
Hari ini saat sedang istirahat berlatih pencak silat, Wira menerima kabar melalui sambungan telepon salular. AKBP Boris memberinya sebuah berita buruk, tentang kondisi desa desa di sekitar lereng gunung tempat rumah kosong ujung aspal berada.
Apa yang dia dan pakde Jarwo khawatirkan selama ini telah terbukti. Segerombolan zombie mengamuk dengan cepat menginfeksi warga desa di sekitar lereng gunung.
Mereka yang mendapatkan serangan langsung terinfeksi, dan seketika mengamuk bagai hewan liar. Warga yang panik berhamburan mengungsi, mencari tempat aman untuk berlindung. Namun sayang, tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban.
Polisi dari polsek sekitar, dibantu tentara yang bertugas di koramil, telah membuat pagar pagar barikade untuk menahan serangan para zombie dan mengotak kotakankan mereka. Tapi ini tidak berlangsung lama sebab jumlahnya terus saja bertambah.
Permintaan bantuan dari kota telah dikirimkan, namun hingga sekarang bantuan yang diminta belum juga datang. Menurut AKBP Boris, mereka masih harus memetakan lokasi, dan menyusun strategi yang paling efektif.
Semua aspek harus dipertimbangkan matang, mengingat mereka yang terinfeksi adalah warga desa sekitar lereng gunung.
Pemerintah kota masih berfikir mereka semua akan dapat diselamatkan, berbeda dengan pejabat militer, yang ingin membasmi mereka semua untuk mengurangi jumlah korban jiwa.
Bagi pihak militer semakin lama ditunda, maka korban jiwa akan semakin banyak, dan mereka takut akan menyebar dan makin sulit untuk di bendung.
"Sial keadaan makin kacau saja, iblis wanita itu bersungguh sungguh dengan ancamannya."
Wira menutup phonsell, lalu duduk termenung di tanah memikirkan kabar buruk yang baru saja diterima. Siska datang mendekati Wira sambil menenteng phonsellnya. Seperti juga Wira, polwan cantik itu juga menerima kabar yang sama dari Tomy.
Pun demikian dengan Linda, Wartawan cantik yang saat ini berbagi ruang dengan Siska, telah mengetahui kabar buruk yang tengah melanda desa sekitar rumah kosong ujung aspal.
"Kita harus berangkat kesana sekarang Siska, jangan sampai mereka menyebar, dan menebar teror dimana mana.
"Oh iya jangan lupa meliput serangan mahluk itu, saya yakin kasus ini akan jadi berita terbesar abad ini."
Jiwa wartawan Linda langsung meronta ronta, rasa penasaran menggelayuti hatinya, hingga terkoneksi dengan Siska si pemilik raga. Tentu saja rasa yang dibagikan Linda menggelitik Siska untuk berceloteh.
"Kamu sabar dulu Linda, semua butuh rencana. Kita akan mati konyol kalau grasak grusuk Lin."
"Dasar wartawan ada saja ulahnya!"
Siska coba menahan rasa yang diberikan Linda. Namun gadis wartawan itu terus saja berbisik dikepala Siska memaksanya untuk melakukan sesuatu.
Siska menutup kupingnya, tapi sia sia saja, suara Linda terus mengisi ruang di pikiran, sehingga Siska kesulitan mengendalikan tubuhnya sendiri.
"Heh.. jangan lupa mengambil gambar dari sudut yang paling bagus untuk saya!"
Iya bawel...!"
__ADS_1
Suara gerutu Siska yang cukup keras, sontak saja mengagetkan Wira. Pria tampan itu tersadar dari lamunan, lalu bangkit melangkah menghampiri Siska yang tampak sedang meracau.
"Ada apa Sis, kenapa kamu berteriak, jantung saya sampai mau lompat keluar, gara gara suaramu."
Wira menegur Siska, perwira polisi itu benar benar lupa kalau saat ini dalam tubuh Siska, ada sosok Linda yang sedang berbagi ruang dengannya.
Polwan cantik itu tertawa kecil sembari menutup mulut dengan jari. Ulah usil Linda sudah berhasil membuat pipi Siska jadi merah merona. Tampak sekali dia salah tingkah dihadapan Wira.
"Anu..anu.. pak.. ini Linda, dia terus memaksa kita meluncur ke TKP. Padahal saya sudah minta dia bersabar, tapi dasar wartawan cerewet, dia tidak sabar ingin segera meluncur."
"Apa apa maunya cepat, tidak ingin kehilangan moment penting katanya."
Penuturan Siska membuat Wira tersenyum kecil, sembari menggaruk kepalanya. Untuk sejenak pria tampan itu bisa mengurangi ketegangan urat syaraf di otaknya. Wira dapat membayangkan tingkah laku Linda. Gadis pintar itu memang lincah, dan selalu ingin jadi yang pertama dalam hal memburu berita.
"Rupanya kalian juga sudah mendapatkan berita dari markas. Kita memang harus bergerak cepat, tapi tidak boleh gegabah, salah salah kita malah di cap sebagai pembunuh atau sebaliknya kita yang tewas."
