
Malam ini, adalah misi terakhir dari Jean. Jean membawa senjata seperti biasanya saat menjalankan misinya. Jean masuk ke sebuah gedung apartemen, ia berjalan naik menuju ke lantai 3 menggunakan tangga darurat, ia menekan kode pintu dari salah satu apartemen yang berada di lantai 3. Jean masuk ke dalam apartemen itu, ia menemukan seorang pria yang cukup tampan sedang tertidur pulas. Pria itu terbangun karena mendengar suara pintu.
" Siapa kau, " tanya pria itu.
" Jacob Li?," Jean kembali bertanya.
" Dari mana kau tau namaku?, " tanya Jacob Li.
" Mengusik Ayahku, harus mati, " kata Jean.
" kau..., " Jacob Li merasa ketakutan, ia sudah mengusik orang yang salah, benar-benar sebuah kesialan baginya.
" Aku minta maaf, mohon maafkan aku, " Jacob Li memohon kepada Jean, ia bersujud dan memegang kaki Jean.
Jean tidak merespon apa yang di katakan oleh Jacob Li. Jean mengambil pisau dan langsung melukai leher Jacob Li hingga tewas. Tepat pada saat Jean menyelesaikan tugasnya, banyak polisi yang sudah mengepung gedung apartemen itu, Jean tidak merasa takut dengan keberadaan polisi, tapi entah mengapa perasaannya benar-benar tak enak.
Jean keluar dari dalam apartemen jacob Li, ia berjalan menuju ke lantai 1, Jean keluar dari gedung apartemen. Tiba-tiba Jean terkena tembakan tepat di kepalanya. Tuan Jorce dan asisten Zhan yang melihat Jean dari monitor sangat terkejut, mereka berdua langsung pergi menemui Jean. Polisi yang menyuruh sniper untuk menembak berjalan menuju ke arah Jean yang sudah terjatuh ke tanah.
Polisi itu membuka topi dan masker yang di pakai Jean, ia sangat terkejut ternyata mereka salah target.
Datanglah Tuan Jorce dan asisten Zhan, mereka langsung menemui Jean. Tuan Jorce mendorong polisi yang berada di dekat Jean.
Semua polisi dan sniper yang menembaknya sangat ketakutan, mereka salah mengenali target dan malah menembak anak dari Tuan Jorce Wiliam, tamatlah riwayat mereka.
Sebenarnya para polisi mengepung gedung apartemen untuk menangkap buronan yang melakukan kejahatan besar, buronan itu terus melarikan diri dan para polisi mendapatkan informasi bahwa buronan itu tinggal di gedung apartemen ini. Mereka salah mengenali Jean sebagai buronan yang mereka cari, karena penampilan Jean yang sama persis dengan ciri-ciri yang di katakan oleh informan. Tapi selang beberapa menit, saat Jean telah jatuh ke tanah, ada 2 orang polisi dan 1 orang pria yang di pegangi oleh 2 orang polisi tersebut, saat mereka keluar dari gedung apartemen para polisi itu menyadari bahwa mereka telah salah mengenali target.
" Jean, "panggil Tuan Jorce dengan suara lirih. Ia mengangkat kepala Jean dan meletakannya di pangkuannya.
" Jean, bangun nak, ini Ayah, " panggil Tuan Jorce, menahan tangis.
Para anggota Ruler Of Gold yang mendengar berita duka itu langsung pergi menuju ke TKP.
Bulan yang terlihat terang kini perlahan berubah menjadi warna merah.
Jean yang sudah tak sadarkan diri ( tewas ), ia perlahan membuka matanya.
" Ay...ah, " Jean memanggil Tuan Jorce dengan menahan sakit di kepalanya, sebelum melanjutkan ucapannya, Jean memuntahkan seteguk darah segar.
" Jean, " Tuan Jorce memanggil nama anaknya dengan nada yang sedikit tinggi saat anaknya memuntahkan seteguk darah segar, ia merasa sangat khawatir.
__ADS_1
Datanglah ambulance.
" Bertahanlah sayang, hiks...hiks" kata Tuan Jorce kepada Jean, Tuan Jorce menangis dalam diam, ia tak mengeluarkan suara tangisnya tapi air matanya terus mengalir, ia sangat khawatir, ia tak tau harus berbuat apa. Ia menggendong Jean masuk ke dalam mobil ambulance, ia terus menemani Jean dan menggenggam tangannya.
Selama perjalanan menuju ke rumah sakit Jean mengatakan selalu berusaha berbicara.
" Ay...ah, " panggil Jean terbata bata menahan sakit.
" Iya sayang, diamlah kau tak perlu banyak bicara, kita akan segera sampai ke rumah sakit, " kata Tuan Jorce dengan deraian air mata yang tak dapat ia bendung lagi.
" Wa...k...tu...ku tak ban...yak, " kata Jean, menahan sakit, Jean pun menangis karena melihat Ayahnya terus menangis disisinya.
" Ja...ngan me...na...ngis Ay...ah, " Jean kembali memuntahkan seteguk darah segar.
" Jean, diamlah sayang kita akan sampai ke rumah sakit, " Tuan Jorce menyuruh Jean untuk tak bicara lagi, ia semakin khawatir karena Jean kembali memuntahkan seteguk darah segar.
