Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya


__ADS_3

Teror yang menimpa warga kota membuat polisi jadi kelimpungan. Mereka di buat gerah karena setiap hari, ada saja laporan orang yang hilang di malam hari, lalu ditemukan tewas saat pagi datang.


"Suasana kota kian tidak kondusif, aku khawatir Siska akan mendapatkan teror serupa. Jika apa yang dikatakan Ronggo Joyo benar, maka Siska hanya menunggu giliran saja."


Wira termenung di meja kerja, otaknya masih memikirkan ucapan Ronggo Joyo, soal Siska yang sudah ditandai oleh Asih.


"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, lebih baik mencegah sebelum terjadi."


Wira keluar dari ruang kerjanya dan langsung menghampiri Siska yang saat itu sedang sibuk merapikan surat surat.


"Sis, ikut saya ke ruangan, kita harus bicara."


Siska tidak menjawab, tapi langsung bangkit dari duduknya dan segera mengikuti Wira dari belakang.


"Apa yang terlalu serius, sampai kita harus bicara empat mata di ruangan komandan?"


Tanpa basa basi Siska langsung menanyakan maksud Wira memanggilnya ke ruangan. Wira segera menutup pintu dan memperisilahkan Siska untuk duduk.


"Kamu pasti sudah dengar tentang rumor teror vampir?"


Wira membuka percakapan dengan mengangkat isue vampir yang ramai menjadi pergunjingan warga. Mendengarnya Siska jadi tersenyum tipis, dalam benak polwan itu, Wira telah termakan isue yang menyesatkan.


"Bapak serius percaya dengan teror vampir?"


Siska bertanya sembari menyungging senyum lebar di bibir, seolah olah dia ingin mengolok olok atasannya itu.


"Bukan soal vampir yang ingin saya bicarakan dengan kamu. Tapi ini soal keselamatanmu."


Seketika raut wajah Siska berubah jadi lebih serius. Dia mengira ngira maksud ucapan Wira soal vampir dan keselamatan nyawanya.


"Kalau soal keselamatan, bapak tidak usah khawatir. Tomy cukup bisa diandalkan pak."


Siska coba berseloroh untuk mencairkan suasana yang mulai tegang. Sedang Wira masih memilih kata yang tepat untuk menjelaskan situasinya.


" Dengar Sis, yang saat ini berkeliaran di luar itu, bukan sosok vampir, melainkan Asih, titisan iblis yang telah membantai semua simpatisan sekte Sandikala di rumah tua malam itu."


"Kamu pasti ingat sosok wanita yang kita lihat malam itu."


Siska mengenang lagi peristiwa di rumah kosong ujung aspal. Kenangan buruk yang sangat ingin ia lupakan. Peristiwa malam kelam, yang nyaris merenggut nyawanya, dan menyebabkan Linda terkena gangguan mental.

__ADS_1


"Perempuan seram bergaun putih yang memakan jantung anggota sekte Sandikala?"


Mendadak wajah Siska menjadi pucat pasi, dia nyaris menjerit, namun Wira segera mencegah dengan memberi isyarat agar polwan cantik itu menurunkan volume suaranya.


"Iya wanita itu, wanita yang mengambil alih raga Linda, dan sekarang menteror warga kota."


Seketika bulu bulu tipis di tangannya berdiri, tengkuk Siska terasa dingin, masih tampak jelas di ingatan Siska, bagaimana sosok wanita seram itu berkelebat, memanjat dinding, lalu dalam sekali lompatan menerkam, satu demi satu anggota sekte Sandikala.


"Saya dapat info valid dari sumber yang bisa di percaya, orang itu mengatakan kalau tidak hanya Linda yang ia inginkan, tapi juga kamu."


"Asih sudah menandai kamu, Sis."


Siska tertunduk lesu, wajahnya mendadak berubah jadi murung. Dia tidak menduga, kalau teror terhadapnya belum berakhir.


"Lalu bagaimana pak?"


"Untuk sementara waktu, sebaiknya kamu tinggalkan kota ini Sis."


Wira coba menenangkan Siska, sambil memberi saran agar Siska meninggalkan kota, dan tinggal di desa bersama dengan pakdenya.


"Menurut saya, kamu akan lebih aman bila tinggal dengan pakde Jarwo. Setidaknya beliau tahu apa yang harus dilakukan untuk menjagamu."


Siska tahu betul sepak terjang Asih di malam itu.


Hanya sekejap mata, dan puluhan atau bahkan mungkin ratusan orang tewas seketika dibantai oleh Asih.


Hanya pertolongan Tuhan yang membuat mereka luput dari maut. Namun Asih tidak memilih orang, dia menyasar siapa saja untuk menghilangkan rasa dahaga akan darah.


"Sebaiknya kamu berangkat pagi ini, dengan kawalan beberapa anggota. Saya sudah mengatur izin cutimu sampai satu minggu ke depan."


