Rumah Kosong Ujung Aspal

Rumah Kosong Ujung Aspal
Bab 41 Jagad Lelembut


__ADS_3

Wira sampai di lokasi yang ditunjuk oleh Ronggo Joyo. Sebuah rumah bergaya eropa dengan pintu gerbang tinggi, di pilih Ronggo Joyo untuk ritual menutup portal dimensi.


"Rumah ini mewah, tapi kesannya angker. Apa pria itu memelihara perewangannya disini?"


Dengan ragu Wira mendekati pintu rumah. Dia melepaskan pandangan ke sekitar, namun tidak menemukan siapapun disana. Baru saja akan mengetuk, tapi pintu telah terbuka dengan sendirinya.


"Mengapa ada orang yang betah tinggal di rumah sebesar ini?"


"Rumah ini lebih mirip museum ketimbang rumah."


Wira masuk dan melihat lihat isi rumah Ronggo Joyo yang dipenuhi koleksi benda benda kuno. Lukisan, keris, guci, dan benda benda kelasik memenuhi ruangan.


"Naiklah ke lantai dua, dan masuk ke kamar di ujung lalu ganti pakaianmu disana."


Suara Ronggo Joyo terdengar menggema, mengejutkan Wira. Dia menoleh untuk mencari sumber suara, namun sosok Ronggo Joyo tidak terlihat di sekeliling ruangan.


Dengan waspada Wira melanjutkan langkahnya menuju lantai dua. Terdapat lima buah pintu di lantai dua, dan Wira segera menuju ke ruangan yang terletak di ujung sesuai petunjuk Tonggo Joyo.


Wira masuk dan mendapati satu set pakaian hitam yang tergeletak di meja. Wira langsung mengenakan pakaian yang di sediakan, setelah itu hanya diam menunggu kedatangan Ronggo Joyo.


"Duduklah dilantai, kita akan mulai ritualnya sekarang."


Tiba tiba saja Ronggo Joyo sudah berada di ruangan, Wira terkejut karena tidak melihat kedatangan Ronggo Joyo dari pintu yang ada tepat di depan matanya.


"Dia itu sebenarnya manusia atau setan, kenapa aku tidak melihatnya masuk dari pintu."


"Apa ada pintu rahasia di ruangan ini."


Ronggo Joyo menangkap kebingungan di wajah Wira, tapi dia tak memperdulikan reaksi Wira, dan menuyurunya untuk duduk bersila dilantai.


"Tidak usah heran, saya bisa datang dari mana saja. Lebih baik cepat buka kitab kuno yang saya berikan."


Ronggo Joyo meminta Wira membuka buku kuno yang ia berikan. Wira menuruti begitu saja tanpa bertanya apa isi buku itu. Semua hurup di buku menggunakan aksara pallawa, yang mungkin hanya dapat dimengerti oleh Ronggo Joyo atau orang orang yang memiliki keahlian khusus seperti ahli bahasa atau arkeolog.


"Tapi tunggu dulu pak Ronggo, sebelum saya setuju melakukan ritual ini, anda harus berjanji untuk membebaskan sukma Linda kembali ke dalam tubuhnya."


Wira mengajukan syarat sebelum setuju untuk melakukan ritual. Ronggo membalasnya dengan senyum sinis, sembari mengatakan sesuatu yang tidak di fahami oleh Wira.


"Iku kabeh tergantung niat lan upoyo mu."


"Keselamatan Linda tergantung seberapa besar tekad dan usaha anda pak Wira."


"Saya memilih anda, karena hari kelahiranmu sama dengan Asih. Menurut penanggalan jawa, jika hari lahirmu sama, maka hari naas kalian berdua juga sama."


"Jadi kamu harus mengurung Asih dalam ruang antar dimensi pada hari naasnya. Hanya itu satu satunya peluang untuk merebut sukma Linda kembali."


Wira berusaha menelaah ucapan Ronggo Joyo, ada rasa risih terselip di hati, namun Wira tidak punya pilihan, dia harus mengikuti setiap ucapan Ronggo Joyo, demi kesembuhan Linda.

__ADS_1


"Sekarang masuk dan benamkan tubuhmu di kolam kembang tujuh rupa itu. Pejamkan mata, lalu ikuti mantra yang saya ucapkan."


"Ucapkan mantranya dalam hati, kemudian rasakan sukma pergi dari raga."


"Ingat jangan buka mata apapun yang terjadi."


Wira lalu menarik nafas dalam dalam dan segera membenamkan tubuhnya di kolam yang dipenuhi kembang tujuh rupa. Sayup suara Ronggo Joyo mulai mengucap mantra.


Sesuai dengan arahannya Wira melafalkan mantra dalam hati, sampai tiba tiba saja suara Ronggo Joyo tidak terdengar lagi.


"Ada apa ini, kenapa tubuhku lemas?"


"Aku berada dimana sekarang?"


Mendadak dada Wira terasa sesak, dia melihat tubuhnya terbaring dalam air, kemudian Wira merasakan dirinya melayang memasuki satu tempat yang terasa asing baginya.


"Tempat apa ini, kenapa hening sekali?"


Wira merinding, suasana di tempatnya begitu asing. Wira seperti sedang berada di sebuah area pemakaman kuno, di tenfag hutan dengan pohon pohon raksasa yang menjulang tinggi.


Ada beberapa tumpukan kayu yang di atasnya, berbaring mayat mayat yang sedang di kremasi. Aroma daging busuk menusuk hidung, tercium hingga jauh.


