Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
56 Mata ke Tiga


__ADS_3

Matahari meredup udara di sekitar rumah kosong ujung aspal semakin dingin, Wira dan kelompok kecilnya berjalan perlahan mendekati rumah tua yang semakin tampak angker. Mbah Wongso tiba tiba menghentikan langkah kakinya, mata tua sesepuh desa itu menatap tajam ke arah beringin kembar.


"Rupa rupanya mereka masih setia menjaga tempat ini, dua mahluk berbulu itu sepertinya menjadi lebih kuat sejak Asih menghuni rumah tua itu."


"Pak Wira, Siska, tolong mendekat kemari. Kalian berdua berdiri rapat disini, ada sesuatu yang harus saya tunjukkan sebelum kita masuk ke dalam."


Wira dan Siska menuruti ucapan mbah Wongso, mereka berdiri rapat sesuai arahan. Pria tua itu memegang tengkuk mereka, lalu masing masing merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam darahnya.


Wira terkejut ketika tiba tiba saja pandangannya menjadi buram. Untuk sesaat dia memejamkan mata lalu menguceknya, dan yang terjadi setelah itu, membuat Wira nyaris berteriak histeris. Wira disajikan pemandangan horor di depan matanya.


Begitu juga dengan Siska, gadis itu gemetar tak dapat bicara walau sepatah kata. Lidahnya kelu, suaranya seakan berhenti di tenggorokkan. Apa yang mereka saksikan sungguh mengerikan. Rumah tua itu benar benar telah di sulap menjadi sarang demit.


Meskipun Wira pernah punya pengalaman masuk ke alam roh, tapi dia tidak pernah melihat bentuk asli mahluk astral yang lebih seram dari apa yang di saksikannya sekarang.


Rumah kosong ujung aspal telah dibentengi dua mahluk besar, berbulu dengan mata merah yang menyala. Empat buah taringnya menonjol keluar, dan lidahnya menjulur hampir menyentuh tanah.


Di dekat pintu masuk, sosok manusia tanpa kepala berjalan mondar mandir membawa sebuah lentera di tangan kiri, sementara tangan kanannya menenteng kepala.


Di depan mahluk tanpa kepala itu, duduk dua ekor anjing besar berkepala dua. Masing masing memiliki sebuah tanduk tajam yang melengkung. Sementara tubuh mereka berwarna merah polos tanpa bulu.


Di pintu samping, dua sosok wanita dengan wajah rusak, berjalan membawa sebilah pisau besar, aroma tubuh mereka sangat busuk. Ulat belatung berjatuhan dari punggung mereka yang bolong.


Di atap rumah terlihat beberapa sosok bola api yang memutari atap rumah, mereka seperti sengaja sedang menantikan kedatangan kelompok Wira.


Sebenarnya masih banyak mahluk aneh yang mereka lihat di rumah itu, tapi Wira dan Siska tidak sanggup melihatnya lagi. Kedua polisi itu lebih memilih menutup matanya.


Keringat mengalir deras membasahi wajah Siska. Dia ingin sekali protes kepada mbah Wongso, tapi sekali lagi mulutnya menjadi gagu, suara Siska seperti tercekat, tak mampu berucap, air matanya tumpah, tapi Siska tak bisa menjerit, ataupun menangis. Dia hanya bisa menunduk menahan takut.


Lutut Siska mendadak lemas, gadis itu berlutut di tanah sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Mbah Wongso melihat reaksi ketakutan di wajah Siska, dia segera melepaskan tangannya dari tengkuk mereka, kemudian menjelaskan alasan mengapa ia melakukan semua itu.


"Mulai sekarang panca indra kalian harus terbiasa dengan gesekan energi astral. Saya sudah membuka mata ketiga, jadi mau tidak mau kalian akan lebih peka terhadap kehadiran mereka."


