Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 67 Kekalahan Asih


__ADS_3

Wira terus memburu Asih, dia memeriksa seluruh ruangan, mencari dimana iblis itu bersembunyi. Sedangkan Asih yang mulai lemah, memainkan siasat licik, mencari peluang untuk menjauhkan Wira dari Siska dan Linda.


Iblis wanita itu membutuhkan banyak darah perawan, untuk memulihkan enegi yang telah terkikis karena pakde Jarwo sudah berhasil menarik lebih dari separuh kekuatan hitam.


Asih membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk menciptakan ilusi, karenanya iblis wanita itu, berusaha menjauhkan Wira dari Linda dan Siska yang notabene memang sedang berada pada titik terlemah mereka.


"Kita tidak boleh terlalu lama istirahat disini Sis, saya khawatir terjadi sesuatu kepada pak Wira. Apa kamu sudah cukup kuat untuk berjalan sekarang?"


Linda sepertinya telah menyadari sesuatu. Dari pengalaman yang sudah sudah, mereka selalu mengalami kesialan saat terpisah. Karena itu Linda tak ingin hal yang sama terjadi lagi. Dengan hati hati ia membantu Siska bangkit, berdiri, dan segera menyusul Wira.


Sementara itu Asih yang telah menguntit mereka, kini berada tepat di belakang keduanya. Sosok wanita iblis itu terbang tanpa anggota tubuh yang lengkap. Hanya terlihat kepala melayang, bersiap menggigit leher mangsanya.


"Linda, Siska, awas di belakang kalian!"


Suara Wira mengejutkan Linda, sontak gadis itu memutar tubuhnya, dan spontan menikamkan keris di dahi Asih yang nyaris saja mendapatkan lehernya.


Kepala Asih menghilang seketika, bersamaan dengan deru angin dingin yang menerpa wajah Linda. Siska yang telah mengalami peristiwa itu, hanya bisa mehghela nafas lega.


"Kalian jangan lengah, sampai kita menemukan tubuh inang Asih, keadaan disini tidak akan pernah aman. Iblis wanita itu bisa muncul dari mana saja, dan menyerang kapanpun, sebaiknya kita lebih waspada."


Wira mengingatkan agar mereka saling menjaga, sebab sosok Asih bisa bersembunyi di mana saja di dalam rumah besar itu. Mereka membagi fokus mengawasi sekeliling.


"Semua, kamar di lantai dua sudah kita telusuri pak, tapi tubuh wanita itu tidak ada disini, apa mungkin, dia menyembunyikan raga Asih di lantai bawah?"


Siska memberi saran agar kembali ke ruang altar, karena di sana banyak ruang yang belum mereka masuki. Semua ruangan itu, umumnya masih terkunci rapat, dan bahkan mereka belum pernah sampai ke area sisi sebelah kiri, dimana ruangan itu dulunya digunakan sebagai dapur dan gudang makanan.


"Baik, tidak ada salahnya kita mencoba, mungkin saja tubuh Asih disembunyikan dalam salah satu ruangan."


"Kamu masih punya pistol kan Sis?"


"Masih ada pak, peluru di pistol saya terisi penuh dengan sisa satu cadangan magazine."


Siska menunjukkan pistol kaliber 22 yang terselip di pinggang, lalu menunjukkan sebuah magazine peluru yang ia keluarkan dari saku celana. Wira tersenyum tipis sambil mengacungkan jari jempolnya kepada Siska.


Mereka bergegas turun menuju lantai satu, letak ruangan altar yang terpecah menjadi dua lorong di disi kiri dan kanan. Masing masing lorong di pisahkan oleh ruangan yang dahulu di gunakan sebagai kantor dan kamar para pegawai perkebunan.


"Tetap rapat, jangan terpisah. Apapun yang kalian lihat, jangan sampai terpancing. Sepertinya Asih sedang menyasar salah satu dari kita."


Wira memimpin team menuruni anak tangga. Wajah mereka tegang, mengawasi keadaan sekitar. Suasana sunyi, dan aroma busuk mayat tercium menyengat, membuat ketiganya merasa mual.


Wira langsung berjalan menuju sisi kiri ruangan altar, Siska dan Linda membuntuti dari belakang. Tanpa sadar kaki Siska menyentuh sesuatu yang membuatnya menjadi histeris seketika.


"Pakde... pakde Jarwo?"


Air mata Siska tumpah, tangisnya pecah setelah mengetahui pakde Jarwo ternyata telah tiada. Gadis itu duduk bersimpuh di depan jasad pakdenya.


Linda yang melihat kejadian itu segera berlutut, memeluk Siska, dan meminta maaf karena mereka belum sempat mengatakan apa yang telah terjadi kepada pakde Jarwo.


