Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
59 Mencari Jasad Linda


__ADS_3

Pakde Jarwo bangkit dari duduk setelah cukup lama bermeditasi. Dadanya yang terkena sambaran cakar mahluk bungkuk sudah tak lagi terasa panas. Wira membantu orang tua itu untuk berdiri. Setelah sedikit berdiskusi, Mereka berdua sepakat untuk meneruskan perjalanan mencari keberadaan Asih.


Pohon besar yang ditunjuk Wira, sudah berada didepan mata. Mereka berjalan pelan sambil mengawasi kondisi sekitar. Pertemuan mereka dengan mahluk bungkuk, masih menyisakan sedikit trauma di pikiran Wira.


Dengan hati hati Wira dan pakde Jarwo berjalan melewati delapan buah pohon besar yang berdiri membentuk sebuah gapura. Pemandangan aneh kembali tersaji di depan mata.


Di dalam benak Wira, setelah melewati gapura mereka akan sampai di dalam rumah kosong ujung aspal, namun perkiraannya ternyata salah. Bukan rumah tua yang mereka temui, melainkan hamparan luas hutan mati dengan puluhan makam tua berlumut berada di sekitarnya.


Jantung Wira seketika berdegup kencang, pengalaman buruk saat bertarung melawan kawanan zombie masih melekat diingatannya. Wira segera mengikat kembali belati emas di tangan kanannya, kali ini dia tak ingin ceroboh.


"Hutan ini tandus, pohon pohonnya mengering tanpa daun, seperti baru saja terkena awan panas dari letusan gunung berapi."


"Makam makam itu sepertinya sangat mirip dengan makam kuno yang pernah aku lihat di alam ruh. Apakah ini tempat yang sama?"


"Atau jangan jangan, tempat ini terhubung kesana?"


Wira membatin, berbicara pada dirinya sendiri. Penampakan hutan mati itu sangat mirip dengan hutan di alam ruh. Wira terkenang kembali saat Ronggo Joyo membimbingnya memasuki gerbang dimensi astral.


Ketika itu Wira melewati makam kuno, sama persis dengan makam yang dia lihat sekarang.


Perbedaanya hutan di gerbang dimensi astral, ditumbuhi pohon pohon besar yang daunnya sangat lebat, sedangkan di tempatnya berdiri saat ini, pohon pohon itu kering seperti hangus terbakar.


"Hati hati Wira, jangan pernah melamun ditempat seperti ini, akan sangat berbahaya jika kamu tidak fokus!"


"Tempat ini mungkin saja jebakan, jadi lebih baik kamu waspada dan tetap fokus."


Suara pakde Jarwo segera menyadarkan Wira dari lumunan, dia kembali memperhatikan jalan sembari sesekali menengok ke belakang. Tiba tiba saja mata Wira menangkap bayangan bola


energi yang melayang melintas di atas kepala mereka.


Wira yang penasaran mengejar bola cahaya putih yang melayang di atas kepala mereka. Pakde Jarwo terdiam sejenak, kemudian memejamkan matanya, ia seperti mengenali bola cahaya yang berada di depan wajahnya.


"Linda, kenapa kamu bisa berada disini ndok?"


Ucapan pakde Jarwo kontan saja membuat Wira terkejut, baru saja pakde Jarwo menyebutkan nama Linda, gadis wartawan yang ingin selali dia selamatkan.


" Kamu Linda?"


Wira masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Bola cahaya itu kemudian membesar, membentuk siluet sosok seorang wanita yang dia kenal.


" Iya pak, ini saya Linda, disini rumah mereka, sebaiknya kalian cepat cepat pergi dari sini, sebelum si kembar jelek itu datang kemari, dan menangkap kita."

__ADS_1


"Si kembar jelek, siapa yang kamu maksud Lin?"


Wira kembali bertanya tentang si kembar jelek yang dimaksud Linda. Di pikirannya, tempat itu dihuni banyak sosok selain dua mahluk bungkuk yang telah membuat pakde Jarwo nyaris kehilangan nyawanya.


