Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 30 Hujan Bulan Maret


__ADS_3

Wira masih sibuk dengan file Sandikala ketika tiba tiba phonesellnya berbunyi. Dengan kesal ia mematikan suara panggilan di phonsell, sembari melirik ke arah jam dinding. Sudah jam sepuluh malam, Wira keluar dari ruang kerjanya kemudian segera pulang.


Phonsellnya berdering lagi, raut wajah Wira tampak kusut, dia agak kesal dengan panggilan dari nomer yang tak di kenal. Sudah tiga kali ia mengabaikan panggilan itu, tapi kali ini Wira mengangkatnya.


"Hallo selamat malam..."


"Wira tolong aku...!"


"Tut...tut..."


Sambungan telepon terputus, suara singkat yang terdengar minta tolong sangat familiar di telinga Wira. Dengan was was dia menghubungi lagi nomor asing tersebut, namun sayang sudah tidak aktif.


"Itu suara Rina, ada apa ini?"


"Ya Tuhan semoga tidak ada sesuatu yang terjadi padanya."


Buru buru Wira menghubungi phonsel Rina, namun hasilnya nihil. Nomer kekasihnya itu sudah tidak aktif, Wira menghubungi ayah Rina berharap mendapatkan informasi, tapi ternyata tidak diangkat juga.


Wira mengirim pesan singkat kepada Boris, dia minta izin untuk menemui Rina di Bandung. Sudah satu tahun ini mereka tidak bertemu dan kali ini Wira benar benar mengkhawatitkan Rina.


Suara minta tolong yang didengarnya jelas sekali adalah suara Rina. Wira langsung menuju Bandara untuk aegera terbang ke Bandung, tapi sayang tidak ada penerbangan ke Bandung malam itu.


"Sial... Sial... Sial...!"


Wira menggerutu, dengan gusar dia melajukan mobilnya meninggalkan kota Surabaya bergegas menuju Bandung. Pikiranya tidak tenang, gundah, takut sesuatu terjadi pada Rina.


Sudah enam jam Wira berkendara tanpa henti. Tubuhnya mulai lelah dan mengantuk, Wira memarkirkan mobil di SPBU lalu masuk ke sebuah mini market untuk membeli makanan, dan selanjutnya beristirahat sejenak.


Jam delapan pagi Wira terbangun, seorang petugas SPBU mengetuk kaca pintu mobil, memintanya untuk memindahkan posisi parkir kendaraan karena tangki BBM akan masuk.


Dengan tergesa gesa Wira memindahkan mobilnya lalu keluar berjalan menuju toilet SPBU untuk mencuci muka. Setelah mengisi perut dengan makanan seadanya, Wira kembali melajukan mobilnya menuju Bandung.


Tepat jam dua belas siang Wira sudah sampai di depan rumah Rina. Wira segera menekan bel, namun tidak ada orang yang keluar membuka pintu pagar. Wira mulai gusar karena tidak biasanya rumah kekasihnya itu kosong.


Walaupun mereka semua pergi, tapi di rumah itu akan selalu ada asisten rumah tangga yang menjaga. Dan hari ini berbeda, suasana rumah benar benar sunyi, Wira makin gelisah, takut ada sesuatu yang terjadi kepada Rina dan keluarga.


"Mas rumah itu kosong sejak kemarin."


Tiba tiba suara seorang wanita muda terdengar dari sebrang rumah keluarga Rina. Wira monoleh lalu berjalan menghampiri wanita itu.


"Ibu tahu kemana perginya keluarga di rumah itu?"


"Mereka semua ke rumah sakit harapan bunda mas, putri sulung pak Sukmana semalam mendadak muntah darah."


Jawab wanita muda yang masih menggenggam sapu di tangan kanannya. Tanpa membuang waktu Wira langsung bertanya kepada Wanita muda itu prihal yang terjadi.


Dari keterangannya, Wira mendapatkan informasi kalau kemarin, ke dua orang tua Rina melarikan putrinya ke rumah sakit lantaran mendadak Rina muntah darah.