"Maafkan kami Sis, kami sama sekali tak berniat menutupi apa yang terjadi, tapi keadaannya memang belum mengizinkan."


"Kamu tahu sendiri, teror Asih begitu dasyat, jadi kami tidak sempat berpikir untuk menceritakan semuanya kepadamu."

__ADS_1


Siska terisak tangannya langsung mendorong Linda. Dalam keadaan emosi Siska langsung menembaki pintu pintu ruangan yang terkunci. Dia berteriak menantang, memaksa Asih untuk menunjukkan dirinya.


"Asih, keluar kau perempuan iblis, kalau berani hadapi aku!"


Suara Siska menggema bersautan dengan suara desing peluru yang ditembakkan. Gadis itu benar benar murka, tak dapat lagi menahan amarahnya. Dia terus meneriakkan tantangan kepada Asih, darahnya mendidih, kala melihat jasad pakdenya yang penuh luka.


"Hihihihi...hahahaha...hahahaha... bagus Siska, ayo luapkan amarahmu, kemari tangkaplah aku, gadis bodoh... hahahaha...!"


Asih terus mengintimidasi memaksa agar Siska kehabisan kesabaran, dan lepas kontrol. Wira yang tahu akal licik Asih segera menyadari potensi bahaya yang mengincar mereka.


"Siska berhenti, kendalikan dirimu!"


Wira segera menarik lengan Siska yang tengah mengamuk menendang pintu dihadapannya. Dengan cepat ia memeluk Siska, agar gadis itu tak berbuat konyol.


"Hei tenang sedikit, kita pasti membalaskan dendam kematian pakde Jarwo, tapi tidak begini caranya Siska!"


Siska yang terus meronta, perlahan mulai tenang dan menangis dalam pelukkan Wira. Gadis itu melampiaskan rasa kesalnya dengan memukul mukul dada Wira yang bidang.


Wira menerima pukulan, dan caci maki Siska dengan sabar. Sampai gadis itu merasa lebih tenang, Wira baru melonggarkan pelukan dan mungusap air mata Siska.


"Dengarkan saya, kita tidak akan pergi kemana mana, selagi kamu belum bisa mengendalikan emosimu."


"Kita baru akan melanjutkan pencarian ini, kalau kamu sudah benar benar siap. Saya tidak ingin ambil resiko, karena kita tidak waspada."


Siska mengangguk, dia menyeka air mata, lalu menarik nafas dalam dalam. Setelahnya mereka kembali berjalan, memeriksa semua ruangan di sisi kiri.


Semua ruangan di geledah, namun mereka tak menemukan apa apa disana. Wira merasa heran karena jasad inang Asih seperti tak pernah ada di rumah itu. Wira lalu berpikir, apakah tubuh Asih benar ada?


Linda yang penasaran kemudian memeriksa isi kotak, namun karena peti jenazah dalam keadaan terkunci, ia kemudian berniat meminta Wira untuk membukanya.


Tapi naas sebelum niatnya terlaksana, tiba tiba sebuah tangan hitam membekap Linda, dan menariknya ke bagian tergelap dari gudang itu. Siska yang menyadari Linda sudah sudah tidak berada bersama mereka, segera berlari menuju gudang.


"Lepaskan dia Asih, lawanmu bukan Linda, tapi aku. Kalau kau memang berani hadapi saja aku!"


Wira yang mendengar suara Siska, menjadi panik dan segera berlari menuju gudang. Dia melihat Linda berada dalam bekapan Asih.


"Asih lepaskan gadis itu, kalau kau mau, ambil saja aku!"


Wira mencoba membuat penawaran untuk mengulur waktu, dan mencari celah. Linda yang dalam keadaan di bekap tidak bisa mengatakan apa apa, selain memberi isyarat kepada Wira melalui jari telunjuknya.


"Apa makna dari jari telunjukmu itu Lin?"


Wira terus memperhatikan arah jari telunjuk Linda, dan sadar kalau jari gadis itu menunjuk peti di belakangnya. Tanpa pikir panjang Wira merebut pustol dari tangan Siska, dan segera menembak gembok yang mengunci peti tersebut.


Tiba Tiba Asih terbang melayang, sosoknya menghalangi Wira untuk membuka peti. Rasa curiga Wira makin bertambah, karena melihat Asih menggunakan tubuh Linda sebagai perisai untuk menghalanginya.


"Sepertinya tubuh inang Asih memang berada di dalam peti itu, aku harus mencari cara untuk menerobos."


Wira memutar otak berusaha mencari cara terbaik agar tidak mencelakai Linda. Rencananya Wira akan menyerang bagian ubun ubun kepala Asih, namun dia butuh sesuatu untuk dapat melompat.


