
Sudah jam dua belas siang, tapi anehnya udara tetap sejuk seperti masih jam enam pagi saja. Matahari samar tertutup awan mendung. Mbah Wongso menggenggam telapak tangan Wira dengan kuat, dan seketika itu juga dia merasa ada hawa hangat yang menjalari seluruh tubuh.
"Setelah ini kita akan bertarung hidup dan mati. Mental kalian harus benar benar disiapkan, iblis wanita itu menyebrang alam dengan persiapan yang matang."
"Orang orang sesat itu sudah diperdaya terlalu lama sampai mereka tidak sadar, kalau dampak penumbalan yang mereka lakukan membuat iblis tua semakin kuat menguasai alam kita."
Mbah Wongso memberi peringatan, agar mereka semua tetap waspada dan tidak abai dengan kekuatan hitam yang menyelimuti desa di sekitar rumah kosong ujung aspal. Kakek tua itu tahu resiko yang akan mereka hadapi, oleh karenanya mbah Wongso membagi tenaga dalam kepada Wira. Mereka berdua telah sepakat menunjuk Perwira muda itu untuk mengunci kekuatan Asih.
Pada awalnya Wira tidak yakin akan mampu mengemban tugas yang diberikan, tapi bahasa tubuhnya telah terbaca oleh pakde Jarwo, dan pria tua itu segera memberi petuah bijak untuk menguatkan keyakinan Wira.
"Benar Wir, dari tadi saya sudah mencoba untuk menerawang desa di depan, tapi mata ketiga tidak lagi bisa menembusnya."
"Kekuatan iblis sudah benar benar menguasai desa. Kami akan mencoba menetralisir untuk mengurangi jumlah energi jahat yang tengah mengurung desa, tapi kami butuh kamu dan Siska sebagai tameng."
"Wong urip kadang nyawang sing nyawang."
"Terkadang orang hidup melihat siapa yang melihat, atau apa yang ingin dilihatnya, mereka hanya melihat apa yang ada pada diri orang lain, tanpa memandang apa yang ada pada dirinya sendiri."
Pakde Jarwo menguatkan peringatan mbah Wongso. Mereka berdua sepakat kalau desa itu telah dibentengi kekuatan hitam. Wira hanya bisa mengangguk pelan dan menelan ludahnya.
Sedangkan Siska seperti juga Wira, dia menerima sesuatu dari pakde Jarwo. Rasa dingin yang kuat tiba tiba menyeruak, menjalari seluruh tubuh Siska. Rasanya begitu kuat, hingga membuatnya jadi tegang, seluruh otot ototnya terasa keras dan menebal.
"Mulai sekarang setiap orang harus saling menjaga. Kami akan membuka portal untuk menarik kekuatan yang membangkitkan mahluk mahluk itu."
"Mayat mayat hidup, harus kembali ke alam niskala, baru kita bisa melintasi desa ini."
Ucapan pakde Jarwo, membuat Siska bergidik ngeri, pengalaman semalam saja belum hilang dari ingatannya, sekarang mereka akan masuk ke benteng pertahanan Asih.
"Kamu kenapa Sis, kok saya jadi ikut merasakan hawa dingin dan rasa takut?"
Linda juga merasakan apa yang sedang dialami Siska, perasaan mereka salaing terhubung. Siska segera berbisik, kalau mereka akan masuk desa terakhir, setelahnya Linda akan terbebas, dia akan kembali pada jasad kasarnya, dan menjalani hidup normal seperti sedia kala.
"Horee...!"
Linda berteriak kegirangan, sampai Siska buru buru menutup kupingnya. Wira tersenyum kecil, dia mulai terbiasa melihat tingkah laku Siska yang aneh.
Pakde Jarwo membuat persiapan ritual, sedang mbah Wongso akan membuka perisai gaib yang mengurung mayat hidup. Wira dan Siska masing masing bersiap dengan senjata mereka.
Mbah Wongso menghucamkan keris ke tanah dan seketika, mayat mayat hidup menghambur ke arahnya. Pakde jarwo segera menghantamkan telapak tangannya, dan tiba tiba tanah bergetar hebat, seperti layaknya sedang terjadi gempa bumi.
Tanah retak, kemudian perlahan mulai bergeser, lalu terpisah membentuk sebuah jurang lebar. Wira dan Siska goyah, masing masing berlutut bertumpu pada senapannya. Mbah Wongso segera melompat salto di udara lalu mendarat tepat di belakang Wira.
Gerombolan mayat hidup yang sejak tadi berbaris menumpuk berebut menyerang, seketika jatuh terjerembab ke jurang yang diciptakan pakde Jarwo. Mereka masuk ke lubang hitam lalu tanah menutup kembali seperti semula.
