Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bqb 54 Kematian Anton Wijaya


__ADS_3

Kemunculan Anton Wijaya di rumah besar milik saudagar di desa, seperti tamparan keras untuk Wira. Bagaimanapun kematian Rina adalah hasil campur tangan Anton Wijaya. Ada rasa dendam yang berkecamuk di hati Wira, namun untuk saat ini dia harus mengesampingkan ego demi keselamatan bersama.


Mereka berdua lari menembus gelapnya malam, udara dingin, dan kabut, seperti tidak terasa lagi.


Wira berhenti di sebuah rumah kecil di tepian sungai. Dia menerobos masuk, dan meminta Siska untuk menunggu di luar.


Siska menuruti saja ucapan komandannya. Polwan cantik itu berdiri di teras sambil mengawasi kondisi sekitar. Setelah dirasakan aman, Wira keluar rumah lalu menyuruh Siska masuk ke dalam untuk bersembunyi.


"Kamu tunggu disini sampai pagi datang, kalau ada apa apa, segera lompat ke sungai melalui jendela di kamar belakang."


"Arusnya memang agak deras, tapi saya yakin kamu pasti sanggup berenang ke sebrang."


"Kalau sampai pagi kami tidak datang kemari, kamu pulang ke Surabaya, minta bantuan kepada pak Boris, biarkan beliau yang melobi markas besar, untuk mengirimkan bantuan."


"Saya akan kembali ke desa untuk menolong mbah Wongso, dan pakdemu. Semoga saja mereka bisa mengatasi Anton Wijaya."


Siska hanya mengangguk, tanpa memberikan jawaban. Setelah meletakkan ranselnya di atas meja, dia langsung menuju kamar belakang yang dimaksud Wira.


Siska melongokkan kepalanya melihat keluar jendela. Setelahnya Siska pergi melihat pintu dapur, yang ternyata memiliki akses ke ladang jagung.


"Pak Wira memang sangat pintar mencari tempat bersembunyi, semoga saja tidak ada zombie atau mahluk astral yang mengendus keberadaanku di rumah ini."


Siska membatin, mengusir rasa takut di dalam hatinya. Sementara Wira segera berpamitan, lalu meninggalkan Siska sendirian di rumah kecil itu.


"Kamu tenang saja Sis, saya selalu ada disini."


Suara Linda cukup membuat hati Siska menjadi tenang. Dia segera melangkah ke depan untuk melepas kepergian atasanya. Wira pergi hanya berbekal belati emas di tangan. Dengan hati hati, Wira berlari menyusuri jalan setapak.


Setelah setengah jam berlari, Wira bisa melihat rumah besar, tempat mbah Wongso dan pakde Jarwo bertahan. Dia mempercepat langkah kaki, tapi secara tiba tiba suara geraman mayat hidup terdengar dari halaman rumah.


"Sial zombie zombie itu masih ada. Tandinya ku pikir mereka telah musnah di telan bumi, tapi ternyata masih banyak lagi disini."


Wira segera menghentikan langkah kakinya dan bersembunyi. Dari balik pohon Wira mengintip, lalu menghitung jumlah zombie, sambil mencari celah agar bisa melewati kawanan zombie yang sepertinya sedang kelaparan.


Dia berjalan pelan memutar, berharap tidak ada zombie yang menyadari keberadaannya. Tapi naas kaki Wira justru menginjak sebuah ranting. Suara kakinya berhasil membuat para zombie bereaksi.


"Sialan, kenapa aku harus menginjak ranting di waktu genting begini."


Wira menggerutu sambil menepuk dahinya. Sementara itu para zombie yang mengetahui keberadaan Wira, segera berlari memburu ke arahnya.


Wira melangkah mundur bererapa meter ke arah semak belukar, lalu cepat cepat mengambil beberapa buah batu, kemudian melemparkanya ke berbagai arah.


Kawanan Zombie berpencar, lari mengejar ke arah suara batu, tipuan Wira ternyata cukup efektif untuk mengecoh para zombie. Tak ingin kehilangan kesempatan, Wira segera berlari ke samping rumah.


Ternyata Sepray yang digunakan Wira untuk kabur, masih terikat di tiang balkon. Tanpa pikir panjang Wira bergegas memanjat ke atas. Pintu kamar ternyata masih terkunci rapat.


Wira segera masuk kamar berniat memantau situasi di dalam rumah, tapi sentuhan kasar di pundak, membuat Wira repleks mengayunkan belati dan segera memutar tubuhnya.