"Sis kamu pegang paku ini, saya akan mencoba melemparmu ke udara, lalu usahakan menusuk ubun ubun kepala Asih. Apa kamu bisa?"

__ADS_1


"Akan saya usahakan pak."


Wira berjalan ke belakang Siska, tapi gelagatnya seperti telah terbaca oleh Asih. Dia mencekik leher Linda lebih kuat seraya mengancam akan mematahkan lehernya.


"Jangan coba coba Wira, atau kupatahkan leher gadis ini!"


Suara serak mengancam, membuat Wira berpikir ulang. Tapi Siska malah geram dengan ancaman itu. Tanpa berpikir lagi, ia melempar paku ke arah leher Linda yang membuat Asih murka, dan lebih kuat mencekik Linda.


Wira melihat detik detik saat Asih dalam keadaan lengah, dia langsung memegang pinggang Siska dan melempar polwan cantik itu tepat di atas kepala Asih.


Asih yang sadar ubun ubunnya menjadi sasaran, segera melepaskan cengkraman di leher Linda, dan terbang menghilang. Wira gesit menangkap tubuh Linda sementara Siska mendarat di atas peti.


"Kurang ajar kau manusia, rasakan pembalasanku ini!"


Asih menyeringai, lalu secepat kilat menyerang balik ke arah Wira. Sadar dirinya terancam, Wira langsung mengeluarkan batu mustika mirah delima yang tepat diarahkan ke wajah Asih.


Iblis itu mengerang, menghilang menembus dinding. Siska menggunakan kesempatan itu untuk membuka peti. Wajah gadis cantik mirip Asih terbaring pucat di dalam peti itu.


Siska tak tega melihat wajah polosnya, tapi dia harus membunuh gadis itu agar mereka bisa mengalahkan Asih. Dengan perasaan yang campur aduk Siska menusuk ubun ubun gadis dalam peti, lalu Wira menyelesaikan dengan menusuk jantungnya.


"Aaaaaaa...!"


Jeritan Asih terdengar melengking, Wira segera memburu suara itu, dan melihat Asih sedang tergolek lemah di lantai sembari memegangi jantungnya.


Tanpa memberi kesempatan, Wira segera lari, menerjang menempelkan batu mustika di kening Asih. Iblis itu menggelepar kepanasan, dia tak dapat lagi merubah wujud. Wira dengan cepat menusuk jantungnya, lalu menusukkan paku emas di ubun ubun kepalanya.


"Aaghkk... aghk...!"


Asih menjerit bersama tubuhnya yang hangus terbakar, Wira mundur beberapa langkah seraya berdoa dalam hati. Siska memapah Linda keluar dari gudang, dan menyaksikan Asih terbakar di lantai, aroma busuk daging hangus menyeruak menusuk hidung.


Wira mengajak Siska cepat cepat keluar, api dari tubuh Asih terus membesar menjilati dinding dan perlahan menghanguskan bagian gudang. Siska segera memapah Linda ke halaman, sedangkan Wira menyusul sambil menggendong jasad pakde Jarwo.


Setelahnya, Wira kembali masuk ke dalam ruang altar untuk mengambil jasad mbah Wongso. Wira telah berjanji akan membawa mereka pulang ke kampung halaman.


Untuk Wira kedua pria tua itu, telah berjasa besar. Mereka sangat layak untuk mendapatkan segala hormat. Karenanya Wira berjanji mengantarkan mereka ke peristirahatan terakhir.


"Kita akan bawa pakde Jarwo dan mbah Wingso ke kampung halaman masing masing, saya berhutang budi kepada beliau berdua."


"Mbah Wongso, pakde Jarwo, saya Wira Raditya atas nama pribadi, dan institusi berterima kasih untuk segala pengorbanan anda berdua, semoga Tuhan memberi tempat yang layak untuk kalian."


Matahari mulai tinggi, memancarkan sinarnya yang hangat. Wira, Siska, dan Linda melihat api berkobar melahap habis seluruh bangunan. Samar samar mereka bertiga, dapat mendengar suara jeritan dari dalam kobaran api.


Raut wajah Wira tiba tiba saja menjadi tegang. Perwira polisi itu jelas mendengar suara bisikan mengancam ditelinganya.


"Aku kalah kali ini, tapi ingatlah iblis tidak pernah akan mati. Kelak aku pasti akan kembali datang untuk mrnuntut balas."


"Hahahaha....!"


Seperti janji Tuhan, iblis akan terus menggoda manusia hingga akhir jaman. Selagi masih ada orang orang yang menyerahkan jiwanya seperti Sitarasmi, dan Anton Wijaya, maka saat itu Asih akan datang kembali bersama para pemujanya.


~° TAMAT°~

__ADS_1


__ADS_2