"Kembar jelek yang tadi menyerang kalian, mahluk itu buta, tapi pendengarannya sangat peka pak."


Wira terperanjat, mahluk kembar jelek yang di maksud Linda, ternyata dua sosok bungkuk yang telah menyerang mereka. Wira segera sadar, jika sosok yang telah menyelamatkan nyawa mereka adalah Linda. Gadis itu yang telah mengecoh kedua mahluk bungkuk, sehingga menjauh dari Wira dan pakde Jarwo.


"Sebaiknya kita bergegas, saya akan pandu kalian ke tempat mbah Wongso sekarang."


Mereka segera mengikuti Linda yang kini telah kembali dalam wujud entitas. Wira dan pakde Jarwo berlari sembari waspada mengedarkan pandangan matanya.


Tak lama berselang mereka telah sampai di sebuah batu besar, tempat Mbah Wongso berada. Sesepuh desa itu terlihat sedang berusaha menyembuhkan Siska.


"Kalian berkelana kemana saja, sampai gadis itu harus menjemput?"


"Hati hati dengan langkah kaki anda pak polisi, jangan sampai menginjak dan merusak garis lingkaran itu, mereka bisa mencium keberadaan kita disini."


Wira menoleh ke sekelilingnya, tapi dia tak merasakan energi astral disana. Sejak tadi mereka berlari, tapi semua baik baik saja, tak satupun mahluk yang menyerang, sejak mahluk bungkuk itu meninggalkan mereka.


"Sepertinya daerah ini cukup aman mbah, dari tadi kami tidak melihat kehadiran mahluk astral yang menyerang kami."


Wira meminta penjelasan kepada mbah Wongso, karena ada hal ganjil yang sejak tadi ia pikirkan. Mbah Wongso tersenyum tipis, seolah olah dia sudah mengerti isi pikiran Wira.


"Sebentar lagi cahaya hidupnya akan padam, dia akan benar benar meninggal, bila tubuh gadis itu tidak segera kita ketemukan."


Wajah wira mendadak jadi murung mendengar perkataan mbah Wongso. Dia menatap Linda dengan tatapan nanar. Cahaya bola energi itu memang lebih redup dari pertama ia melihatnya masuk ke dalam tubuh Siska.


Wira segera menyeka air mata yang tanpa sadar menetes di pipinya. Linda kembali dalam bentuk siluet putih dan berjalan mendekati Wira seakan akan ingin membesarkan hatinya.


"Sudah jangan cengeng komandan, semua ini takdir saya, bukan kesalahan pak Wira. Jadi stop menangisnya, saya paling tidak suka melihat orang bersedih, takutnya nanti saya malah ikut ikutan menangis."


Wira tersenyum tipis, seandainya mungkin dia ingin sekali memeluk dan mencium tangan Linda untuk meminta maaf. Tapi semua itu tidak dapat ia lakukan, sebab Linda sekarang hanya sosok bayangan putih yang tak dapat di sentuh meski dia sangat menginginkannya.


"Maaf..."


Hanya kata itu yang bisa di ucapkan Wira. Perwira tampan itu menarik nafas dalam dalam, seolah ia ingin melepaskan segala beban yang menghimpit dadanya. Wira bangkit kemudian berjalan kearah Siska.


Polwan cantik itu baru saja sadar dari pingsan, setelah terkena tikaman mahluk wanita berwajah rusak. Pakde Jarwo memberinya sebuah pil dari kantung kulit yang terselip di pinggang. Pria tua itu tersenyum sembari membelai rambut Siska.


"Kunyah saja pilnya supaya cepat larut, pakde tahu kamu tidak suka pahit, tapi obat itu akan segera menyembuhkan luka dalammu ndok."

__ADS_1


Siska memejamkan mata, menahan rasa pahit dilidahnya, sejak kecil dia memang sangat sulit bila disuruh minum obat. Karena itu pakde Jarwo sedikit memaksanya.


"Kenapa pahit sekali pakde, aku sulit menelan pil ini!"