"Astaga pakde Jarwo, saya kira siapa, kenapa pakde masih ada di sini?"


Ayunan belati Wira nyaris melukai pakde Jarwo, tapi pria tua itu masih gesit menghindar, walau saat ini, Wira melihat keadaan pakde Jarwo tidak baik baik saja.


"Apa yang terjadi pakde, dimana mbah Wongso?"


Wira mencecar pakde Jarwo dengan beberapa pertanyaan, tapi pria tua itu enggan menjawab, dia memberi isyarat kepada Wira agar naik ke atap rumah. Sampai di atas, barulah pakde Jarwo membuka suara.


"Ki Wongso disana, dia sedang terluka, tadinya beliau berhasil membuat selimut kabut untuk menghalangi pengelihatan mereka."


"Semua berjalan lancar, kami berhasil menipu mereka. Untuk beberapa menit angota sekte Sandikala tidak dapat mengetahui keberadaan kami."

__ADS_1


"Ki Wongso meminta bantuan mahluk penguasa alas untuk membuat dinding ilusi, supaya kami berdua punya kesempatan untuk melarikan diri. Tapi iblis itu lebih cerdik. Dia lebih kuat dari yang kami kira. Mahluk penguasa alas yang dipanggil Ki Wongso dapat di bunuh dengan mudah."


Mendengar penuturan pakde Jarwo, sontak Wira jadi tertekun. Perlahan polisi tampan itu, mulai memahami situasi mereka. Wira akhirnya sadar akan sesuatu hal.


Sejak awal tujuan iblis mengirim Anton Wijaya memang ingin membunuh pakde Jarwo dan mbah Wongso. Mereka sangat faham kalau tanpa kedua pria tua itu, Wira tidak akan mampu berbuat apa apa.


Di mata Asih Wira bukanlah sosok ancaman yang harus mereka khawatirkan. Itu sebabnya Wira dan Siska bisa kabur dengan mudah. Sebaliknya pakde Jarwo dan mbah Wongso sengaja di kurung, agar lebih mudah untuk dibunuh.


"Jika mereka bisa mengetahui keberadaan kita, lalu mengapa mereka belum datang kemari?"


"Bukankah sekarang mereka akan lebih mudah untuk membunuh kita pakde?"


Wira coba melogika situasi, menurutnya keadaan ini sangat ganjil, sebab jika Anton Wijaya dapat menembus pagar gaib, dan bisa dengan mudah menghancurkan ilusi dari bangsa mereka sendiri. Maka seharusnya tidak ada tempat yang aman bagi Wira untuk sembunyi saat ini. Tapi nyatanya mereka sekarang berada di atap, dan aman dari serangan.


"Mereka bukan tidak tahu kita lari ke atap Wir, sebelum kamu datang kemari, kami sudah bertarung. Itu sebabnya ki Wongso terluka."


"Alasan kenapa mereka tidak memburu ke atas, karena belati dan paku emas yang kamu bawa. Mereka takut belati emas akan menyedot energi hitam, lalu melemahkan mereka. Paku emas akan mengikat roh, lalu dengan membuka gerbang neraka mereka akan dapat ditarik kembali ke alamnya."


Pakde Jarwo menjelaskan secara gamblang, tentang keadaan mereka sekarang. Wira dibuat terkesima, dia baru tahu kekuatan belati emas yang diwariskan Ronggo Joyo.


"Saya tidak menyangka kalau, belati ini punya kekuatan magis yang bisa membuat iblis takut mendekat."


"Lalu apa rencana pakde selanjutnya, kita tidak mungkin bertahan disini, sejujurnya saat ini saya mengkhawatirkan Siska."


Pakde Jarwo baru ingat kalau saat ini Wira datang seorang diri, tanpa Siska. Wajahnya seketika jadi panik. Dia tahu betul kalau Asih sangat menginginkan Siska dan Linda sebagai cangkangnya.


"Kenapa kamu bisa ceroboh begitu Wira, nyawa anak anak itu lebih penting dari kami. Kalau wanita titisan iblis itu bisa mengambil sukma keduanya, tumbal malam purnama merah akan di lengkapi dengan memakan jiwa mereka."


"Kekuatan iblis itu akan sempurna besok malam, dan kita pasti akan kesulitan melawan mereka Wir!"


Wira sangat kaget mendengarnya, dia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Selama ini yang ada dalam pikiran Wira, ancaman Asih hanya untuk menteror mentalnya.


Tapi ternyata anggapan itu keliru. Asih memang ingin menjadikan Siska dan Linda sebagai wadah cangkang, lalu memakan jiwa mereka untuk menyempurnakan tumbal agar kekuatannya sempurna.


