Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 32 Aku Kembali


__ADS_3

Sudah satu minggu Wira berada di di villa meninggalkan tugas tugasnya di kepolisian. Boris beberapa kali menghubungi agar Wira segera kembali ke Surabaya. Atasan Wira itu khawatir bila ketidak hadiran Wira dalam tugas akan jadi sorotan.


Wira memang akan segera kembali ke Surabaya. Ternersit dalam pikirannya untuk mengunsurkan diri dari kepolisian, usai menuntaskan masalah pribadinya dengan sekte Sandikala.


"Yah, besok pagi Wira akan kembali ke Surabaya. Om Boris sudah tiga kali mengirim pesan."


Wira membuka obrolan di meja makan, ayahnya segera menghentikan suapan terakhir, lalu konsentrasi mendengarkan ucapan Wira.


"Kamu akan kembali ke Surabaya?"


"Iya yah, tidak enak meninggalkan kantor terlalu lama, meskipun sebenarnya Wira sudah mengambil cuti."


Ayah Wira tidak menjawab, pria tua itu bangkit dari duduknya lalu bernjak menuju kamar. Tak berapa lama dia sudah kembali dengan sebendel berkas ditangannya.


"Ini file tentang Sandikala, kamu bisa melacak kegiatan mereka dari file file yang sudah ayah kumpulkan."


Wira membuka file yang diberikan ayahnya. Dia melihat swderwt nama, lokasi, dan sebuah kotak kosong di puncak struktur organisasi sekte Sandikala yang telah di beri tandaingkaran merah oleh ayahnya.


"Apa maksud lingkaran merah ini yah?"


Ayah Wira mengamati lagi berkas yang dipegang Wira. Pikirannya berkelana ke era tahun sembilan puluh saat dia dan Boris menyelidiki kasus Sandikala.


Waktu itu mereka berhasil membongkar kasus penculikan terbesar di masanya. Penculikan para gadis yang disiapkan sebagai inang mahluk tak kasat mata, sempat menggegerkan warga kota.


Ayah Wira saat itu masih menjadi Kapolrestabes sedang Boris masih bintara muda yang selalu ikut dalam operasi yang dilakukan ayah Wira.


Satu ketika terjadi penculikan gadis gadis dan balita yang membuat warga resah, hingga tak seorangpun berani beraktifitas di atas jam sembilan malam.


Kejadian itu sontak mengundang rasa penasaran di benak ayah Wira, sehingga ia berinisiatif untuk menyelidiki kasusnya.


Belakangan penyelidikan itu membuahkan hasil. Ayah Wira dan jajarannya berhasil menangkap seorang wanita ningrat yang diduga melakukan praktek pesugihan dengan tumbal para gadis muda.


Semua bermula dari sebuah kasus laka lantas. Kala itu Ayah Wira bersama Boris tengah patroli mengelilingi kota Surabaya. Mereka berdua ingin memastikan keadaan kota benar benar aman.


Naas bagi mereka, karena seorang gadis muda tertabrak mobil patroli hingga terluka sangat parah. Ayah Wira terkejut, dia cepat cepat turun untuk memberikan pertolongan, namun sayang jiwanya sudah tidak tertolong lagi.


Sebelum menghembuskan nafas terakhir gadis malang itu sempat berbisik sembari menunjuk ke sebuah bangunan berpagar besi menyerupai sebuah pabrik garmen.

__ADS_1


"Tolong mereka pak.."


"Orang orang itu akan menjadikan para gadis sebagai tumbal dan inang dari anak iblis."


Bisikan lirih dari gadis yang sekarat itu, telah menggugah nurani ayah Wira. Dia ingin mencari bukti kebenaran ucapan gadis yang tewas dalam kejadian laka lantas yang melibatkan dirinya.


Dan setelah lama merenung. Selang satu minggu dari peristiwa laka lantas tersebut, ayah Wira memerintahkan Boris untuk mengawasi gerak gerik karyawan pabrik.


Boris mengamati bangunan itu siang dan malam. Sampai satu saat Boris menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sosok wanita paruh baya dengan kebaya ungu naik ke sebuah mobil hitam.


Boris mengikuti mobil tersebut, yang ternyata menuju sebuah tempat penampungan para gadis yang ingin menjadi TKI. Boris menyelinap masuk dan berhasil mengetahui bahwa para gadis di penampungan yang berkedok yayasan telah dijanjikan pekerjaaan di sebuah pabrik.


Namun belakangan Boris mengetahui bahwa para gadis yang direkrut wanita ningrat itu, tidak dipekerjakan di pabrik, melainkan mereka di sekap di ruang bawah tanah dan di persiapkan untuk menjadi inang bagi mahluk yang akan menitis.


Setelah cukup bukti ayah Wira beserta jajaranya bergerak mengepung pabrik garmen, kemudian menangkap semua orang yang ada di dalamnya.


Saat itu mereka menggeledah rumah besar yang terletak di belakang bangunan pabrik. Dan dari sana mereka mendapatkan fakta bahwa rumor tentang gadis gadis yang menghilang karena telah diculik adalah benar adanya.


