
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Mereka sampai di sebuah rumah yang sangat mewah, bertema modern klasik. Rumahnya terlihat elegan, mencerminkan sang pemilik rumah.
" Turunlah, " kata Tuan Jorce kepada Jean.
Jean menuruti perintah Tuan Jorce, ia mengikuti Tuan Jorce masuk ke dalam rumah. Setelah sampai di ruang tengah, Tuan Jorce langsung duduk di sofa sedangkan Jean, ia tetap berdiri tanpa memiliki niat untuk duduk.
" Kenapa berdiri saja?, " tanya Tuan Jorce kepada Jean.
" Saya menunggu perintah, " jawab Jean.
Tuan Jorce menaikan sebelah alisnya.
" Duduklah, " kata Tuan Jorce.
Jean pun langsung duduk sesuai perintah Tuan Jorce.
' Sebenarnya, apa yang sudah di lalui anak ini? ' batin Tuan Jorce.
Tuan Jorce dan Jean tidak berbicara apapun selama duduk di ruang tengah.
* * * * *
Setelah 10 menit berlalu Zhan menemui Tuan Jorce dan Jean di ruang tengah, setelah ia selesai memarkir mobil di garasi.
" Zhan, urusi Jean, setelah selesai temui aku di ruang kerja, " kata Tuan Jorce.
" Baik Tuan, " jawab zhan. Jean hanya mengangguk pertanda setuju.
" Jean, ikuti Zhan, " kata Tuan Jorce.
" Baik, " jawab Jean.
Setelah mengatakan itu, Tuan Jorce pergi menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri ( mandi ). Jean pun ikut dengan Zhan, Zhan memberi perintah kepada para pelayan untuk mengurusi Jean dengan benar. Para pelayan mulai menyiapkan air hangat untuk Jean, mereka ingin membantu memandikan Jean tetapi Jean menolaknya, ia merasa tak nyaman bersama orang lain. Karna tidak membantu memandikan Jean, para pelayan menyiapkan pakaian yang akan di kenakan oleh Jean. Setelah selesai mandi, Jean mengenakan baju handuk.
( maaf ya, author nggak tau nama handuk yang kayak baju gitu, jadi author bilangnya baju handuk😁 )
Jean menyuruh para pelayan untuk keluar dari kamarnya, ia ingin mengganti pakaiannya sendiri. Jean mengenakan pakaian yang baru saja di beli oleh asisten Zhan. Setelah selesai, Jean pergi menemui asisten Zhan.
" Tuan Zhan, " Jean memanggil asisten Zhan.
" Nona Jean, " asisten Zhan menoleh ke arah Jean.
Jean hanya mengangguk, menanggapi asisten Zhan.
' Nona Jean, sifatnya benar-benar mirip dengan Tuan Jorce. Nona Jean juga cantik. ' batin asisten Zhan.
" Nona, anda tidak perlu memanggil saya Tuan, panggil saja saya asisten Zhan, " kata asisten Zhan.
" Baik, " jawab Jean.
' Kenapa Nona juga sangat irit bicara ' batin asisten Jean.
__ADS_1
" Mari Nona, kita akan bertemu dengan Tuan di ruang kerja beliau, " kata asisten Zhan.
Jean mengikuti asisten Zhan menuju ke ruang kerja Tuan Jorce. Tuan Jorce sudah berada di ruang kerjanya, menunggu Jean dan asisten Zhan sambil mengerjakan tugas kantornya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu di ruang kerja Tuan Jorce.
" Silahkan masuk, " kata Tuan Jorce.
Masuklah dua orang yang sedang di tunggu Tuan Jorce.
" Tuan, " Sapa asisten Zhan.
" Hmm, duduklah kalian berdua, " kata Tuan Jorce.
Mereka bertiga duduk di sofa yang berada di ruang kerja Tuan Jorce. Tuan Jorce langsung bebicara pada intinya.
" Jean, saya ingin mengangkatmu sebagai anakku, apa kau bersedia?, " tanya Tuan Jorce kepada Jean.
Sebenarnya, saat Tuan Jorce memberikan marganya untuk Jean, ia sudah memiliki niat untuk mengangkat Jean sebagai anaknya.
Asisten Zhan yang mendengarnya sedikit terkejut, ia langsung mengerti, bahwa Jean akan menjadi penerus sekaligus pewaris dari Tuan Jorce.
" Apa syaratnya?, " Jean kembali bertanya kepada Tuan Jorce.
Asisten Zhan tidak lagi berani memarahi Jean, walaupun perkataanya tidak terlalu enak di dengar saat berbicara pada Tuannya, tapi Tuannya akan mengangkat Jean sebagai anaknya. Asisten Zhan hanya menyimak pembicaraan mereka.
Tuan Jorce menaikan sebelah alisnya.
" Tidak ada yang gratis di dunia ini, " kata Jean.