Siska menggerutu, wajahnya memerah, air matanya menetes, rasa pahit yang menyengat, membuatnya mual dan ingin memuntahkan pil yang baru dikunyahnya.


"Hahaha..."


Pakde Jarwo tertawa terbahak melihat wajah keponakannya yang memerah, sebenarnya dia tidak tega, tapi hendak dikata apa lagi, mereka juga kehabisan stok air. Jadi dengan terpaksa Siska harus menelan pil pahit yang membuatnya ingin muntah.


"Koe iki wis gede ndok, wis dadi gadis, masak ngmben obat wae mesti di pekso."


Sambil terkekeh pakde Jarwo menasehati Siska soal kebiasaan buruknya di waktu kecil. Dalam bahasa jawa pria itu mengingatkan kalau Siska sudah bukan anak anak, dia telah menjadi seorang gadis dewasa. Sudah selayaknya Siska bisa meninggalkan kebiasaan buruk di masa kecilnya.


Setelah cukup lama beristirahat memulihkan tenaga yang terkuras, mbah Wongso memanggil Linda untuk mendekat. Setelahnya, dia memberi isyarat kepada pakde Jarwo untuk membantu menyalurkan tenaga dalamnya.


"Kamu siap siap ndok, kami akan berusaha mencari keberadaan ragamu."


Linda yang sudah berada dalam bentuk bola energi, terbang melayang ke arah mbah Wongso. Dengan bantuan pakde Jarwo, dia berusaha melacak keberadaan jasad Linda.


Mbah Wongso berusaha menembus pagar ilusi yang di ciptakan Asih. Kekuatan dari bulan purnama merah membuat Asih semakin kuat, wanita titisan iblis itu sanggup membangun benteng gaib yang menutupi mata ke tiga mbah Wongso.


Tapi melalui sukma milik Linda, mereka akhirnya berhasil menemukan keberadaan jasad Linda. Tubuh Linda terpasung di lantai batu dengan penjagaan ketat dari dua mahluk hitam bersayap mirip kelelawar raksasa.


Kondisi tubuhnya pucat dan mulai membiru, mbah Wongso khawatir mereka akan kehabisan waktu, dia memutuskan untuk menyusupkan Linda ke raganya, sementara dirinya akan menjadi umpan.


"Saya sudah menemukan jalan masuknya, kamu bantu gadis ini kembali ke dalam jasad. Aku dan pak Wira akan jadi umpan, agar kalian lebih leluasa saat mengembalikan Linda kepada raganya."


Mbah Wongso membuka mata, lalu menyerahkan Linda kepada pakde Jarwo, mereka berencana akan menerobos masuk ke ruang tempat jasad Linda di pasung. Mbah Wongso dan Wira akan menjadi umpan. Sementara pakde Jarwo akan melakukan ritual untuk memasukkan Linda ke dalam raganya.


"Sudah waktunya, apapun yang terjadi setelah ini, jangan sekali kali gentar kepada mereka."


Mbah Wongso menyentuh pundak Wira, dan saat itu juga perwira muda itu tak dapat bergerak. Dia hanya bisa merasakan tubuhnya bergetar bagai tersengat listrik.


Urat urat di sekujur tubuhnya mengeras, rahang Wira menebal, dia tergeletak di tanah setelahnya. Mbah Wongso menjulurkan lengan, membantu Wira untuk berdiri.


Wira bangkit dan merasa tubuhnya telah terisi penuh dengan tenaga. Wira tidak pernah merasa tubuhnya sebugar sekarang, dia ingin bertanya apa yang dilakukan kakek tua itu padanya, tapi pakde Jarwo memberi isyarat agar Wira tidak bertanya lagi.


"Kita buat kacau alam lelembut ini pak Wira, biar iblis itu marah dan mendatangi kita."


Wira agak terkejut dengan sikap jumawa yang ditunjukkan mbah Wongso. Wira tersenyum tipis semangat mudanya tersulut. Mereka keluar dari balik batu besar dan segera berlari ke arah kabut.

__ADS_1


"Bersiaplah kita akan tantang mereka!"


__ADS_2