Wira segera meminta beberapa anggota untuk menemani Siska pulang, berkemas, dan sesuai rencana, Siska akan berangkat menuju desa tempat tinggal pakde Jarwo.


"Tapi bagaimana dengan bapak dan juga Linda?"


Siska masih sempat mengkhawatirkan Wira dan Linda. Dia tahu betul kalau mereka juga target Sandikala. Apalagi sekarang Linda sedang berada dibawah kendali Asih.


"Kamu tidak usah khawatirkan saya, apapun caranya saya akan membinasakan Asih. Sekte Sandikala dan wanita itu, harus membawayar kontan semua perbuatanya kepada para gadis yang telah menjadi tumbal."


Wira menebalkan rahangnya, rasa marah dalam dada membuatnya mengambil keputusan, akan bekerja sama dengan Ronggo Joyo.

__ADS_1


Segera setelah Sisika pergi dengan kawalan beberapa anggota polisi. Wira pun menghubungi Ronggo Joyo. Dia memastikan kalau mereka berdua akan bekerja sama untuk menyingkirkan Asih dan menutup portal antar dimensi.


"Semoga kali ini semuanya berhasil."


Wira bergumam penuh harap. Di bawanya buku tua yang diberikan Ronggo Joyo dan segera pergi menuju satu tempat yang di pilih oleh pengacara keluarga Wijaya itu.


Sedangkan di tempat berbeda Leo Hadi Wijaya tampak gusar, dia menelepon semua kolega, dan para pembesar sekte Sandikala untuk mencari tahu keberadaan Ayahnya.


"Kemana semua orang saat aku membutuhkan mereka!"


Leo Hadi Wijaya tampak sangat panik, hatinya kacau tak karuan, beberapa kali dia berusaha menghubungi orang orang terdekat, tapi semua sia sia, tak ada orang yang mengetahui dimana keberadaan Anton Wijaya.


Pagi itu Rumah megah milik Anton Wijaya sangat lengang. Satu peristiwa mistis telah terjadi di sana. Leo menyaksikan security, dan para pelayan di rumah ayahnya bergelimpangan di lantai dengan kondisi warna bola mata putih, dan mulut mereka menganga.


Sedangkan Anton Wijaya tidak di temukan berada di rumah utama, ataupun bangunan dibelakang rumah yang sering digunakan untuk ritual. Mobil mobil mewah milik Anton Wijaya juga masih berjajar rapi di garasi. Artinya Direktur Naga Jaya Group itu tidak pergi kemana mana.


Sempat terlintas dalam benak Leo, kalau ayahya di jemput seseorang dan pergi dengan mobil orang tersebut, tapi mustahil rasanya Anton Wijaya pergi tanpa pengawalan, sebab meskipun sosoknya di segani, Anton Wijaya juga memiliki banyak musuh.


Sepenajang pengetahuan Leo, selama ini Ayahnya tidak pernah meninggalkan rumah tanpa diikuti beberapa pengawal. Anton Wijaya juga tak terbiasa menggunakan moda transportasi umum seperti taxi atau kendaraan umum lainnya.


Empat pengawal pribadi Anton Wijaya ternyata juga ditemukan tewas, di depan kamarnya. Tentu hal ini dirasa ganjil oleh Leo Hadi Wijaya. Berkali kali dia coba menghubungi Ronggo Joyo, namun selalu gagal.


Orang kepercayaan Anton Wijaya itu tak biasanya sulit dihubungi, apalagi di saat genting seperti ini. Leo sempat berpikiran buruk tentang sosok Ronggo Joyo. Terbersit dalam pikirannya, kalau pria yang sudah dianggap saudara kandung oleh ayahnya, telah tega berkhianat.


Tapi Leo buru buru menampik pikiran buruk itu dari otaknya, sebab dia mengenal sosok Ronggo Joyo sebagai pribadi yang berkarakter. Pria yang akrab dipanggilnya om itu, akan selalu berdiri di depan untuk membela keluarga Wijaya.


"Apa semua ini?"


"Untuk kedua kalinya, pertahanan rumah Ayah bisa diterobos."


Belum habis rasa penasaran di benak Leo Hadi Wijaya, tiba tiba sudut matanya menangkap sekelebat bayangan hitam melayang menembus dinding.


"Apa ini ulah bunda Ratu?"


"Tidak mungkin, kami yang telah menghidupkan dia kembali. Tak mumgkin rasanya bila wanita itu mengkhianati, apalagi sampai menculik ayahku."


Hari itu benar benar menjadi hari yang terburuk dalam hidup Leo Hadi Wijaya. Setelah kepergian sang ibu, Leo tak ingin lagi kehilangan sosok ayah.


Leo terpaksa melaporkan kejadian ini kepada polisi. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, Anton Wijaya tiba tiba menghilang, dan semua orang yang bekerja di rumahnya juga tewas dengan cara tak wajar.

__ADS_1


__ADS_2