itu mulai memberikan rasa kepada Wira.


Spontan Wira menghentikan langkah kakinya, dia merasakan kehadiran mereka. Kepala Wira terasa berat, mahluk mahluk itu mulai menyerang fisik keduanya. Pakde Jarwo segera duduk bersila, dia sudah tidak mampu untuk menahan benturan energi yang ingin menguasai raga.


"Lindungi saya Wira. Mahluk mahluk ini sangat keras, merek jahat. Mau tidak mau kita harus melawan."


Wira mengangguk, lalu segera memasang kuda kuda sembari berdoa meminta perlindungan Tuhan. Meski kepalanya terasa sakit, Wira tidak ingin menjadi lemah, dia berusaha keras untuk melawan benturan energi metafisik yang semakin besar.


"Siapapun kalian, keluarlah, kami tahu keberadaanmu!"


Wira geram, mahluk mahluk itu seperti sedang mempermainkan mereka berdua. Tiba tiba angin panas menerpa, Wira buru buru melindungi wajah agar tidak tersengat gelombang panas. Bersama dengan angin itu muncul dua sosok bungkuk berwajah seram.


Hanya ada sedikit rambut di kepala mereka, mata keduanya buta, tapi pendengaran mereka sangat peka. Mahluk mahluk itu bisa mendengar suara sekecil apapun. Gerakannya sangat lincah dan gigi mereka runcing sehingga mampu merobek daging hingga tembus ke tulang.


"Mau apa kalian masuk ke istana kami, apa yang kalian minta manusia?"


Mahluk mahluk bungkuk itu mengira Wira dan pakde Jarwo, adalah dua orang manusia yang sedang melakukan ritual pesugihan, mereka langsung menggoda Wira dengan ilusi.


Seketika hutan seram itu berubah menjadi emas, mereka menawarkan Wira kemewahan bersyarat. Wira baru mempercai bahwa ritual pesugihan itu nyata, setelah menyaksikannya sendiri di depan mata.


Mahluk mahluk itu membujuk Wira dengan berbagai bentuk rayuan, namun Wira dan mbah Jarwo tak silau. Tujuan mereka memang bukan untuk mencari kekayaan, melainkan ingin agar Asih binasa.


"Saya datang bukan untuk semua ini. Kami kemari untuk menemui ratu kalian. Menyingkir dari jalan kami, atau saya akan membakar kalian."

__ADS_1


Wira menggertak, tapi mahluk mahluk itu sama sekali tak gentar, mereka malah mentertawakan Wira, dan menganggapnya remeh.


"Lancang kau manusia, beraninya kamu mengancam kami."


"Kamu punya senjata apa sampai berani menantang kami berdua?"


Mahluk bungkuk itu menyeringai, lalu dengan gerak cepat, mereka menyerang Wira. Pakde Jarwo langsung bertindak, dengan cepat dia melompat maju menyergap melindungi Wira dari serangan. Keris pakde Jarwo menyabet kedua mahluk bungkuk itu hingga mundur beberapa langkah ke belakang


Wira yang melihat peluang, tidak ingin menyia nyiakan kesempatan. Dia melakukan serangan dari samping, tepat saat mahluk itu bersiap akan membalas serangan pakde Jarwo.


"Agghr....!"


"Kurang ajar kau manusia, akan kucabik cabik dadamu, dan ku minum darahmu!"


Mahluk itu mengerang kesakitan, sabetan belati emas melukai dadanya. Cairan lendir berwarna hijau menyembur, bau busuk segera menyebar, membuat Wira mual dan memuntahkan semua yang ada dalam perutnya.


"Kamu tidak apa apa Wira?"


Pakde Jarwo yang baru saja berhasil menetralkan aura aura jahat yang menekan, segera membuat perisai untuk melindungi mereka. Tapi mahluk bungkuk itu terlalu kuat, mereka berdua mampu menerobos perisai yang dibuat pakde Jarwo.


Kedua mahluk itu menyergap pakde Jarwo secara bersama sama, gerakan mereka sangat cepat hingga sulit untuk ditebak. Pakde Jarwo yang lengah, terkena sambaran salah satu dari mahluk bungkuk yang menubruknya.


"Akghk....!"


Wira yang melihat kejadian itu kontan terkujut, refleks tangannya menarik tubuh pakde Jarwo mundur beberapa langkah sehingga pria tua itu terhindar dari serangan.


Kedua mahluk buta itu semakin beringas, mereka jadi lebih agresif melakukan serangan. Wira yang belum sadar kalau mahluk itu tidak bisa melihat, benar benar di buat kesulitan. Beberapa kali Wira harus berguling guling ditanah, hanya untuk menghindari cakar mereka yang tajam.


