Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 60 Kematian Mbah Wongso


__ADS_3

Wira dan mbah Wongso berlari menembus kabut, penampakan hutan mati tak lagi terlihat. Mereka telah berada di ruang altar. Aura jahat semakin kental terasa. Wira merapat membelakangi mbah Wongso. Suara tawa seorang wanita menyambut kehadiran mereka.


"Selamat datang di istana kami pak polisi. Senang sekali melihat orang orang yang berani mengantar nyawanya sendiri kemari."


"Hahahaha..."


"Jangan khawatir kami menyambut kalian, aku akan membuat kematianmu akan lebih mudah pak tua!"


Suara wanita itu terdengar mengancam, untuk sesaat nyali Wira menciut, tapi dia segera sadar, kalau teror hanya akan membuat dirinya lemah, dan iblis menjadi lebih kuat. Wira mengeluarkan pistol yang terselip di pinggang. Susah payah ia mengumpulkan keberanian.


"Kami memang datang menantang maut untuk sekedar menunjukkan bahwa kami lebih mulia dari kalian. Jadi jangan pongah, keluar dari persembunyianmu dan akan ku buat kalian semua menyesal mencari perkara dengan kami!"


Mbah Wongso balik menantang, dia sengaja membuat para lelembut murka dan menyerang dirinya. Dengan ini dia berharap pakde Jarwo bisa segera merogoh sukmo, lalu menyelinap ke ruang bawah tanah tempat raga Linda terpasung.


"Keluar dari persembunyian mu kanjeng ratu Sitarasmi, bukankah mereka yang sesat sangat mengagunggkan kehebatanmu?"


"Jadi apa yang mereka banggakan, jika ternyata ratunya hanya mahluk lemah yang bersembunyi?"


Mbah Wongso terus saja sesumbar, dengan sengaja membuat gerah para penghuni rumah kosong ujung aspal. Wira yang mendengar kata kata angkuh mbah Wongso, merasa akan ada hal buruk yang segera terjadi.


Wira menggenggam erat, dua senjata ditangan, dan yang dia takutkan segera menjadi kenyataan. Mendadak suasana di ruang altar berubah jadi dingin. Angin bertiup kencang, suara lonceng disertai aroma busuk yang menyengat tiba tiba menyeruak.


"Wesst... !"


Sebuah bayangan hitam pekat menyambar, Wira menunduk menghindari serangan, mbah Wongso gesit mengambil ancang ancang dengan sebuah golok pusaka, dia menebas bayangan hitam yang terus menyambar.


Mendadak ruang altar menjadi ramai sesak, oleh mahluk mahluk astral yang mengepung mereka. Mbah Wongso segera menabur garam untuk memagari diri.


Mahluk mahluk astral itu berkerumun, berebut ingin menyerang mereka. Wira berdiri merapat melindungi mbah Wongso yang tengah sibuk berkonsentrasi.


Lalu tiba tiba tubuh mbah Wongso membelah diri. Beberapa perwujudan mbah Wongso berdiri memagari tubuh asli. Perang astralpun terjadi, benturan energi saling beradu menimbulkan sura keras yang memekakkan telinga.


Wira tak ingin berpangku tangan dia melompat masuk ke arena pertempuran sedang mbah Wongso tetap berada dalam lingkaran, fokus dengan mantranya.


"Sial kau manusia, berani beraninya kalian mengusik kami."


Sosok Sitarasmi kemudian muncul dari tuang gelap lantai dua. Sosoknya melayang ke arah Wira dan langsung mencekik lehernya. Tubuh Wira terangkat, melayang di udara, Sitarasmi membanting tubuh Wira hingga terhempas jatuh di lantai.


"Akghk...!"

__ADS_1


Wira mengerang kesakitan, tulang punggungnya terasa remuk, darah mengalir dari sudut bibir. Wira coba bangkit, tapi lagi lagi tangan Sitarasmi berhasil mencengkram kepala Wira.


"Beettt...."


Golok mbah Wongso menyabet tangan Sitarasmi, seketika tubuh Wira terlepas dan iblis wanita itu mengerang memegang lengan kanannya yang nyaris putus.


"Aaaaahkk...!"


"Dukun berengsek... akan aku robek dadamu dan ku ***** jantungmu!"


Mbah Wongso tersenyum sinis, melihat Sitarasmi yang akhirnya muncul dari kegelapan di lantai dua. Wira yang berhasil lolos dari maut, segera bangkit dan melemparkan sebuah paku emas yang mengenai leher Sitarasmi. Berikutnya Wira segera menghucamkan belati emas, memberikan serangan telak kepada wanita Iblis itu.


"Hahaha..."


"Hanya seperti ini saja kekuatan pusaka mu anak muda?"


Sitarasmi mencabut paku dilehernya dan seketika semua lukanya tertutup tak berbekas. Sitarasmi memburu mbah Wongso, dan mencekik lehernya, lalu melemparkan pria itu ke tiang penyangga altar. Beruntungnya mbah Wongso memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, dengan repleks yang sangat baik, dia berhasil mendaratkan kaki ke arah tiang beton, kemudian balik menyerang.


Untuk kali ini serangan di lakukan serentak. Mbah wongso melemparkan goloknya yang disambut serangan dari belakang oleh Wira.


"Akghk...!"


Mahluk mahluk astral yang menyadari bahaya mengancam junjungan mereka, dengan segera menyerang Wira. Mbah Wongso tak ingin Wira gagal. Pria tua itu segera menghadang serangan yang menyerbu. Dan mbah Wongso ambruk di lantai bersamaan dengan Wira yang berhasil menyegel Sitarasmi dengan paku emas di ubun ubun kepalanya.


"Mbah... Mbah Wongso, bangun mbah...!"


