Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
55 Mantra Cermin


__ADS_3

Langit hitam perlahan mulai berubah menjadi warna jingga, fajar sebentar lagi akan terbit, pakde Jarwo bergegas membantu mbah Wongso untuk duduk bersila, mata pria tua itu tertutup lalu melafalkan sebuah mantra. Mereka berdua segera menuntaskan ritual akhir untuk menarik energi hitam yang menyelimuti desa.


Setelahnya, Mbah Wongso membuat mantra segel, lalu dengan sisa sisa tenaga terakhir, dia melepas korin yang ada di dalam tubuh. Korin itu keluar memisahkan diri dari raga mbah wongso. Kemudian duduk bersila disebelahnya.


Mereka tampak seperti saudara kembar identik, tapi kemudian korin mbah Wongso semakin lama membentuk siluet hitam yang sangat besar, lalu dengan sekali cengkram, korin itu menarik energi jahat yang merasuk di tubuh Anton Wijaya, dan anggota sekte Sandikala.


Suara raungan terdengar memecah kesunyian. Korin mbah Wongso menarik entitas yang telah di ikat mantra oleh pakde Jarwo. Dia memaksa mereka masuk ke dalam lubang kawah neraka. Lalu Bersamaan dengan itu, pakde Jarwo segera melafal mantra untuk menutup gerbang.


Gempa bumi kembali terjadi, tanah menutup, dan kedua pria tua itu ambruk setelahnya. Dari Mulut mbah Wongso mengalir darah segar. Mereka berdua pingsan tepat saat ritual selesai.


Wira yang awam dengan hal hal mistis tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Dia hanya memeriksa denyut nadi, dan jantung mereka, lalu membawa kedua tubuh renta itu ke dalam rumah, kemudian membaringkannya di kamar yang berbeda.


Setelah itu di bantu Siska, Wira kembali keluar untuk merapikan halaman. Keadaan pekarangan rumah sangat kacau. Mayat mayat anggota sekte Sandikala berserakan di mana mana. Wira segera pergi ke area kebun, dia menggali beberapa buah lubang dan memakamkan mereka.


"Semoga saja tidak ada lagi orang orang yang meniru jejak mereka. Sekte ini sudah banyak mengorbankan nyawa yang tak berdosa."


Wira menancapkan batu sebagai penanda pada setiap makam. Dia memberi tanda khusus untuk makam Anton Wijaya agar lebih mudah di kenali, bila satu saat nanti ada pihak keluarga yang bertanya ataupun ingin memindahkan makamnya.


Tanpa terasa matahari sudah semakin tinggi, Wira memutuskan untuk membersihkan diri, lalu segera mengisi perutnya yang mulai terasa lapar. Siska segera memasak makanan untuk mereka. Usai mandi dan makan siang, Wira bergegas masuk ke kamar untuk memeriksa kondisi pakde Jarwo dan mbah Wingso.


Di luar dugaannya pakde Jarwo telah sadar dari pingsan dan saat ini sedang duduk bermeditasi untuk memulihkan tenaga dalamnya yang habis karena membuka gerbang neraka.


Wira tidak ingin mengganggu konsentrasi pakde Jarwo, karenanya Wira segera pergi menuju kamar tempat mbah Wongso berbaring. Ternyata Pria tua itu masih belum sadar, Wira memeriksa denyut nadinya, dan menghela nafas lega, kondisi mbah Wongso lebih baik, meskipun belum sadar.


"Sepertinya ritual membuka gerbang neraka, memang bukan ritual sembarangan, hanya orang orang bernyali besar dan punya kemampuan seperti mereka, yang sanggup melakukannya."


"Pantas saja ritual ini terlarang untuk dilakukan, karena bila gagal mereka juga akan mati tertelan."


Siska mendekati Wira yang sedang melamun, berbicara pada dirnya sendiri. Polwan cantik itu penasaran melihat sikap komandannya yang menurut Siska cukup aneh.


"Bapak lihat apa, kok dari tadi saya perhatikan hanya berdiri melamun di depan mbah Wongso?"


Wira terkejut lalu menoleh ke arah Siska, dia memberi isyarat kepadanya untuk keluar dari kamar. Setelah itu mereka duduk di ruang tamu untuk membahas apa yang telah mereka lewati semalam.