__ADS_1


Mendengar ucapan wanita muda, raut wajah Wira seketika kembali tegang, dia panik, cepat cepat mencatat alamat rumah sakit yang diberitahukan wanita muda itu, lalu segera pergi menuju rumah sakit yang dimaksut.


Jarak rumah sakit cukup dekat dari komplek perumahan tempat tinggal Rina. Hanya sepuluh menit Wira sudah berada di halaman depan rumah sakit.


Wira langsung berlari menuju meja resepsionis untuk menayakan tempat Rina dirawat. Seorang perawat wanita menyambutnya dengan senyum ramah, kemudian mengantarkan Wira ke lantai tiga tempat Rina dirawat.


Di lorong Wira bertemu dengan ayah Rina yang baru saja mengambil hasil pemeriksaan lab. Setengah berlari Wira menghampiri ayah Rina. Sementara perawat yang bersamanya masuk ke bangsal perawatan lain dilantai yang sama.


"Om Sukma..!"


Wira memanggil ayah Rina, pria tua yang memiliki nama lengkap Raden Sukmana Arya Susena, menoleh ke arah asal suara yang memanggilnya. Wajah pria itu tampak kebingungan melihat Wira telah berada di rumah sakit, sedang dia ataupun istrinya belum sempat memberi kabar kepada kerabat mereka.


"Wira.. ?"


"Bagaimana bisa kamu sampai disini nak?"


Wira belum memberi jawaban, dia menjabat tangan calon mertuanya, baru kemudian menceritakan penyebab dia sampai ke kota Bandung.


"Kemarin jam sepuluh malam saya mendapat telepon dari nomor asing om. Suara wanita di telepon terdengar minta tolong, dan saya yakin suara itu adalah suara Rina."


"Itu kenapa saya buru buru datang ke rumah om Sukmana. Dan filling saya benar, dari tetangga di depan rumah om saya mendapat kabar kalau Rina di bawa ke rumah sakit ini semalam."


"Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi pada Rina om?"


Wira langsung meminta penjelasan kepada ayah Rina. Sukmana mengernyitkan dahi, merasa aneh dengan penuturan Wira. Seingatnya Rina tiba tiba jatuh pingsan tepat usai makan malam. Jadi bagaimana mungkin putrinya bisa menghubungi Wira pada jam sepuluh malam?


"Tadi malam habis makan Rina masuk ke kamar, kondosisinya waktu itu baik baik saja. Tidak ada yang aneh dari sikapnya. Tapi setelah beberapa saat, tiba tiba saja dia mengeluh perutnya sakit, lalu seketika muntah darah dan mendadak pingsan."


"Kejadiannya sangat cepat, hanya beberapa menit saja. Kalau om tidak salah ingat sekitar jam tujuh lewat. Kami sangat panik, dan belum sempat mengabari siapapun, kecuali tetangga depan rumah yang saat itu memang berada di luar."


"Jadi ini agak aneh, bagaimana mungkin Rina bisa menghubungi kamu, sementara dia saja belum sadar sampai saat ini."


Wira terperangah mendengar penjelasan dari Sukmana, keningnya berkerut memikirkan apa yang dialaminya di Surabaya.


"Apakah sakitnya Rina adalah ulah mahluk yang mendiami raga Linda?"


Wira mulai menghubung hubungkan penyakit Rina dengan sosok mahluk yang menguasai raga Linda. Dia ingat betul kalau mahluk itu sempat mengancam akan merenggut semua yang Wira cintai.


"Terkutuk Sandikala..."


Wira bergumam lirih, sembari mengepalkan tangannya. Sukmana menangkap kemarahan di wajah calon menantunya, namun dia tak faham apa yang membuat wajah Wira jadi merah padam.


"Kamu kenapa Wir?"


"Ehm.. Tidak apa apa om."


"Oh iya bagaimana keadaan Rina om, apa kita sudah boleh membesuknya?"

__ADS_1


Wira mengalihkan pembicaraan agar Sukmana tidak curiga. Ayah Rina memberikan hasil lab dan foto rongsen kepada Wira. Hasilnya cukup mengherankan, dari rekam medis, foto rongsen dan hasil pemeriksaan lab tidak ada tanda tanda Rina mengidap suatu penyakit.


