
Wira tersentak mundur beberapa langkah dari posisinya semula. Sosok yang mengambil alih raga Linda yernyata adalah Asih. Gadis titisan iblis yang dibesarkan oleh Ronggo Joyo.
Wira lantas teringat kejadian di rumah ujung aspal, dia lalu menghubungkan sosok gadis yang menteror mereka di malam itu.
"Wanita iblis keluar dari tubuh Linda sekarang!"
Wira langsung mencabut pistolnya, berjaga jaga kalau kejadian di rumah sakit terulang kembali, naas bagi Wira, saat ia sedang menodongkan pistol ke arah Linda, tiba tiba dokter muncul dari arah pintu.
"Security...!"
Sepontan dokter dan perawat berlomba lomba memanggil petugas keamanan rumah sakit Jiwa.
Wajah mereka tampak terlihat tegang.
"Ada apa ini pak, tolong turunkan senjata anda!"
Dokter coba untuk menenangkan Wira yang saat ini terlihat panik. Bagaimana tidak, ia tertangkap basah sedang mengacungkan pistolnya ke wajah Linda, yang tiba tiba merubah mimiknya menjadi terlihat ketakutan.
"Tolong saya dokter, pria itu ingin membunuh saya."
Linda mengiba kepada dokter dan perawat. Wira jadi salah tingkah, bingung untuk menjelaskan situasinya saat ini.
"Hati hati dokter dia bukan Linda!"
Wira coba memperingatkan dokter, namun dalam posisi itu, jelas dokter tidak mempercayai ucapan Wira. Sementara Linda terus memelas minta agar diselamatkan dari Wira.
"Pak Wira tolong turunkan pistol anda, atau saya terpaksa menelepon atasan anda."
Wira menggeram, rahangnya menebal, menahan emosi. Dia lalu kembali menyarungkan pistolnya, dengan mengumpat, dia pergi meninggalkan ruang rawat.
"Wira... Wira...!"
Linda memanggil nama Wira, seperti sengaja ingin mengejeknya. Wira tetap berlalu pergi menabrak petugas keamanan yang ingin membekuknya.
"Sekarang Linda tenang ya.."
"Semua sudah aman sekarang."
Linda mengangguk pelan bibirnya menyungging senyum licik penuh kemenangan. Dokter segera memberikan obat penenang agar Linda bisa kembali beristirahat.
"Asih..!"
"Apa dia anak titisan iblis yang dimaksud ayah?"
Wira mulai resah, dia ingat betul sosok wanita di rumah kosong ujung Aspal, yang saat itu tengah di burunya.
"Mungkinkah dia yang merasuki Linda?"
"Pantas saja aku tidak melihat lagi sosoknya malam itu."
Wira bergam lirih, dia lalu pergi meninggalkan rumah sakit jiwa, menerobos hujan badai yang disertai suara guntur dan petir yang menyambar.
"Bagaimana caranya agar Linda terbebas dari belenggu iblis yang merasukinya?"
Sepanjang perjalanan pulang, Wira terus saja berpikir, ada kalanya dia ingin pergi menemui orang pintar, dukun, kyai, atau ahli matafisik, namun entah mengapa hati Wira selalu melarang.
"Wanita sial itu bahkan tahu kalau aku baru saja kehilangan Rina."
Wira mengumpat memukul setang kemudi, melampiaskan amarahnya. Dia merasa diri sebagai pria tidak berguna karena tak mampu menjaga Rina.
"Itu akibatnya kalau kamu berani main main dengan Sandikala."
"Hahaha..."
Suara itu terdengar amat jelas ditelinga Wira, sedangkan di mobil hanya ada dia seorang diri saat ini. Wira menepikan mobilnya lalu keluar, berteriak sejadi jadinya.
"Kurang ajar kau Anton Wijaya...!"
"Bawa semua perewangan Sandikala, aku tidak takut...!"
__ADS_1
Wira bersimpuh di aspal, wajahnya tertunduk lesu, dia menjerit melampiaskan emosi yang tidak lagi dapat di tahan.
"Aku harus apa Tuhan?"
Tiba tiba Wira merasa tubuhnya tidak lagi basah di guyur hujan. Dia menoleh ke belakang, dan ternyata Siska telah berdiri memayunginya. Wira mengusap wajahnya yang basah sementara Siska mengulurkan tangannya.
"Ayo bangun pak, kita cari jalan keluar masalah Linda bersama sama."