"Kalau begitu kita harus segera kembali ke rumah di tepi sungai sekarang juga pakde."


"Mbah Wongso biar saya yang menggendong, pakde gunakan belati ini untuk melindungi kami, apa pakde sanggup?"


Pakde Jarwo berpikir keras, dahinya berkerut, dia memang mengkhawatirkan Siska, tapi keadaan mbah Wongso tidak memungkinkan untuk bertarung lama saat ini.


"Sudah tidak apa apa Jarwo, kamu tidak usah pikirkan saya, kalau memang terpaksa, buka saja gerbang neraka sekarang daripada wanita iblis itu mengambil keponakanmu."


"Saya masih sanggup untuk menyeret mereka, biarkan Wira yang akan mengunci iblis itu, dan kamu yang mengunci gerbangnya, dengan ini kekuatan mereka jadi tinggal separuh karena semua perewangannya telah kita tarik ke tempat asalnya."


Mereka bertiga telah bersepakat, pakde Jarwo memberikan pil herbal racikannya kepada mbah Wongso agar menambah tenaga seniornya itu. Setelah memeriksa keadaan mbah Wongso, pakde Jarwo melakukan ritual membuka gerbang neraka.


Mbah Wongso komat kamit, seperti sedang bersenandung. Setelahnya kedua pria tua itu melukai telapak tangan masing masing, lalu menggunakan darahnya untuk menuliskan sesuatu dengan aksara jawa kuno.


Wira membaca doa dalam hati, dan belati emas miliknya kembali bersinar. Tanpa berlama lama Wira melompat ke halaman yang penuh dengan zombie. Badannya melayang seperti kapas, mengundang zombie datang menyergap.


Tak lama berselang pakde Jarwo menyusul dia langsung melompat dan menggebrak tanah. Tiba tiba gempa bumi kembali terjadi, tanah terbelah membentuk lingkaran kawah yang semakin lebar.


Seketika ratusan zombie terperosok masuk ke jurang kawah neraka, dan menyisakan kurang dari setengah jumlah mereka.


Mbah Wongso menulis sesuatu di keris, lalu mengangkatnya ke langit. Tiba tiba saja sura guntur bergemuruh di angkasa, ternyata mbah Wongso melakukan ritual untuk membangkitkan korin pendamping yang lama telah tertidur dalam dirinya.


Sekarang Mbah Wongso sudah melebur jadi satu dengan korinya. Tubuh tua rentanya, kini telah berubah menjadi lebih tinggi, kekar, dan berotot. Dia melompat ke halaman, lalu menantang iblis yang menguasai raga Anton Wijaya.


Entah dari mana datangnya, tapi Anton Wijaya dan anggota sekte Sandikala telah mengepung mbah Wongso. Tubuh Anton Wijaya juga sudah bermutasi, otot ototnya mengeras, kuku kuku jarinya memanjang, dan dari tulang punggung Anton Wijaya tumbuh sayap sayap lebar yang segera melindungi tubuhnya.

__ADS_1


Penampakan Anton Wijaya sekarang jadi lebih seram. Perawakannya mirip manusia serigala yang bersayap. Mereka saling berhadapan dan


tanpa basa basi Anton Wijaya segera memulai serangan.


Pukulan dan tendangan mematikan dilayangkan secara berutal. Tapi Mbah Wongso yang telah bersatu dengan korinnya, dapat menghindari serangan fatal Anton Wijaya dengan sangat mudah.


Jual beli pukulan terus terjadi, Mbah Wongso dan Anton Wijaya terbang melayang di udara sambil melayangkan tinju masing masing.


Di sisi lain Wira mengamuk menyerang para zombie, yang kini hanya tersisa sedikit saja, dia bergerak lincah memancing para zombie mendekati lubang kawah, dan satu persatu gerombolan zimbie berhasil di giring masuk ke dalam lubang.


Setelah berhasil melumpuhkan para zombie, Wira bergegas membantu pakde Jarwo. Dengan cepat mereka berhasil mengimbangi anggota sekte Sandikala yang sebelumnya, berhasil membuat pakde Jarwo terdesak.


"Tusuk kepalanya dengan paku paku emas yang saya berikan Wira!"


Teriakan pakde Jarwo, kontan membuat Wira panik. Pasalnya paku paku emas itu tertinggal di dalam ransel yang dibawa Siska. Dia lupa untuk membawanya.


"Celaka aku lupa membawa paku paku itu, bagaimana sekarang?"