"Celaka monster monster ini sama sekali tidak bisa di sentuh. Tenagaku sudah hampir habis terkuras, sementara mahluk bungkuk itu tidak terlihat letih sedikitpun."


"Oh Tuhan berikan pertolongan Mu sekali lagi."


Wira bergumam lirih, sembari menarik nafas panjang. Dia berusaha untuk mengembalikan tenaga. Tapi kedua mahluk bungkuk itu seperti tidak rela memberinya kesempatan.


Sambil menghindari serangan yang bertubi tubi, Wira mencari tempat aman untuk bersembunyi, tapi sayang, meski ia bersembunyi di dalam batu, mahluk itu akan tetap menemukan mereka.


"Hutan ini milik mereka, aku tidak mungkin bisa mencari tempat bersembunyi disini. Mahluk itu pasti bisa menemukan kami."


"Oh Tuhan aku harus bagaimana sekarang. Pakde Jarwo sedang terluka, aku tidak akan mungkin berlari sambil menggendongnya."

__ADS_1


Wira pasrah bersandar di balik pohon, dia merasa perjuangan mereka akan berakhir sekarang. Hutan gaib ciptaan Asih akan menjadi makam mereka.


Pikiran Wira mengembara kemana mana, dia mendekap pakde Jarwo erat erat, melindungi tubuh ringkih pria tua itu dengan punggungnya yang lebar.


Tapi keanehan kemudian terjadi. Mahluk bungkuk itu seperti tidak melihat mereka. Wira yang saat itu hanya pasrah sembari menahan nafas di buat bingung dengan tingkah laku aneh mahluk itu.


"Kemana kau manusia, kenapa aku tidak bisa mencium aroma tubuh kalian?"


Wira baru sadar kalau mahluk bungkuk itu tidak dapat melihat. Keduanya hanya bisa mendengar dan mencium aroma tubuh mereka. Wira terus bertahan untuk tidak membuat gerakan. Dia berharap mahluk itu tidak bisa melihat.


Dan doa Wira terkabul, mahluk mahluk bungkuk itu tidak bisa menemukan keberadaan mereka, meskipun sebenarnya Wira dan pakde Jarwo sangat dekat dengan mahluk itu.


Suara gemersik ranting kayu yang dilemparkan oleh seseorang, telah berhasil mengecoh mahluk bungkuk untuk pergi menjauh, memburu ranting ranting yang dilemparkan secara acak.


"Huh... Terima kasih untuk pertolongan ini Tuhan."


"Siapapun anda yang telah menolong kami, aku ucapkan terima kasih atas bantuan ini."


Wira mengucap syukur dalam hati, lalu segera memeriksa luka bakar di dada pakde Jarwo. Dengan cepat tangannya menggeledah pakaian pria tua itu, kemudian mengambil beberapa botol ramuan.


Sambil mengingat ingat bagaimana pakde Jarwo menyembuhkan luka mbah Wongso, dia juga melakukan hal yang sama. Sebuah bubuk putih diborehkan ke dada, dan tiga buah pil berwarna ungu dia masukkan ke dalam mulutnya.


Ternyata bubuk putih segera bereaksi, dari dada pakde Jarwo mengepul asap hitam, kemudian luka memarnya berangsur angsur menghilang tanpa bekas.


Pakde Jarwo mulai membuka matanya, Wira menyadarkan pria itu di pohon lalu pelan pelan pakde Jarwo mengunyah tiga buah pil yang dimasukkan Wira ke dalam kemulutnya.


Wira tersenyum getir, dia tak tega melihat keadaan pakde Jarwo yang begitu ringkih. Wira tiba tiba saja melamun. Dia berpikir lagi tentang keajaiban yang baru saja mereka alami.


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi, bagaimana mungkin mahluk itu tidak melihat kami, padahal aku hanya berjarak satu meter saja dari mahluk bungkuk itu."


"Mereka bahkan tidak bisa mencium aroma tubuh kami, padahal aku dan pakde Jarwo berkeringat."


"Lalu tentang orang misterius yang telah menyelamatkan nyawa kami, siapa pahlawan itu, apakah dia mbah Wongso?"


"Jika iya, kenapa beliau tidak segera mendatangi kami?"


Wira hanya bisa menyimpan semua pertanyaan dalam benaknya tanpa tahu jawaban dari misteri yang baru saja ia alami.


"Apa yang kamu pikirkan Wira?"

__ADS_1


"Bukan apa apa pakde, saya hanya sedang berdoa untuk keselamatan kita."


Pakde Jarwo tersenyum tipis, meski dia tahu Wira sedang berbohong, namun pria tua itu tak ingin memperpanjang percakapan mereka. Dia fokus bermeditasi agar tenaganya segera pulih.


__ADS_2