Wira meraih tangan Siska, kemudian mereka masuk ke dalam mobil. Sedangkan mobil yang di tumpangi Siska melaju mendahului mereka. Siska mengambil alih kemudi, menggantikan Wira yang masih menenangkan dirinya.
"Kita akan kemana Sis?"
"Ke rumah pakde Jarwo pak."
Wira mengernyitkan dahinya, namun enggan bertanya lagi. Sementara Siska segera putar arah mengendarai mobil Wira menuju luar kota, arah Banyuwangi.
Hampir tiga jam lamanya mereka berkendara dan akhirnya mobil sedan itu berhenti di sebuah rumah sederhana dengan halaman luas yang ditanami banyak pohon besar.
Siska turun dari mobil, lalu melangkah ke teras rumah, dan segera mengetuk pintu kayu jati berukiran kembang.
"Asalamualaikum, pakde.."
"Ini aku Siska..!"
Tak lama berselang seorang pria tua muncul dari balik pintu dengan senyum ramah menyambut kehadiran Siska. Bibirnya tampak merah karena mengunyah sirih, sedang Rambut dan juga kumis lebat yang melintang di atas bibir, berwarna putih menyiratkan pengalaman hidup yang panjang telah dilaluinya.
"Kamu datang sama siapa Sis?"
Sama atasan Siska pakde."
Siska mencium tangan pakdenya, kemudian menoleh ke arah mobil, lalu melambaikan tangan seraya berteriak memanggil Wira yang waktu itu menyempatkan diri mengganti pakaiannya yang basah.
Setelah memasukan pakaian basah ke tas ransel yang selalu dibawanya, Wira bergegas keluar dari mobil dengan menggenggam payung hitam. Dia langsung menjabat tangan pakde Siska sembari memperkenalkan diri.
"Silahkan masuk pak."
Siska mempersilahkan Wira masuk ke dalam ruang tamu yang hanya beralaskan tikar pandan, dan lalu langsung menuju ke belakang untuk membuat minuman. Sedangkan Wira duduk ditemani pakde Jarwo yang hanya diam menatap lekat wajahnya.
"Ini gawat, temanmu akan benar benar mati, bila dia tidak segera kembali ke raganya."
Wira tercengang mendengar kalimat yang terlontar begitu saja dari bibir pria tua dihadapanya. Dia coba mencerna arti ucapan pakde Jarwo, namun Wira gagal menterjemahkan maksudnya.
" Maaf sebelumnya, tapi maksud ucapa pakde tadi apa, saya tidak mengerti?"
"Apanya yang gawat pakde?"
"Siapa yang akan mati?"
Wira berusaha mencari tahu maksud dari ucapan pakde Jarwo, dan lantas mencecar pria tua itu dengan beberapa pertanyaan, berharap segera mendapat jawaban atas pertanyaannya.
"Ini tentang teman perempuanmu itu. Jiwanya terkurung di suatu tempat yang gelap dan tidak tahu jalan pulang."
"Jika jiwanya terus tersesat, maka saya khawatir dia akan mati, karena mahluk lain sudah mengambil alih raganya."
Wira cepat menangkap arti ucapan pakde Jarwo, dia yakin betul maksud perkataan pria tua yang ada dihadapannya, ditujukan kepada Linda.
"Lalu apa yang harus saya lakukan pakde?"
Wira merasa kalau mereka akan punya solusi untuk menyelamatkan Linda dari cengkraman Asih. Pakde Jarwo masuk ke sebuah bilik kecil mengambil perlengkapan ritual.
Siska yang baru saja kembali dari dapur, langsung terhenyak. Untuk pertama kali dia menyaksikan pakdenya akan mulai melakukan sebuah ritual. Pakde Jarwo menembangkan sebuah kidung jawa yang syarat makna mistis, wangi kembang mawar, dan asap dupa pekat memenuhi ruangan.
Wira menutup hidungnya aroma wangi dupa membuat dadanya sesak, tapi segan untuk beranjak. Tiba tiba saja pakde Jarwo meraih, dan menggenggam pergelangan tangan Wira.
Lalu seketika Wira merasakan sesuatu bergerak dalam tubuhnya. Seperti aliran air yang mejalar dari jempol kaki perlahan terus naik sampai ke ubun ubun.
Dan yang terjadi kemudian, Wira bisa melihat tubuhnya sendiri tengah terbujur kaku dengan mata terpejam.
