
Wira berhasil menemukan sebuah rumah besar, berhalaman luas di dekat kantor desa. Rumah itu adalah milik sodagar terkaya di desa. Seperti biasa mereka memeriksa bangunan lebih dulu. Kali ini rumah dalam keadaan terkunci.
Mbah Wongso mendekati Wira yang tidak sabar ingin mendobrak pintu. Namun kakek renta itu segera mencegah, dengan keahlian khususnya, jari keriput mbah Wongso berusaha membuka kunci pintu menggunakan sebuah peniti besar yang biasa ia pakai untuk mengancing bajunya.
Tak butuh waktu lama kunci pintu terbuka, Wira tersenyum lebar sembari mengacungkan jari jempolnya. Mbah Wongso membalas senyum Wira dan mereka segera berpencar memeriksa seisi rumah.
"Sepertinya rumah ini ditinggalkan dengan terburu buru, semua barang berharga masih berada di tempat, bahkan makanan di meja ini masih layak di konsumsi."
Wira bergumam sambil mengambil satu buah apel yang tersaji di meja makan. Sedangkan Siska bergegas naik ke lantai dua, untuk mandi di salah satu kamar. Setelah itu dia berencana untuk istirahat sejenak, badannya terasa pegal setelah bertarung tadi siang.
Di area belakang, pakde Jarwo lebih dulu masuk ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Seperti juga yang lain, dia berniat membersihkan tubuh dan beristirahat untuk memulihkan tenaga dalamnya yang habis terkuras.
Sebaliknya mbah Wongso memilih masuk ke kamar depan untuk istirahat, sambil bersemedi. Malam sebentar lagi akan tiba. Wira buru buru pergi ke ruang tamu untuk menghalangi pintu menggunakan kursi dan meja. Setelah itu dia langsung mandi bergantian dengan pakde Jarwo.
Pukul sembilan belas tiga puluh, mereka semua berkumpul di meja makan untuk santap malam. Siska memasak beberapa buah mie instan yang ia temukan di dapur.
"Semoga saja pemilik rumah tidak marah, karena kita menerobos masuk, dan makan mie instan miliknya tanpa izin."
"Maafkan saya, tuan dan nyonya, kami terpaksa masak mie instan dan telur ini untuk bertahan hidup."
Siska berkelakar, membuka perbincangan di meja makan untuk menghangatkan suasana. Keadaan malam di desa itu sangat dingin, sunyi, dan sepi. Di luar sana yang terdengar hanyalah suara kicau burung dan serangga malam khas pedesaan.
Mereka berempat duduk saling berhadapan, masing masing menikmati mie instan sambil membicarakan strategi yang akan mereka lakukan untuk menghadapi Asih.
"Semoga saja tidak ada serangan mahluk astral malam ini, badan saya masih terasa perih karena sambaran bayangan hitam tadi siang."
Wira mengeluhkan dadanya yang masih terasa sakit. Tapi pakde Jarwo tidak berkomentar, dia bangkit dari duduk, lalu bergegas melangkah ke kamar. Beberapa detik kemudian pria tua itu keluar kamar sambil membawa sebuah botol kecil berisi pil ramuan obat racikannya sendiri.
"Minum pil ini, besok pagi lukamu pasti sembuh. Malam ini biarkan saya saja yang berjaga. Kamu sudah terlalu lelah karena tidak tidur kemarin. Jadi sekarang giliran saya, kamu istirahatlah supaya besok badanmu lebih segar."
Wira mengangguk kemudian beranjak pergi ke ruang tengah. Dia memang sudah sangat letih dan mengantuk. Wira segera membaringkan tubuhnya di sofa. Sementara pakde Jarwo dan Mbah Wongso masih mengobrol di meja makan dengan bahasa jawa halus yang tidak dimengerti oleh Wira.
Tak lama kemudian Siska segera menyusul. Usai membereskan meja makan, mencuci piring, dan peralatan masak, dia bergegas naik ke atas untuk tidur. Hari ini sangat melelahkan untuk semua orang.
Pakde Jarwo menyeruput kopi hitam buatan Siska sambil menghisap tembakau, yang dibungkus daun jagung kering. Mbah Wongso berdiri dekat jendela sambil sesekali mengintip ke halaman.
"Ada apa ki Wongso, kok wajah njenengan kelihatan gelisah, apa ada penerawangan baru terkait iblis perempuan itu?"
Pakde Jarwo di buat penasaran oleh tingkah laku mbah Wongso. Raut wajah seniornya itu terkesan cemas, padahal mereka sudah membentengi rumah dengan pagar gaib.
"Sebaiknya jangan tidur terlalu lelap malam ini, entah mengapa firasat saya tidak enak. Rasanya akan ada sesuatu yang terjadi."