__ADS_1
Wira dan Siska menyaksikan fenomena di luar nalar itu dengan raut wajah yang keheranan. Siska tidak menyangka kalau pakdenya mampu melakukan semua hal aneh seperti yang baru saja dia saksikan.
"Pantas saja ayah melarang anak anaknya dekat dengan pakde Jarwo, ternyata dibalik wajahnya yang lembut kepada kami, pakde Jarwo memiliki sisi mistik yang menakutkan."
"Selain teluh atau santet, ternyata beliau sanggup membenamkan manusia ke dalam tanah hanya dalam satu gebrakan saja."
Siska membatin, mengingat masa kecilnya di desa, saat kakek, nenek, Siska masih hidup. Dia masih ingat, kalau mereka lebih akrab dengan pakde Jarwo ketimbang, paklek dan bulek. Tapi ayahnya selalu mengingatkan Siska agar tidak terlalu dekat dengan kakak ibunya.
Belakangan setelah dewasa dan menjadi seorang polwan, Siska baru tahu latar belakang pakdenya. Alasan mengapa pakde Jarwo pilih membujang, serta alasan alasan dibalik ketidak sukaan ayahnya, ketika Siska bermanja manja kepada pakde Jarwo.
Semua terkuak, saat Siska mengalami masalah gaib ini. Ayahnya baru mengizinkan Siska untuk bertemu dengan pakde Jarwo setelah berdebat panjang dengan sang ibu.
Itu sebabnya Siska mengajak Wira berkunjung setelah sekian lama tidak lagi pernah berkunjung ke rumah pakdenya. Dan selama itu pula Siska baru mengetahui, kalau ternyata pakdenya sudah pindah ke desa lain.
Tapi meskipun demikian, pakde Jarwo tidak sekali kali pernah melupakan Siska. Gadis kecil kesayangan yang selalu ia bangga banggakan. Siska adalah satu satunya alasan pakde Jarwo mau turun gunung, bersentuhan kembali dengan dunia mistik dan alam gaib.
Sekarang mereka ada disini, bahu membahu menghadapi Asih dan Sitrasmi. Semuanya seperti telah ditakdirkan. Mereka berkumpul lagi seperti dulu dengan situasi yang sangat berbeda.
Dulu pakde Jarwo sering kali membuatkan Siska mainan dari bambu atau pelepah pisang. Bukan permainan anak perempuan seperti boneka, tapi pedang, pistol, atau mobil mobilan. Pakde Jarwo sangat mengenal pribadi Siska, polwan cantik itu memang tomboy sejak masih kanak kanak.
Tak heran jika sekarang Siska menjadi seorang polwan, dan kali ini bersama sama sang pakde menuntaskan perkara rumit yang menyeret mereka.
"Ayo Sis kita jalan lagi, nanti keburu sore."
Seperti ucapan mbah Wongso, suasana desa sangat mencekam, aura hitam pekat terasa menekan. Mereka terus berjalan menelusuri desa. Suara suara raungan yang tak kasat mata mulai meneror.
Mbah Wongso memberi isyarat, agar mereka lebih hati hati, memasang mata dan telinga. Pakde Jarwo mengerti isyarat itu, lalu melafal mantra dan mengeluarkan keris yang terselip di pinggang.
Siska buru buru berjalan mundur, memposisikan dirinya di tengah tengah, antara pakde Jarwo dan Mbah Wongso sedang Wira tetap berjalan di depan dengan senapan ditangan.
Tepat di tengah desa, mereka segera mendapat sambutan yang mengejutkan, sosok bayangan hitam berbentuk manusia menyergap dari balik pohon dan rimbun bambu. Mata mereka terlihat merah menyala, berkelebat langsung serentak menyerang.
"Doorr... doorr... doorr...!"
Wira mundur beberapa langkah, lalu segera melepaskan tembakan, tapi dia kembali di buat heran, tak ada satupun tembakannya yang berhasil menyentuh tubuh mahluk hitam yang menyambar mereka.
Sebaliknya justru tubuh Wira yang terkena sambaran mahluk hitam itu. Dadanya seketika langsung menghitam seperti hangus terbakar. Pakde Jarwo yang melihat kejadian itu refleks menarik kerah baju Wira lalu gesit menyeretnya mundur untuk menghindar dari serangan.
"Jangan bergerak dulu, minum pil ini dan mundurlah, biar mereka jadi urusan kami, kamu istirahat saja dulu."
Dengan cekatan pakde Jarwo memborehkan serbuk putih di dada Wira, lalu memberinya pil untuk di minum. Selanjutnya pakde Jarwo segera melompat ke depan menghalau serangan gencar yang datang bertubi.
Wira beristirahat sejenak, sembari memulihkan lukanya yang terasa perih dan panas. Pakde Jarwo, mbah Wongso, dan Siska menyerang bayangan hitam sambil melindungi Wira yang tengah terluka.