"Ada apa ini, apakah aku sudah mati?"
__ADS_1
Apa yang terjadi?"
Wira merasa bingung dengan keadaan ini, untuk kesekian kalinya Wira merasakan takut yang teramat sangat, hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Fokus Wira, jangan biarkan ketakutan menguasai hatimu."
"Sekarang kita akan menjemput teman mu, jadi kuatkan hatimu!"
Wira merasakan suasana mencekam disekitar. Hening, sunyi, yang ia rasakan mulai berubah jadi ramai dengan suara suara rintihan dan jerit minta tolong dari sosok yang tak ada wujudnya.
"Kita ada dimana pakde?"
"Kenapa gelap sekali disini?"
Wira bisa merasakan tengkuknya dingin, nafas tersengal, dan jantungnya berdegup kencang.Tak ada apapun di tempat itu, kecuali hanya gelap dan suara rintihan yang menyayat hati.
"Tolong bebaskan kami dari derita ini."
Suara itu yang di dengar Wira berulang ulang, sampai pada satu titik, mereka menemukan satu lorong menuju sebuah bangunan tempat Linda berada.
"Itu Linda teman saya pakde."
"Linda... Lin...!"
Wira memanggil manggil nama Linda berulang kali, namun gadis itu terus berjalan meraba raba bagai orang buta. Wira melepaskan genggaman pakde Jarwo, dan mengejar Linda yang semakin menjauh.
"Berhenti Wira...!"
Wira menoleh ke belakang, dia mihat pakde Jarwo yang malah berhenti saat mereka nyaris mendapatkan sukma Linda.
"Ada apa pakde?"
Pakde Jarwo menunjuk jauh ke depan, ekspresi wajahnya tegang seperti takut akan sesuatu yang datang di depan mereka.
"Mundur Wira, atau kita berdua akan mati konyol disini."
"Tapi pakde, itu Linda.."
Wira menoleh lagi ke arah Linda dan alangkah terkejutnya Wira, saat melihat sosok ular membelit tubuh Linda.
"Ular tua..!"
"Kita harus kembali Wira, yang kita hadapi itu bukan dari kalangan demit atau siluman, dia adalah iblis."
Pakde Jarwo langsung meraih lengan Wira dan menyeretnya berlari menjauh dari lorong yang dihuni ular tua. Mereka terus berlari menuju suara Siska yang tak berhenti memanggil manggil nama mereka.
Tak lama kemudian Wira merasakan dirinya terbang melayang masuk kembali kepada raganya.
"Pakde Jarwo, pak wira, apa kalian baik baik saja?"
"Apa yang terjadi pakde?"
Pakde Jarwo dan Wira membuka matanya nyaris bersamaan. Mereka berdua mendapati Siska yang tengah menangis sembari memeluk erat tubuh pakde Jarwo.
"Sudah sudah nak, pakde tidak apa apa."
Siska mengucap syukur dalam hati, kepanikan dalam hatinya mereda. Sejak pakde Jarwo melakukan ritual lepas Sukma, dia bisa melihat tubuh mereka terguncang dan terasa dingin bagai mayat.
"Temanmu diambil ular tua Sis, pakde tidak tahu siapa orang yang telah berani membuka portal dimensi astral sehingga mereka bisa datang menyebrang."
Raut wajah Wira masih terlihat kesal, hampir saja mereka berhasil mendapatkan Linda kembali. Tapi semua usahanya harus gagal karena pakde Jarwo mencegah dan menarik Wira kembali.
"Kenapa pakde lakukan itu. Kita hampir saja mendapatkan Linda kembali, kalau saja pakde tidak menarik saya kembali tadi."
Wira menggerutu mengajukan protes kepada pakde Jarwo yang saat ini masih memegangi dadanya yang terasa sesak. Siska terdiam menunggu pemjelasan dari pakdenya.
"Saya mencegahmu mendekat karena sosok yang membelenggu teman kalian bukan mahluk biasa dari kalangan demit Wir."
"Dia adalah ular tua, mahluk terkutuk penghuni kerak neraka. Kalau kamu nekat maju selangkah lagi, saya pastikan kita berdua tidak akan selamat."
__ADS_1
Wira tertunduk lesu, harapannya untuk bisa menyelamatkan Linda pupus seketika. Dia memang sangat kecewa, tapi ucapan pakde Jarwo benar, dan Wira tidak ingin lagi jatuh korban jiwa di pihak mereka.