"Kalian harus pandai pandai menilai keadaan, agar aman untuk semua."
"Hari ini sudah ada dua desa yang di karantina, dan menurut pak Boris jumlah mereka akan terus bertambah banyak."
"Oh iya Lin, soal merekam vedeo dan mengambil gambar, saya akan coba urus, tapi tidak janji ya.."
"Kamu yang tenang di dalam sana, kasihan Siska kalau harus mengikuti maumu, dia sudah seperti orang dengan gangguan jiwa, meracau sendiri."
"Hehehe..."
Wira kembali tertawa kecil, sedangkan Siska memasang wajah cemberut, polwan itu tidak terima kalau Wira menyebutnya depresi akut.
"Ini semua gara gara kamu Linda..!"
"Hihihi... iya maaf..."
Linda tertawa meminta maaf, dia tidak mengira kalau Siska akan jadi sekesal itu padanya. Andai saja keadaanya memungkinkan, Linda ingin lari. Tapi sayang untuk sekarang, dia harus bersabar, demi nyawanya.
Pakde Jarwo keluar rumah, pria tua itu faham situasi, meski belum menerima kabar apapun dari Siska maupun Wira, dia seperti sudah mendapat tanda tanda dari alam semesta.
Langit kembali mendung, burung burung gagak terbang meninggalkan sarang. Pemandangan ini sangat langka, alam memberi pertanda akan datangnya musibah.
"Hem... burung burung itu sudah lama sekali tak nampak di langit, sepertinya kali ini akan ada satu perkara besar."
__ADS_1
Pakde Jarwo bergumam lirih, dia gusar, tanda tanda alam membuatnya tegang. Sudah lama sekali pria tua itu, tidak merasakan adrenalinnya memuncak.
"Ayo latihan lagi, waktu kita semakin sempit. Iblis perempuan itu sudah mulai menebar teror rupanya."
"Untuk kali ini kalian harus benar benar fokus, jangan ada satu gerakan yang terlewat."
"Hati hati dan konsentrasi, perhatikan jurusnya, saya akan menggabung semua gerakan!"
Pakde Jarwo mewanti wanti, dia melakukan beberapa gerakan jurus terakhir sekakigus. Setelah itu mengulangnya berkali kali. Wira dan Siska mengikuti gerakan pakde Jarwo yang lemah gemulai mirip penari, namun full power mematikan.
Hingga sore menjelang mereka baru beristirahat, cuaca dingin menerpa wajah mereka. Pakde Jarwo terus mengawasi pergerakan awan. Raut wajahnya kian gelisah.
"Sepertinya aku harus melakukan mantra kuno terlarang sekali lagi, semoga tubuhku masih kuat untuk melakukannya."
"Niatku ini baik gusti, mohon bantu kami terlepas dari jerat iblis. Jangan biarkan angkara murka berkuasa. Semoga engkau berkenan memberikan ampunan atas dosa dosaku."
"Berikan aku kematian yang mudah."
Seperti sudah mendapatkan firasat akan kematiannya, pakde Jarwo berdoa agar jalan menuju nirwana dipermudah.
Wira memperhatikan raut wajah letih pria tua di depanya. Ada rasa bersalah yang terselip dalam hati. Tapi dia tidak berdaya, bantuan pakde Jarwo sangat ia butuhkan kali ini.
"Maafkan aku pakde, seharusnya di usia senja seperti ini, anda telah beristirahat, tapi aku malah membebani anda dengan segudang masalah."
Wira menarik nafas panjang, dia bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekati pakde Jarwo yang sedang duduk santai sembari menghisap tembakau.
"Maafkan saya pakde, harusnya saat ini pakde sudah beristirahat, tapi saya malah melibatkan pakde dalam masalah ini."
Wira menjabat tangan pakde Jarwo kemudian menciumnya. Pria tua itu buru buru menarik tangannya, sembari menepuk bahu Wira.
"Sudah ngger tidak usah berlebihan, masalah ini masalah kita bersama. Mungkin sudah takdirnya saya harus turun gunung lagi."
"Siska itu keponakan kesayangan saya, jika terjadi sesuatu kepadanya, tentu saja saya tidak akan berpangku tangan. Saya pasti akan membela anak itu sampai titik darah penghabisan Wir."
"Jadi kamu tidak usah merasa tidak enak hati, ini adalah kewajiban kita semua. Lebih baik kalian mandi, terus makan malam bersama, lalu besok pagi sebelum fajar, semua harus sudah siap, kita berangkat ke sarang iblis perempuan itu."
Wira mengangguk pelan lalu bergegas menuju kamar mandi, sedangkan Siska yang lebih dulu membersihkan badannya, bergegas pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Sesuai rencana, sebelum fajar menyingsing, mereka bertiga, berbenah menyiapkan segala keperluan, lalu segera berangkat menuju desa tempat rumah tua yang menjadi sarang bagi Asih dan Sitarasmi.
__ADS_1