Para gadis itu telah tewas sebagai tumbal dari sekte sesat yang menamai dirinya sebagai Sandikala.


Di belakang rumah besar nan mewah itu polisi menemukan banyak kuburan tanpa batu nisan dan setelah di gali, ternyata dari hasil otopsi diketahui bahwa mereka semua adalah orang orang yang dilaporkan hilang.


Wanita itu diduga adalah pendiri sekte sesat Sandikala, mamun namanya tidak tercantum dalam daftar susunan pengurus ataupun anggota, sehingga ayah Wira mencurigai dia adalah otak dari segalanya.


Itu alasan mengapa Ayah Wira memberi tanda lingkaran pada kotak kosong paling atas dalam daftar nama anggota sekte Sandikala.


"Ayah belum sepenuhnya yakin Wir, tapi insting Ayah mengatakan Sitarasmi adalah pemimpin sejati dari sekte Sandikala."


"Lalu bagaimana dengan wanita itu yah?"


"Apa dia dipenjara juga?"


Wira penasaran dengan sosok Wanita ningrat bernama Raden Ayu Sitarasmi Ronggo Wijoyo. Entahmengapa, dengan menyebut nama wanita itu saja Wira merasakan bulu kuduknya merinding, seolah olah nama itu memiliki daya magis yang kental.


"Dia sempat ditahan selama beberapa bulan, hakim memberikan vonis ringan karena pengadilan tidak memiliki keyakinan, bahwa wanita paruh baya itu merupakan otak dari sekte Sandikala."


"Dari fakta persidangan terungkap bahwa rumah dan pabrik memang miliknya, namun sudah hampir sepuluh tahun propertinya itu di sewa orang lain."

__ADS_1


"Yang luput dari perhatian kami adalah sosok remaja berusia enam belas tahun yang tengah mengadung."


"Karena fokus melakukan penangkapan, dan penggalian makam, kami jadi lupa dengan keberadaan gadis remaja itu."


"Meski sudah lama berlalu, hingga saat ini ayah masih saja mengkhawatirkan sosoknya."


Wira memicingkan matanya, ucapan ayahnya menimbulkan tanda tanya besar dalam hati Wira. Dari ucapan sang ayah, Wira menangkap satu hal ganjil.


Dia merasa aneh, bagaimana polisi bisa sangat ceroboh, dengan mudah melupakan kehadiran sosok remaja muda yang mungkin saja bisa jadi saksi kunci.


"Benar benar ceroboh!"


Wira bergumam lirih, kemudian menyambung pertanyaan kepada ayahnya. Wira tak sabar menggali lebih banyak lagi.


"Lantas apa yang ayah khawatirkan tentang gadis itu?"


"Gadis itu dalam keadaan hamil tua Wir, ayah terlambat menyadari sosoknya. Waktu ayah sadar dan mencarinya, dia sudah menghilang, dan anehnya tidak ada orang yang tahu kapan dia meninggalkan rumah itu."


"Jujur saja Ayah curiga kalau bayi dalam kandungannya, bukanlah manusia biasa, melainkan bayi titisan iblis."


Mendengarkan ucapan ayahnya Wira terperajat. Dia baru sadar tentang para gadis yang akan menjadi inang mahluk gaib. Wira baru tahu kalau ayahnya dan Boris mengetahui terlalu banyak tentang Sandikala.


Pantas saja Boris melarang Wira mengambil kasus ini. Ternyata kasusnya sangat kompleks. Wira lalu membayangkan jika gadis itu selamat dan melahirkan anaknya.


"Anak itu pasti sudah berusia dua puluh tahun, jika ia lahir dengan selamat."


Wira merinding memikirkanya, dia tak bisa membayangkan kalau ditengah tengah mereka ada manusia setengah iblis yang berkeliaran diantara jutaan msnusia.


Mendengarkan kisah ayahnya Wira jadi makin tertarik untuk meyelidiki kasus Sandikala. Sekarang motifnya tidak hanya mengenai dendam, tapi juga mebongkar aktor utama dari berdirinya Sekte Sandikala, dan kemungkinan adanya anak iblis diantara mereka.


"Terima kasih yah, sekarang Wira tahu dari mana mengawali penyelidikan ini."


Wira memeluk erat sang ayah, dia merasa lebih lega sekarang. Keputusannya untuk pulang tidak sia sia, selain melepas rindu dengan keluarga, dari sosok sang Ayah, Wira mendapatkan banyak pencerahan. Langkahnya jadi kian mantap untuk segera menuntaskan kasus Sandikala.


Pagi hari usai sarapan, Wira berpamitan kepada Ayah, ibu dan adiknya. Dia juga minta maaf karena penyelidikan kasus sekte Sandikala telah kembali menyeret keluarganya dalam lingkaran setan yang mungkin saja bisa merenggut nyawa mereka.


"Wira pergi dulu, jaga kesehatan, dan tetap aman."

__ADS_1


Wira masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan tanda perpisahan. Orang tua Wira membalas lambaian tangan Wira sambil terus melayangkan pandangan ke arah Wira, sampai akhirnya mobil itu perlahan hilang dari pamdangan mereka.


__ADS_2