Tentu saja, Jean tidak mungkin langsung percaya kepada Tuan Jorce, mereka baru bertemu dan Tuan Jorce ingin mengangkatnya sebagai anak? bukankah itu terdengar konyol. Jangan menyalahkan sikap Jean yang selalu waspada, ia sudah sering di tipu tentu saja ia tidak akan mudah percaya pada siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Tuan Jorce mengerti arah pembicaraan Jean, ia tau Jean tidak mudah untuk percaya kepadanya. Tapi itu yang di sukai Tuan Jorce dari Jean, menurut Tuan Jorce, kewaspadaan Jean membuat Jean takkan mudah di tipu orang lain.
" Tentu saja, ada syaratnya, " kata Tuan Jorce.
Tuan Jorce kembali melanjutkan ucpannya.
" Syaratnya, kau harus bisa menguasai semua bidang. Menjadi anakku, kau harus sempurna, menjadi yang tak terkalahkan. Apa kau bisa? jika kau menyanggupi syaratku, aku akan mengangkatmu menjadi anakku. Bagaimana? apa kau sanggup?, " kata Tuan Jorce. Untuk pertama kalinya Tuan Jorce banyak bicara.
" Aku sanggup, " jawab Jean.
" Apa kau yakin ?, " tanya Tuan Jorce.
" Aku sangat yakin, " jawab Jean. Dapat terlihat dengan jelas di mata Jean, ia memiliki tekad yang kuat.
Tuan Jorce tersenyum puas melihat tekad yang kuat di mata Jean, ia merasa bahwa pilihannya sangat tepat. Asisten Zhan yang melihat senyum Tuan Jorce merasa sangat senang, sepertinya Tuannya sangat menyukai Jean.
" Zhan, mulai sekarang Jean adalah anakku, urusi semua keperluannya. Kau juga urusi semua berkas-berkas, agar Jean secara resmi menjadi anakku, " kata Tuan Jorce.
" Baik Tuan, " jawab asisten Zhan.
" Jean, mulai sekarang kau harus memanggilku dengan sebutan Ayah dan Zhan, panggilah dia dengan sebutan paman, " kata Tuan Jorce.
__ADS_1
" Baik Ayah, " jawab Jean.
" Zhan, siapkan rumah di dekat markas, aku yang akan melatih Jean. Lalu daftarkan dia di sekolah yang terbaik, " kata Tuan Jorce memberi perintah kepada asisten Zhan.
" Baik Tuan, " jawab asisten Zhan.
" Kalian kembalilah untuk beristirahat, " kata Tuan Jorce.
" Baik Tuan/Baik Ayah, " jawab asisten Zhan dan Jean bersamaan.
Asisten Zhan dan Jean keluar dari ruang kerja Tuan Jorce, asisten Zhan mengantar Jean ke kamar tamu. Karena Jean hanya sementara tinggal di rumah itu sampai asisten Zhan membeli rumah di dekat markas.
Setelah sampai di kamar Jean.
" Terima kasih paman, " kata Jean tulus dengan wajah datarnya.
" Sama-sama Nona, " jawab asisten Zhan. Asisten Zhan tau bahwa Jean tulus mengatakan itu, walau dengan wajah datarnya.
Asisten Zhan pergi meninggalkan kamar Jean, dan kembali ke kediamannya.
* * * * *
3 Hari kemudian
Asisten zhan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Tuan Jorce. Sesampainya disana ia langsung menuju ke ruang kerja Tuan Jorce.
Tok tok tok
terdengar suara ketukan pintu di ruang kerja Tuan Jorce.
" Silahkan masuk, " kata Tuan Jorce.
" Selamat siang Tuan, " sapa asisten Zhan.
" Hmm, bagaimana?, " Tuan Jorce menjawab sapaan asisten Zhan dengan deheman dan menanyakan hasil kerjanya.
" Saya sudah menemukan rumah yang dekat dengan markas Tuan, " jawab asisten Jorce.
" Bagus, saya ingin melihat foto dari rumah itu, " kata Tuan Jorce.
" Baik Tuan, " jawab asisten Zhan sambil menunjukkan foto dari rumah yang ia beli.
Saat melihat foto yang di berikan asisten Zhan, Tuan Jorce terlihat kesal.
" Apa-apaan ini Zhan?, " tanya Tuan Jorce kepada asisten Zhan dengan nada yang sangat dingin.
" Tuan, itu adalah satu-satunya rumah yang dekat dengan markas, tidak ada rumah lagi Tuan. Apa lagi markas kita berada di tengah hutan Tuan, dan hanya rumah itu yang berada di jalan raya dekat dengan markas kita, " jawab asisten Zhan memberi penjelasan kepada Tuannya.
Apa yang di katakan asisten Zhan memang benar adanya. Tidak ada rumah yang berada di jalan dekat hutan, itu satu-satunya rumah yang ia temukan di jalan raya dekat dengan hutan tempat markas mereka. Bisa saja Jean tinggal di markas, hanya saja Tuan Jorce tidak ingin saat masuk sekolah nanti, teman-teman Jean main ke markas, jika Jean tinggal di rumah Tuan Jorce, itu akan memakan banyak waktu untuk melatih Jean. Karena rumah Tuan Jorce dan markas miliknya berjarak cukup jauh.
** jangan lupa like, vote dan koment ya readers😊
supaya author tetap semangat😊**
__ADS_1