"Kalau kemarin kalian melihat penampakan mereka, itu karena Asih yang menginginkannya. Tapi sekarang kalian bisa melihat atas kehendak sendiri, jadi kuatkan iman kalian, sebab mahluk mahluk astral bisa muncul kapan saja dan dari mana saja."


"Sebentar lagi bulan purnama merah akan segera muncul. Kita harus cepat cepat masuk ke rumah tua itu, dan menemukan Asih. Jangan sampai dia berhasil menyempurnakan kekuatannya."

__ADS_1


"Apapun yang terjadi nanti, saya minta kalian tetap tenang, jangan selali kali menunjukkan kelemahan kalian di hadapan iblis itu."


"Bentengi diri dengan doa, jangan biarkan rasa takut menguasai. Ingatlah Asih bisa merasakan ketakutan yang ada dalam hati kalian, jadi jangan lengah."


"Mereka bisa merasuk atau menyerupai salah satu dari kita. Jadi jangan pernah memisahkan diri. Bila nanti kalian mendengar suara bisikan, jangan dihiraukan, iblis biasanya akan menyerang mental terlebih dahulu, baru setelah itu, dia akan membuat kita saling membunuh.:


Mbah Wongso mewanti wanti, agar mereka semua selalu waspada. Tapi ternyata iblis wanita itu lebih licik, tanpa di sadari, mereka sudah lebih dulu menebarkan terornya ke dalam pikiran Wira dan Siska.


Saat ini Wira dan Siska berjuang menguatkan hati. Rasa bersalah menghantui keduanya. Mereka berdua berusaha keras mengusir rasa bersalah dan ketakutan dibenaknya.


Mahluk mahluk astral itu memang sengaja menampakkan wujud seram, dan membagikan rasa sakit untuk menteror mental mereka. Suara jerit tangis yang menyayat hati diperdengarkan untuk menggiring manusia manusia berjiwa lemah, masuk dalam perangkap rasa penyesalan.


Mereka akan terpuruk pada kenangan dosa di masa lalu, yang semakin lama, semakin dalam mempengaruhi keputusan mereka. Pada titik ini manusia yang lemah akan memilih mengakhiri hidupnya.


Pakde Jarwo mengerti betul kondisi batin Wira dan Siska. Kematian Wahyu, Rina, juga kondisi Linda sekarang, adalah pukulan terbesar bagi mereka berdua.


Karena itu pakde Jarwo segera membentengi kedeuanya, agar mereka sadar dan tidak terpengaruh dengan suara ataupun rasa sedih yang dibisikan mahluk astral.


Mbah Wongso melakukan persiapan untuk menerobos masuk ke dalam rumah, sedangkan


Sedangkan Siska, meskipun masih terselip rasa takut di hatinya, tapi dia berusaha untuk tegar, dan mengumpulkan keberanian. Siska tidak ingin kehadirannya disana menjadi beban bagi orang lain.


"Ayo Siska, kamu harus kuat, jangan kalah dari mereka, kita pasti bisa menyeret mahluk mahluk itu ke alam mereka!"


Bisikan Linda terdengar menguatkan hati, Siska kembali tersenyum, dia seolah olah mendapatkan kekuatan baru. Rasa percaya dirinya sudah pulih kembali.


"Terima kasih Lin, saya janji apapun yang terjadi, kamu pasti akan kembali pada ragamu."


Sekarang Siska sudah benar benar mantap untuk bertarung. Dia bertekad akan membunuh Asih bersama sama dengan yang lain. Keris pusaka yang diberikan pakde Jarwo di genggamnya erat erat. Mereka berempat melangkah memasuki halaman rumah dengan penuh keyakinan.


Sementara itu, mahluk astral yang menjaga rumah kosong ujung aspal mulai memberikan serangan fisik. Aura jahat mulai menekan, Wira merasakan kepalanya pusing dan mual. Namun dia berusaha untuk menahan.