"Aku harus segera keluar dari sini, tempat ini benar benar ganjil."


Wira berlari menjauh namun aroma daging yang terpanggang, masih tercium hingga Wira merasa mual. Wira terus berlari sejauh yang dia bisa, tapi sejauh langkah kakinya yang terlihat hanya makam makam tua.


"Tempat ini jauh lebih seram di banding waktu kami bertemu dengan sosok ular tua. Entah mengapa aku rasa suasana disini lebih menteror mentalku."


"Berbeda dengan waktu itu, saat aku bersama pakde Jarwo akan menjemput sukma Linda. Di sana sangat gelap dan banyak teror dari suara suara jiwa yang tak tenang, tapi rasanya tidak lebih menyeramkan dari tempat ini.


"Entah karena aku disini seorang diri atau memang tempat ini menyimpan kegelapan tersebunyi."


"Suasana di hutan ini lembab, auranya menekan, dadaku sesak oleh aroma aroma busuk mayat yang terbawa angin."


Seketika nyali Wira jadi ciut, suasana hutan yang dipenuhi makam makam tua, membuat Wira bergidik ngeri.


"Aku bahkan belum bertemu satu sosok apapun yang bisa membuatku takut, tapi perasaan ini sungguh tak nyaman."


Wira terus berjalan menyusuri makam makam tua dengan batu nisan belumut, sampai akhirnya dia bertemu sosok wanita tua yang berdiri tepat di depannya.


Wanita itu hanya diam berdiri memunggungi Wira. Dia seperti tidak menyadari keberadaan Wira di belakangnya.


"Nek... "


Wira baru akan bertanya, ketika tiba tiba sosok nenek itu membalikan tubuhnya, lalu menyeringai dengan wajah rusak, matanya bolong dan pipinya dipenuhi belatung.


"Aaaaa...."

__ADS_1


Wira mundur beberapa langkah, hingga jatuh terjengkang ke belakang. Sosok nenek yang mengerikan itu menunjuk ke suatu arah, lantas menghilang begitu saja.


"Sial, nenek itu membuatku kaget sampai jatuh. Sebenarnya dia itu siapa?"


"Apa aku sedang bermimpi?"


Wira lupa kalau saat ini tubuh halusnya sedang berkelana meninggalkan jasad kasar. Tanpa ia ketahui sebenarnya Wira telah menjelajah masuk portal antar dimensi.


Gerbang gaib yang menjadi batas antara manusia dan mahluk gaib. Garis pembatas antara mereka yang hidup dengan mereka yang sudah tiada. Satu garis tipis yang menghubungkan manusia dengan arwah.


Wira terus berjalan dengan peluh membasahi tubuhnya, suara suara mulai mengusik telinga, menggetarkan hati, menciutkan nyali.


Sosok sosok manusia dengan bentuk tubuh yang tak wajar mengawasi langkah kaki Wira. Mereka menatap tajam seakan ingin menegaskan kalau kehadiran Wira telah mengusik mereka.


"Kamu mau apa kemari?"


Tiba tiba sosok mahluk tinggi besar serupa kera menghadang langkah Wira. Matanya merah, gigi bertaring panjang, dan lidah menjulur ke tanah. Mahluk itu langsung mempertanyakan keberadaan Wira ditenfah tengah mereka.


"Saya hanya mau mencari teman saya, salah satu dari kalian membawanya kemari."


"Saya harus membebaskan dia dari belenggu ular tua."


Wira mengumpulkan keberanian, kemudian mengutarakan niatnya datang ke alam lelembut. Mahluk didepannya menyeringai marah saat wira menyebut ular tua.


" Kurang ajar kau manusia, berani sekali kamu menyebut junjungan kami begitu."


"Manusia lancang seperti kamu pantasnya jadi budak kami."


Wira menyadari, posisinya saat ini tengah terancam, dia melafalkan doa semampunya, namun mahluk mahluk disitu, tertawa sembari mengikuti doa yang dibaca Wira dalam hati.


"Gawat doaku tidak mempan untuk mereka. Mahluk mahluk ini, malah meledekku."


"Oh Tuhan aku harus apa sekarang?"


"Sialnya Ronggo Joyo tidak membekali aku dengan senjata apapun, bagaimana aku bisa melawan mereka?"


Tiba tiba Wira mendengar lagi bisikan mantra yang di ucapkan Ronggo Joyo, bersama itu Wira teringat kata kata yang diucapkan pengacara keluarga Wijaya itu.


" Keselamatan Linda tergantung pada tekad dan usahamu."


Kalimat dari Ronggo Joyo, meneguhkan hati Wira. Entah bagaimana, tiba tiba saja muncul keberanian di hatinya. Wira mundur beberapa langkah, kembali membaca doa dalam hati lalu mengambil, batu dan melempar mata mahluk raksasa yang menghadangnya.


Mahluk besar serupa kera yang menghadangnya meraung kesakitan, dia menangkap Wira dan melemoarkannya beberapa meter. Darah segar dimuntahkan, Wira mengerang kesakitan, tapi terus berusaha berdiri dengan sebatang kayu di tangannya.


Lagi lagi mahluk itu berhasil menangkap wira dan akan membantingnya ke tanah. Wira yang sadar tubuhnya akan dihempaskan, langsung saja melempar kayu ke arah mata mahluk raksasa itu bersamaan dengan tubuhnya yang terlempar.


Wira jatuh terbanting keras ke tanah, tubuhnya tergeletak, dan pelan pelan pandanganya menjadi gelap, seterusnya Wira tidak ingat lagi apa yang terjadi pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2