" Ay...ah kau me...mang be...nar han...ya yang ku..at...lah ya...ng bisa ber...ta...han hi...dup, " Jean tetap berbicara dengan terus menahan sakit.
" iya sayang, Ayah tau tapi berhentilah berbicara, kau membuat Ayah semakin khawatir, " Tuan Jorce bertambah khawatir karna Jean terus berbicara.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit, Tuan Jorce langsung mengikuti Jean menuju ke ruang operasi
" Kenapa? Saya adalah Ayahnya, " tanya Tuan Jorce.
" Maaf Tuan, ini adalah prosedur rumah sakit, mohon anda mematuhinya, " jawab Dokter.
" Baiklah, tapi jika ada apa-apa dengan anak saya, akan saya hancurkan rumah sakit ini, " Tuan Jorce mengeluarkan Aura membunuh yang sangat kuat, membuat Dokter itu menjadi ketakutan.
" Ba.. baik Tuan, kami akan melakukan yang terbaik, " Dokter itu menjawab dengan ketakutan, membuat ia sedikit gagap.
Dokter itu pergi meninggalkan Tuan Jorce, ia masuk ke ruang operasi, untuk mengeluarkan peluru yang ada di kepala Jean.
Selama operasi berlangsung, Tuan Jorce merasa tak tenang, ia sangat khawatir dengan kondisi Jean.
Datanglah asisten Zhan bersama beberapa anggota Ruler Of Gold, mereka langsung menemui Tuan Jorce.
" Bagaimana keadaan Nona, Tuan?, " tanya asisten Zhan, khawatir.
" Jean masih di operasi, " jawab Tuan Jorce, sedih.
__ADS_1
" Sabarlah Tuan, Nona pasti baik-baik saja, Nona anak yang kuat, " hibur asisten Zhan, agar Tuannya tidak terlalu khawatir. Padahal ia sendiri sangat khawatir dengan kondisi Jean.
" Kau benar Zhan, dia anak yang kuat, " Tuan Jorce kembali menitikan air matanya, bagaimanapun Jean adalah anaknya, ia tak sanggup melihat Jean tak berdaya.
" Bagaimana?, " tanya Tuan Jorce kepada asistennya, Tuan Jorce menghapus air matanya dan mengeluarkan Aura membunuh yang mengintimidasi orang di sekitarnya, bahkan asisten Zhan sampai gemetar karna ketakutan, asisten Zhan tau saat ini Tuannya sangat marah.
" Sudah beres Tuan, kami sudah menghabisi buronan itu, lalu sniper dan polisi yang menyuruh sniper untuk menembak sudah kami bereskan, Tuan, " jelas asisten Zhan.
" Kerja bagus Zhan, " Tuan Jorce memuji asisten Zhan. ia kembali menarik Aura yang mengintimidasi orang disekitarnya.
Setelah menunggu dalam waktu yang cukup lama, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi.
" Bagaimana Dok?, " tanya Tuan Jorce, Khawatir.
" Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru yang berada di kepala Nona Jean, tapi untuk sekarang Nona Jean belum sadarkan diri, " jawab Dokter.
" Tapi anak saya baik-baik saja kan Dok? Jean masih bisa selamat kan?, " tanya Tuan Jorce.
Dokter sedikit ragu menjawab pertanyaan dari Tuan Jorce.
" Begini Tuan, sebelumnya saya minta maaf, saya akan menjelaskan tentang kondisi Nona. Dalam kasus Nona, ini sangat jarang terjadi, tembakan yang di dapatkan Nona tepat mengenai kepalanya, bagi orang lain yang mendapatkan tembakan seperti itu bisa di pastikan bahwa orang itu akan meninggal di tempat, tapi Nona, Nona bahkan masih sadar saat di bawa ke rumah sakit ini, bahkan sampai masuk ke ruang operasi Nona masih tetap sadar. Tapi sekarang kondisi Nona sangat kritis dan lemah, kami akan memindahkan Nona ke kamar VIP, agar mendapat perawatan yang lebih intensif, " jelas Dokter.
Tuan Jorce yang mendengar penjelasan dari dokterpun sangat terpukul, ia langsung terduduk di kursi ruang tunggu operasi.
" Apa saya bisa menemui anak saya Dok?, " tanya Tuan Jorce, sedih.
" Bisa Tuan, tapi anda harus mengenakan pakaian steril rumah sakit, karna kami belum memindahkan Nona Jean ke kamar VIP, " jelas Dokter
" Baik Dokter, " jawab Tuan Jorce.
Tuan Jorce mengenakan pakaian steril rumah sakit dan masuk ke ruang operasi. Karna Jean belum di pindahkan.
Di luar bulan yang perlahan berubah jadi warna merah, kini sudah hampir sepenuhnya berubah warna.
Jika kalian berpikir, mengapa tidak ada yang menyadari fenomena alam tersebut. Sebenarnya hanya Jean yang dapat melihat perubahan dari warna bulan itu, sedangkan yang lain tetap melihat bulan seperti biasanya.
" Ay...ah, " Jean memanggil ayahnya, menahan sakit.
" Jean, bukannya kau sedang kritis dan lemah?, " Tuan Jorce kaget karna Jean sudah sadar.
__ADS_1
** jangan lupa vote, like dan koment ya readers😊**