"Keadaan ini jujur saja membuat saya setres, apa tidak sebaiknya kita mundur dulu Sis?"


"Sebenarnya saya tidak enak hati kepada beliau berdua. Mereka sampai terluka parah karena terlibat dalam kasus ini."

__ADS_1


Wira meminta pendapat Siska, soal pertarungan melawan Asih. Hari ini adalah malam bulan purnama darah, orang awam biasa menyebutnya fenomena Red moon.


Tepat tengah malam nanti, kekuatan Asih dan Sitarasmi akan mencapai puncaknya, tapi kondisi pakde Jarwo dan Mbah Wongso justru terbalik, mereka sedang berada pada titik terendah saat ini.


Melihat kenyataan ini Wira jadi khawatir, dia tidak ingin lagi jatuh korban jiwa, oleh karena itu Wira memutuskan akan menarik diri, sambil mencari jalan lain untuk membunuh Asih. Tapi ternyata Siska menolak dengan bebrapa alasan.


"Jika kita mundur sekarang, mahluk titisan iblis itu, akan menteror warga, dan apa yang terjadi disini, bukan tidak mungkin akan merembet hingga ke kota pak."


"Jadi sebaiknya misi kita teruskan saja, apapun resikonya. Lagi pula waktu Linda akan semakin sempit, hanya tinggal satu bulan lagi, sebelum dia benar benar tiada."


Siska bersikeras untuk melanjutkan misi, walau saat ini kondisi pakdenya sedang tidak dalam keadaan prima untuk melanjutkan pertempuran. Wira berpikir kembali, di satu sisi ucapan Siska memang benar, namun di sisi lain, dia tidak ingin memaksakan kondisi mereka.


Saat ini keadaan pakde Jarwo dan mbah Wongso jelas sudah terlalu lelah, bahkan mbah Wongso sedang terluka, meskipun Wira tidak tahu berapa parah kondisinya, tapi yang jelas saat ini sesepuh desa itu tegolek lemah tak sadarkan diri.


Wira tidak mungkin mengandalkan mereka saat ini, karena itu dia ìngin mundur, sambil mencari jalan keluar terbaik. Tapi belum sampai Wira mempertegas ucapannya tiba tiba saja pakde Jarwo keluar kamar dan mengatakan sesuatu yang membuat Wira berada dalam di lema.


"Kita akan terus melanjutkan perjuangan ini, gendrang perang sudah ditabuh, bukan saatnya untuk gentar sekarang. Meskipun harus mati, perang ini harus kita menangkan!"


Ucapan pakde Jarwo membuat Wira benar benar terharu, meskipun merasa dirinya agak egois, tapi akhirnya Wira harus setuju dengan pakde Jarwo. Dia tidak mau di cap sebagai pengecut.


Wira coba menganalisa, tapi pakde Jarwo hanya menjawabnya dengan isyarat kelingking, yang artinya peluang mereka untuk menang akan tetap ada meskipun sekecil jari kelingking.


Pakde Jarwo masuk ke kamar tempat mbah Wongso terbaring, ternyata pria tua itu juga sudah sadar dan sedang bermeditasi. Wira tersenyum lega, kedua pria tua itu memang sangat tangguh.


Pakde Jarwo duduk di belakang mbah Wongso untuk menyalurkan tenaga dalam. Setelah itu pakde Jarwo memberi obat untuk diminum. Pelan pelan mbah Wongso mulai segar, Siska memberikan bubur kepada mereka.


"Kami ini bukan bocah Siska, kenapa kamu tidak masak nasi saja, kalau begini mana bisa kenyang."


Pakde Jarwo protes, tapi Siska hanya tersenyum, sembari membawakan dua gelas air minum. Dia mengambil tempat duduk di tepi ranjang lalu mengatakan sesuatu yang membuat mereka semua jadi tertawa.


"Orang kalau sudah tua, akan kembali jadi bocah pakde. Bubur ini bagus untuk pencernaan, lagi pula kalau terus makan yang keras keras nanti giginya ompong lho."


"Sudah jangan protes lagi, dimakan saja buburnya sampai habis ya!"