Wira memeluk tubuh mbah Wongso yang seperti hangus terbakar. Dada pria tua sesepuh desa itu menghitam, mulutnya mengeluarkan darah kental kehitaman, sambil terbata bata mbah Wongso lalu membisikkan sesuatu kepada Wira.


"Batu mustika yang ada di dalam sakumu, adalah warisan leluhur dari era Singasari, gunakan benda itu untuk membunuh Asih."


Setelah menyelesaikan ucapannya, tubuh mbah Wongso menjadi kaku, pria tua itu tutup usia dalam pelukan Wira.


"Mbah.. mbah... mbah Wongso, bangun mbah, kita akan selesaikan ini sama sama, saya akan antar mbah Wongso pulang ke desa."


Wira mengguncang tubuh mbah Wongso, berharap pria itu akan membuka matanya. Tapi mbah Wongso sama sekali tak bergerak, Wira hanya bisa memeluk tubuh mbah Wongso sembari mengucapkan terima kasih, kepada tubuh lemah yang di peluknya.


"Terima kasih mbah telah mbantu kami sejauh ini, saya tidak tahu apa yang akan terjadi, bila mbah tidak turun tangan membantu."


Wira menyeka air matanya, lalu teringat dengan mustika yang diberikan Ronggo Joyo sewaktu mereka masuk ke alam ruh. Entah bagaimana mbah Wongso bisa tahu tentang mustika itu. Dia sendiri bahkan tak ingat sama selali dengan mustika yang disimpan di saku kiri bajunya.

__ADS_1


Tepat sebelum kematiannya, Ronggo Joyo berpesan agar memggunakan belati mas dan batu mustika untuk membunuh Asih di hari sial mereka.


Hari ini di akhir hidupnya, mbah Wongso juga mengatakan hal yang sama. Wira meletakkan tubuh pria itu, lalu merogoh saku kiri bajunya. Dia membuka kain hitam yang membungukus batu mustika.


"Apa sebenarnya guna batu mustika ini?"


Wira memandang batu berwarna merah yang berkilau di tangannya. Lalu membungkusnya kembali. Setelah mendoakan mbah Wongso Wira meletakkkan jasad pria itu di atas meja altar, lalu bergegas naik menuju lantai dua untuk mencari keberadaan Asih.


Sementara itu pakde Jarwo, Siska, dan Linda sudah berhasil menyelinap ke ruang bawah tanah, Pakde Jarwo segera menyerahkan Linda yang berbentuk bola energi kepada Siska, Dia kemudian berpesan agar mengembalikan gadis itu ke dalam raganya begitu mereka punya kesempatan.


"Lepaskan Linda dari botol begitu mahluk itu lengah, pakde akan mengecoh mereka, dan kamu bawa Linda keluar dari sini."


Pakde Jarwo memberi arahan terakhir kepada Siska, sebelum ia berhadapan langsung dengan dua mahluk berbentuk kelelawar. Siska bergegas lari kembali naik ke atas dan lalu bersembunyi, sedang pakde Jarwo melanjutkan langkahnya turun ke bawah. Dia akan memancing mahluk yang menjaga raga Linda agar pergi menjauh


Mahluk mahluk yang telah mengetahui ada peyusup yang mendekat, langsung menyerang ke arah pakde Jarwo. Pria itu hanya bertahan sambil menangkis serangan.


Perlahan Pakde Jarwo berlari naik menuju ke atas, sambil sesekali dia juga melancarkan pukulannya untuk memancing kedua mahluk kelelawar agar fokus menyerangnya. Siska yang bersembunyi di dekat pintu menuju tangga ke lantai bawah, menanti peluang untuk masuk ke ruang bawah tanah.


"Sekarang Siska...!"


Siska bergegas berlari menuruni tangga, setelah mendengar isyarat dari pakde Jarwo. Mahluk kelelawar yang sadar telah terkecoh dengan serangan, akan kembali mengejar Siska, namun pakde Jarwo berusaha menghalanginya.


Pertempuran sengit terjadi, benturan energi saling bertemu, menimbulkan efek ledakan keras bak halilintar. pakde Jarwo memberikan perlawanan sekuat tenaga, sementara dua mahluk itu, sangat bernafsu ingin membunuhnya.


Siska berhasil sampai ke bawah tanah, dia segera menembak rantai rantai yang membelenggu jasad Linda. Setelah berhasil memutuskan rantai, Siska mengangkat tubuh Linda yang lemah dan terlihat sangat kurus.


"Bertahanlah Lin, sebentar lagi kamu akan kembali ke dalam raga ini, dan semuanya akan kembali seperti dulu."


Siska membuka tutup botol berisi bola energi yang cahanya semakin redup. Dia memasukkan ujung botol ke dalam mulut Linda, dan asap putih masuk memenuhi rongga mulut.


Tak lama kemudian tubuh Linda menegang matanya melotot, mulutnya menganga lebar, Siska memeluk tubuh ringkih Linda, dan yang terjadi kemudian membuat Siska menangis haru.


"Kita dimana Sis, tempat ini agak gelap, apa yang terjadi disini."


Siska melepaskan pelukannya, lalu menyaka air mata yang tanpa sadar tumpah membasahi pipinya. Meski Linda tidak ingat yang telah terjadi, tapi Siska cukup senang karena Wartawan cantik itu masih mengingat namanya.


"Syukurlah kamu sudah kembali. Kita akan segera keluar dari sini. Badanmu bau sekali, sudah lama tak mandi rupanya."


"Habis ini kita akan mandi, terus ke salon, dan perawatan ya Lin."

__ADS_1


Linda yang masih lemah hanya bisa tersenyum menempelkan dahinya di dahi Siska. Setelahnya Siska menggendong wartawan cantik itu di punggung lalu perlahan mereka berjalan naik ke atas.


__ADS_2