Pakde Jarwo mengernyitkan dahinya, ucapan mbah Wongso membuatnya tegang. Pria tua itu lalu mengingat peristiwa tadi siang. Saat masuk desa ini, mereka tidak bertemu kawanan zombie melainkan bayangan hitam, dan tangan tangan yang keluar dari dalam tanah.
"Apa mungkin Asih sengaja ingin membuat kita lemah ki Wongso?"
"Jujur saja energi saya sedikit terkuras, bayangan hitam itu, sepertinya bukan dari bangsa lelembut, entah mereka itu jenis apa, tapi yang jelas Asih mengirimnya hanya untuk membuat kita lemah."
__ADS_1
Mbah Wongso sepakat dengan pakde Jarwo, seumur hidupnya bertarung dengan bangsa lelembut, baru kali ini mbah Wongso merasa kelelahan, sampai sampai harus bermeditasi di kamar, sekedar untuk memulihkan tenaga dalamnya.
Awal awal dia merasa kalau rasa lelah yang mereka rasakan adalah sesuatu yang normal, karena mereka berdua memang sudah tidak muda lagi, jadi wajar saja kalau mbah Wongso dan pakde Jatwo kehabisan tenaga.
Tapi belakangan Mbah Wongso berpikir kembali, dia baru sadar kalau tadi siang, mbah wongso merasa seperti sedang melawan dirinya sendiri. Kekuatan mereka hampir seimbang, andai saja Wira tidak turun bertarung dengan belati emas itu, mbah Wongso bisa memastikan mereka akan kalah telak.
"Kita selamat karena pusaka milik anak muda itu, syukurnya dia masih mampu turun bertarung, walau sudah terluka terkena sambaran mahluk itu."
Kedua pria tua itu duduk termenung, masing masing memikirkan firasat mbah Wongso. Jika firasatnya benar benar menjadi kenyataan, maka siap atau tidak, mereka harus kembali bertarung.
Malam makin larut mbah Wongso semakin gelisah, ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk memeriksa halaman rumah, dengan hati hati pria itu berjalan menuju ruang tamu.
"Mau kemana ki Wongso, sebaiknya diam disini dan jangan nekat keluar, saya khawatir mereka sedang mengintai kita di luar sana."
Pakde Jarwo segera mencegah langkah mbah Wongso, dia buru buru menghadang kemudian mengintip dari balik gorden. Dan ucapannya memang terbukti benar, dari balik pepohonan sekelompok orang mengenakan jubah hitam berdiri mematung mengawasi rumah.
Satu dari mereka menunjuk ke arah jendela, seakan tahu keberadaan pakde Jarwo. Pria tua itu langsung mundur, jantungnya mendadak berdegup sangat kencang. Untuk pertama kali dalam hidupnya pakde Jarwo merasa gentar.
Pria yang akrab dengan dunia kelenik itu, merasa ada yang berbeda dengan pria berjubah yang menunjuk ke arahnya.
"Kamu kenapa Jarwo, wajahmu pucat seperti baru pertama kali bertemu mahluk halus."
Sikap pakde Jarwo membuat mbah Wongso jadi tergoda ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di luar. Tidak sabar mbah Wongso segera menyingkap gorden, dan dia terkejut karena pria berjubah yang di lihat pakde Jarwo, kini hanya berjarak sejengkal saja dari kaca jendela.
Wajah mahluk bertanduk, dengan mata hitam, dan taring panjang menyeringai keras, hingga membuat mbah Wongso jatuh terjengkang ke lantai. Untuk pertama kalinya dia benar benar melihat sosok iblis, bukan jelmaan jin ataupun siluman.
Iblis itu menempati raga seorang pria paruh baya, namun baik mbah Wongso maupun pakde Jarwo bisa melihat dengan jelas wujud aslinya. Mereka berdua segera mundur, dan membuat formasi.
"Ada apa pakde, kenapa suaranya berisik sekali?"
Wira belum sadar sepenuhnya, tapi tiba tiba saja kursi yang digunakan untuk menghalangi pintu terbang ke arahnya, Untung Wira memiliki refleks yang bagus, sehingga bisa segera melompat ke samping menghindari hantaman kursi yang melayang keras ke arahnya.
Dengan panik Wira mengeluarkan pistol, bersiap untuk menembak. Tapi belum sampai menarik pelatuk, Wira kembali dikejutkan dengan sosok pria yang berdiri di depan pintu.
"Anton Wijaya?"
Tangan Wira gemetar, begitu tahu di depannya telah berdiri sosok Anton Wijaya, dengan wajah pucat, mata hitam, dan gigi bertaring. Pria yang selama ini dicarinya, sekarang mendatangi Wira dengan wujud yang bukan lagi manusia.
"Cepat lari Wira, biar iblis ini kami yang akan mengurusnya. Kamu bangunkan Siska dan kalian tinggalkan rumah ini segera."