Mbah Wongso segera maju ke depan, sementara yang lain berdiri rapat searah mata angin. Pakde Jarwo berusaha menetralkan keadaan, dia tidak ingin Wira dan Siska kehilangan fokusnya.


Suara suara rintihan terdengar ditelinga. Masing masing berdoa dalam hati, mereka membuat formasi dengan kuda kuda yang kokoh. Bola api mulai menyambar berbarengan dengan serangan dua ekor anjing dan wanita yang berwajah rusak.

__ADS_1


Mahluk mahluk itu serentak menyerang, berebut menguasai pikiran dan rasa takut mereka. Pakde Jarwo terus menguatkan, agar mereka terus fokus, yakin pada pertolongan Tuhan.


"Ingat jangan sekali kali terbersit rasa takut di hati kalian, yakinlah kepada kekuatan Tuhan!"


Udara tiba tiba berubah, angin bertiup kencang, sosok wanita kurus merangkak dengan kepala terbalik menyerang pakde Jarwo. Kerasnya benturan membuat pria tua itu goyah.


Wira yang sadar akan bahaya di depan mata, lalu menarik pakde Jarwo mundur beberapa langkah ke belakang. Dengan cepat mereka bertukar posisi. Wira menyabetkan belati emas ke arah mahluk itu, tapi tiba tiba dia menghilang, lalu muncul kembali di dinding.


Mbah Wongso menarik pinggang Wira dan perwira polisi itu dilemparkan ke udara. Wira melesat menghuncamkan belati emasnya tepat mengenai kepala mahluk itu.


Mereka berdua jatuh terhempas ke tanah, tapi kemudian mahluk itu ternakar dan menghilang menyisakan asap hitam. Wira mencoba untuk berdiri, dadanya terasa sesak, dia mendarat dengan cara yang salah.


Wira masih memegangi dadanya yang terasa sakit, namun tanpa disadarinya seekor anjing berkepala dua datang menyergap. Wira jatuh beguling, dia berusaha menghindari gigitan siluman anjing dengan belati.


Mujur saat itu Siska dalam kondisi bebas, dia langsung melompat, menikam anjing yang menindih tubuh Wira dengan kerisnya. Anjing itu melolong kesakitan, lalu ambruk menimpa Wira dan seketika menghilang.


"Huh... yang tadi itu hampir saja membuat nyawaku melayang."


Wira menghela nafas, dia berterima kasih kepada Siska, karena gerak cepat gadis cantik itu, nyawa Wira terselamatkan. Siska segera mengulurkan tangannya untuk membantu Wira berdiri.


Naas bagi Siska, karena lengah dia tidak melihat wanita berwajah rusak dibelakangnya. Mahluk itu menikam Siska dari belakang, dan polwan cantik itu seketika ambruk dalam pelukan Wira.


"Siska... bangun Sis..!"


Wira murka rahangnya menebal, dia langsung bangkit menyerang maluk wanita berwajah rusak dengan belati emas. Mahluk itu mwnyeringai lalu tertawa melengking.


"Jaga emosimu Wira!"


Mbah Jarwo langsung mengingatkan Wira yang mulai tidak terkendali. Dia menyerang ke segala arah, gerakannya serampangan, membuat pakde Jarwo jadi khawatir.


"Heh kendalikan dirimu Wira, yang tadi itu hanya ilusi, Siska memang terluka, tapi tidak parah, dia hanya pinggsan, lukanya di dalam, tidak berdarah, faham!"


Wira menoleh ke arah Siska yang terbaring di tanah, gadis itu tampak seperti sedang tidur, tanpa luka gores sedikitpun.


"Pusatkan konsentrasimu, jangan andalkan mata, gunakan hati."

__ADS_1


Wira menarik nafas dalam dalam, berusaha untuk menekan emosinya. Meskipun sulit, tapi akhirnya Wira berhasil mencapai hening. Matanya terpejam pikiran Wira tenang, dia memasrahakan semua yang terjadi, kepada kehendak Tuhan.


__ADS_2