Secara medis gadis itu sehat, tidak ada penyakit yang terdiagnosa. Tapi faktanya Rina saat ini pingsan, dan belum sadar hingga sekarang. Sukmana mengajak Wira masuk ke dalam untuk melihat keadaan Rina.


"Begitulah keadaannya Wir, om juga bingung apa yang terjadi pada Rina. Tanpa sebab mendadak dia sakit perut dan pingsan."


Melihat kondisi kekasihnya, Wira semakin yakin kalau semua ini ada kaitannya dengan Sandikala. Dia berpikir untuk membawa Rina pulang agar bisa menjalani pengobatan alternatif.


Sebenarnya Wira sendiri tipe orang yang rasional, dan skeptis terhadap hal hal yang berbau mistis, tapi pengalaman memaksanya menyadari bahwa mistis itu ada dan bukan sekedar produk budaya.


"Om kalau boleh saya usul, sebaiknya Rina kita bawa pulang saja, saya akan coba mencari orang yang faham dengan masalah ini."


Dengan sedikit ragu Wira menyampaikan usulnya kepada Ayah Rina. Sukmana terdiam dia menatap lekat wajah Wira, entah apa yang ada dibenaknya, tapi sepertinya Sukmana tidak setuju jika Rina di bawa berobat ke orang pintar, dukun, atau ahli supranatural.


"Jangan Wir, om tidak setuju kalau kita membawa Rina ke dukun. Lagi pula om tidak punya kenalan orang pintar di kota ini."


"Tapi om..."


Wira baru akan mendebat Sukmana, ketika tiba tiba tubuh Rina terguncang hebat. Wira segera memeluk erat tubuh kekasihnya, sementara ayah Rina bergegas memanggil dokter.


Ibu Rina yang baru datang dari kantin, terkejut melihat kondisi putrinya, buru buru wanita paruh baya itu meletakkan makanan di meja, lalu memegangi kaki Rina yang terus meronta.


"Ya Tuhan Rina, apa yang terjadi padamu nak?"


"Sadar nak..!"


Wanita tua itu menangis melihat kondisi Rina yang makin parah. Matanya melotot, dari mulut gadis itu keluar darah segar, dan otot otot di tubuhnya menegang.


"Rin, Rina bertahanlah...!"


Wira benar benar panik, tangannya gemetar, darah semakin banyak mengalir dari mulut dan rongga hidung Rina.


"Dokter... Tolong dok... !


Dokter segera masuk untuk memeriksa kondisi Rina, tapi mereka sudah terlambat. Denyut nadi gadis itu mulai melemah, jantungnya berhenti berdetak, dan akhirnya tubuh Rina kembali lemas seketika. Dengan berat hati dokter menyatakan kalau gadis itu telah meninggal dunia.


"Maafkan saya pak, bu, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi takdir tidak bisa ditolak, putri anda sudah meninggal."


Wajah dokter tertunduk lesu, seketika ruangan menjadi hening. Wira menempelkan dahinya di kening Rina. Air matanya tumpah tak terbendung apa yang ia khawatirkan, akhirnya bwnar benar terjadi.


Selama ini Wira sangat menjaga prifasinya, dia tak ingin hubungan asmaranya diketahui orang banyak karena sadar akan resiko profesinya.


Tapi hari ini semua jadi sia sia, serapat apapun Wira menjaga ranah pribadinya, kenyataanya Sandikala tetap bisa menemukan Rina. Dan gadis itu menghembuskan nafas terakhir dalam pelukan Wira.


Orang tua, dan adik adik Rina tidak dapat menyembunyikan kepedihan hatinya. Gadis cantik periang yang selalu bisa menghadirkan kehangatan dalam keluarga mereka, kini telah pergi untuk selamanya.


Wira melepaskan kepergian Herlina Sukmana Arya Susena diiringi rintik hujan bulan Maret. Hati perwira muda itu benar benar patah. Dia mentap lekat pusara Rina sembari mengenang masa masa indah saat mereka masih bersama.

__ADS_1


__ADS_2