"Nanti kalau nggak habis di gondol wewe lho.."


Sambil tersenyum Siska berseloroh mengolok olok gigi pakdenya yang memang beberapa buah sudah tanggal. Pakde Jarwo terkekeh, mengingat kata kata Siska.

__ADS_1


Dulu saat Siska masih kecil, pakde Jarwo sering mengatakan kalimat serupa kepada Siska. Dia sering menakuti keponakannya itu, apabila Siska sedang malas makan atau merajuk minta dibelikan gula gula.


"Anak itu masih mengingatnya, walau sudah puluhan tahun berlalu."


Pakde Jarwo menyeka matanya yang berkaca kaca. Usai menghabiskan makan siang, dan beristirahat untuk memulihkan tenaga, dia mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan.


Hanya tinggal menempuh waktu dua jam berjalan kaki, mereka akan sampai di rumah tua yang di kenal sebagai rumah kosong ujung aspal.


Sesuai perkiraan, tepat pukul lima belas mereka sampai di ujung jalan beraspal, artinya hanya lima ratus meter lagi mereka akan sampai di rumah yang di kenal angker oleh warga sekitar.


Wira mengajak mereka beristirahat sebelum masuk ke halaman rumah kosong ujung aspal. Mbah Wongso dan pakde Jarwo menggunakan kesempatan itu untuk membaca lagi isi buku kuno peninggalan Ronggo Joyo. Setelahnya mereka mendiskusikannya berempat.


Mereka memikirkan rencana cadangan jika nanti rencana yang telah mereka susun ternyata gagal. Pakde Jarwo menemukan sebuah cara untuk mengalahkan Asih. Dia berniat akan mengurung Asih dalam dimensi ruang, jika usaha mereka membunuh Asih gagal.


"Kita sudah menggunakan gerbang neraka, dan Ki Wongso sudah melepaskan korin pendamping untuk menyeret kekuatan jahat kembali ke alam bawah, sudah tak mungkin lagi untuk melakukan ritual yang sama untuk ke dua kalinya."


"Jadi menurut saya, satu satunya cara untuk mengalahkan Asih adalah dengan mengurung iblis itu di ruang kosong batas antar dua dimensi."


Wira masih bingung dengan penjelasan pakde Jarwo. Ruang kosong apa yang dimaksudnya, lalu bagaimana melakukan semua itu, sementara dia dan Siska tidak mengerti makna simbol dari aksara jawa yang dibaca pakde Jarwo.


"Di buku ini ada sebuah mantra yang biasa digunakan untuk mengurung ruh dalam cermin. Mereka akan terpenjara diruang kosong batas antar dimensi, setelah ritual mantra berhasil."


"Menurut hemat saya, mantra ini adalah cara yang paling tepat sebagai rencana cadangan bila nanti kita tidak berhasil membunuh Asih."


"Cuma ada satu kelemahan disini. Setelah kita mengurungnya, semua cermin di rumah itu harus dihancurkan, jika tidak, dia akan dapat bebas dari cermin dengan perantara orang lain.


"Iblis itu akan dangan mudah memanipulasi pikiran, apalagi kepada orang yang jiwanya lemah. Biasanya orang suka berlama lama di depan cermin, dan Asih akan memanfaatkan itu untuk bertukar tempat."


"Jadi setelah kita berhasil mengurungnya, kita harus menghancurkan semua cermin di rumah itu, lalu memasang mantra untuk menyegel rumah agar tidak ada orang yang menemukan lagi tempat itu."


Penjelasan pakde Jarwo, terasa masuk akal bagi Wira, tapi dia tidak ingin memilih opsi itu, karena terlalu beresiko. Wira khawatir kalau suatu saat nanti akan ada orang orang yang tanpa sengaja menemukan rumah dan merusak segel.


"Membayangkannya saja aku tidak berani, bagaimana bila itu benar benar menjadi kenyataan?"


"Tidak... tidak, ini tidak boleh terjadi, aku harus berhasil membunuh Asih dan Sitarasmi apapun yang terjadi."


Wira menguatkan tekadnya. Dia berniat membunuh Asih meskipun nyawanya akan menjadi taruhan.

__ADS_1


__ADS_2