Wira bingung, dia sempat terdiam beberapa detik, antara naik ke atas membangunkan Siska, atau membantu pakde Jarwo membendung serangan Anton Wijaya, beserta anggota sekte Sandikala yang menyerbu bagai binatang buas.
"Cepat pergi Wira..!"
Teriakan pakde Jarwo membuat Wira tersadar, dia melepaskan beberapa tembakan untuk menghambat anggota sekte yang merangsek masuk. Mbah Wongso segera membaca mantra pelindung untuk memagari mereka dari serangan. Tapi kekuatan Anton Wijaya dirasa sangat besar sehingga pria tua itu jadi kewalahan dan mengajak pakde Jarwo untuk lari mengikuti Wira ke atas.
Di kamarnya Siska juga sudah terbangun, dia baru saja akan memeriksa ke bawah, ketika Wira datang menghampirinya.
__ADS_1
"Ada apa pak, kenapa gaduh sekali di bawah?"
Wira menarik Siska ke dalam kamar, lalu memberi pistolnya kepada Siska. Setalahnya Wira buru buru mengunci pintu lalu memeriksa seisi kamar. Dia berniat mencari celah agar mereka bisa lolos dari anggota sekte Sandikala yang telah di rasuki iblis.
"Pak Wira, ada apa?"
Siska bingung melihat tingkah laku Wira yang terlihat panik. Keringat membasahi wajah dan tubuh Wira. Siska menjadi penasaran, dia ingin membuka pintu untuk mencari tahu apa yang terjadi, tapi Wira cepat berdiri di depan pintu untuk menghalangi Siska.
"Di bawah ada Anton Wijaya dan anggota sekte Sandikala yang sudah dirasuki iblis. Mereka datang menyerang, dan sekarang pakde Jarwo bersama mbah Wongso sedang berusaha menahan mereka."
"Kita di suruh kabur sekarang, selagi sempat!"
Mendengar ucapan Wira, Siska menjadi panik, dia mendorong tubuh Wira sekuat tenaga, lalu berlari keluar kamar sembari mengokang pistolnya.
Dengan waspada Siska berjalan perlahan sambil menodongkan pistol, bersiap siap menghadapi serangan. Sampai di ujung lorong, Siska melihat pakde Jarwo dan mbah Wongso yang sedang melakukan sebuah ritual.
Mbah Wongso menulis sesuatu di lantai sambil mengucap mantra. Sedangkan pakde Jarwo berdiri di depan untuk menghadapi serangan.
"Pakde...!"
"Syukurlah pakde baik baik saja, saya kaget mendengar kita di serang."
Siska baru akan memeluk pakde Jarwo, namun pria tua itu segera menghardik, agar Siska tidak mengganngu proses ritual yang dilakukan oleh mbah Wongso.
"Cepat pergi dari sini Siska, rumah ini sudah tidak aman. Untuk sementara kami akan membuat mereka buta, kamu cari jalan keluar dengan Wira!"
"Tapi... pakde?"
"Pergi sekarang...!"
Pakde Jarwo meninggikan suaranya, baru kali ini Siska mendengar bentakan keras pakdenya. Dengan berat hati Siska mundur, dan kembali ke kamar. Disana dia melihat Wira tengah merapikan ransel mereka.
"Bawa senapan ini kita akan turun dari balkon di samping."
Siska terpaku, dia baru akan meminta maaf, tapi Wira sepertinya cuek, dan tidak mempersoalkan sikap kasar Siska yang mendorong atasannya.
"Kamu kenapa bengong ayo bantu saya mengikat sepray sepray ini. Pakde Jarwo menyuruh kita pergi sekarang juga."
Siska jadi salah tingkah dibuatnya, dengan segan dia membantu Wira mengikat beberapa sepray, lalu turun lewat balkon yang berada di samping secara bergantian.
"Maafkan Siska pakde, mbah Wongso, semoga kalian berdua berhasil meloloskan diri dari iblis iblis Sandikala."
Sebelum pergi Siska masih sempat melihat ke atas, Dia masih berat meninggalkan pakde Jarwo yang tengah berjuang menghadapi serbuan sekte Sandikala.
"Ayo Sis, pakdemu ingin kita selamat, jadi jangan kecewakan beliau."
Wira menggandeng tangan Siska, kemudian segera mengajaknya menyelinap melalui celah sempit di samping rumah. Mereka berdua berlari menembus kegelapan malam, di benak Wira saat itu hanyalah ingin mengamankan Siska dan Linda.
__ADS_1
Setelah menemukan tempat yang aman untuk mereka, Wira berniat akan kembali ke rumah besar itu untuk menolong pakde Jarwo dan mbah Wongso.
"Semoga saja Tuhan melindungi beliau berdua. Pakde Jarwo, mbah Wongso, kalian bertahanlah, saya janji akan segera kembali."