__ADS_1
Wira duduk sambil meringis menahan perih. Tapi matanya tetap mengamati pertarungan, hingga menjelang sore, tanpa sadar memar di dadanya perlahan lahan berangur pulih dan tidak terasa sakit lagi.
Wira merasa tubuhnya sudah cukup baik. Menurutnya, dia sudah cukup kuat untuk kembali bertarung. Wira segera meletakkan senjatanya di tanah lalu mengeluarkan belati emas warisan ronggo Joyo.
Wira membaca doa sebisanya kemudian segera memasang kuda kuda. Secara ajaib belati emas di tanganya tiba tiba saja mengeluarkan cahaya kuning keemasan.
Berbekal ilmu pencak silat yang diajarkan pakde Jarwo, dan tenaga dalam yang disalurkan mbah Wongso, dengan percaya diri Wira melompat kembali masuk ke arena pertarungan. Tubuh Wira mendadak jadi ringan bagai kapas. Belati emas digenggamnya erat erat lalu sejurus kemudian Wira langsung mengamuk menyerang mahluk hitam tanpa ampun.
Tubuh kekar Wira meliuk liuk lemah gemulai. Dia menyabetkan belati emas menebas mahluk bayangan hitam yang bergantian menyerang. Tubuh Wira melompat seperti elang yang sedang menyambar mangsa, satu persatu mahluk hitam berhasil dia lumpuhakan.
Tapi belum lagi tuntas mengatasi serangan dari mahluk bayangan hitam, tiba tiba saja tangan tangan hitam bermunculan dari dalam tanah, lalu segera mencengkram kaki kaki mereka, dan menariknya ke dalam tanah.
Kejadian yang tak terduga itu, sontak membuat Siska menjadi panik, jatuh tersungkur di tanah. Tangannya gesit meraih senapan kemudian melepaskan tembakan kesana kemari. Tetapi seperti juga bayangan hitam, tangan tangan itu tidak hancur dan justru lebih kuat mencengram, menarik kakinya.
"Konsentrasi Siska, jangan panik!"
Suara pakde Jarwo mengingatkan Siska, namun dia tidak dapat lagi menguasai diri. Mata Siska terpejam, dia berdoa pasrah, berserah, jika hari ini harus mati di telan tanah.
Tapi keajaiban kemudian terjadi, tubuh Siska berubah menjadi biru, tangan tangan yang membelenggu tubuhnya membeku bagai es. Siska membuka mata lalu menghantam tangan tangan yang mencengkram tubuhnya.
Tangan tangan itu hancur bagai bongkahan es yang di hantam palu. Siska memasang kuda kuda, dia mulai mengikuti gerakan Wira yang lemah gemulai. Siska bergerak seperti gadis cantik yang asyik menari. Tubuhnya seakan sedang larut dalam irama musik yang mendayu.
Dengan menghantamkan tinju dan tendangan ke segala arah, Siska bergerak lincah menjatuhkan musuh musuhnya. Mahluk berbentuk bayangan hitam itu, satu persatu tumbang, menghilang berubah menjadi asap hitam. Tangan tangan hitam yang menggerayangi kaki mereka, hancur dan tidak lagi keluar dari dalam tanah.
"Huuhhh...!"
"Syukurlah mereka tidak muncul lagi, kalau tidak kita akan mati lemas karena kelelahan."
Siska mengucap syukur sembari menarik nafas lega, pertarungan dengan mahluk kiriman Asih sangat menguras emosi dan tenaga. Wira tidur berbaring di tanah, tepat dekat Siska yang duduk sambil menegak botol minumnya.
"Hehehe... "
"Anak muda sekarang lembek, tidak seperti masa muda kami dulu, cepat lelah, bagaimana kalau kalian harus turun naik gunung untuk mengambil air di lembah tiga kali sehari?"
Pakde Jarwo terkekeh, mengejek Wira dan Siska yang terlihat hampir kehabisan nafas. Olokan pakde Jarwo, menggoda telinga Wira, dia segera bangun dan duduk, lalu ikut tertawa sembari menggaruk kepalanya.
"Sepertinya orang seperti pakde harus mengajar kami di pusat latihan militer, agar orang orang muda macam kami ini tetap tangguh dalam segala kondisi, meski di usia senja."
Wira bersrloroh, membalas candaan pakde Jarwo. Untuk sejenak suasana menjadi cair. Mereka bisa menurunkan ketegangan untuk beberapa saat.
"Hari sudah semakin sore, kita harus cari rumah untuk berlindung. Saya merasa desa ini masih belum aman, sebaiknya tetap waspada."
"Kita tidak tahu ada kejutan apa selanjutnya."
__ADS_1
Mbah Wongso mengajak mereka bergerak, aura desa itu masih sangat tidak nyaman bagi mereka. Wira segera mencari rumah yang paling besar untuk berlindung malam ini. Dia tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali.