
Wira benar benar kehabisan akal, dia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi situasi yang terasa kian kompleks saja dari hari ke hari. Satu satunya orang yang diharapkan dapat membantu menyibak tabir gelap sekte Sandikala kini sudah tiada.
"Aku belum sempat mengorek informasi hirarki sekte Sandikala, tapi pak Ronggo Joyo telah lebih dulu meninggal."
"Sekarang harapanku hanya Anton Wijaya, mau tidak mau, aku harus berhadapan langsung dengan Anton Wijaya, dia pasti tahu bagaimana sekte ini dikendalikan."
Wira langsung pulang ke rumah, dia memutuskan untuk tidak masuk bekerja hari ini. Hatinya kalud dan pikiranya terasa buntu, hilangnya Linda dari rumah sakit membuat Wira harus memutar otak untuk mencari jalan keluar lain dari masalah ini.
"Sepertinya aku harus mencari teman bicara agar dapat jalan keluar dari masalah ini, setidaknya ada orang yang bisa memberi saran, atau bahkan mungkin solusi yang tak terduga."
"Di saat seperti ini aku benar benar merindukan Linda, gadis itu selalu punya ide cemerlang di waktu waktu genting seperti sekarang."
"Hem.. kamu sebenarnya kemana Lin?"
Wira merebahkan tubuhnya di ranjang, matanya menatap kosong langit langit kamar. Pikiranya berkelana membayangkan apa yang telah terjadi hari ini. Lambat laun rasa kantuk menghampiri, Wira membalikkan tubuhnya bersiap untuk tidur.
Belum sempat terpejam, tak sengaja sudut mata Wira menangkap bayangan di cermin. Untuk beberapa detik matanya fokus pada bayangan di cermin.
"Linda, kamu ada disini?"
Wira mengucek matanya lalu menatap kembali ke arah cermin, sekali lagi matanya menangkap sosok bayangan gadis yang menurutnya sangat mirip dengan Linda.
"Sepertinya aku harus menemui psikiater, rasanya aku mulai terkena gangguan jiwa, bagaimana mungkin aku bisa melihat Linda dalam cermin, sementara aku sedang sendiri dikamar ini."
Wira kembali menatap cermin seolah olah ingin mengaskan apa yang dilihatnya hanya sebuah ilusi optik, karena terlalu memikirkan Linda yang menghilang dari rumah sakit hari ini.
Tapi meskipun telah menampar wajahnya berkali kali, bayangan di cermin tak menghilang, tetap solid membentuk bayangan Linda yang sedang tersenyum geli, melihat ekspresi wajah Wira yang tegang, bercampur penasaran.
"Ini saya Linda pak Wira."
"Bapak tidak sedang berkhayal, yang ada di cermin itu memang saya."
Suara Linda terdengar dekat di telinga Wira. Polisi tampan itu langsung melompat dari tempat tidur, lalu mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Tapi dia tidak menemukan siapapun di kamar, kecuali sosok Linda dalam cermin yang tertawa geli melihat tingkah lakunya.
"Hehehe... Lucu deh pak."
"Katanya polisi pemberani, tapi baru lihat saya di cermin, bapak sudah ketakutan."
"Sudah seperti melihat hantu gentayangan saja?"
Linda tertawa terkekeh, sepertinya dia belum sadar kalau keadaannya sekarang sama persis dengan mereka yang disebut mahluk astral.
"Heh entah kamu ini siluman atau jin, sebaiknya pergi dari sini atau saya akan membakarmu!"
Wira menggertak sembari membaca doa dalam hati, sebaliknya Linda tetap tertawa terkekeh sambil memasang wajah jelek lalu menjulurkan lidahnya.
"Idih galak amat sih pak, ini saya Linda bukan jin atau setan!"
Wira diam membisu, bingung dengan keadaanya sendiri. Ada rasa khawatir menggelayut dalam pikirannya. Wira takut kalau saat ini dia sedang mengalami depresi.
__ADS_1
Sadar kalau Wira tak lagi menggubrisnya, Linda terdiam, ekspresi wajahnya yang konyol berubah jadi serius. Dia mulai menjelaskan keadaan yang dialaminya setelah keluar dari dimensi astral.
"Waktu itu sejak kita berpisah di alam roh, saya pergi ke rumah sakit untuk kembali masuk ke dalam raga."
"Tapi entah mengapa tubuh saya seperti menolak sukma, sepertinya ada roh lain yang mengambil alih raga saya."
"Meski telah mencoba berulang kali, tapi hasilnya tetap sama, saya tidak bisa menempati raga sendiri pak."
Mendengarkan penuturan Linda, Wira tertekun sejenak, dalam lubuk hatinya mulai percaya kalau suara tanpa sosok yang di dengarnya memanglah Linda yang saat ini berbentuk entitas.
"Jadi kamu benar benar Linda?"
Wira bertanya kembali untuk menegaskan kalau bayangan di cermin adalah memang Linda yang saat ini sedang berada dalam bentuk entitas astral.
"Iya pak, ini Linda wartawan surat kabar yang selalu mengikutimu kemanapun bapak pergi."
"Saya harus bagaimana lagi agar bapak percaya, kalau ini benar benar Linda pak."
Wira berjalan ke arah cermin kemudian menatap bayangan Linda, seakan masih tidak yakin dengan apa yang terjadi di kamarnya hari ini.
"Jadi ini nyata bukan halusinasiku?"
"Ya Tuhan, saya sungguh minta maaf atas apa yang kamu alami sekarang Lin, andai saya tidak melibatkanmu dalam misi malam itu, tentu semua ini tdak akan terjadi."
Wira kembali menyesali diri, dia berpikir kenapa harus mereka yang mengalami semua ini, bukan dirinya saja. Dengan lemah Wira terduduk di ranjang sembari mengusap wajahnya.
Wira coba menalar keadaan ganjil yang terjadi di rumah sakit tadi pagi. Dia berpikir Linda pasti tahu kemana tubuhnya pergi.
"Mereka membawa raga saya terbang ke suatu tempat, seperti rumah tua peninggalan Belanda. Tapi saya tidak bisa masuk karena tempat itu di jaga dua sosok mahluk raksasa."
"Mereka sangat seram, tubuhnya hitam berbulu matanya merah menyala, giginya bertaring panjang, dengan lidah yang menjuntai hingga hampir menyentuh tanah."
"Dua wanita itu membawa tubuh saya bersama seorang pria tua yang terlihat sangat aneh. Dia berjalan dengan wajah yang menengadah ke langit, bola matanya putih semua dan mulutnya menganga."
Linda mengingat ingat apa yang dilihatnya pagi itu, saat tubuhnya di bawa oleh sosok dua orang wanita yang oleh Wira dipastikan sebagai Asih dan Sitarasmi.
"Kamu ingat di mana letak rumah itu Lin?"
Wira kembali bertanya ingin memastikan, kalau dugaannya benar. Menurutnya saat ini tubuh Linda di bawa kembali ke rumah kosong ujung Aspal.
"Rumah itu berada jauh di pinggir hutan, letaknya tepat di lereng gunung, cuacanya dingin, dan gelap, seakan akan cahaya matahari tak mampu menjangkaunya."
"Tapi saya tidak bisa memastikan lebih detil, karena takut mereka akan tahu dan menangkap saya pak."
"Rasa rasanya Siska pasti mengetahui lokasi rumah itu. Entah mengapa kami berdua punya ikatan yang kuat dengan tempat itu."
Wira semakin yakin kalau semua dugaannya benar, meski Linda tidak ingat kalau dirinya pernah disandra di rumah tua itu, tapi dia bisa menggambarkan dengan jelas tentang rumah kosong ujung aspal.
"Sepertinya saya tahu kemana tubuhmu di bawa, terima kasih Lin, saya janji akan membawa kamu pulang. Untuk sekarang kita akan menyusun rencana agar misi membunuh Asih berhasil."
__ADS_1
Malam itu Wira tidak bisa tidur, dia terus saja memikirkan cara untuk menggapai rumah kosong ujung aspal, yang menurut Linda di bentengi mahluk hitam raksasa.
"Kamu jangan disini Lin, saya risih kalau ada wanita di kamar ini."
Wira menghardik Linda agar gadis itu keluar dari kamarnya, ada rasa bersalah dalam hatinya, tapi bagaimanapun Linda seorang gadis meski saat ini dia tidak berada dalam jasad kasarnya, namun Wira tetap merasa risih karena dia masih bisa melihat bayangan Linda dalam cermin.
"Malu ya..."
" Hehehe..."
Linda bergegas menembus dinding menuju ruang tengah, membuat dirinya senyaman mungkin sendiri dalam remang cahaya lampu teras yang menembus masuk melalui pentilasi.
Pagi hari Wira terbangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar, sudah lama rasanya Wira tidak merasa tidurnya senyenyak tadi malam.
"Selamat pagi pak, tumben bangunya siang?"
"Apa karena hari libur?"
Wira tersentak mendengar suara Linda yang tanpa wujud, dia segera duduk dan melihat cermin, dan benar saja Linda terlihat duduk di tepi ranjang tepat di ujung kaki Wira.
"Oh Tuhan hantu baru jadi ini, benar benar membuatku gila."
"Kamu sedang apa disini Linda?"
"Bikin jantung mau copot saja."
Dengan malas Wira bangkit dari tempat tidur lalu bergegas mengambil handuk lalu pergi menuju kamar mandi.
"Heh.. jangan ngintip...!"
Wira melihat ke arah cermin memperingatkan Linda agar gadis itu tidak iseng. Sedang Linda hanya tertawa kecil sembari berseloroh.
"Memangnya saya hantu murahan?"
Seperti biasa Linda menunggu Wira di ruang tengah, sampai perwira tampan itu, selesai berpakaian.Wira keluar dari kamar sembari membawa kitab kuno pemberian Ronggo Joyo.
Hari ini dia akan pergi menemui pakde Jarwo, untuk meminta pendapatnya tentang kitab kuno yang di berikan Ringgo Joyo.
"Semoga saja pakde Jarwo mengerti isi buku ini dan membantuku menembus pagar gaib rumah tua itu."
"Asih sudah membuat warga tidak tenang, aku harus cepat memberekan semua ini."
Wira mengambil cermin kecil, untuk mencari tahu keberadaan Linda. Dan seperti biasa gadis cantik itu membuatnya terkejut, karena ternyata Linda telah berdiri tepat di belakangnya.
"Kita ke rumah pakde Jarwo Lin. Semoga saja beliau mengerti isi buku ini dan tahu cara membaca mantra mantranya."
"Paling lambat besok atau lusa kita akan pergi ke rumah tua di ujung aspal untuk memburu asih dan Sitarasmi."
Wira bergegas mengambil kunci mobil dan sejurus kemudian mobil sedannya melesat meninggalkan kota Surabaya.
__ADS_1