Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 25 Gangguan Gaib


__ADS_3

Tomy buru buru memarkirkan mobil tepat di halaman rumah kepala desa, sementara Wira bergegas membuka bagasi untuk mengambil peralatan, senjata, dan perbekalan mereka.


Dari belakang rumah, Darmanto berlari tergopoh menghampiri mereka, dalam hati pemuda lugu itu terbersit rasa kesal, karena Wira dan Tomy parkir tanpa izin, kepada tuan rumah terlebih dahulu.


"Heh anda ini siapa, parkir di pekarangan rumah orang, kok tanpa permisi!"


Wira segera sadar kalau apa yang mereka lakukan kurang sopan, diapun langsung jalan mendekati Darmanto untuk sekedar menyapa dan memperkenalkan diri.


"Maaf sebelumnya mas, saya Wira, dan ini Tomy kami berudua dari kepolisain kota Surabaya. Adapun maksud kedatangan kami kemari, sebenarnya ingin menyusul Siska, teman saya yang sudah lebih dulu datang ke desa ini."


"Tepatnya, dia tersesat sampai masuk ke desa kalian."


Wira menjelaskan maksud kedatanganya ke desa sembari menunjukkan kartu tanda anggota polisi kepada Darmanto. Seketika raut wajah pemuda itu jadi lembut, bibirnya menyungging senyum ramah kepada Wira.


"Oh pak polisi ini temannya mbak Siska, beliau sudah berangkat menuju hutan, dari setengah jam yang lalu. Kalau bapak mau mengejar sekarang, mungkin masih sempat bertemu di batas hutan."


Darmanto menjelaskan situasinya kepada Wira, lalu tanpa basa basi, perwira muda itu meminta Darmanto mengantarkan mereka ke hutan yang dimaksud.


Sesuai perkiraan Darmanto, mereka sampai di batas hutan tepat waktu. Siska sedang berdiri di pintu masuk rimba, bersama dengan dua orang laki laki tua. Mereka adalah mbah Wongso dan kepala desa yang sedang melakukan ritual sebelum masuk hutan.


"Itu mereka pak polisi!"


"Dari sini bapak bapak bisa menyusul mbak Siska, saya hanya bisa mengantar sampai disini saja."


"Permisi."


Darmanto segera membalik punggungnya, lalu pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. Wira mengeleng gelengkan kepalanya. Sikap pemuda desa itu dirasa ganjil, tapi Wira tak ingin ambil pusing. Mereka bergegas menghampiri Siska untuk segera bergabung.


"Apa yang sedang dilakukan orang ini Sis?"


Tomy bertanya sembari berbisik di telinga Siska. Bintara muda itu keheranan, dengan tingkah laku mbah Wongso yang berdiri komat kamit sambil memejamkan matanya.


"Heh Siska kamu dengar saya, orang tua itu sedang apa?"


"Ssstt.. Diam...!"


"Jangan berisik, beliau itu adalah mbah Wongso sesepuh desa, semacam juru kunci hutan ini."


Siska meminta Tomy agar tidak berbicara keras saat mbah Wongso sedang membaca mantra. Bintara muda itu langsung mengerti, lalu menganggukkan kepala, sembari meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


"Kita akan masuk sekarang, tapi saya ingatkan lagi kepada kalian semua, untuk berhati hati, jaga sikap, pikiran, dan emosi."


"Mereka sedang tidak berkenan menerima mahluk lain, jadi saya ingatkan kembali untuk tidak melamun, dan jaga perilaku saat melintasi hutan ini."


Usai berdoa mbah Wongso mengingatkan kembali sejumlah pantangan. Wira dan kawan kawan menganggukkan kepala, sebagai tanda bahwa mereka sudah faham arti pantangan tersebut.


Mulai memasuki hutan, suasana alam seketika berubah total, sinar matahari yang terik seolah olah tak kuasa menembus rimbun pepohonan purba yang menjulang tinggi.