Pakde Jarwo membaca gelagat kurang baik dari bahasa tubuh Wira. Dia langsung bisa menebak kalau Wira tidak membawa paku paku yang ia berikan. Artinya pertarungan akan berlangsung lama, mereka harus berusaha keras untuk menarik kekuatan hitam yang menguasai tubuh anggota sekte Sandikala.


"Gawat, kalau begini caranya kita semua pasti akan mati. Kecuali Ki Wongso bisa menarik iblis itu masuk ke lubang kawah neraka."


Pakde Jarwo mulai kelelahan, energinya hampir terkuras habis. Sementara anggota sekte yang menyerangnya tetap terlihat bugar dan tidak terlihat lelah.


"Pak Wira, ini pakunya!"


Tiba tiba saja Siska datang melempar kantung hitam yang berisi paku emas di detik detik yang sangat genting. Wira segera menangkap kantung yang di lempar ke arahnya, lalu dengan sigap mengikat kantung hitam itu di pinggangnya.


Keadaan mulai berbalik, dengan bantuan Siska, mereka mulai menguasai keadaan. Pakde Jarwo mengucap mantra sementara Siska dan Wira berusaha keras mencari celah agar mereka bisa menancapkan paku di ubun ubun anggota sekte Sandikala.


Menjelang subuh Wira memiliki peluang untuk menancapkan paku paku emas di kepala anggota sekte Sandikala. Fajar sebentar lagi akan segera terbit, mereka jadi melemah dan lengah.


Kesempatan emas itu dipergunakan Wira untuk menyerang dan menancapkan paku di kepala anggota sekte Sandikala. Dan akhirnya satu demi satu mereka tumbang. Wira berhasil mengunci kekuatan iblis yang merasuk.


Dengan sigap pakde Jarwo menarik aura hitam yang melekat di tubuh anggota sekte Sandikala. Satu persatu aura hitam pekat yang berbentuk siluet berhasil di ikat dengan mantra. Sekarang yang tersisa hanya Anton Wijaya.


Wira berinisiatif mengambil alih serangan, Mbah Wongso tampaknya sudah terlalu payah karena lukanya. Pakde Jarwo segera menarik mbah Wongso keluar dari pertarungan. Sedangkan Wira dan Siska menyerang Anton Wijaya bersamaan.


"Sekarang waktunya kamu membayar dosa dosamu kepada mereka yang telah kalian tumbalkan!"


Wira berteriak, lalu menyerang Anton Wijaya secara membabi buta, keadaan itu jelas saja membuat pakde Jarwo khawatir. Dia langsung menegur Wira agar tidak menggunakan emosi saat bertarung melawan iblis.


"Tekan emosimu Wira, iblis paling suka memakan energi marah, apa lagi nafsu amarahmu, disertai rasa dendam."


"Amarahmu itu hanya akan membuatnya semakin kuat Wira."


Ucapan pakde Jarwo, menyadarkan Wira. Polisi tampan itu segera menarik diri, untuk meredakan emosi dan nafsu membunuhnya. Untuk beberapa saat Wira merenung. Tapi Anton Wijaya terus memprovokasi Wira dengan kata kata yang membakar hatinya.


"Kenapa berhenti Wira, ayo maju bunuh aku. Bukankah kamu ingin balas dendam?"


"Balaskan dendammu Wira, aku yang telah mengirim santet kepada kekasihmu, aku juga yang memerintahkan penyiksaan kepada Wahyu."


"Hahaha..."


Wira memejamkan matanya dan duduk pasrah di tanah, kesempatan itu digunakan Anton Wijaya untuk menyerang Wira. Melihat potensi bahaya, Siska segera berlari menghadang serangan untuk melindungi Wira.


"Matilah kau iblis, pulanglah keasalmu di kerak neraka."


Siska memejamkan matanya bersiap menerima pukulan Anton Wijaya. Dia sudah pasrah jika harus berkorban. Tapi Siska di buat terkejut karena setelah membuka mata, ternyata tubuhnya baik baik saja tak kurang satu apapun.

__ADS_1


Malah sebaliknya Anton Wijaya tersungkur di tanah dengan mata melotot dan tubuhnya kembali normal. Siska segera sadar kalau suara teriakan yang dia dengar adalah suara milik Wira.


Komandannya itu berhasil menusukkan belati emasnya ke jantung Anton Wijaya, dan segera menyegel kekuatan iblis yang bersemayam di raganya dengan paku emas yang ditancapkan di ubun ubun kepala Anton Wijaya.


__ADS_2