__ADS_1


Hening, sunyi, dan dingin, dirasakan semua orang yang berada di hutan kala itu. Siska segera merapat memeluk lengan Wira yang kekar. Dia mulai merasakan aura yang tidak biasa dari tengah hutan. Mereka seperti sedang diawasi banyak pasang mata yang tersembunyi.


Ramai tapi tak nampak, itulah yang dirasakan semua orang. Siska terkenang kembali saat dirinya pertama kali keluar hutan. Perasaan yang sama kini ia rasakan lagi.


Wira merasakan lengannya dicengkram dengan sangat kuat, karena merasa tak nyaman Wira melepaskan pelukan tangan Siska, kemudian menggadengnya.


"Hawa di hutan ini agak aneh, suasanya juga tidak biasa, seprtinya kita sedang berada di alam yang berbeda."


"Dari tadi saya tidak melihat, satu ekor binatang yang berkeliaran di hutan, apakah ini normal terjadi mbah?"


Tomy bertanya untuk memulai percakapan, tapi tak seorangpun mau menanggapi ucapannya. Semua orang bungkam menyimpan perasaan masing masing. Di hutan itu mereka jelas tidak sendiri. Ada mahluk lain yang mengawasi setiap langkah mereka.


Di dalam hati sebenarnya Tomy tidak suka berada di hutan yang kental dengan aura mistik. Ada rasa gentar yang bergelayut, tapi dia enggan untuk mengatakannya.


Sudah cukup jauh rombongan kecil itu berjalan, namun tempat yang mereka tuju tak kunjung terlihat. Wira melihat jam tangan, namun waktu seakan berhenti berputar.


"Jam ini masih berputar normal, tapi kenapa jarum jam tidak bergeser, tetap sama seperti waktu kali pertama kami masuk ke hutan?"


Wira mulai merasakan ada kejanggalan dalam perjalanan mereka. Dari sudut mata Wira bisa melihat sosok bayangan hitam, tinggi besar, mengintip di balik pohon. Dia segera berbisik kepada Siska untuk selalu waspada dan membaca doa semampunya.


Tiba tiba saja mbah Wongso menghentikan langkah kaki, sepertinya alam sedang memberi tanda hadirnya yang tak kasat mata.


"Semuanya tolong waspada, konsentrasi, dan jangan biarkan pikiran kalian kosong. Apa lagi sampai terbersit rasa takut, mahluk mahluk ini sengaja menteror mental kalian agar mereka menjadi lebih kuat."


Mbah Wongso memperingatkan, tiba tiba cuaca berubah, angin berhembus kencang, setiap orang bisa mendengar suara gemerincing lonceng yang mulai mendekat, Mbah Wongso melafatkan doa, sementara Siska, Tomy, dan Wira merapat satu sama lain.


"Hidup ini melelahkan Siska, lebih baik kamu tinggal disini bersama nenek, disini rumah kita. Tempatnya enak, semua yang kamu inginkan akan segera terkabul."


"Kamu hanya perlu meletakkan moncong senapan di leher kemudian semuanya selesai, kita akan tinggal disini selamanya."


Suara itu memang mirip dengan suara neneknya, tapi Siska sadar kalau neneknya telah lama meninggal.


Dengan buru buru Siska melepaskan genggaman tangan Wira yang sedari tadi menggandengnya, Dia segara menyumpal telinga dengan jari telunjuk, namun suara itu seperti ada dalam otaknya, dan tak mau hilang.


"Aaaaaaaa.."


Siska menjerit histeris lalu ambruk menggelepar di tanah, suasana seketika jadi kacau balau. Gangguan astral makin datang bertubi tubi meneror mereka, Tomy yang sedari awal merasa tidak nyaman, jadi semakin panik.


Emosi bintara muda itu benar benar tidak terkontrol. Tomy terpancing dengan amarah yang memuncak. Karena kesal ia melepas tembakkan ke udara, seraya berteriak menantang.


"Door... Door...!"


"Hey demit, keluar kalian semua, hadapi saya!"


"Jangan hanya berani mengganggu wanita, kalau kalian berani hadapi Tomy...!"


Tomy berteriak lantang menantang para penghuni hutan. Dia terus saja sesumbar, berteriak seperti telah kehilangan akal sehat. Wira yang tidak ingin hal buruk terjadi, segera menarik kerah baju Tomy.

__ADS_1


"Plak.. Plak...!"


Jaga ucapanmu Bo**h!"


"Mereka yang ada dihadapan kita bukan manusia yang bisa mati dengan pelurumu "to**l...!"


"Tenanglah sedikit, jangan membuat masalahnya jadi semakin runyam..!"


Wira emosi membentak dan menampar wajah Tomy dengan sangat keras. Dia mendorong anak buahnya itu, hingga membuat Tomy jatuh terjengkang ke belakang. Kepala desa cepat cepat menarik lengan Wira sembari memintanya untuk tenang.


"Sudah pak Wira, jangan diteruskan, lebih baik kita bantu doa agar mbak Siska bisa cepat disadarkan."


Wira menarik napas panjang beberapa kali agar emosinya mereda. Untuk pertama kalinya perwira tampan itu lepas kendali. Matanya melotot menunjuk wajah Tomy.


"Sekali lagi kamu berulah, aku buat kau jadi penunggu hutan ini, faham...!"


Mendengar sumpah serapah Wira yang mengerikan, nyali Tomy langsung ciut seketika, dia menunduk sembari meraba pipinya yang merah terkena tamparan.


Sementara itu mbah Wongso meminumkan sebotol air mineral kepada Siska yang masih kelojotan belum sadarkan diri. Mulut kakek tua itu komat kamit membaca doa, dan kemudian suasana hutan berubah jadi riuh bergemuruh.


Suasana hutan yang suram mendadak, jadi terang benderang. Binatang hutan yang dari awal tidak mereka temui, kini ricuh bersaut sautan. Mbah Wongso bangkit dari duduk lalu mengacungkan keris milik leluhur desa sembari mengatakan sesuatu dalam bahasa jawa.


"Kami hanya ingin lewat berikan jalan, atau perjanjian antara leluhur kami dengan kalian akan batal."


"Lancang kau Wongso, berani beraninya kamu mengancam kami."


Tiba tiba suara berat menggeram tampa wujud menggema memenuhi seisi hutan. Mbah Wongso mundur beberapa langkah, lalu sosok tinggi besar berbulu berdiri mengangkangi mereka.


"Maaf mengganggu ketenangan ki Maung, saya hanya ingin mengantar mereka menuju sebrang, tolong berikan jalan agar kami bisa melewati hutan."


"Baik, aku berikan kalian jalan, tapi bocah itu harus tinggal."


Mahluk tinggi besar yang di sebut ki Maung menunjuk Tomy, dia menginginkan polisi muda itu sebagai tumbal, namun mbah Wongso menolak halus, dia tidak ingin ada tumbal nyawa dari mereka.


"Maafkan kecongkakan anak itu ki Maung, saya berjanji ini tak akan terjadi lagi."


Mbah Wongso terus membujuk ki Maung dengan berbagai macam tawaran, agar mahluk penguasa hutan mau mengalah, dan mengizinkan mereka menyebrangi hutan.


"Begini saja ki Maung, izinkan kami melewati hutan ini, dan saya berjanji tidak akan ikut campur lagi apabila ada warga desa yang melanggar batas."


"Baiklah Wongso, yang aku pegang adalah janjimu, kelak dikemudian hari jika mereka melanggar, aku akan langsung mengambil jiwa mereka."


Kemudian Wira, kepala desa, dan Tomy langsung diperlihatkan sosok sosok jiwa yang tersesat. Mereka berdiri mengelilingi dengan wajah pucat, tatapan kosong, dan mulut yang menganga.


Wira menutup mata, sekujur tubuhnya terasa kaku. Pemandangan dihadapan mereka sungguh miris, Pria, wanita, dan anak anak, mereka semua adalah orang orang yang tersesat.


Kini mereka tinggal selamanya disana menjadi bagian dari hutan itu. Hutan Wingit yang turun temurun menjadi legenda suram dalam sejarah desa.

__ADS_1


__ADS_2